WAKTU

JEDA

Jumat, 18 April 2008

Membangun (Kembali) Imajinasi Indonesia (Dimuat di SINDO Edisi Sore, 17 April 2008)

Membangun (Kembali) Imajinasi Indonesia
Oleh: Edy Firmansyah


Setiap bulan April kita mengenang dua tokoh Indonesia yang erat hubungannya dengan imajinasi dan pembebasan. Kedua tokoh itu adalah Kartini dan penyair Chairil Anwar. Semua orang tahu 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Tapi hanya segelintir orang saja yang tahu bahwa 28 April diperingati sebagai hari sastra, untuk mengenang kematian penyair Chairil Anwar. Karenanya tak salah kiranya jika Eka Budianta menganggap bulan April ini sebagai bulan imajinasi dan pembebasan.

Berkat imajinasinya yang kuat, Kartini bukan saja berhasil meletakkan cita-citanya ke dasar kehidupan, yakni menghendaki persamaan hak dan kewajiban perempuan dengan pria. Tetapi sosok Kartini lahir sebagai sosok ‘pemberontak’ sejati. Kartini melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Dengan kata lain Kartini tidak hanya memberontak terhadap kolonialisme yang sedemikian kejam mencengkram rakyat. Tetapi juga memberontak terhadap budaya Jawa yang feodalistik. Dan Kesemuanya itu dia lawan dengan tulisan. Semua kepekaan, perasaan dan keprihatinannya terhadap nasib bangsanya dia tuangkan dalam tulisan.(Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja, hal. 67)

Chairil Anwar, dengan berimajinasi melalui sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. tapi jarang orang yang mau menghubungkan puisi Chairil dengan gejolak politik pada masa itu.

Ironisnya tak sedikit masyarakat kita justru menganggap imajinasi sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak memiliki arti di negeri ini. Serta cenderung membahayakan. Pada akhir tahun 60-an, misalnya, kritikus sastra terkemuka HB Jassin diajukan ke pengadilan karena memuat cerpen Langit Makin Mendung, karangan Ki Panji Kusmin. Cerpen itu dianggap ‘menginjak kaki’ banyak orang karena melukiskan pengalaman Nabi Muhammad dalam imajinasi pengarang.

Bahkan ketika Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Tetralogi Bumi Manusia, Pemerintah orde baru melalui Kejaksaan Agung mengeluarkan surat larangan atas buku-buku tersebut. Karena buku karangan Pram dianggap berbau Komunisme. Padahal apa yang ditulis Pram tak lebih hanya untuk membongkar Budaya Jawa yang menindas. Bahkan hingga saat ini larangan itu belum dicabut.

Yang terbaru ketika Slank meluncurkan lagu Gosip Jalanan yang salah satu syairnya menyentil kinerja DPR/MPR kontan anggota dewan menyalak dan hendak menuntut Slank karena dianggap mencemarkan nama baik. Meski akhirnya tuntutan itu tak jadi dilakukan, setidaknya niat DPR MPR menuntut Slank merupakan salah satu bukti betapa kita memang phobia imajinasi.

Sistem pendidikan juga tak jauh beda. Pendidikan (baca: sekolah) yang sejatinya menjadi tempat mengasah kreativitas dan mengembangkan imajinasi justru dikebiri hanya sekedar transfer ilmu belaka. Tak ada ruang sedikitpun bagi imajinasi. Murid hanya dianggap kendi kosong yang bisa diisi apa saja oleh guru. Pengajar masih sering menggunakan system pengajaran gaya bank; Yakni siswa dianggap tidak bisa apa-apa dan guru sebagai satu-satunya sumber yang mencekoki siswa. Sehingga siswa lebih banyak diam (pola hamba-tuan). Siswa tidak dibantu mengembangkan imajinasi dan bernalar jadi kritis.

Padahal bangunan kebangsaan kita terdiri atas varian-varian kebudayaan (subkultur) yang majemuk. Dan bangunan tersebut bisa berdiri ditengah kemajemukan karena, mengutip Benedict Anderson, merupakan komunitas terbayang (Imagined Communities) yang terbentuk atas dasar pembayangan anggota-anggotanya mengenai kehidupan dan cita-cita bersama.

Sejak berumur belasan tahun Mohammad Hatta, misalnya, ‘mengimajinasikan” Indonesia merdeka. Demikian kuatnya imajinasi itu, sehingga kemudian menjadi cita-cita yang diperjuangkan. Soekarno juga demikian. Pada bulan Maret 1933, sambil berpakansi di Pangelengan, daerah selatan Bandung, Ir. Soekarno berimajinasi pula dan menuangkannya dalam risalah ”Mencapai Indonesia Merdeka.” Imajinasi-imajinasi Sokarno-Hatta dan imajinasi besar lainnya pada akhirnya memupuk bangsa yang tercerai-berai di berbagai pulau dan adat Istiadat menjadi bangsa besar dan bersatu, yaitu Indonesia.(Budianta, 1993)

Karena itu, ditengah gempuran berbagai krisis multidimensi yang tak kunjung usai, ditengah maraknya Korupsi yang dilakukan para birokrat sepertinya kita perlu mengelola kembali imajinasi-imajinasi besar yang ada dalam benak kita menjadi sebuah langkah kongret untuk mengakhiri krisis. Dan sangat potensial sekali jika pengembangan imajinasi dimulai dari sekolah dasar. Karena di tangan anak-anaklah tongkat estafet pembangunan negeri ini disematkan.

Tentu saja imajinasi yang dilandasi dengan cinta, perdamaian, keindahan dan menjunjung tinggi kehormatan. Bukan imajinasi liar yang membuat orang justru saling bermusuhan. Seperti imajinasi yang digarap salah seorang anggota parlemen Belanda, Geerts Wilders berupa film berjudul ”Fitna.” Karena imajinasi macam ini bisa dibeli di jalan-jalan.

TENTANG PENULIS
**Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK). Peneliti pada IRSOD (Institute of Reaseach Social Politic and Democracy) Jakarta.

Minggu, 13 April 2008

Sisi Lain Perempuan Arab (Dimuat di MEDIA INDONESIA, 12 April 2008)


Sisi Lain Perempuan Arab*)
Oleh: Edy Firmansyah


Judul : The Princess Sultana’s Daughters
Penulis : Jean P Sasson
Penerjemah : Milfana
Penerbit : RAMALA BOOKS (Ufuk Press Groups), Jakarta
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xvi+386 Halaman


Membicarakan penindasan terhadap perempuan memang tak akan pernah usai. Berdasarkan riset, terungkap fakta bahwa setiap 6 jam terjadi kasus perkosaan seksual terhadap perempuan. Belum lagi kasus yang tidak pernah disadari orang sebagai kasus yakni pelecehan seksual, tampaknya sudah menjadi kegiatan spontanitas yang dilakukan dimana-mana. Daftar penindasan bisa bertambah panjang kalau kita memasukkan kasus perdagangan perempuan sebagai budak seks. Hal ini dikarenakan kentalnya sistem Patriakat yang dianut hampir semua negara di dunia, dimana perempuan tak lebih sebagai pelengkap, baik dalam kehidupan keluarga maupun negara.

Parahnya kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan nyaris di semua negara mengalami hal serupa. Termasuk di Arab Saudi. Benarkah? Sepintas tudingan bahwa Arab Saudi merupakan negeri yang turut serta dalam penindasan terhadap perempuan diragukan. Dalam tradisi Arab, seorang perempuan tidak diperkenankan membuka jilbab (baca:cadar) sejak menginjak masa puber. Nah, Jilbab itulah yang menjadi perisai bagi perempuan dari ’tangan jahil’ laki-laki.

Namun faktanya tidaklah demikian. Menurut Jean Sasson, penuli buku ini, dibalik jilbab yang serba ketat, perempuan Arab justru mengalami penderitaan akibat penindasan dari sistem Patriakat yang tak kalah pedihnya dengan penderitaan perempuan Indonesia yang cenderung pluralis.

Salah satunya nikah mut’ah. Nikah mut’ah adalah nikah sementara atau lebih sebuah ’pernikahan untuk bersenang-senang,” yang biasa dipraktekkan oleh sebagian orang Arab. Pernikahan tersebut bisa terjalin selama satu jam atau bahkan mungkin sembilan puluh sembilan tahun, tergantung kesepakan kedua belah pihak. Jika kontrak selesai, secara otomatis pasangan akan bercerai tanpa formalitas perceraian. Kelompok Islam Suni yang mendominasi Arab saudi memandang pernikahan semacam ini tak lebih sebagai pelegalan prostitusi. Akan tetapi, tidak ada otoritas resmi yang dapat melarang seseorang yang akan melakukan nikah Mut’ah. Bahkan kelompok Syiah kerap mengutip beberapa ayat pendek dan dua atau tiga baris hadis untuk melegitimasi pernikahan ini (hal. 37-38).

Korbannya tentu saja perempuan-perempuan belia yang baru beranjak puber dari keluarga miskin dan tidak terpelajar. Demi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, kebanyakan masyarakat miskin rela menjual anak gadisnya untuk melakukan Nikah Mut’ah dengan orang-orang kaya. Termasuk juga diantaranya para pejabat dan keluarga dekat kerajaan Arab Saudi.

Selain nikah mut’ah satu hal lagi yang membuat hak kaum perempuan Arab dikebiri adalah dibentuknya badan sensor. Pemerintah Arab Saudi bahkan mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk membentuk badan sensor dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam badan sensor itu semua pegawainya berjenis kelamin laki-laki. Mereka duduk di kantor-kantor pemerintahan, mengamati apa yang mereka pandang menjijikkan tentang perempuan dan seks di setiap publikasi yang masuk ke Arab Saudi. (hal. 79). Untuk mengontrol sikap dan prilaku kaum hawa, dibentuk juga ’polisi moral’ atau ’polisi agama’, kadang disebut mutawwa. Anggota adalah para laki-laki. Mereka melakukan tugas mengawasi gerak gerik kaum perempuan di seluruh Arab saudi. Polisi ini berpatroli di kota-kota mencari perempuan-perempuan yang tidak bercadar dan memukul mereka dengan tongkatnya atau menyemprotnya dengan tinta merah. Polisi ini juga memiliki hak untuk menahan perempuan yang dianggap melanggar etika moral dan kosopanan.

Pertanyaannya sekarang apakah dengan kontrol yang ketat terhadap kehidupan perempuan sebuah negeri akan hidup dengan damai? Nyatanya tidak. Melalui buku ini Jean P. Sasson hendak mengatakan—Mengutip Durkhaeim—ketika semua bentuk ekpsresi dan penyaluran emosi secara normal terkunci rapat yang lahir justru ketidaknormalan.

Ketika hubungan laki-laki dan perempuan yang belum menikah dilarang bertemu satu dengan lain oleh hukum agama yang terjadi adalah ketegangan seksual di antara sesama jenis menjadi sesuatu yang biasa. Ya, di arab Saudi hubungan homoseksual terus merajalela. Bahkan Putri Sultana, tokoh utama dalam buku ini, yang bernama Maha juga mengalami hal serupa.

Disamping itu, ketidaknormalan lain yang muncul akibat terlalu ketatnya kontrol terhadap kehidupan perempuan adalah lahirnya kelompok-kelompok Islam garis keras. Kelompok ini kerap menggunakan segala cara agar semua peraturan Islam bisa ditegakkan di muka bumi ini. Termasuk juga dengan jalan mencelakai manusia lain. Itu pula yang dialami Amani, putri kedua Sultana.

Sejatinya buku ini merupakan kelanjutan dari buku laris berjudul ”Princess: Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi.” Jika, buku pertama menggambarkan kehidupan masa kecil Putri Sultana, maka buku ini menggambarkan kisah kehidupan anak-anak perempuannya dan perempuan arab lain dalam nuansa ketatnya sistem Patriakat secara lebih personal. Buku ini adalah sebuah kisah nyata yang ditulis dengan cukup memikat dalam bentuk novel sehingga pembacanya dapat merasakan emosi dari masing-masing tokoh dalam buku ini.

Meski menggunakan sudut pandang wanita kerajaan Arab Saudi, setidaknya buku ini masih mampu mewakili betapa kejinya penindasan terhadap perempuan miskin yang dilakukan pemerintahan Arab Saudi. Sungguh buku yang layak dibaca, bukan hanya bagi mereka yang menganggap Arab, tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW itu merupakan negeri ’surga’ yang penuh kedamaian, melainkan bagi siapa saja yang peduli nasib perempuan.

TENTANG PENULIS
Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura.
*) Sayang, Ketika dimuat di MEDIA INDONESIA tulisan ini mengalami edit ketat dari Pihak Redaksi. Karenanya di blog ini saya turunkan secara utuh.

Minggu, 30 Maret 2008

Ketika Anak-Anak Menulis Buku (DIMUAT DI SURYA, Senin 24 Maret 2008)


Ketika Anak-Anak Menulis Buku
Oleh: Edy Firmansyah


Dunia karang-mengarang di negeri ini memang Paradoks. Ditengah dunia akademis—yang notabene menjadi garda depan dunia menulis—dicemari oleh prilaku plagiasi, ghost writers, jual beli skripsi, tesis dan desertasi akibat kemalasan literasi, kita justru disuguhi kisah kemunculan penulis cilik di tanah air.

Di toko buku mudah sekali kita jumpai buku karya penulis cilik, semisal, Sri Izzati, yang menulis sejak umur 8 tahun (2003). Novelnya, Kado Buat Ummi, ditulis dengan cukup jernih. Seakan-akan kita tidak sedang membaca Novel karya anak kecil. Kemampuannya dalam mengolah kata-kata itu yang kemudian membuat penerbit DAR Mizan bandung (2007) berani menerbitkan novel keduanya, Powerfull Girl ( www.ruangbaca.com ).

Di samping Sri Izzati, ada penulis cilik lain yang tidak bisa dikesampingkan dalam jagad perbukuan. Misalnya, Quratul Aini, bocah berusia tujuh tahun ini membuat karangan berjudul Nasi Untuk Nenek dan dan Putri Salsa dengan karya My Candy yang ternyata disambut cukup baik oleh pasar.

Fenomena ini tentu saja ’aneh.’ Bukankah ditengah kepungan tayangan televisi dan hiburan serba instan yang disebar kapitalisme cenderung mematikan kemampuan imajinasi dan menciptakan kemalasan untuk berkreasi? Tapi yang terjadi justru ada anak-anak ’ajaib’ ini mampu membebaskan diri dari itu semua. Mereka rela berlama-lama di depan komputer, mengasah imajinasi hingga melahirkan buku.

Sementara itu, kebanyakan para mahasiswa, guru, dosen justru masih berputar- pada budaya instan, tanpa pernah menciptakan satupun karya, baik artikel, esai bahkan buku. Sebenarnya ada apa dengan semua ini?

Setidaknya ada dua tiga hal yang bisa menjelaskan itu semua. Pertama, memang selama ini rendahnya kegiatan kepenulisan dikalangan akademisi di-mahfumi hanya bersumber pada ketidakmampuan seseorang terhadap skill teknis menulis. Misalnya, rendahnya kemampuan bahasa tulis, resam bahasa, tidak memahami kaidah jurnalistik, dan sebagainya. Betul, bisa jadi seseorang kesulitan menulis disebabkan oleh faktor-faktor teknis tersebut, tapi ada satu faktor lagi—dan menurut penulis jauh lebih penting—yaitu faktor nonteknis, berupa keinginan untuk menulis (willingness to write) itu sendiri.

Sebagai human being, setiap manusia mempunyai tiga peranan (role), yaitu sebagai makhluk diri, makhluk organisasi/masyarakat, dan makhluk Tuhan. Oleh Tuhan, manusia diberi sebuah anugerah paling unggul, yakni kebebasan untuk berkehendak yang dalam bahasa Ali Syariaati disebut sebagai free to will atau kebebasan untuk mengungkapkan eksistensi guna memaknai keberadaan diri. Dan anak-anak diatas adalah mereka yang mampu memasuki ranah ini. Dengan keluguan, keceriaan, dan dibalut rasa ingin tahu mereka mengeksplorasi imajinasi mereka menjadi sebuah buku.

Kedua, suasana sosial politik yang melingkupi setiap zaman. Generasi tua adalah generasi yang hidup dalam zaman orde baru. Di zaman tersebut budaya literasi justru ditekan sedemikian rupa. Memang pemerintah waktu itu kerap memasang slogan-slogan di berbagai pusat keramaian dan sudut kota untuk menumbuhkan minat baca seperti: Budayakan membaca buku, Buku adalah jendela dunia, Biasakan memberi hadiah buku, dan lain sebagainya. Tapi dorongan untuk menumbuhkan minat baca tersebut seringkali kontradiktif.

Mau bukti? Sekitar tahun 1988, tiga pemuda di Yogyakarta ditangkap, ditahan, disiksa sebelum diadili, kemudian divonis berat dengan tuduhan subversi. Alasannya sederhana. Mereka memiliki, membaca, mendiskusikan, dan mengedarkan beberapa novel karya Pramoedya. Mereka kemudian dihukum penjara antara tujuh hingga delapan setengah tahun pada usia mereka yang belum genap 30 tahun (1000 Tahun Nusantara, Editor: J.B. Kristanto, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2000; 545–546).

Akibatnya, upaya mengeksplorasi imajinasi sebagai bagian dari pengungkapan eksistensi diri masyarakat terpaksa dipendam untuk menghindari tekanan dari pemerintah yang anti terhadap ide-ide baru. Sehingga lambat-laun matilah imajinasi masyarakat. Kondisi ini semakin diperparah dengan tayangan-tayangan televisi berupa sinetron, reality show yang membuat kita semakin malas membaca (apalagi menulis). Nah, kondisi ini masih berlangsung hingga saat ini.
Ketiga, perkembangan teknologi yang sedemikian pesat. Melalui revolusi sistem syaraf canggih bernama internet, anak-anak kini sudah dapat menjelajah keberbagai dunia, membaca pengetahuan-pengetahuan baru, bertemu dengan teman-teman dari berbagai peradaban lain dan berbagi pengalaman. Sehingga curiocity mereka tersalurkan dan imajinasi bisa dieksplorasi hingga ke titik kulminasi. Hasilnya, adalah inovasi-inoasi baru brupa karya-karya dengan bahasa yang jernih.

Tentu dengan mahakarya yang gemilang itu, kita sebagai orang dewasa layak angkat topi. Tapi yang jadi pertanyaan adalah; mengapa itu bisa dilakukan oleh anak-anak? Tidak malukah kita yang terus saja menjadi penonton? Masa kalah dengan anak-anak?***


TENTANG PENULIS
*Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK). Penulis Lepas media lokal maupun Nasional.