WAKTU

JEJAK

JEDA

Tampilkan postingan dengan label Esai Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 April 2017

MOGOK




MOGOK




“Kalian tahu kalian dianggap apa? Kotoran! Sampah! Mereka pikir kalian bisa diperas, dikunyah. Mereka, tuan tanah itu, mengambil keuntungan dengan memeras darah dan keringat kita. Dan para polisi? Mereka cuma babi. Babi pemodal. Mereka menendang kita, mematahkan gigi kita agar kita tunduk pada tuan tanah. Kalian masih mau bekerja pada orang yang menyiksa kita?”

Belum usai Jay, salah seorang pekerja pemetik apel itu, berorasi, sebuah tembakan meletus. Entah berasal darimana. Jay terhuyung, bersimbah darah dengan dada berlobang. Ratusan pekerja pemetik apel yang berkerumun, histeris. Pekerja perempuan berteriak ketakutan. Beberapa yang lain kalap dan mulai mendorong barikade polisi. Beberapa lainnya lagi berlari hendak menangkap tubuh Jay agar tak terjerembab di tanah. Namun, belum sempat mereka menangkap orang tua itu, sebuah tembakan menyalak lagi. Dan Jay benar-benar tersungkur di tanah. Mati. Bersimbah darah.

Jay adalah salah satu penumpang kereta api yang membawa ratusan pekerja pemetik apel pengganti di Torgas Valley, California, sebab ratusan pekerja sebelumnya menuntut kenaikan upah. Saat tiba di pemberhentian kereta, rombongan Jay sudah disambut ratusan pekerja sebelumnya. Mereka berorasi agar para pekerja pengganti itu turut serta dalam perlawanan. Sial bagi Jay, kakek tua anggota kelompok radikal itu. Orasinya yang berapi-api membuatnya dihujam timah besi hingga mati. Tak jelas siapa yang menembak. Seperti kebanyakan kisah pemerintah di belahan negara manapun yang menganut kapitalisme, buruh mati sama sekali tidaklah berharga. Dan penembaknya tak pernah tertangkap.

Tahun itu tahun 1933. Di tahun 1930an, Amerika sedang dilanda depresi ekonomi parah. B
encana kekeringan akut melanda negeri Paman Sam. Akibatnya, gagal panen merebak. Di Oklahoma Barat dan Texas, misalnya, produksi pertanian sekarat. Daerah ini telah banyak mengalami penanaman berlebihan oleh petani gandum di tahun-tahun setelah Perang Dunia Pertama. Tanah mengalami rusak parah. Ekonomi macet. Keluarga tercerai-berai, bisnis bangkrut, pemerintahan kacau dan bank banyak menyita aset-aset keluarga karena tak mampu membayar utang. Dunia seakan telah berakhir dan runtuh saat itu. Hampir seperempat penduduk Amerika menganggur. Mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan justru tak kalah menderita. Bekerja dengan waktu yang lama, kondisi kerja yang kumuh dan upah yang tidak layak. Di Torgas Valley, California, tempat perkebunan apel menghampar luas, para pemetik apel yang dijanjikan dibayar 10 dollar perhari hanya dibayar 5 dollar perhari. Dari hari ke hari gaji mereka terus digunting oleh pemilik lahan apel dengan dalih efisiensi. Hingga hanya 1 dollar perhari. Kondisi para pekerja memprihatinkan; kucel, kumal, miskin dan terjerat utang.

Mula-mula mereka menganggap tak ada pilihan, kecuali menerima takdir sebagai buruh pengembara. Mengembara melintasi lembah demi lembah mencari bayaran meski amat murah dan kadang disiksa dengan menyakitkan. Beberapa kelompok radikal menyusup dalam kelompok buruh itu mempengaruhi mereka dan berupaya memberikan perlawanan pada pemilik lahan apel untuk menaikkan upah dengan cara mogok!

Sebenarnya sebelum Jay datang dengan kereta api bersama para pekerja pengganti itu, Mac Mcload dan Jim Nolan yang satu kelompok dengan Jay telah lebih dulu menyusup dalam komunitas para pekerja pemetik apel dan berhasil meyakinkan sebagian besar diantaranya bahwa buruh punya hak menuntut upah layak dan berhak diperlakukan layak sebagaimana warga negara amerika merdeka. Sebagian yang lain ragu akan nasib baik mereka dan menganggap mogok adalah kesia-siaan belaka.

Tapi kematian Jay benar-benar membangkitkan semangat mereka. Keragu-raguan melakukan mogok tiba-tiba berubah jadi bara api semangat yang menyala-nyala. Mogok dimulai. Para pekerja pengganti yang sejatinya untuk melancarkan laju produksi malah berpihak pada buruh. Ikut mogok. Tuntutan mereka adalah; 3 dollar sehari dan kami takkan lari.

Itulah tema utama film In Dubious Battle garapan James Franco. Sebuah film yang diadaptasi dari novel John Steinbeck berjudul sama yang baru saja saya tonton via streaming. konon, pembuatan film yang memakan waktu kurang lebih enam bulan ini mengambil lokasi syuting di Atlanta, termasuk Southeastern Railway Museum di Duluth, Georgia. Termasuk juga berlangsung di Bostwick, Georgia, dan Yakima, Washington dengan biaya sekitar $15,000,000. Franco sendiri memercayakan urusan naskah pada Matt Rager. Tak hanya itu, Franco juga memasukkan banyak bintang dalam film ini, diantaranya: Robert Duvall, Selena Gomez, Ed Harris, Vincent D’Onofrio.

Berfokus pada penceritaan tentang Jim Nolan (diperankan Nat Wolff) seorang pemuda, dan juga aktivis yang mengatur segala macam bentuk aksi protes, demi mendapatkan keadilan untuk para buruh. Dari film ini kita bisa merasakan betapa tidak mudah mengorganisir aksi mogok kerja.

Bagian terberat dari aksi mogok adalah saat negosiasi mengalami jalan buntu. Saat kedua pihak sama-sama tidak mau mengalah. Para pekerja menuntut kenaikan upah. Sementara pemilik lahan bersikeras membayar hanya satu dollar sehari, dengan komprosi tambahan 20 sen saja. tak ada kesepakatan politik. Kesabaran menunggu adalah musuh terberatnya. Belum lagi tekanan-teknan psikis dan politik yang dilakukan para tuan tanah terhadap para pekerja yang mogok. Mulai dari intimidasi, kekerasan, membayar pekerja untuk jadi pengkhianat gerakan, membakar lumbung makan para peserta mogok, menuduh terlibat komunis hingga memanipulasi fakta dengan membayar media massa untuk menggiring opini publik bahwa pelaku mogoklah yang membuat kondisi ekonomi makin pelik dan tak berkesudahan.

Menyaksikan film berdurasi 1 jam 50 menit ini seperti menyaksikan sebuah peristiwa yang dekat dengan kita. Aksi penolakan pembangunan pabrik semen oleh petani Kendeng. Aksi penolakan penambangan Freeport di Papua oleh masyarakat Papua. Pola-pola intimidasi yang dilakukan kaum pemilik modal terhadap para pekerja, para investor kepada petani masih saja sama sebagaimana yang digambarkan dalam film yang diangkat dari novel yang ditulis John Steinbeck pada tahun 1930an yang berhasil membawa penulisnya mendapatkan Pulitzer ini.

Kita tahu tak terhitung jumlah perlawanan serupa seperti yang digambarkan dalam film ini. Hanya untuk mendapatkan perlakuan yang adil. Kebanyakan gagal karena lemahnya organisir dan rendahnya daya tahan perlawanan. Beberapa dari para pekerja yang melawan itu berakhir dengan dibunuh, disiksa, dipenjara. Seperti kasus Marsinah, seorang buruh arloji, yang mati disiksa tentara karena menuntut kenaikan upaya di media tahun 90an.

Tapi semua perlawanan sekecil apapun pasti punya hasil. Sejak mogok kerja tahun 1930an itu, berlangsung banyak pemogokan serupa dari tahun ke tahun. Dan pada akhirnya, tahun 1935 kongres mengeluarkan wagner act yang menjamin para pekerja bersatu, menawarkan secara kolektif dan mogok. Pada tahun 1938 Presiden Roosevelt menandatangani Fair labor Standard act yang menetapkan upah minimum regional, upah lembur dan 40 jam kerja seminggu.

Lantas apa tujuan mogok apa tujuan perlawanan sejenis di berbagai tempat di belahan dunia lain yang terus terjadi hingga hari-hari ini? Banyak orang mengira banyak mereka ingin kekayaan atau kekuasaan. Padahal itu salah. Mereka hanya ingin hidup mereka dihargai. Memegang kendali atas hidup mereka sendiri. manusia tak pantas memperbudak manusia lain hanya karena manusia lain itu tak punya apa-apa. Dan itu semua demi generasi berikutnya agar hidup lebih aman di dunia yang akan kita tinggali. Itu pesan moral yang disampaikan John Steinbeck dalam novelnya yang kemudian diangkat dalam film oleh James Franco dengan judul sama; In Dubious Battle. Perlawanan penuh keraguan.

Bagi saya sih ini sentimentil. Meskipun Franco kurang dalam menggali karakter tokoh Jim Nolan dan durasi waktunya film bertema buruh dengan kompleksitasnya yang rumit terlalu pendek. Sementara yang digarap menjadi film adalah novel John Steinbeck, peraih nobel sastra 1962 itu yang karyanya sangat kaya detail dan menyentuh. Entah kamu.


Tapi lepas dari semua itu, In Dubious Battle adalah film menarik diantara banyak film tentang perjuangan buruh di seluruh dunia. Bahwa kekuataan massa adalah niscaya. Satu hal kecil saja, tanpa demo-demo buruh kita takkan pernah merasakan nikmatnya libur 1 Mei yang dirayakan sebagai hari buruh dunia.

Selasa, 06 Desember 2016

PILIHAN HIDUP

PILIHAN HIDUP


Di sebuah apartemen mewah, di tengah kota New York, di tahun 1920an, sebuah "keluarga" sedang berkumpul. Sepasang “kekasih” berdiri di depan jendela apartemen. Si perempuan menatap kota New York yang berdebu dan suntuk dari ketinggian dengan bimbang. Matanya redup. Pikirannya kalut. Si lelaki menggenggam tangan si perempuan dan berkata.

“Katakan, Daisy, katakan bahwa kau tak pernah mencintainya. Katakan bahwa kau mencintai aku. Dan segala penderitaanmu akan lenyap. Aku akan membawamu pergi. ”

Si lelaki itu adalah Jay Gatsby. Lelaki itu dulu adalah pacar Daisy. Cukup lama mereka berpacaran. Namun kecamuk perang dunia I memisahkan cinta mereka. Sebenarnya bukan itu saja. disparitas sosial keduanya juga mempengaruhi hubungan mereka. Jay seorang pemuda miskin. Daisy berasal dari keluarga kaya. Jay merasa tidak sebanding dengan Daisy. Untuk menaikkan status sosialnya, Jay Gatsby memutuskan menjadi tentara. Meninggalkan Daisy. Sebenarnya Daisy telah menunggu Gatsby. Namun kejelasan nasib Gatsby dalam kecamuk perang lama-lama kian redup hingga tak ada lagi kabar beritanya.

Waktu dan peristiwa bisa mengubah seseorang. Lima tahun berpisah, Cinta Daisy pada Gatsby perlahan-lahan luntur. Ia memutuskan menikah dengan Tom Buchanan, seorang pria kaya di daerahnya. Dan di karuniai seorang anak perempuan yang cantik. Daisy menduga Gatsby telah mati di medan perang.
Tapi nyatanya tidak. Pasca perang dunia I, Amerika tumbuh menjadi negara dengan kemampuan ekonomi yang digjaya. Masyarakat Amerika tengah menikmati kemakmuran yang disebabkan oleh meningkatnya pendapatan negara dan laba. Banyak bermunculan orang kaya baru yang antara lain mendapatkan keuntungan dari penyelundupan dan penjualan alkohol. Saat itu, alkohol dilarang dijual dan dikonsumsi sebagaimana yang diamanatkan dalam Amandemen ke-18 Konstitusi Amerika Serikat yang diberlakukan pada 16 Januari 1920 dan Volstead Act yang disahkan pada 28 Oktober 1919. Dan Jay Gatsby salah satu orang kaya baru yang beruntung itu. pensiun dari tentara, ia terlibat bisnis ilegal yang kemudian mengubah garis hidupnya. Dari lelaki miskin menjadi lelaki borjuis bergelimang harta.

Meski kaya raya dan jadi gunjingan banyak orang, Jay Gatsby adalah sosok yang misterius. Ia rutin menggelar pesta di rumahnya, mengundang semua orang dan menyuguhkan kemeriahan dan kemewahan pesta dengan gratis, tapi tak pernah muncul di pesta tersebut. Banyak spekulasi mengenai Gatsby yang muncul dalam perbincangan para tamu di tiap-tiap pesta. Bahwa ia pernah membunuh orang, pernah menjadi mata-mata Jerman, atau berasal dari Oxford dan pernah kuliah di sana. Namun Gatsby tak pernah mau peduli. Ia tak pernah muncul. Tak pernah menampakkan diri. Tapi setiap malam minggu pesta selalu digelar di rumahnya, di East Egg, New York.

Tak pernah ada yang tahu bahwa pesta-pesta itu dibikin hanya untuk menarik perhatian Daisy, kekasihnya, yang tinggal di West Egg, di seberang teluk, berhadapan dengan rumahnya. Sengaja Gastby membeli rumah yang berdekatan dengan rumah Daisy hanya untuk bisa berdekatan dengan Daisy.

Sekian puluh pesta telah digelar tapi Daisy tak jua menampakkan batang hidungnya. Namun Gatsby tak kehilangan akal. Setelah tahu sepupu Daisy, Nick Carraway, tinggal di sebelah rumahnya, Gatsby mengundang secara khusus Nick pada sebuah pestanya dan meminta bantuan untuk mempertemukan dia dengan Daisy. dan untuk pertamakalinya Gatsby muncul di muka publik di depan tamu-tamu pestanya.

Rencana itu berhasil. Gatsby bertemu Daisy. Beberapakali melakukan kencan buta. Hingga akhirnya Gatsby berniat mengambil Daisy dari pelukan Tom Buchanan, suami sah Daisy. Gatsbylah yang mengatur pertemuan antara Tom, Daisy, Gatsby, Nick dan pacarnya di apartemen milik Gatsby yang berakhir dengan pertengkaran hebat itu.

“Katakan, Daisy, katakan bahwa kau tak pernah mencintainya. Katakan bahwa kau mencintai aku. Dan segala penderitaanmu akan lenyap. Aku akan membawamu pergi. ” Gatsby kembali mengulangi perkataannya. kali ini lebih keras dari yang pertama.

Daisy terdiam. Lama sekali. Dia menatap pada suaminya, Tom Buchanan yang duduk berjauhan dengan tempatnya berdiri bersama Gatsby. melihat itu, Tom Buchanan lantas berdiri dari kursi dan mondar mandir di depan pintu kamar. Hatinya meradang melihat istrinya disentuh Gatsby. Tapi ia tak sanggup melakukan apa-apa.

“Aku tidak mencintainya. Aku tidak pernah mencintai Tom” Daisy mengucapkan itu dengan nada lirih dan berat, seakan terpaksa. Kalimat itu nyaris tak terdengar semua orang yang berada di dalam apartemen mewah itu. Airmatanya terus jatuh.

Gatsby tersenyum. Merasa puas pada keberanian Daisy. sementara Tom, suami Dasisy, yang mendengar pernyataan istrinya mendadak naik pitam. ia meletakkan gelas birnya dengan keras di meja.

“Tidak pernah? Termasuk pada hari aku menggendongmu di Puch Bowl agar sepatumu tidak basah? Tidak pernah? Termasuk saat malam pertama di bulan madu kita? aku tahu aku banyak dosa padamu. Aku berselingkuh. Tapi aku selalu kembali padamu. Aku mencintaimu. Daisy...jujurlah pada kata hatimu.”

Tom memang suami yang buruk di mata Daisy. ia berasal dari keluarga kaya di New York. meski demikian Ia sering kali berselingkuh di belakang Daisy. Namun meski Daisy mengetahuinya, dia tetap tak meninggalkan suaminya dan hidup bersama di rumah mewah mereka di area “East Egg” bersama anak perempuan mereka. Sampai akhirnya Gatsby datang dalam kehidupan Daisy dan mencoba kembali lagi mereguk kisah cinta mereka yang dulu berantakan karena perang dan status ekonomi.

Daisy terus terisak. Suasana dalam apartemen itu yang mulanya penuh pesta minum, jadi penuh haru. Gatsby memeluk Daisy. Tapi Daisy kali ini menepis tangan Gatsby. Perempuan cantik berambut pirang dengan potongan pendek itu mendekati meja bir. Mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Airmatanya masih terus mengalir membasahi pipinya yang lembut dan putih itu.

“Jay Gatsby, kamu terlalu banyak keinginan. Aku mencintaimu. Tapi itu semua telah berlalu. Aku bohong jika aku tak mengatakan aku juga mencintai Tom. Tolonglah, Jay, mengertilah posisiku.”

Pada masa kejayaan ekonomi Amerika di tahun 1920-an yang kerap disebut “The Roaring Twenties” kemunculan orang kaya baru dengan kehidupan glamour membuat lunturnya nilai-nilai moral terlebih dalam hal menjaga kesetiaan terhadap pasangan hidup. Angka perceraian terus meningkat dari tahun ke tahun. Perselingkuhan dalam rumah tangga menjadi jamak dan telah jadi rahasia umum. memelihara perempuan atau lelaki simpanan jadi hobi kebanyakan orang kaya baru itu. Di masa-masa itulah, Jay Gatsby mencoba masuk lagi dalam kehidupan Daisy, untuk menarik Daisy, kekasih hatinya di masa lalu itu, dalam kehidupannya. Tepatnya merebut Daisy dari tangan Tom.

Mendengar kata-kata itu, Tom menyalak. “Dengarlah Gatsby, apapun yang kau lakukan tidak akan mengubah kenyataan.”

Gatsby kali ini meradang. Ia membanting gelas birnya dan menggebrak meja. Kemudian melompati Tom, meringkus kerah bajunya dan mengepalkan tangan kanannya ke udara. Siap menghantam Tom.
“Tutup mulutmu. Tutup mulutmu!”

Tom terkejut. Tapi ia tak berbuat apa-apa. Suami Daisy itu pasrah. Daisy terus menangis dan menangis melihat peristiwa itu. Melihat Daisy menangis, Gatsby menghentikan tindakannya. Ia melepas cengkeraman tangannya di kerah baju Tom. Menghampiri Daisy dan mencoba memeluknya lagi. Tapi Daisy lagi-lagi menepisnya. Gatsby terus berbicara hal-hal romantis di telinga Daisy. Tapi makin Gatsby banyak bicara, Daisy makin menutup diri.

“Tom, bawa aku keluar dari sini!”

Daisy berlari keluar apartemen. Gatsby menyusulnya. Tom membanting pintu Apartemen. Dan begitulah segala cerita itu berakhir. Dalam perjalanan mengantar Daisy pulang ke rumahnya, Gatsby menabrak seorang perempuan di dekat pom bensin yang tak lain adalah selingkuhan Tom Buchanan. Sang suami perempuan itu marah. Berikutnya datang mengendap-endap ke rumah Gatsby dan menyarangkan dua butir peluru di dada Gatsby saat usai berenang. Gatsby mati bersimbah darah meninggalkan semua harta bendanya yang melimpah dan meninggalkan cintanya pada Daisy yang terus bertepuk sebelah tangan. Gatsby mati dalam kehampaan. Sementara Daisy terus melanjutkan hidupnya bersama suaminya, Tom Buchanan.

Itulah kisah yang ditulis oleh penulis Amerika F.Scott Fitzgerald (1896-1940) dengan judul Great Gatsby. Mula-mula novel itu terbut pada tahun 1925, namun pasar tidak meresponnya terlalu serius. Ketika pertama kali terbit, hanya terjual novel hanya terjual 25 ribu copy selama sisa hidup Fitzgerald yang meninggal pada usia 44 tahun.

Baru ketika The Great Gatsby dipublikasi ulang pada tahun 1945 dan 1953, novel itu menjadi sangat laris dan melambungkan nama Fitzgerald sebagai pengarang kelas dunia. Tak cukup itu saja. Karya-karya Fitzgerald kemudian menjadi bacaan wajib anak sekolah di Amerika sebagai dasar mengenal budaya dan prilaku orang Amerika. Kelebihan karya-karya pria kelahiran St. Paul Minnesota, Amerika, 24 September 1896 silam itu adalah kritiknya terhadap kaum borjuis yang suka berfoya-foya dan menerabas moralitas masyarakat yang dibalut dalam kisah percintaan yang rumit. Popularitas novel Great Gatsby kemudian diadaptasi ke dalam drama, opera dan film.

Dalam film, setidaknya ada tiga versi adaptasi. Pertama diproduksi pada tahun 1974 yang dibintangi Robert Redford dan Mia Farrow. Kemudian pada tahun 2000 yang dibintangi Toby Stephens dan Mira Sorvino dan Paul Rudd sebagai Nick. Dan yang terakhir versi 2013 hasil karya Sutradara favorit saya Baz Luhrmann dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Carey Mulligan. Semuanya menggunakan judul yang sama The Great Gatsby.

Apa yang bisa ditarik dari karya F.Scott Fitzgerald? Sungguh pernikahan merupakan suatu yang sakral dan bukan perkara main-main. Kata orang, pernikahan lebih besar dari rasa cinta. Namun sebenarnya kebesaran pernikahan karena rasa cinta itu melingkupi kesakralan pernikahan itu sendiri. Menikah berarti merajut hidup masa depan dengan orang lain. jika tidak sanggup mempertahankan pernikahan ada baiknya tidak menikah sama sekali. mempertahankan sesuatu memang perlu keberanian.

Setiap orang berhak berpacaran sebelum melakukan pernikahan. Dan berhak menikah dengan orang lain selain pacarnya karena berbagai alasan. Tapi ketika sang pacar di masa lalu itu menuntut rasa cinta di masa lalunya itu berulang, rasa ego cintanya, tidak berhak merusak pernikahan yang terlanjur dibangun dan melibatkan banyak orang dan banyak sekali perasaan. Daisy bimbang, namun pilihan terbaiknya adalah mempertahankan keluarganya.


Yach, apa boleh bikin. Salah satu hal paling menjengkelkan dari menjadi manusia adalah saat berurusan dengan momen macam ini: meninggalkan atau ditinggalkan. Dan itu bukan berarti hidup tak adil. Sebab dari situ kita belajar bahwa nikmat terbaik dari hidup adalah kerelaan menerima kenyataan.










cover film Great Gatsby, 2013
Buku Great Gatsby terbitan Serambi Pustaka, 2010

Kamis, 01 Desember 2016

DEMI CINTA

DEMI CINTA

Seorang lelaki tua, usia 70 tahun, yang sedang telanjang karena usai bersenggama, mengatakan sesuatu pada kekasihnya yang juga tua dan telanjang, yang membuat perempuan itu berlinang. 

“Aku sudah menunggu momen ini selama 54 tahun”

“Ya, aku tahu, aku tahu, kau sudah pernah mengatakannya padaku.”

Keduanya kemudian berpelukan dalam kamar. Melanjutkan percintaan mereka. Di luar, angin laut berhembus pelan. Semilir dan membius. Kapal, tempat sepasang kekasih itu mereguk keindahan cinta, bergoyang pelan. Mengikuti riak gelombang laut di sore yang pelan-pelan melarut ke dalam malam berkabut. Di tiangnya berkibar bendera kuning diembus angin. 

Lelaki tua itu bernama Florentino Ariza. Sedangkan sang perempuan bernama Fermina Daza. Keduanya bukan sepasang kekasih yang hidup bersama sejak muda seperti dalam novel Notebook karya Nicholas Sparks yang kemudian difilmkan dengan judul sama dan mendulang sukses di Amerika. Keduanya baru saja bertemu, setelah suami Fermina meninggal karena terjatuh dari tangga. Keduanya kemudian menuntaskan takdir cinta mereka yang terenggut dinding pembatas di kala muda. Sungguh penantian panjang dan melelahkan. 

Cinta mereka mula-mula bersemi di Argentina, di tahun 1879, ketika wabah Kolera mengamuk dan mencabut banyak sekali nyawa manusia. Florentino yang miskin dan bekerja sebagai pengantar telegram mendadak jatuh hati pada pandangan pertama kepada si jelita Fermina yang lahir dari keluarga kaya. Tak berpikir panjang, Florentino yang mahir menulis puisi kemudian mulai menulis surat cinta atau menantikan Fermina di luar rumahnya untuk sekedar menarik perhatian dan melihat wajah cantik pujaan hatinya. berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. 

Gayung pun bersambut. Bait-bait puisi yang ditulis Florentino dalam surat-suratnya dengan getar kata penuh perasaan akhirnya meluluhkan hati Fermina, hingga gadis ini bersedia menikah dengannya. 

Sayang hubungan itu tidaklah mulus. Memang tak ada yang mulus dalam cinta. Ayah Fermina, Lorenzo, menentangnya. Soalnya sederhana, perbedaan kelas sosial. Untuk memutus jalinan cinta itu, akhirnya sang ayah mengirim putrinya berdiam dengan keluarganya yang lebih kaya, di luar kota hingga belasan tahun lamanya. Dan tak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan cinta. Florentino remuk mengetahui kenyataan pahit itu. Ia demam berhari-hari. Jiwanya limbung. 

Meski begitu rasa cintanya pada Fermina tak juga kemput. Florentino terus memelihara cintanya melalui surat-surat cinta yang ditulis tanpa henti, dan tak terkirimkan sembari menunggu pujaan hatinya kembali pulang. 

Namun waktu bisa merubah seseorang. Saat Fermina kembali, dia sudah menjadi perempuan yang berbeda. Baik secara fisik maupun cara pandang. Dalam soal memaknai cinta Florentino, tentu atas tekanan Ayahnya, Fermina akhirnya menganggap cintanya pada Florentino sekedar cinta monyet belaka dan mustahil diharapkan berakhir di pelaminan dengan bahagia. 

"Cinta kita yang dulu hanya ilusi. Jadi jauhi aku. Kita selesai" ujar Fermina pada Florentino saat mereka untuk pertamakalinya bertemu di sebuah pasar, setelah perpisahan itu.

Untuk mempertegas pernyataannya, Fermina, terpaksa menikah dengan Juvenal Urbino, seorang dokter muda yang ganteng, yang dianggap lebih sepadan oleh Fermina. Pertemuan keduanya terjadi saat Fermina sakit dan diobati Juvenal. 

Apakah Florentino Ariza mengubur dalam-dalam cintanya pada Fermina Daza? Nyatanya tidak. Florentino Ariza bersedia menunggu selama setengah abad untuk bisa hidup bersama dengan pujaan hatinya. Namun ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam. Bercinta dengan banyak sekali perempuan untuk membunuh kebosanannya dalam penantian. ia melakukannya dengan perasaan pedih dan begitu hampa. 622 perempuan sudah ia tiduri selama penantian panjang yang melelahkan dan membuatnya nyaris sakit jiwa itu. Tubuhnya bersenggama dari satu perempuan ke lain perempuan. Namun jiwanya masih memeluk bayangan Fermina. 

Kisah-kisah Florentino dalam meniduri perempuan-perempuan itu ia catat dalam jurnal hariannya, bukan dalam format 3gp. Ia terpaksa melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza. Hari demi hari, seiring kekayaannya berlimpah karena sukses bekerja di perusahaan kapal sebagai sekretaris, ia bermain api cinta semu dengan banyak wanita. Sampai hari yang ditunggunya tiba jua. Suami Fermina meninggal dunia setelah jatuh dari tangga saat hendak menangkap burung. Dan Florentino datang lagi dalam kehidupan Fermina. Mula-mula ditolak. Namun Florentino kembali menulis dan mengirimkan surat-surat cintanya pada Fermina. Fermina pun luluh juga. Keduanya kemudian menuntaskan cinta yang tertunda lebih dari setengah abad. 

Terkesan fiktif? Iya, ini memang kisah novel klasik yang ditulis pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel García Márquez, yang kemudian difilmkan ulang oleh Mike Newell di tahun 2007. Dengan penulis skenarionya Ronald Harwood, peraih Oscar untuk skenario The Pianist. ketika Film ini ditayangkan perdana. banyak kritikus film menganggapnya film buruk dari berbagai film yang diadaptasi dari novel. Pasalnya sederhana, plot film terlalu mengikuti plot novel. bagi mereka yang pernah membaca buku penulis novel 100 tahun kesunyian itu, film itu terasa sekedar sinopsis novel. Unsur realisme magis yang menjadi kekuatan Gabriel Garcia Marquez dalam novel-novelnya lenyap.

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Soalnya adalah tak ada yang fiksi dalam cinta. Cinta memiliki keajaibannya sendiri. Di dunia nyata ada kisah yang hampir mirip dengan apa yang ditulis Gabriel García Márquez. Salah satunya, Ah Ji asal Taiwan. Ah ji rela tinggal dan menua selama 20 tahun di stasiun kereta api Tainan. Semuanya bermula dari sebuah janji untuk bertemu di stasiun tersebut pada jam yang telah ditentukan. Laiknya pria yang akan berkencan dengan pujaan hati, Ah Ji pun mengenakan pakaian yang sangat rapi untuk menemui sang kekasih. Namun, hingga 20 tahun kemudian, sang kekasih tak kunjung datang. Dan Ah Ji tetap setia menunggu, sebab percaya kekasihnya akan datang. 

Tindakan Ah Ji bagi beberapa orang menggelikan. Bisa juga disebut keterlaluan. Tapi ini soal daya tahan saja. mereka yang tak punya daya tahan menunggu cinta, akhirnya memilih beralih ke hati lain dan menjalani hidup dengan orang lain. Membiarkan cinta lain tumbuh dan bersemi sambil terus membunuh cinta silam yang tak jua memberi kejelasan nasib.

Itu bisa terjadi pada siapa saja. termasuk kita juga. Benarkah kita telah menikahi atau memacari orang yang benar-benar mencintai kita? Jangan-jangan dalam hatinya, ia sedang menunggu orang lain, orang yang didambakannya dalam kenangan untuk bisa bersamanya. Jangan-jangan kita yang sedang menghabiskan waktu bersama pasangan kita untuk sekedar menghabiskan waktu sembari menanti momen yang tepat untuk bisa bersama dengan pujaan hati yang karena berbagai keterbatasan di masa silam tak bisa dimiliki. Siapa yang tahu isi hati seseorang? Kita bisa menikahi atau memiliki orang yang kita cintai, tapi kita tak pernah bisa menikahi jiwanya secara total. Lagipula fisik bisa terus menua, tapi gelora cinta akan tetap muda dan berbahaya.
Sungguh beruntunglah mereka yang bersama karena cinta, karena benar-benar saling mencintai, bukan karena pelarian dari perasaan cinta yang sejati yang tak bisa dimiliki. 

Cinta dan kenangan itu seperti iblis. Ia mengganggu, menghantui dan tak bisa mati.



Senin, 07 September 2015

MASIH ADAKAH SASTRA INDONESIA?

Oleh: Edy Firmansyah*)

Ditetapkannya penyair gimbal asal Medan, Saut Situmorang sebagai tersangka atas kasus pencemaran nama baik karena diskusi di fesbuk terkait dengan terbitnya buku “33 tokoh sastra paling berpengaruh” yang di dalamnya memuat Denny JA sebagai salah satu tokoh sastra di dalam buku tersebut, membuat saya bertanya; masih adakah sastra Indonesia?

Tentu kalau yang kita bicarakan adalah banyaknya karya-karya sastra yang terbit dan beredar di pasaran buku, kita boleh saja menjawab bahwa sastra Indonesia itu masih ada. Dan saya terlalu berlebihan bertanya soal itu. 

Tapi dalam kemerdekaan menggunakan elemen-elemen bahasa sebagai alat komunikasi sastrawan baik dalam berkarya maupun dalam berdiskusi di ruang publik, pertanyaan saya jadi penting diajukan. Bermula dari kata bajingan, Saut Situmorang kemudian dituntut dengan pasal karet pencemaran nama baik. Awalnya dipanggil kepolisian sebagai saksi. Kemudian statusnya dinaikkan sebagai tersangka. Dan status tersangka itu tidak menutup kemungkinan penyair yang lama tinggal di Jogya itu akan menghadapi hari-hari panjang pengadilan yang bisa menyeretnya meringkuk dalam penjara.

Pelapornya, seorang perempuan yang mengaku juga sastrawan yang juga penyair bernama Fatin Hamama. Merasa tak tahan dengan ledekan dan sindiran, karena terus menerus membela buku Denny JA yang dikritik Saut Situmorang (dan kawan-kawannya) Fatin Hamama, melaporkan Saut Situmorang dan Sutan Iwan Sukri Munaf dengan tuduhkan “pencemaran nama baik.” Pelaporan itu kerena menurut sang karib Denny JA itu, dalam dunia Sastra, bahasa yang dipakai para pengkritik tidak pantas, tidak sopan, tidak tahu aturan dan sebagainya. Karena menurut pandangannya, dunia sastra itu santun, kemayu, unyu-unyu, kayak manten jawa. Kuat dugaan, tindakan pelaporan itu hanyalah upaya mengalihkan isu atas cacat akademik buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang terus dibeberkan para pengkritik Denny JA. Belakangan, Iwan Sukri Munaf akhirnya harus tunduk pada kemauan Fatin Hamama. Ia memilih jalan damai. Didampingi pengacaranya, Ia meminta maaf pada Fatin Hamama secara terbuka. Meski ia selamat jadi cengkeraman pasal karet itu, tapi tindakannya mendapat cibiran banyak pihak. Tapi tiap orang punya daya tahannya sendiri dan punya keputusannya sendiri. 

Sementara, Saut Situmorang? Sangat tidak mungkin menekuk penyair yang sudah bicara dengan Tuhan itu. Kalau Fatin Hamama ingin Saut bertindak seperti Iwan Sukri Munaf, saya yakin itu hanya terjadi dalam mimpi indah diantara mimpi-mimpi buruk tidur malamnya. 

Soalnya sederhana, apakah kata bajingan adalah tindakan melanggar hukum dalam dunia sastra? Nyatanya tidak. Sarkasme masih menjadi bagian dalam majas. Ia diajarkan di bangku sekolahan bahkan sejak bangku sekolah kelas menengah pertama. Sebagai bagian dari gaya bahasa, sarkasme diijinkan digunakan siapa saja dan pada siapa saja baik secara verbal maupun tekstual. Alegori juga begitu. Ia juga masih diajarkan di bangku sekolahan sebagai bagian dari majas. Penggunaan kata seperti lonte tua yang tak laku juga tidak muncul begitu saja seperti kengawuran orang mabuk di sudut pasar. Dan Saut Situmorang tentu tidak menggunakannya dengan kengawuran anak sekolah yang baru belajar beladiri. 

Lantas mengapa persoalan macam begini harus berakhir di ranah hukum? Tentu banyak kemungkinannya. Bisa jadi Fatin Hamama memang tidak serius menjadi sastrawan apalagi penyair sehingga soal majas begini saja ia harus kebakaran jilbab dan perlu main polisi. Sangat mungkin pula tindakan pelaporan itu hanyalah upaya mengalihkan isu atas cacat akademik buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang terus dibeberkan para pengkritik Denny JA. Dengan demikian buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" bisa berlenggang kangkung di pasaran buku, dimamah dan dipercaya anak sekolahan sebagai buku ajar sastra Indonesia meski menyesatkan. Atau Fatin Hamama ingin sekali ikut terkenal seperti Denny JA. Dan “menggebuk” Saut Situmorang adalah kunci? Entahlah.

Tapi kalau memang yang terakhir yang dicari Fatin Hamama, kayaknya dia salah pilih jalan. Fatin Hamama gagal menjadi penyair besar, cita-citanya sejak kecil (menurut pengakuannya sih) itu. Dia belum matang secara mental memasuki jagad yang penuh para pendekar. Terbukti, baru diledek bajingan aja sudah main lapor polisi. Susah memang kalok anak rumahan yang mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam masuk dunia sastra yang di dalamnya bukan hanya pendekar kata-kata, juga pendekar bogem mentah nan digjaya. 

Sebab, kalau mau jujur, dunia sastra nyatanya juga penuh ledekan dan cacian. Perkelahian. Pukulan. bahkan tonjokan. Tapi berkat itu semua seseorang bisa lantas terkenal sedemikian lama dan jadi populer serta berpengaruh di dunia sastra. Bukan hanya tingkat nasional pengaruhnya. Tapi bisa sampai nginternasional. Karena bukan cuma kecerdasannya teruji, mentalnya juga teruji.

Saya ambil contoh satu saja. dari Amerika Latin. Sebenarnya banyak sih, tapi satu saja biar tulisan ini tak panjang-panjang amat. Kalau di Indonesia kita tahu bagaimana HB. Jassin pernah menonjok muka Chairil Anwar karena meledeknya saat main teater. atau Idrus yang meledek Pramoedya Ananta Toer sebagai tukang berak, bukan penulis. Seandainya Chairil melaporkan Jassin ke polisi dan Pram menanggapi Idrus dengan main lapor aparat, kita tak mengenal Chairil dan Pram sebesar sekarang. 

Nah yang di Amerika Latin begini ceritanya. Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa sahabat karib. Keduanya sastrawan besar Amerika Latin. Sama-sama peraih nobel sastra. Tak jelas ujung pangkalnya kemana kemudian keduanya bermusuhan hebat. Puncaknya, di sebuah bioskop di Meksiko pada 1976, dalam acara pemutaran perdana film karya René Cardona La Odisea de los Andes, begitu Vargas Llosa bertemu García Márquez, peraih nobel sastra asal Peru itu langsung melayangkan tinjunya ke muka García Márquez. Mata kiri García Márquez bengkak. Dan aneh bin ajaib bagai dalam novel-novel realis magisnya, seorang teman lari ke toko daging dekat situ, mengambil seiris daging, lalu menaruhnya di mata García Márquez yang lebam sebagai kompres! 

Tapi Garcia Marquez tak pernah melaporkan sahabat karib yang sekaligus musuh bebuyutannya itu ke polisi. Dan hingga kini karya keduanya sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Bahkan tanpa mereka, sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini. 

Kembali ke soal sastra Indonesia. Oke, nasi sudah jadi bubur. Saut Situmorang sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal pencemaran nama baik. Soalnya adalah apakah kemerdekaan menggunakan majas sebagai gaya bahasa dalam bahasa indonesia yang besar itu sudah tidak ada lagi? Sedemikian suramkah kemerdekaan kita berpendapat dan mengkritik orang menggunakan gaya bahasa yang sah dan diajarkan secara legal di bangku sekolahan hingga harus berakhir di tangan polisi? kalau menyaksikan bagaimana Ahok, Gubernur DKI itu dengan enteng menggunakan seribu satu caci maki dalam merespon banyak persoalan kita sangsi. Tapi sepertinya yang boleh mencaci hanya orang yang punya kuasa. Bukankah sudah tidak terhitung orang yang kena jerat pasal pencemaran nama baik? Dan kini pasal itu coba menekuk seorang penyair. Menekuk karena dia benar. 

Tentu kita tak ingin kehilangan kemerdekaan itu. Kita yang bangga pada sastra dan bahasa Indonesia tak ingin bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dikerdilkan sedemikian rupa hanya karena memilih menggunakan majas sarkasme dan alegori sebagai gaya bahasa. 

Kalau persoalan begini didiamkan begitu saja, barangkali sastra Indonesia telah selesai. Selesai ditekuk kuasa uang. Selesai ditekuk orang-orang kerdil dan punya uang untuk mengobrak abrik jejak sejarahnya demi mendongkrak popularitasnya. Dan kita akan terus menjadi bangsa yang seolah-olah santun tapi munafik. Munafik pada kenyataan sosial. Kalau sastrawan ya sastrawan yang lembek dan gampang patah kalau sudah dikukus sama dollar. Dan Saut Situmorang akan mendekam juga di balik jeruji penjara. Selanjutnya, mungkin kita. 

Selamat beraktivitas. jangan lupa sisa kondomnya dibuang, nanti ketahuan.


*) Edy Firmansyah, penyair unyu-unyu dan petani melon.

Selasa, 12 Mei 2015

Mereka yang Menghabiskan 80 Juta Rupiah dalam Setengah Jam

Kasus tertangkapnya AA dalam bisnis pelacuran kelas atas bikin heboh publik. Bukan karena penggerebekannya yang dramatis, tetapi karena tarifnya. Bayangkan saudara, untuk sekali crot seorang pria hidung belang harus merogoh kocek 80 juta rupiah. Bukan angka yang sedikit untuk ukuran saya. Uang segitu udah cukup buat beli mobil murah merek Ayla atau Agya yang sampai saat ini bahkan untuk membeli rodanya, saya masih mikir duakali. Apalagi untuk ukuran seorang Tuki, tukang becak motor di kampung saya.

Sebenarnya soal gerebek pelacuran satuan polisi pamong praja dan kepolisian memang paling jago. Cuma levelnya masih kelas coro. Pinggiran. Pelacuran kelas teri. Yang bahkan bagi seorang pelacur kelas pinggir jalan itu, untuk dapat 10 juta saja, mungkin harus rela kerja selama tiga bulan nonstop tanpa prei. Sementara yang ini, kelas elit. Padahal, ya, nikmatnya vagina masih begitu begitu juga. Cuma mungkin beda sensasi aja. Duh...pusing pala babi.

Bagaimana nggak pusing, uang sebanyak 80 juta hanya dibuat untuk memuntahkan sperma usai bergesekan dengan vagina yang barangkali hanya perlu waktu paling lama setengah jam. Waktu sependek itu membuat uang 80 juta sudah harus rela berpindah tangan. Orang macam apa yang begitu gampang melepas duit yang kalau dibelikan cendol itu bisa memenuhi dua kolam renang? Toh vagina perempuan di mana-mana sama saja. Masih vertikal. Tidak horisontal. Masih terus ditumbuhi bulu bukan ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit. Masih licin kalau terangsang tidak keras seperti moncong senapan atau kenalpot telo. Jadi, laki-laki macam apakah gerangan yang mau menghabiskan uang untuk hal yang tak masuk akal bagi orang kebanyakan itu?

Pertama, jelas orang kaya yang penghasilannya sebulan bisa satu miliar sehingga angka 80 juta rupiah seperti sekedar uang dua puluh ribu di saat saya gajian. Begitu enteng dikeluarkan dan diberikan pada ponakan atau sepupu yang pulang kampung. Atau lebih tegasnya orang kaya yang sombong, sehingga uang 80 juta rupiah hanya dihabiskan hanya untuk short time main dengan pelacur. Kalaupun bukan orang kaya yang sombong, tentu kelas menengah yang stress berat, sehingga uang 80 juta yang bertahun-tahun ia tabung dengan laku hidup hemat akhirnya dihabiskan cuma buat ngasah keris tumpul di gua garba habis kehujanan. Tapi senekat-nekatnya kelas menengah, jelas susah ditemukan kebenarannya untuk menghabiskan tabungan 80 juta hanya untuk sekali crot.

Kedua, jelas orang kaya yang buruk rupa, yang di masa mudanya tak pernah bisa berkencan dengan perempuan yang cantik jelita dengan cara yang normal. Normal dalam artian, pacaran, tunangan, sampai akhirnya menikah. Sehingga untuk memuaskan obsesinya mengencani cewek-cewek jelita ciptaan bapak dan ibunya itu harus rela menghamburkan uang sedemikian banyaknya. Sebab orang-orang tampan macam saya tak perlu harus merogoh kocek sampai segila itu untuk hanya sekedar mengencani cewek cantik. Cukup tebar pesona dan pasang senyum, para perempuan yang tertarik pasti akan segera meminta tukeran nomor telepon.

Ketiga jelas orang kaya yang sadar betul bahwa adagium hidup kaya raya dan mati masuk surga bukanlah takdir dirinya. Mereka sadar takdirnya hidup kaya raya dan matinya disiksa dalam neraka. Karena duit sebanyak yang dia punya tak didapat dengan cara halal, melainkan dengan cara haram; menindas orang, merampas hak orang lain,menipu buruhnya sendiri, hingga korupsi. Akhirnya, daripada sama sekali tidak bisa menikmati peluk cium dan desah berahi para bidadari di surga maka ia memutuskan untuk menikmati bidadari-bidadari dunia. Terserah berapapun harga yang harus dibayarnya. Pokoknya ia harus menikmati sebanyak-banyaknya bidadari dunia yang mampu memuaskan syahwat liarnya sebelum ajal menjemputnya.

Buat mereka yang mengejar surga dan masih punya harapan untuk mendapat surga setelah kiamat, buat apa menghabiskan uang sebanyak itu untuk mengumbar syahwat. Mending diamalkan ke masjid atau mushalla. Atau buat menyantuni anak yatim dan orang miskin. Sebab balasannya jelas, surga. Dan orang-orang macam begitu boleh membayangkan bahwa memek bidadari di surga tentu lebih nikmat dari memek bidadari di dunia. Dan halal. Kecuali tidak digerebek FPI atau perlu stempel halal MUI.
Jadi nikmat apalagi yang hendak kau dustai wahai sodaraku?

Sabtu, 11 April 2015

Surat Terbuka Buat Shania Twain


Apa kabar Kak Shania Twain? Apakah kakak baik-baik saja di Canada sana? Saya di Madura baik-baik saja kak. Saya membeli kaset kakak pertama dan terakhir kali di album "Come On Over", sekitar akhir tahun 1998. Tentu saja cukup terlambat sejak album itu diluncurkan tahun 1997. Tapi lebih baik terlambat khan daripada tidak beli.

Ketika membeli kaset itu usia saya masih 18 tahun. Usia kakak? Hem, 33 tahun. Sekarang usia saya 34 tahun. Pasti usia kakak sekarang 50 tahun. Lebih muda 5 tahun dari ibu saya dong. Tapi dulu saya kok bisa naksir kakak ya? :d

Hari ini saya mendengarkan lagu album "Came on Over" dari yutub. Pake headset nokia yang saya jepitkan batu di tombolnya, karena jika tidak begitu suaranya jadi cempreng. Dan ingatan saya kembali ke masa ketika usai mengikuti UMPTN dan hari keberangkatan meninggalkan Madura kian dekat. Saya mau kuliah di Jember, kak, waktu itu. Dan saya nampak jadi sangat cengeng.

Saya anak sulung yang nyaris tak pernah keluar kota sendirian. Kota paling jauh yang saya kunjungi cuma Surabaya. Kakak tahu Surabaya? Kalau nggak, main-mainlah ke Indonesia kalo sempat, nanti saya ajak keliling surabaya dan menginap di Madura. Nah, tiba-tiba, saya harus ke luar kota sendirian. Ke Jember. Kuliah. Sendirian. Sedih tentu saja. Ingin rasanya hari itu tak pernah tiba, hari dimana saya harus berpisah dengan ibu dan bapak saya di terminal untuk waktu yang lama. Bukan hari, tapi bulan. Bahkan tahun. Anak sulung yang baru pertama keluar kota sendirian. Tapi makin ditahan-tahan, yang namanya waktu, seakan bergerak secepat kuda pacuan. Dan hari itu tiba juga. Lagu "You’ve Got a Way" dan "Whatever You Do, Don’t!" baru saja lewat, kak. Saya pergi juga. Dan lagu kakak masih terngiang-ngiang di kepala kala itu.

Sedih saya meninggalkan kampung halaman. Bukan saja karena berpisah dengan orang tua, tapi pacar saya, kak, pacar saya yang waktu itu masih kelas III SMP juga terpaksa saya tinggal. Nggak mungkin khan saya bawa serta. Emang mau saya kasih makan apa di Jember coba? Cinta? Senggama? Aih…meski cengeng saya nggak sekacau itu sih dulu. Saya hanya meninggalkan dia dengan sepucuk surat. Semacam perpisahan. Prolognya? Syair pertama di lagu "You’re still The One". Picisan? Ya eyalah, Kak, namanya juga anak SMA. Dan saya nggak bilang kalok itu saya ambil dari lagu kakak. Biar nampak keren dan jago enggres. grin emoticon

Saya ndak tahu dia sedih atau tidak. Tapi saya sedih. Di bis patas Madura-Surabaya malam menjelang dini hari itu saya membayangkan dia terus. Kami bakal tak pernah bertemu lagi setelah itu. Hape? Belum punya hape kala itu kak. Ericson T10 itu mahalnya minta anjing. Kantong orang tua saya nggak cukup buat membelikan hape itu.

Sialnya, sampai di terminal Bungurasih, saya kecopetan. Nah, nasib anak sulung yang baru keluar kampung, begitu mentas langsung dicopet. Untung dompet selamat. Hanya uang duapuluh ribu lenyap. Tapi namanya apes tetap apes. Kecopetan. Lagu "When" baru saja selesai.

Saat mengetik paragraf ini lagu "Honey, I’m Home" baru saja di mulai. Awalnya saya kos di jalan Manggar, Jember, bersama seorang kawan. Kemudian saya pindah ke jalan Jawa ke kosan bernama Al-Cartoon (soal Al-Cartoon ini akan saya ceritakan terpisah kalo sempat). Saya masih cengeng. Tetap selalu ingin pulang. Sementara kawan saya dari kampung yang awalnya berangkat bersama ke Jember sudah pindah kampus. Ia mengadu nasib ke Malang. Mungkin kesepian atau mengejar cintanya yang kadung dianggap kekal. Memang di Malang lebih menggiurkan sih. Teman-teman sekelas saya waktu SMA numpuk kuliah di sana.

Tapi saya bukan remaja yang nekat. Juga bukan pelawan arus yang tangguh. Jadi pasrah saja. Tapi juga bukan mahasiswa yang baik. Begitu selesai ujian dan nilai IPK keluar, semester pertama, alhamdulillah, IPK saya tembus 2,1. Keren ya. Masih keren dong daripada nggak dapat nilai. Dan kakak masih sering saya dengarkan kalau lagi jalan-jalan ke Matahari. Lagu "come on over" baru saja dimulai. Suara kakak dari awal saya mendengarkan album "Come on Over" dari yutub masih seksi saja. Apakah setelah kepala 5 sekarang masih seseksi ketika album "come on over" terbit? Entahlah, semoga kakak sehat selalu.

Nasib saya mungkin lebih beruntung. Nasib para penunggu angin dan pengikut ke mana air mengalir memang begitu, mungkin. Kawan sekampung saya yang ketika pertamakali ke jember bersama-sama hancur karir pendidikan tingginya di Malang. Beberapa kali pindah sekolah nggak selesai semua. Sementara cinta yang ia kejar yang telah membuat hatinya jadi pelawan arus nasib paling garang justru pindah ke lain hati. Memilih menikah dengan guru. Kalau kemudian dia bertahan hingga sekarang, mungkin karena mental pelawan arusnya yang tak usai-usai. Dia telah berkeluarga sekarang. Saya juga. Semoga dia baik-baik saja dan terus bercahaya. Lagu "Don’t be Stupid" baru saja kelar ketika paragraf ini saya selesaikan.

Kakak mau tahu dari semua cerita panjang lebar di awal tadi sebenarnya apa tujuan saya menulis surat ini? Tentu saja saya kangen kakak. Semoga surat ini bisa kakak baca, kalau nggak ya saya sarankan kakak kursus bahasa indonesia. Sebab enggres saya masih belepotan kayak mulut balita yang baru belajar makan sendiri. Ngomong-ngomong, kapan kita bisa ketemu kak? Makan malam di warung sate atau kencan di warung Pak Dje. Maukah kakak jadi pacar saya?

Jangan dijawab dengan tergesa kak. Dipikir-pikir aja dulu. Lagu "Black Eyes, Blue Tears" telah usai. Saatnya pulang. Selamat tinggal.

Dari penggemarmu

Peluk cium lewat kenangan selalu

Selasa, 23 Desember 2014

TIPS DAN TRIK LOLOS DARI PENJARA MESKI DOYAN DAUN MUDA

Oleh: Edy Firmansyah*)

Saya terhenyak begitu membaca Koran lokal hari ini dengan berita: “kepala BPBD Sampang resmi jadi tersangka”. Bukan, bukan karena korupsi atau ngemil bantuan bencana, tapi karena doyan daun muda. Bayangkan, kota yang juga dapat julukan seribu pesantren itu yang dipimpin oleh seorang kiai yang konon penyabar dan baik pekerti, dicemari oleh tindakan asusila oleh pejabatnya.

Sebenarnya sih, kasus macam begitu bukan kali pertama terjadi di salah satu kabupaten di Madura berjuluk kota bahari yang plesetannya dikenal dengan; "kalau musim hujan banjirnya bisa berhari-hari" ini. Dulu, dulu sekali, sempat beredar video mesum yang dilakukan anak seorang guru ngaji. Kasak-kusuk berita selingkuh jadi perbincangan sehari-hari. Konon pernah juga ada berita pasangan selingkuh PNS yang main kuda-kudaan di toilet kantornya sendiri. pernah juga ramai berita, anggota dewan yang juga suka daun muda. Tapi modusnya lumayan ‘agamis’, siri dulu baru digoyang. Setelah itu cerai. Barangkali si anggota dewan yang konon juga santri, doyan ngaji dan dari partai yang islami itu nggak mau menghilangkan citra Sampang Bahari. Bersih, Agamis, Harmonis, Aman, Rapi dan Indah. Jadi biar bersih dan agamis, disiri dulu baru digoyang.

Eih, tunggu dulu. Di sini saya nggak mau ngomongin soal moral apalagi menggurui pembaca dengan teori seksualitas yang bla..bla,..bla… yang juga kadang saya nggak ngerti. Bahwa terlibat dan menjadi pelaku pelacuran di bawah umur adalah prilaku yang sakit semua orang normal dan punya nurani paham sekali. Justru yang bikin saya terhenyak, mengapa sih masih ada pejabat yang tertangkap karena perkara mesum begini? Bukankah yang tertangkap itu hanya puncak dari gunung es soal kesukaan pejabat kita ini. kalau nggak harta (korupsi), tahta (kekuasaan) ya perempuan. 

Karena itulah saya ingin memberikan tips aman untuk para pejabat yang hendak main gila dengan perempuan lain yang bukan istrinya. Tips ini penting agar para pejabat kita tak terus-terusan jadi kambing hitam media. Media memang jahat. Suka memutarbalikkan fakta. Makanya pepatah yang mengatakan bahwa profesi yang paling dekat dengan fitnah adalah profesi wartawan memang ada benarnya. Bayangkan, betapa malunya pejabat-pejabat kita yang jadi pemberitaan miring media. Sudah pejabatnya memang prilakunya miring, malah makin dimiring-miringkan sama wartawan. Begitu roboh (baca: diciduk polisi) masih diinjak-injak pula. Betapa sedihnya bukan kalau anak-anaknya yang di rumah tahu bapaknya jadi tersangka karena doyan daun muda?

Konon, raja-raja jawa dan juga pejabatnya punya banyak selir toh nggak pernah terlibat dengan polisi. Nggak pernah dilaporkan warganya sebagai tindak pencabulan meski yang dijadikan selir perempuan belia yang baru mengalami haid pertamanya. Dan raja-raja itu malah tercatat namanya dalam buku sejarah. Dikenang-kenang. Dipuja-puja sebagai ikon sebuah kabupaten kota.

Baiklah kembali ke soal tips. Karenanya untuk menjauhkan dari pemberitaan media yang terkutuk penting adanya tips saya ini dibaca baik-baik dan penuh rendah diri.

Pertama, jangan meniru tupai. Jangan melompat-lompat dari satu daun muda ke daun muda lainnya. Itu berbahaya, bro/sis. Apalagi musim hujan begini. Dahan dan ranting pada basah semua. Setialah pada satu daun muda. Istri sendiri misalnya. Bayangkan istri anda muda terus seperti saat malam pertama tiap kali bercinta.

Kedua, adillah sejak dalam pikiran. Kalau memang anda punya kelainan jiwa bernama pedofia, cobalah untuk berganti-ganti pasangan dalam pikiran. Misalnya, sambil bercinta dengan istri sendiri, bayangkan anda sedang bercinta dengan maria ozowa. Besoknya ganti tokoh dengan Kim Kardashian waktu mudanya. Saya yakin berganti-ganti pasangan dalam pikiran nggak akan masuk penjara atau diciduk polisi. Siapa sih yang bisa memenjarakan pikiran? nggak ada. tapi ingatlah, berlaku adil sama daun muda dalam pikiran sodara.

Ketiga, kalau memang keinginan untuk menyetubuhi daun muda benar-benar tak terbendung, cobalah hubungi jin terdekat yang berprofesi sebagai mucikari. Tidak ada salahnya mencoba daun muda dari kalangan jin. Tempo hari ada berita pernikahan seorang manusia dengan bangsa jin bisa masuk tivi loh. Siapa tahu dengan menkoleksi daun muda dari bangsa jin bisa juga jadi berita. Malah saya jamin saudara tidak akan masuk penjara hanya karena pamer cabe-cabean dari bangsa jin koleksi sodara. Kalau masuk berita pasti iya. Media memang suka peristiwa yang aneh-aneh akhir-akhir ini, bukan?

Keempat, perbanyaklah amal sholeh. Berbuat kebajikan. Ya, ini serius. Lantas apa hubungannya dengan keinginan berhubungan intim dengan daun muda? Hem, begini. Jika keinginan untuk bersetubuh dengan daun muda sudah tak terbendung lagi, gantung dirilah sampai mati. Berharaplah tuhan menghantarkan sodara ke surga yang sudah diisi dengan bidadari-bidadari cantik usia belia. Anda bisa pilih yang mana suka. Bisa bercinta di mana saja, kapan saja. Yang penting bisa ngaceng dan nggak kehabisan sperma.

Kelima, dan ini yang terakhir. Kalau keempat tips di atas tak sanggup saudara jalankan dengan baik dan bertaqwa, dan sodara masih suka jajan daun muda, apa boleh buat, itu hak anda. Orang yang punya uang dan punya kuasa memang bisa membeli apa saja, termasuk vagina perempuan-perempuan muda di bawah umur yang terhimpit ekonominya atau terbelenggu sindikat perdagangan manusia. Saya doakan saudara diciduk polisi dan masuk penjara. Para pelaku pelacuran anak ini di penjara sering diperlakukan tidak senonoh oleh napi lain yang paling berkuasa. Bisa disodomi, bisa disuruh onani dengan menggunakan remason. Bisa sodara bayangkan, bukan? “Sakitnya tuh di sini!” (sambil nunjuk dubur dan kemaluan). Semoga dengan demikian sodara insaf.




Sampang, 23 Desember 2014

*) Penulis adalah jurnalis cum penyair sambil lalu. 

Jumat, 19 Desember 2014

Impor Fidel Castro

EKSPOR JOKOWI, IMPOR SUBCOMANDANTE MARCOS

Komentar Menteri Rini dan juga Presiden agar direksi BUMN bisa diduduki orang asing memang ngeri-ngeri sedap, men.

Ngerinya, seakan-akan memang sudah nggak ada lagi orang pribumi yang kompeten ngurusi BUMN. Orang pribumi berkulit coklat itu seakan-akan memang belum siap ngurusi perusahaan sebesar BUMN. Sekali masyarakat jajahan, ya tetap jajahan. Mental jajahan ya memang nggak bisa luntur, salah satu solusinya; serahkan ke asing. Anda protes, ya biarin, bukan urusan saya.

Sedapnya, cie..kita jadi nampak globaliset gitu bro. Bayangkan, jika semua perusahaan dan semua instansi pemerintah bisa juga diduduki orang asing. Keren, khan? Nanti kalo ditanya, bosnya siapa, para pekerja kantoran bisa jawab dengan kece: “Ostrali bro. Bos kita dari ostrali.” Atau “bos kita Amrik men.  Para mahasiswa lugu dan unyu-unyu bisa sedikit busungkan dada ketika ditanya dosennya dari mana. jawabnya: Jerman. Prancis. Italia.  Anak-anak kita nanti bisa dengan keren cerita di rumah kalo guru bahasa Indonesia ternyata dari Inggris dan guru bahasa Inggrisnya dari Osrali. Kalo ortunya Tanya; lantas guru dari Indonesia di sekolahmu pada ke mana, nak? Si Anak dengan kece menjawab: dari pagi sampek siang, Omar Bakri ngelap kaca dan ngepel sekolah!

Kedepannya nanti, akan ada kampus di Madura yang cabangnya langsung dari Havard, Yale, Universitas Sydney, Queensland, dsb. Kampus-kampus cabang Amrik dan Ostrali itu bisa saingan sama ITB, UGM, UI. Atau kalo perlu tutup semua kampus-kampus negeri, ganti dengan kampus cabang luar negeri yang saya sebutkan tadi. Dasyat khan?

Semua pelayan Indomaret, alfamaret, dan carefur dibawakan aja dari luar negeri yang kece dan unyu-unyu. Dengan begitu para jomblowan jomblowati bisa berubah pikiran untuk mengakhiri status jomblo dunia akheratnya dengan berpasangan dengan orang luar negeri. Luar negeri men. Pribumi, apalah pribumi itu.

Sementara pasar-pasar tradisional sikat aja, nanti dibuatin bangunan pasar yang konstruksi ala bangunan pasar di Amrik sana, kontraktornya dari luar negeri. Buruhnya drop dari luar negeri. Semua yang pribumi anggap aja udah nggak kompeten garap yang begituan. Keren khan?

 Termasuk saat rupiah terus melemah, maka solusinya adalah impor dollar. Sebab dengan mengimpor dollar maka akan makin baik ekspornya. Ekspor apa? Tenaga kerja murah.  Jomblo-jomblo murahan yang gampang diperas tenaganya seperti kuda poni.

Piye, ngeri-ngeri sedap bukan? Dan Negara kita nanti akan jadi IndoAmerika! Dulu jaman waktu masih Hindia Belanda taon 1938 timnas sepak bola Hindia Belanda bisa ikut piala dunia di Prancis, kalo jadi IndoAmerika siapa tahu timnas sepak bola bisa juara piala dunia.
Nah, trus yang pribumi mau diapain bro? Lha, itu bukan urusan saya. Urusan mereka. Mau jadi pengemis di kota kek, mau jadi gali kek, daftar jadi spionase polisi kek, mau jadi pelacur kek, germo kek, pemulung kek, terserah. Mau pulang kampung jadi buruh tani juga boleh. Jadi sais delman di pasar, tukang becak, tukang las, tukang tambal ban, terserah.

Tapi kalo pribumi itu bikin masalah, bikin keonaran, gak becus kerja pemerentah punya solusi yang paling mujarab: IMPOR tenaga asing. Ekspor pribumi bau pesing dengan harga miring. Termasuk kalo presidennya nggak becus kita bisa ekspor ke segitiga bermuda lalu impor Fidel Castro ato Subcomandante Marcos!

Senin, 08 Desember 2014

Politik Kaum Kere

Mendung makin pekat di langit Madura. Saya menggeber motor saya agar bisa lekas tiba di rumah. Tapi kecepatan motor saya sepertinya tak bisa menandingi kecepatan alam. Hujan pertama itu akhirnya jatuh juga. Tepat di pertengahan bulan November 2014. Jarak rumah tinggal 1 kilometer lagi. Daripada basah, saya terpaksa berteduh di warung Pak Ri.

Siang itu warung terlihat sepi. Hanya ada tiga pembeli, termasuk saya. Saya memesan segelas teh hangat dengan satu sendok teh gula. Sambil menunggu pesanan datang, saya menyambar pisang goreng. Mengunyahnya pelan-pelan sambil menatap hujan di luar yang kian garang. Beberapa anak berseragam sekolah terlihat riang menerobos hujan. Begitu pesanan datang, saya langsung menyeruputnya, ketika tiba-tiba Pak Ri, menggebrak meja.

“Sialan!” pekiknya. 

Dua pembeli lain tertawa. Saya yang sedari tadi tak memerhatikan suasana di dalam warung cuma melongo. Sampai akhirnya saya tahu kalau tindakan gebrak meja Pak Ri itu disebabkan karena  menonton berita politik di TV. Isinya masih soal hiruk pikuk pilkada langsung kontra pilkada tak langsung. Yang berbicara saat itu seorang tokoh politik bernama Amin Rais.

“Cocot mereka itu dulunya waktu reformasi khan mendukung pilkada langsung. Sekarang malah berbelok menolaknya. Mulut kalo nggak pernah disikat memang bau” Pak Ri melanjutkan ocehannya sambil mengaduk secangkir kopi jahe pesanan seorang pembeli yang baru saja datang. 

Pak Ri memang termasuk penjual yang kritis kalau ngomong politik. Maklum, dulu waktu masih muda dia aktif di IPPNU. Beberapa kali menjadi salah satu tim sukses bayangan saat pilkada di Pamekasan, Madura. TSampai akhirnya berhenti pada tahun 2010. menggarap sawah dan membuka warung. Warungnya yang berdekatan dengan rumah sakit umum pamekasan bisa dibilang cukup strategis. Tak pernah sepi pembeli. Kesukaannya sejak muda acara dunia dalam berita. Makanya d warung berdinding anyaman bambu itu tersedia tv tabung ukuran 14 inci. Merk sharp. 

Tapi ngomong-ngomong soal politik, celotehan Pak Ri saya pikir sebuah kemajuan besar buat ‘demokrasi’. Di masa Orde Baru, menurut cerita almarhum bapak saya yang cuma PNS penyuluh kehutanan, politik adalah barang terlarang bagi rakyat kasta rendahan seperti orang-orang macam Pak Ri. Tapi sekarang saya bisa melihat penjual kopi yang juga petani bisa berbincang dengan pembelinya soal politik, abang tukang becak bisa ngrasani pemerintah tanpa takut diciduk ke koramil. Malah sampai ada yang berkelahi hanya gara-gara jagonya saat pilpres kemarin diledek kawannya sesame tukang becak. Lepas dari saling ledek yang berujung perkelahian itu, betapa menyenangkan bisa ngomong apa saja sekarang ini. Dan memang beginilah seharusnya.

”Pertanyaan yang paling mungkin, Pak, kenapa dulu mendukung sekarang tiba-tiba menolak?” saya sengaja memancing pertanyaan sambil menyeruput teh lagi. Siaran televisi yang menayangkan berita poiitik kini sedang menayangkan iklan.

”Ya mereka sudah kalah mulu di banyak lini. Tepatnya sudah kehabisan lahan buat cari makan” ucapnya santai dengan bahasa madura yang kental tentu saja. (di tulisan ini saya menerjemahkan dalam Bahasa Indonesia semua)

”Maksudnya, Pak?”

”Sini saya kasih tahu.” Lanjut Pak, Ri. Lelaki yang telah berusia 70 tahun itu memperbaiki letak duduknya di lincak. Menghisap kreteknya dan mulai bercerita panjang lebar. “Pilkada langsung itu menyerap uang yang banyak. Bukan cuma miliaran, Mas. Tapi trilyunan. Mereka yang mendukung pilkada langsung itu adalah mereka yang tahu melihat peluang, bahwa pilkada itu semata-mata bisnis. Kayak dagangan saya ini. Survey-surveian. Serangan fajar. Opini Koran. Pasang iklan. Itu semuanya pakek uang. makanya yang mendukung khan rata-rata orang atau perusahaan yang telah merasakan betapa penuh gelimang uang saat menjelang dan berlangsungnya pilkada. Laba berlipat-lipat saat itu. Koran menikmati iklan dari cagub cawagub atau cabup cawabup yang sedang bertarung. Tim sukses juga begitu. Yang survei-survei itu juga begitu. Kalau pilkada kemudian masuk DPRD lagi, lha mereka semua itu khan jadi seret kantongnya. Bisa Mas bayangkan khan?” 

Saya manggut-manggut. Menyeruput teh lagi. Kemudian mengambil kretek sebatang. Ini buah dari demokrasi itu barangkali, pikir saya. Politik yang dulu menjadi komoditas eksklusif kasta priyayi dan kaum intelektual salon di tivi-tivi, kini telah bergeser sampai ke titik yang tak pernah terbayangkan sebelumnya;  kaum kere. Rakyat jelata yang dulu dilarang ikut-ikutan komentar politik, kini analisanya bisa lebih lancip dari kaum cerdik pandai yang sok pintar. 

”Jadi Pak Ri setuju dengan pilkada tak langsung itu?” saya bertanya lagi. 

”Halah itu sama saja. Kita orang kecil cuma bagian penghibur sebenarnya dari semua sistem politik di negeri ini. Baik pilkada langsung maupun tak langsung. Itu cuma akal-akalan politisi saja. Dianggapnya kita tak siap dengan pilkada langsung, terlalu banyak konflik saat pilkada langsung, kecurangan-kecurangan dan tidak sesuai dengan asas sila ke empat. Itu semua cuma akal-akalan. Tujuan; ya masih jalan lain bagi-bagi kue kekuasaan lewat jalur parlementer. Jadi kesimpulannya, soal pilkada langsung dan tak langsung itu bukan soal pertarungan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). itu cuma pertarungan bagi-bagi kue paling 'adil' antara elit politik”

Mendengar penjelasan ini saya nyaris tersedak karena terlalu dalam menghisap asap kretek. Saya tidak dapat membayangkan orang kecil macam Pak Ri bisa bicara seperti itu. Kemudian salang seorang pembeli, yang duduk di sebelah saya menyolek saya. Saya meliriknya, kemudian sang penyolek itu memiringkan ibu jarinya di dekat jidatnya. Saya mengerti maksudnya. Saya tersenyum.

”Pak Ri kemarin nyoblos presiden siapa?”

”Saya ke pasar. Cari kelinci aduan. Mending taruhan balap kelinci daripada ikut nyoblos.”

Saya tersenyum. Saya memandang ke luar warung. Sepertinya hujan telah reda. Tinggal gerimis tipis yang tersisa. Saya mohon pamit melanjutkan perjalanan. Membayar uang. dan bersalaman dengan pemilik dan pengunjung warung. Televisi yang ada di atas lemari di warung itu kini sedang menayangkan infotaimen. Hiruk pikuk pernikahan Raffi Ahmad dan Gigi yang diulang-ulang. Pak Ri masih terus berceloteh. 

Hari ini minggu kedua bulan Desember 2014. Saya berkesempatan pulang kampung lagi. Dan saya liat langit Madura kembali mendung. Saya hendak mampir ke warung Pak Ri. Selain ingin bersilaturahmi saya ingin sekali mendengar komentar Duda beranak dua ini soal penenggelaman kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia yang digembargemvorkan Menteri Susi. Sayang kali ini warung tersebut tutup. Pada seorang tambal ban yang kebetulan berdekatan dengan warung Pak Ri saya bertanya mengapa warung tersebut tutup, tak seperti biasanya.

”Pak Ri meninggal, Mas. Kesetrum waktu memperbaiki lampu jalan kemarin” ujar si tukang tambal. 

Saya terdiam. Langit Madura makin mendung. Berkali-kali suara geledek sambung menyambung. 



Desember, 2014