WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Selasa, 10 Oktober 2017
PERJUMPAAN TERAKHIR
Senin, 09 Maret 2015
LAYAR TANCAP*)
Madura, 2015
*) Cerpen ini dimuat di harian RADAR SURABAYA, 08 Maret 2015
Selasa, 16 Desember 2014
POLISI DAN PENJAGA WARNET
Desember, 2014
Selasa, 16 Oktober 2012
SANG PENCOPET
Setelah memarkir mobilnya avanza-nya di lapangan parkir lantai dasar sebuah plasa, Sakur membuka pintu mobilnya separuh. Menyalakan kretek, lalu menghisapnya dalam-dalam. Beberapa detik kemudian gumpalan asap tebal keluar dari mulutnya. Ia melirik jam tangan rolex-nya. Pukul 10.45. Sebagaimana kesepakatan kemarin, pukul 11.00 ia minta tiga anak buahnya menyerahkan segala hasil copetannya di sini, di lapangan parkir ini. ”Ingat! Tak boleh ada yang terlambat.” Begitu peringatan Sakur pada anak buahnya kemarin.
Ya. Sakur adalah seorang bos copet. Ia membawahi tiga anak buah. Ketiganya beroperasi di tiga tempat berbeda. Bungorasih, Wonokromo dan Rungkut. Profesi ini sudah ia lakoni lebih dari 15 tahun. Awalnya ia adalah pencopet biasa. Wilayah operasinya di Terminal Bungorasih. Kurang lebih 10 tahun ia menjadi pencopet. Karena tiap beroperasi hasilnya selalu bagus dan tak pernah sekalipun tertangkap baik oleh aparat maupun dihajar massa karena tertangkap basah, oleh bosnya ia kemudian diangkat menjadi bos kecil. tugasnya mengumpulkan hasil anak buahnya mencopet. Masing-masing anak buahnya mendapat 10 persen. Disetor pada bosnya 60 persen dan untuk dirinya sendiri 30 persen. Karenanya tidak berlebihan jika mengatakan bawah sebagian besar kekayaannya yang ia dapat sekarang adalah dari hasil mencopet. Benar memang sekarang Sakur juga punya kios penjualan LPG 3 kg. Tapi modalnya ia ambil dari hasil mengambil dompet orang lain di terminal.
Meski demikian, hingga saat ini istri dan anaknya tak pernah tahu bahwa ia berprofesi sebagai pencopet. Tepatnya seorang bos copet. Bahkan sampai sekarang, sampai perkawinannya berjalan tujuh tahun, ia tak pernah ingin istri dan anaknya tahu apa pekerjaan sebenarnya. Pada istri dan anaknya ia selalu mengaku bekerja sebagai makelar besi tua. Istri dan anaknya percaya saja dengan omongan Sakur. Maklum saja baik Sakur maupun istrinya adalah orang Madura asli. Dan bukan rahasia umum bagi orang Madura bahwa bekerja sebagai pedagang besi tua di kota besar, baik itu pengepul, makelar maupun distributor rata-rata adalah adalah orang berada. Makanya ketika melamar istrinya semua keluarga istrinya percaya saja ketika Sakur mengatakan pekerjaan adalah makelar besi tua.
Sebenarnya boleh dikata Sakur adalah bos copet yang punya ‘etika.’ Sejak ia awal-awal mencopet pantang ia mencopet barang-barang milik orang miskin. Korbannya selalu orang berada yang menggunakan jasa bis di terminal tempatnya mangkal. Kebanyakan korbannya adalah mahasiswa. Itulah mengapa ia melarang anak buahnya mencopet orang miskin. ”Sekali kalian ketahuan mencopet orang miskin, aku sendiri yang akan menghajar kalian. Kita ini sama-sama miskin. Sama-sama lemah. Tidak boleh merugikan yang miskin. Merugikan yang kaya tidak apa-apa. Kebanyakan orang kaya itu korupsi. Dan korupsi adalah perbuatan kriminal kelas elit yang sejatinya tak jauh beda dengan copet. Bedanya para koruptor punya institusi. Sementara kita tidak.” Begitu dokrin yang ditanamkan pada anak buahnya.
Waktu terus bergerak. Matahari terus meninggi. Sakur masih duduk di depan kemudi sambil menyanggahkan kakinya ke stir. Sesekali kakinya bergoyang-goyang mengikuti irama lagu yang keluar dari audio mobilnya. Sementara mulutnya terus menyemburkan asap rokok yang ia hisap dari rokok kretek merek terkenal. Tiba-tiba, Piko seorang anak buahnya datang tergopoh-gopoh padanya.
“Gawat, bos! Gawat!”
“Apanya yang gawat?” hardik Sukur terkejut. Ia kemudian menurunkan kakinya dari stir. Membetulkan duduknya lalu menatap anak buahnya tajam.
“Cuplis kena tangkap!”
“Siapa yang tangkap? Massa atau aparat?”
“Aparat, bos. Sekarang dia ada di polsek.”
“Sial!” teriaknya sambil memukul tangannya ke stir. Ia membuang rokok kreteknya yang tinggal puntung. Mengambil rokok kretek lagi. Menyalakannya lalu menghisapnya dalam-dalam. Asapnya kemudian ia semburkan pada muda Piko anak buahnya. Piko yang hanya diam menunduk.
“Mana hasil kerjaanmu?” Tanya Sakur. Piko kemudian merogoh kantong celananya. Menyerahkan sebuah kalung emas dan tiga lembar uang seratus ribuan. Sakur kemudian memasukkan hasil copetan Piko ke saku celananya. “Kau segera sms si Parmin. Suruh segera kesini. Tak usah kejar target hari ini. Yang penting selamat dulu. Aku khawatir padanya. Karena ia baru dua hari beroperasi”
“Baik, bos!” Piko bergegas pergi. Bayangannya menghilang diantara mobil-mobil yang antre keluar pintu parkir.
“Sial!” teriak Sakur lagi. Sambil memukulkan kedua tangannya ke stir mobil. Ia memang kesal kalau sudah berurusan dengan aparat. Bukan soal karena anak buahnya ditangkap. Baginya itu soal gampang. Bukankah ia selain mencopet juga bekerja sebagai spionase aparat dalam upaya mengungkap kasus-kasus seperti pencurian kendaraan bermotor atau perampokan. Ia sering membantu aparat mencari pelaku. Lagipula ia juga kerap setor hasil copetannya pada beberapa oknum aparat untuk memuluskan kerja anak buahnya di lapangan. Jadi untuk mengeluarkan anak buahnya itu perkara gampang. Masalahnya tiap kali berurusan dengan aparat urusan pasti soal uang.
Ia kemudian mengeluarkan blackberry-nya. Mengirimkan sms pada sebuah nomer. Selang beberapa menit kemudian Hp-nya berdering.
“Siap, Ndan!” ujar Sakur
“Siang! Anak buahmu ketangkap nih. Dan ia baru ngaku kalok salah satu anak buahmu langsung. Bagaimana?” ujaar sebuah suara di telepon.
“Ampun, Ndan! Yang penting jangan disakiti-lah. Nanti jatahnya saya tambah.”
“Hahaha…..! tapi dia tetap kita proses.”
“Jangan, Ndan. Dia khan masih dibawah umur.”
“Wah, kalo maunya begitu bisa mahal nih.”
“Siap, Ndan. Bisa diatur.”
“Oke. Nanti kita ketemu di tempat biasa.” pembicaraan terputus.
Sakur menghisap rokok kreteknya lagi dalam-dalam. Sementara tangan kirinya sibuk memutar mutar gelombang radio. Ia berhenti memutar ketika salah satu stasiun radio di mobilnya melantunkan lagu cinta satu malam kesukaannya.
Tiba-tiba blackberry-nya berdering lagi. Kali ini dari istrinya.
“Ada apa, Mam?”
“Motorku bannya pecah. Jemput aku di halte sebelah selatan sekolah si Aryad. Motornya aku titipin di satpam. Biar dijemput Dullah nanti.”
“Ya. 15 menit lagi aku jemput.”
Hubungan telepon terputus. Sakur melirik jam tangan rolex-nya lagi. Pukul 11.11. Tapi Parmin, anak buahnya itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Sakur keluar dari mobilnya. Kemudian berjalan ke dinding pembatas parkir. Di tengadahkan kepalanya ke langit. Di lihatnya matahari yang kian terik yang sesekali sembunyi di balik awan putih yang berarak. Hatinya tiba-tiba bimbang. Jangan-jangan si Parmin juga mengalami nasib seperti si Cuplis. Atau malah lebih tragis. Digebuki massa hingga tewas. Dada Sakur tiba-tiba berdegup kencang. Baru kali ini ia merasa khawatir dan ketir. Apakah rasa ketirnya itu karena penangkapan cuplis? Apakah karena si Parmin baru beroperasi kurang dari seminggu? Apakah karena Parmin masih berumur 15 tahun? Tapi ia tepis semua pikiran bimbang dari otaknya. Semua pekerjaan punya resikonya sendiri-sendiri. Nasib sial dan peruntungan manusia tak bisa direbut. Tapi bisa dijemput. Begitu batin Sakur menyemangati diri.
Sakur masuk lagi ke dalam mobilnya. Mengambil rokok kreteknya yang tinggal sebatang. Menyalakannya. Kemudian meremas-remas bungkusnya lalu membuangnya jauh-jauh. Mengeraskan suara audio mobilnya yang sekarang sedang memutar lagu-lagu raja dangdut Rhoma Irama. Ketika memperbaiki letak duduknya ia melihat bayang-bayang Parmin berjalan mendekat ke tempat mobilnya di parkir.
“Kok lama sekali. Kemana aja?”
“Biasa, bos. Jalanan macet.”
''Dapat berapa hari ini?''
''Lumayan, bos. 500 ribu!''
''Wah, hebat kamu! Baru operasi langsung dapat gede. Mana?''
''Ini bos!" Parmin mengeluarkan dompet dari saku celananya lalu diserahkan pada Sakur. Dompet dibuka. Tiba-tiba Sakur melempar dompet itu ke wajah anak buahnya dengan keras. Dan tepat mengenai dahi Parmin.
''Bangsat! Itu dompet istriku!''
Blackberry Sakur kembali berdering. Terus berdering. Istrinya kembali menelpon.
Minggu, 19 Februari 2012
Telepon Dari STORY
Telepon Dari Story
Saya hempaskan tubuh saya yang kurus dan letih ke atas ranjang. Sore itu saya memang pulang terlambat ke rumah. Adzan maghrib baru saja usai. Dari kaca jendela kamar yang gordennya belum sepenuhnya dirapatkan, Saya lihat delapan burung kuntul terbang ke timur, terbang berbaris membentuk ujung panah ke arah matahari bangun. Di ranjang itu di sebelah tumpukan bantal ada setidaknya lima buku yang berserakan. Saya sambar buku kumpulan cerpen berjudul “Matilah Baik-Baik, Kawan” karya Martin Aleida. Saya baca daftar isinya, lalu saya buku halaman 111 berjudul “Ratusan mata dimana-mana”. Belum habis tiga paragraf saya baca, tiba-tiba henpon saya berdering. Sebuah panggilan dari Nomor 021-58359xxx.
“Nomor Jakarta?” batin saya. Tapi dari siapa? Tidak mungkin dari paman saya. Bukankah tidak pernah paman saya telepon pakai nomor rumah apalagi nomor kantor. “Atau jangan-jangan dari media cetak?” saya membatin lagi. Tapi dalam bulan-bulan ini saya tak pernah mengirimkan tulisan dalam bentuk apapun. “Atau jangan-jangan tulisan lama yang hendak dimuat?” ya. Ya mungkin itu, batin saya. Bergegas saya angkat telepon.
”Hallo. Selamat petang. Kami dari Majalah STORY. Apa betul ini dengan bapak Edy Firmansyah” kata suara perempuan di ujung telepon sana.
“Yap. Betul sekali.” Rasa letih saya tiba-tiba berkurang. Seakan suara perempuan di ujung telepon sana itu menjadi sedikit obat keletihan saya yang sedari pagi hingga petang berjibaku sama kerjaan. Akan ada karya saya yang dimuat. Saya yakin. Dan setiap karya yang dimuat pasti ada kompensasinya. Honor. Saya membayangkan minimal 300 ribu dan maksimal 500 ribu akan masuk rekening saya. Saya memang pernah mengirimkan karya ke majalah tersebut. Beberapa puisi cinta dan cerpen. Bayangan untuk melunasi hutang-hutang pada teman yang kerap saya pinjami terlintas. Bayangan bakal dapat membeli buku-buku baru dari honor majalah remaja itu sudah terbayang.
Memang sih, jika belum pernah melihat dengan kepala sendiri bahwa tulisan terpampang di media jangan terlalu banyak berharap. Dulu sewaktu kuliah dan produktif menulis artikel saya pernah ditelepon sebuah media nasional terbitan Jakarta yang mengabarkan bahwa tanggal tertentu (redaktur yang menelponnya menyebutkan tanggal. Tapi saya lupa) bahwa artikel saya akan dimuat. Seingat saya dua hari lagi tulisan saya akan dimuat. Begitu pesan dari telepon itu. Wuihh...girang betul saya waktu itu.
Usai menerima telepon dari mas redakturnya, saya bergegas keluar dari kosan. Menghubungi beberapa teman lewat sms: traktiran. Malam itu setidaknya saya mentraktir empat orang teman. Makan nasi dengan lauk ayam krispi. Minumnya susu soda. Sebuah menu makan malam yang cukup mewah bagi saya. Biasanya sih Cuma pecek tempe. Atau telor dadar lauknya. Keempat teman saya itu saya belikan rokok. Masing-masing orang satu bungkus.
Tapi pada hari dan tanggal yang disebutkan itu tak ada artikel dan nama saya itu. Berkali-kali saya bolak bali koran yang saya beli itu. Tapi nama saya tak ada. Esoknya juga begitu. Saya sekali lagi membeli koran yang redakturnya menelpon saya malam itu. Tapi nama dan artikel saya yang disebut-sebutnya waktu telepon itu tak pernah ada.
Tapi itu koran. Dan yang telepon saya sekarang ini Majalah. Begitu saya menguatkan batin. Konon katanya majalah ini terbit dengan komposisi lebih banyak memuat cerpen daripada berita selebritis remaja. Ketika di launching pertama kali pada bulan Juli 2009, Majalah "Story" berisi 80 persen fiksi. 20 persen non fiksi. Acara launchingnya dihadiri penulis-penulis sekelas Kurnia Effendi, E. Sati, Bambang Sukmawijaya, Kurniawan Junaedi, Ganda Pekasih, dan masih banyak lagi. ada si "Lupus", yakni Hilman Hariwijaya, Gusur Adhikarya dan Boim Lebon. Diantara penulis tersebut malah kabarnya turut serta menjadi redakturnya. ”Dijamin dech. Redakturnya selektif dan bertanggung jawab.” Ujar seorang teman ketika mengenalkan majalah STORY pada saya yang menurut dia merupakan ‘reinkarnasi’ dari majalah Anita Cemerlang yang sudah tutup itu. Saya sendiri memang tak pernah ngecek siapa redakturnya. Tapi saya pernah baca satu dua edisi yang kebetulan dibeli kakak Ipar saya, salah satu redakturnya tamunya ada Gus Tf. Sakai.
Namun batin saya kembali mengendor kala ingat sebuah pengumuman di majalah Story edisi 19/Th.II/25 Februari 2011-24 Maret 2011 yang sempat saya baca—lagi-lagi dari majalah Story yang pernah dibeli kakak Ipar saya—isinya kurang lebih begini: Setelah melakukan penelusuran berdasarkan informasi yang masuk, cerpen Kasih Ibu yang ditulis Prisa Adinda dan dimuat dalam rubrik Cerpen Seleb Story edisi 17, 25 Desember 2010, ternyata memiliki banyak kesamaan dengan cerpen Hati Ibu milik sdri Desi Sommalia. Agar polemik ini tidak berkepanjangan, maka dengan ini Story menyatakan pencabutan cerpen Kasih Ibu yang ditulis Prisa Adinda dan menyatakan bahwa cerpen tersebut tidak pernah dimuat Story. Demikian pemberitahuan ini, agar tidak ada pihak yang dirugikan. Redaksi.
Sekedar diketahui Prisa adinda merupakan salah satu selebritis Indonesia. Nama lengkapnya Prisa Adinda Arini Rianzi atau lebih dikenal dengan Prisa (lahir di Jakarta, 6 Januari 1988; umur 24 tahun). Dia anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Rianzi Julidar dan Lydia Arlini Wahab, yang merupakan wakil Indonesia di ajang Miss Universe 1975. Prisa membuat video klipnya pada bulan September 2007 dengan judul lagu Kau Curi Lagi yang dinyanyikan oleh J-rocks dari album Spirit. Dia merupakan anggota dari grup musik Vendetta sebelumnya ia pernah membentuk grup musik Zala. Pada Mei 2008 ia meluncurkan albumnya yang berjudul Prisa.
Dan pengumuman itu tak membuat Desi Sommalia, pengarang asal padang, yang tulisannya di Plagiat itu tenang. Malahan dia menuding Story terkesan setengah hati menyikapi aksi plagiasi yang dilakukan Prisa Adinda terhadap cerpennya dan kebetulan dimuat di kolom cerpen seleb yang memang disediakan khusus untuk para selebritis yang ‘ditantang’ menulis cerpen di Story. “Story seolah ingin kesalahan tersebut dimaafkan dengan hanya mencantumkan pemberitahuan yang sama sekali tidak tegas, tidak menyatakan bahwa karya Prisa itu adalah karya plagiat. Dikatakan tidak tegas karena pemberitahuan yang dimuat majalah Story tersebut hanya mengatakan dua cerpen tersebut memiliki banyak kesa¬maan, dan sama sekali tidak mengatakan bahwa Prisa Adinda Arini Rianzi memplagiat karya Desi Sommalia Gustina,” ungkap Desi lewat tulisan bantahannya yang dimuat di Haluan edisi 27 maret 2011.
”Ah, mungkin kali ini Story ingin tidak menjadi seperti keledai. Terjerumus di lubang yang sama. Tentu dengan menelpon setiap penulis yang karyanya bakal dimuat.” Begitu saya kembali menguatkan batin. Bayang-bayang karya saya nampang di Story dan mendapatkan honor makin di depan mata. Uang mungkin memang kerap jadi jawaban atas segala kerja yang dilakukan manusia. Sekali lagi mungkin.
”Sekedar konfirmasi aja. Apakah betul bapak pernah mengirimkan cerpen berjudul Saatnya katakan cinta?” begitu kata perempuan di ujung sana melanjutkan pembicaraan.
Saya berpikir cepat. Mengingat-ngingat judul cerpen yang pernah saya buat dan dikirimkan ke majalah STORY. Sepanjang ingatan saya setidaknya ada dua cerpen yang pernah saya kirimkan ke majalah Story. Pertama cerpen berjudul “Brigadir Kepala Sulaiman hasbi.” tapi seingat saya ketika cerpen itu dikirim satu bulan kemudian redaksi STORY mengirimkan balasan email yang isinya seperti ini: “Sebenarnya cerpen anda bagus. Tapi maaf, kami majalah ber-genre remaja. Jadi cerpen anda belum dapat dimuat. Semoga tetap berkarya dan menulis untuk majalah STORY dengan genre remaja.” Cerpen itu memang tak dimuat di Story. tapi ketika saya iseng kirimkan ke surabaya post, ternyata dimuat. meskipun saya sedikit kecewa. sebab saya berharap cerpen itu dimuat pada 1 Juli 2010 ketika Polri ulang tahun. ternyata malah dimuat di akhir Juli.
Kedua cerpen berjudul “Saatnya katakan Cinta” tapi bukankah cerpen itu saya kirimkan setahun lalu. Setidaknya pada medio maret 2010 saya mengirimkan kedua cerpen itu ke majalah Remaja itu. Memang cerpen ini tidak mendapatkan konfirmasi sejak pertama kali dikirimkan. Tapi mengapa baru sekarang telepon? Bukankah tenggat waktu sebuah majalah biasanya 3 bulan setelah pengiriman, jika tidak ada konfirmasi dinyatakan tidak dimuat? Saya biarkan pertanyaan itu menggantung dalam pikiran. Saya buru-buru menjawab pertanyaan perempuan dari majalah STORY itu.
“Ya, betul. Saya pernah mengirim cerpen berjudul itu.”
“Apakah cerpen itu tidak pernah dikirimkan ke media cetak lain?” tanya perempuan itu lagi. Lama-lama saya dengar suara perempuan itu makin seksi aja.
“Seingat saya belum pernah.”
”Yakin?”
”Sangat yakin. Seyakin telinga saya mendengarkan suara mbaknya. (sebenarnya mau ngomong seksi, tapi ndak berani)”
”Juga belum pernah dimuat di majalah atau media cetak?” saya rasakan suara perempuan itu berubah. Barangkali di ruang kerjanya itu dia sedang tersenyum manis ketika saya godain.
“Dikirim ke media lain aja belum, apalagi dimuat. Hanya ke STORY saya kirimnya.”
“Apakah pernah di posting di jejaring sosial seperti fesbuk, misalnya. Atau blog?”
“Pernah!” Jawab saya jujur."Bahkan...."
Belum selesai saya menyudahi penjelasan, perempuan di ujung telepon sana menjawab. ”Sayang sekali. Padahal cerpen bapak bagus sekali. Malah kami hendak memuatnya pada edisi bulan ini.”
Padahal saya ingin mengatakan bahwa selain di fesbuk, cerpen itu juga saya posting di blog. Malah sudah sempat saya bukukan dalam kumpulan cerpen “selaput dara lastri’ pada oktober 2010 lalu.
”Tidak apa-apa kok, Mbak! Terimakasih sudah menelpon”
Namun belum sempat kata terimakasih itu terdengar perempuan dari Story itu, hubungan terputus. Diluar suara hujan terdengar berlarian di atas genting. Saya meletakkan Henpon. Lalu melanjutkan membaca cerpen “Ratusan mata dimana-mana” karya Martin Aleida. Entah mengapa pikiran saya begitu damai. Sayup-sayup terdengar suara Adzan Isya’ menerobos suara gaduh hujan yang berderap bersama angin kencang. Dan saya tertidur.
Madura, 30 Januari 2012.
Selasa, 16 Agustus 2011
CERITA TENTANG KAKEK
Cerita Tentang Kakek*)
”Jadi kakek selalu berteriak-teriak dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding sampai berdarah tiap kali mendengar kabar kalau ramadhan sudah dekat mama?” mendengar pertanyaanku mama cuma tersenyum sambil menganggukkan kepala dan terus membelai rambutku. Udara dingin menyusup dari lubang angin di atas jendela. Mama kembali membetulkan letak selimutku.
“Tidak hanya itu Windy. Tiap kali kita datang menjenguknya kakek selalu berteriak-teriak seperti tadi?”
”Kenapa tidak tinggal dengan kita saja mama. Kasihan kakek sendirian di ruangan itu. Kalau tiap hari melihat kita kakek pasti tidak akan berteriak-teriak lagi.” Mama lagi-lagi tersenyum. Kemudian berjalan mendekat ke jendela. Menutup gorden kamarku.
“Kakek lebih senang sendirian di tempat itu Windy. Sama seperti kita kalau lagi marah atau kesal. Kita suka menyendiri. Karena tidak ingin menyakiti orang lain. ”
“Kapan kakek akan berhenti marah-marah mama?”
“Entahlah sayang”
“Kalau kakek sudah tidak suka marah-marah dan berteriak-teriak seperti tadi, kakek akan berkumpul bersama kita lagi mama?”
”Tentu sayang. Tentu. Ayo sekarang tidur. Sudah larut malam.” Mama mencium keningku. Lalu keluar dari kamar sambil melambaikan tangan. Aku tersenyum. Tapi tak juga bisa tertidur. Aku masih ingat wajah kakek ketika berteriak-teriak dan membenturkan kepala ke dinding ruangan itu.
”Allahuakbar! Hancurkan! Hancurkan! Jangan biarkan syetan mengganggu orang-orang berpuasa.” Begitulah teriakan kakek yang terus-menerus menggema dalam pikiranku ketika untuk pertamakalinya aku mengunjungi kakek. Ya. Wajah kakek di ruangan itu sungguh berbeda dengan wajah kakek di foto yang ada di ruang tamu. Di ruangan itu wajah kakek begitu kusut dan dingin. sementara wajah kakek di ruang tamu terlihat begitu gagah. Mengenakan surban putih dan memegang klewang yang disilangkan di dada. Persis seperti foto pahlawan pattimura.
Begitulah kenanganku ketika pertama kalinya aku bertemu kakek secara langsung. Dan kenangan itu selalu melintas dalam pikiranku tiap kali aku hendak tidur. Hingga aku dewasa sekarang.
Dan aku selalu bertanya-tanya kenapa kakek harus tinggal di salah satu ruangan di sebuah rumah sakit jiwa. Bertahun-tahun pertanyaan itu terus berkecamuk dalam kepala. Dulu ketika masih duduk di bangku SMP aku pernah juga bertanya hal itu pada mama. Tapi mama tak pernah mau menceritakan sebab musababnya.
”Belum waktunya Windy. Nanti kalau kau sudah dewasa akan mama ceritakan.” Begitu selalu jawaban mama tiap kali aku bertanya kenapa kakek bisa jadi gila.
Pun ketika aku sudah mulai masuk sekolah menengah atas seperti sekarang ini mama tak juga mau menceritakan hal itu. Ya aku dan mama memang sudah jarang bertemu. Mama cukup sibuk menjadi konsultan hukum dan mengurusi bisnis cateringnya. Papa juga sudah jarang pulang ke rumah. Bisnis kelapa sawitnya dan beberapa pondok pesantren yang ia dirikan seakan-akan tak bisa ditinggalkan. Karena kesibukan masing-masing kita juga nyaris tak pernah lagi mengunjungi kakek. Artinya ketika usiaku 7 tahun dulu itulah untuk pertamakali dan terakhir kalinya aku bertemu muka langsung dengan kakek di rumah sakit jiwa. Bahkan sekarang kita tak pernah lagi mendiskusikan soal kakek. Tak pernah.
Sampai pada suatu hari ketika aku iseng membongkar-bongkar gudang, aku menemukan catatan harian mama yang bercerita mengapa kakek sampai masuk rumah sakit jiwa. Dan berdasarkan cacatan harian mama yang tak sengaja aku temukan itu maka aku susun cerita berdasarkan versiku sendiri sebagai berikut:
Malam itu begitu selesai sholat Isya, Abdullah berdiri di depan kaca. Memperbaiki surbannya lalu mengambil klewang yang biasa ia simpan di atas lemari. Kemudian menyelipkan di pinggangnya. Ia tersenyum. Lalu keluar kamar. Malam itu adalah malam kedua sebelum ramadhan tiba. Sudah menjadi agenda rutin organisasi yang ia ikuti tiap menjelang lebaran organisasinya melakukan razia ke tempat hiburan dan hotel-hotel yang disinyalir menjadi tempat berbuat mesum.
Seandainya almarhum istrinya masih hidup pasti Abdullah akan berdebat hebat dengan istrinya. Pasalnya, istrinya yang paling menentang ia ikut organisasi keagamaan itu.
”ini jihad, bu. Semua kebobrokan negeri ini bermula dari perbuatan syahwat manusia-manusianya. Kalau tidak dibereskan segala hal yang merusak moral itu maka negeri ini tak akan maju.”
”Merusak hak orang lain itu kau katakan jihad? Coba bapak pikir bagaimana perasaan orang-orang yang dagangannya dirusak karena berjualan waktu ramadhan. Itu penganiayaan. Lagipula tak perlu berlebihan dalam beragama. Bukankah keimanan itu bisa dikatakan teguh kalau ada ujiannya. Biarkan saja mereka buka waktu ramadhan. Biarkan saja tempat hiburan buka tiap malam ketika semua orang tarawih. Biarkan saja lokalisasi buka ketika orang-orang tadarus. Karena disitulah keimanan seorang muslim diuji”
”Belajar dari mana kau beragama sehingga berani membantah suamimu begitu? Belajar dari mana hah? Jangan ikuti pikiran sesat. Banyak ulama sesat sekarang. Yang memelintir ayat-ayat untuk menyesatkan orang-orang atas nama HAM-lah. Semua itu hegemoni barat. Sesat. Kafir.”
“Bapak yang sesat. Menganiaya hak hidup orang. Menyiksa orang itu keji. Dan semua agama melarang perbuatan keji. Kasus di cikuesik yang menewaskan 3 orang itu perbuatan apa kalau bukan keji. Teman-teman bapak khan yang bunuh? Agama tak mengajarkan membunuh orang, pak. ”
”tapi pelakunya sudah dihukum khan?”
“Menghilangkan nyawa orang hanya 3-6 bulan kurungan itu setimpal? Nyawa dibayar nyawa itu baru setimpal. Bukankah begitu hukum Islam? Dan organisasi bapak itu terima putusan hukum yang dikutuk-kutuk sebagai produk barat itu? Apa itu namanya kalau bukan munafik. Rasullullah benci orang munafik.”
“Plak!” tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi istrinya.
“Jaga mulutmu, Bu. Membantah suami itu neraka. Makanya ikut pengajian jangan kerjaan melulu dipikin. Omonganmu lama-lama seperti syetan.” Istrinya hanya bisa menangis. Menangis. Dan terus melafalkan istighfar dalam hatinya. Memohon ampun pada tuhan atas laku suaminya.
Meski kenangan masa lalu itu sekali waktu melintas dalam benaknya tak pernah ia menyesal pernah menyakiti istrinya. Tapi kini tak ada lagi yang melarangnya. Tak ada lagi istri yang menentangnya tiap kali hendak berangkat razia tempat maksiat. Istrinya sudah satu tahun meninggal karena kanker. Kedua anaknya kini sudah kuliah di luar kota. Yang laki-laki kuliah di jurusan syariah. Sedangkan anak bungsungnya yang perempuan di jurusan hukum. Ia tinggal sendirian di rumah. Makanya ketika keluar kondisi ruang tamu sepi. Sebelum keluar rumah ia sempat melihat foto almarhum istrinya. Lalu bergegas mematikan lampu. Menguji pintu depan dan mengendarai motornya menuju tempat dimana teman-teman seorganisasinya berkumpul.
Begitu Abdullah sampai massa sudah lumayan banyak dan sudah bersiap-siap merazia tempat yang diduga penuh maksiat.
”Ayo bergerak! Allahuakbar!” teriak seorang korlap. Massapun bergerak. Abdullah ada diantaranya. Sasaran pertamanya warung dan sejumlah kamar kos yang diduga menjadi tempat minuman keras. Rombongan massa ada yang mengendarai sepeda motor. Sebagian yang lain berjalan kaki menyusuri remang jalan yang hanya diterangi lampu PJU.
Begitu sampai di rumah yang dituju, massa langsung masuk ke kamar kos yang sudah jadi incaran. Di tempat tersebut ditemukan 22 jerigen tuak, yang sebagian di antaranya sudah kosong karena telah terjual. Saat massa mendatangi kamar kos, istri penghuni kamar kos bersama dengan anaknya yang masih kecil, tampak pasrah ketika massa mulai memecahkan beberapa barang yang ada di kamar kos. Demikian pula ketika beberapa massa mengambil tuak yang disimpan di dalam kamar yang notabene adalah sumber mata pencaharian suaminya. Dari dalam kamar berukuran sempit tersebut tercium bau menyengat arak. Tuak rampasan yang masih ada dalam jerigen, sebenarnya hendak dibuang di saluran irigasi atau sungai. Akan tetapi setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya tuak tersebut diserahkan kepada polisi. Seluruh jerigen baik yang berisi tuak maupun yang sudah kosong, berikut istri bersama dengan anak penghuni kamar kos itu, dimasukkan ke dalam mobil polisi.
Setelah merasa puas massa kemudian melanjutkan razia ke hotel yang tak jauh dari tempat target pertama. Begitu tiba di hotel tersebut massa langsung merangsek masuk. Sambil berteriak-teriak menyebut-nyebut nama Allah.
”Allahhuakbar!”
Satu persatu pintu kamar hotel didobrak. Penghuninya diseret keluar. Pada kamar pertama massa menemukan sepasang pemuda-pemudi tengah berciuman. Nyaris telanjang. Abdullah yang turut mendobrak kamar pertama itu langsung menyeret dua pemuda-pemudi itu keluar.
”Terkutuk! Dilaktnat Allah kalian” teriak Abdullah sambil menendang punggung si pemuda.
Pada kamar kedua dan ketiga massa juga menemukan pasangan mesum. Menariknya di kamar yang bersebelahan itu ternyata setelah diperiksa KTP-nya adalah suami istrinya yang sama-sama tengah bercumbu dengan pasangan selingkuhnya masing-masing. Di kamar pertama si suami berduaan dengan pasangan selingkuhnya. Di kamar kedua istrinya juga tengah berduaan di kamar dengan selingkuhannya. Dan suami-istri yang terjaring itu sama-sama tidak tahu bahwa mereka berada dalam satu hotel yang sama.
”Astafirullah! Benar-benar keterlaluan” teriak seorang massa.
“Gebuki saja mereka!” teriak Abdullah bersemangat.
“Jangan! Bawa saja ke mobil dan serahkan pada polisi” ujar korlap.
Pada kamar paling ujung, lagi-lagi Abdullah yang jadi eksekutor. Dengan sekali tendang pintu kamar hotel langsung terbuka. Dan betapa terkejutnya ia. Dalam kamar itu dilihatnya anak laki-lakinya dan anak perempuannya tengah saling bercumbu dengan keadaan tubuh telanjang.
*) Cerpen ini dimuat di Harian RADAR SURABAYA, 14 Agustus 2011
Senin, 09 Mei 2011
Kado Pernikahan
Kado
Istriku memberitahu bahwa sudah waktunya membuka-buka kado pernikahan kami berdua yang baru berlangsung kemarin. Menurut Istriku jika tidak segera dibuka kamar pengantin kami yang kecil ini akan kelihatangan sumpek. Setidaknya ada sekitar 50 kado yang berserakan di lantai kamar kami. Bertumpang tindih dengan kardus berisi baju, sprai baru, dan buku bacaan koleksi kami berdua.
Dari sekian banyak kado itu hanya ada satu kado yang tidak tertera siapa pengirimnya. Bungkusnya pun aneh. Berwarna hitam. Aku membolak-balik kado itu. Sangat ringan. Ketika kukocok terdengar bunyi dug...dug..dug..
”Alah....paling isinya seperti punya Beny ini nich,...” ujar Istriku sambil mengacung-acungkan satu bungkus kondom setelah membuka kado Beny, teman sekampusku. Aku hanya tersenyum. Beny masih saja suka iseng meski anaknya sudah tiga, batinku.
Tapi kado bersampul warna hitam ini terus saja mengaduk-aduk rasa penasaranku. Dari siapakah gerangan? Kuamati hampir semua kerabat dan teman dekat membubuhkan namanya di Kadonya. Sebagian besar sudah dibuka Istriku. Ada si Indri, teman waktu SMA, dia kasih sprai berwarna pink. Ada Doni, sepupuku, dia kirim handpone baru. Tapi kado hitam ini? Warna hitam bukankah identik dengan kematian. Atau jangan-jangan; BOM!
”Sudah buka saja, tidak mungkin BOM, kok.” sergah Istriku seakan mampu membaca pikiranku.
Benar, juga sih. Lagipula buat apa orang kirim BOM padaku. Aku bukan presiden atau Menteri atau anak Jenderal korup yang layak dihancurkan dengan BOM. Juga bukan aktivis pergerakan progresif macam Widji Thukul dan Munir yang selalu dikuntit intel sampai akhirnya dihilangkan paksa karena keberaniannya mengungkapkan kebenaran. Aku juga bukan aktivis Islam radikal atau tokoh utama fundamentalis yang sedang sumpek pikirannya karena berjuang bertahun-tahun tak menang-menang akhirnya menyebar terror. Aku hanya pemuda tambun yang baru saja melangsungkan pernikahan sebagaimana pemuda lainnya pada umumnya. Jadi tak ada istimewanya mengirimi aku BOM.
Tapi....aku kembali ragu-ragu. Bukankah aku tinggal di perkampungan yang dekat sekali dengan pasar kumuh yang sejak dulu selalu digusur paksa tetapi tak pernah berhasil itu karena gigihnya perlawanan warga? Jika kado ini benar kado ini berisi BOM dengan daya ledak mencapai radius 1 kilometer bukankah tidak menutup kemungkinan semua masyarakat perkampungan dekat rumahku ini akan rata dengan tanah. Dan sebagaimana peristiwa yang sudah-sudah, setelah perkampungan kumuh luluh dan pasar tradisional luluh lantak, entah oleh kebakaran atau bom misalnya agenda berikutnya selalu saja sama: pembangunan Mall dan plasa atau paling tidak perumahan mewah. Kepentingan kapital.
Bahkan jika sasarannya justru perumahan mewah dan hotel berbintang yang berjarak 1 kilometer dari tempat tinggalku yang kerap dilakukan oleh kaum fundamentalis kalap dan sakit sarap itu, TNT yang misalnya ditanamkan dalam kado ini dengan daya ledak radius 10 Kilometer itu akan mewujudkannya. Tapi mengapa tidak pernah ada bom yang dikirimkan ke pejabat korup misalnya? Kenapa? Tiba-tiba istriku menepuk punggungku.
”Hey..kalau mas memang takut ayo kita buka bersama. Toh kalau benar BOM kita juga akan mati bersama. Seperti cerita di film-film itu.” ujar Istriku menggelayut manja di punggungku. Sambil sesekali mencium bibirku mesra.
”Eh, siapa takut!?Baik! Baik, akan aku buka. Bismillah,”
Aku merobek-robek kertas hitam itu. Dengan menggunakan silet aku potong perekat di kedua penutup dos kado itu. Ternyata di dalamnya masih terdapat kotak kardus berukuran lebih kecil tapi kini bersampul merah. Kembali aku robek-robek kertas kodo berwarna merah itu. Dan dengan sedikit tergesa aku robek kardus tersebut. Tapi lagi-lagi. Kardus yang bersampul merah tadi didalamnya ternyata berisi kado bersampul hijau. Kembali aku merobek-robek sampulnya dan menarik paksa kardus bersampul hijau itu.
”Apa sih isinya, Mas?”
”Ah, ternyata hanya sebuah buku dan sepucuk surat,” Aku menyodorkan buku berkaver putih berjudul Selaput Dara Lastri*) itu pada Istriku. Sedangkan suratnya masih kupegang.
”Dari siapa, sih?” Tanya Istri sambil tiba-tiba ia memagut bibirku cukup lama. Begitu dalam. Begitu membakar.
”Entah,” jawabku. Ketika aku hendak membukanya tiba-tiba perutku melilit-lilit tiada terkira. Entah apa yang membuat perutku tiba-tiba sakit begini. Apakah karena terlalu banyak makan sambal dan sate kambing itu? Ataukah karena kecapean? Dan aku bergegas ke kamar mandi. Buang hajat. Kutinggalkan surat bersampul putih yang sudah separuh terbuka itu tergeletak di ranjang
***
Leny yang sedari tadi menemani suaminya membuka kado pelan-pelan membuka surat yang sudah separuh terbuka itu. Dan ia mulai membacanya:
Mas Masfur,
Sungguh aku sangat bahagia akhirnya mas menikah. Sungguh aku tak menyangka bisa secepat ini mas menikah. Aku sendiri mendengar kabar ini pun dari Arnas, teman Mas yang tinggal tak jauh dekat rumahku. Itupun setelah aku paksa-paksa. Karena itulah aku tak sempat memilihkan kado apa yang baik buat Mas. Hanya buku itu yang bisa aku berikan. Semoga Mas tidak lupa denganku. Tapi siapakah yang bisa menghapus kenangan? Siapa yang bisa melupakan kenangan? Ia kekal dalam pikiran bukan?
Buku “Selaput Dara Lastri” itu sengaja aku kirim, karena dalam kumpulan cerpen itu ada kisah kita. Kisah percintaan kita. Bukan, bukan untuk mencoba menghancurkan pernikahan Mas dengan perempuan lain. Aku bukan tipe perempuan macam itu. Waktu itu bukankah aku sendiri yang memilih untuk pergi. Ya aku memilih pergi. Aku memilih jalanku sendiri. Jalan lain yang menurutku baik. Dan baik juga buat kehidupan mas di masa yang akan datang.
Tapi saya berharap Mas sudah berubah. Ketika mendengar mas menikah dengan perempuan lain aku berharap Mas sudah berubah total. Aku tak mau ada lagi perempuan lain selain aku yang turut jadi korban. Cukup aku saja. Cukup aku saja yang mengalami penderitaan itu. Makanya sengaja aku sebarkan aib keluargaku sendiri pada semua orang. Pada orang-orang yang Mas kenal dan juga aku kenal. Bukan untuk apa. Bukan untuk mengumbar dendam. Tapi agar kita bisa mengambil pelajaran dari semua peristiwa itu. Mas khususnya bisa bercermin diri untuk berubah. Berubah. Aku mohon jangan ada perempuan lain yang jadi korban.
Saya tak sanggup membayangkan kejadian yang aku alami menimpa perempuan lain. Belum lepas dari pikiranku, Mas (bahkan tak akan bisa lepas) ketika aku masuk ke kamar pengantin kita malam itu. Malam ketika aku pulang dari rumah ibu. Malam ketika aku ingin memelukmu karena kesedihanku ditinggal ayah (yang juga mertuamu) untuk selama-lamanya juga karena rasa capekku didera pekerjaan. Tapi betapa kagetnya aku. Ketika di ranjang kita itu kau sedang bersetubuh dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu yang ternyata pamanku sendiri. Kau memeluknya begitu mesra seperti kau memeluk aku. ackh…..aku tak bisa membayangkan kejadian itu.
Dan semoga Mas sudah berubah sekarang. Menjadi laki-laki yang sejati. Tidak lagi menyakiti perempuan dengan hubungan biseksual. Saya tak tahu apa yang terjadi pada psikologis Mas waktu itu, aku terlalu marah untuk memahami itu. Itulah mengapa aku pergi. Dan semoga istri mas yang sekarang bisa begitu tabah menerima mas. Dan juga tahu kehidupan mas di masa lalu. Semoga Mas tidak lagi berbohong atas semua hidup Mas.
Selamat menikmati hidup baru, Mas. Semoga sejahtera dan panjang umur. Dan terakhir aku sertakan puisi yang pernah aku kirimkan padamu lewat email itu. Puisi pertama dan terakhir yang pernah kutulis untukmu:
PERPISAHAN*)
berapa banyak airmata untuk mengobati kepedihan?
suara klakson. suara deru motor. suara denting mangkok pedagang bakso
teriakan lantang penjual lahang.
berderap berpacu dengan suara detak jantung
kepedihan
belum juga separuh jalan kita tempuh
tapi begitu cepat hati merapuh
ketika mata bertemu mata
retak itu terus menganga
o, betapa sakit perpisahan. Betapa sakit perpisahan
kita bersitatap, sekali lagi. kemudian melepas genggaman tangan.
dua punggung menjauh
dan airmata jatuh.
berapa lama manusia sanggup melupakan yang pergi dan tak kembali?
Salam hormat,
Lastri
***
“Apa Sih isi Suratnya, Sayang?” teriakku dari depan pintu kamar usai dari kamar mandi membuang hajat tadi. Tapi Istriku tak menjawab. Ia melempar surat itu ke ranjang. Ia berbegas ke Kamar Mandi. Kulihat matanya berkaca-kaca. Kulihat pancaran kesedihan di wajahnya.
“Surat dari siapa sih, Sayang?” Teriakku ketika Istriku masuk ke Kamar Mandi.
”Baca aja sendiri,” teriaknya dari kamar mandi. Lamat-lamat kudengar isak tangisnya semakin keras. (*)
Senin, 26 Juli 2010
DONGENG SEBELUM TIDUR
DONGENG SEBELUM TIDUR
I
Malin kundang terpaksa melaporkan ibunya pada polisi. Ia kesal dikutuk jadi batu.
''Terpaksa saya lakukan. Karena hak saya sebagai anak dirampas'' ujar Malin ketika diwawancarai wartawan
II
Begitu jam 12 malam berdentang, semua pengunjung pesta berhamburan keluar. Melepas sepatu kaca, melompat ke kereta dan hilang entah kemana.
Kini tinggal Cinderella sendirian di ruang pesta. Ia memijit-mijit kedua kakinya, karena lelah berdansa menggunakan bakiak!
III
Tiap kali bapak bercerita tentang masa kecilku hidungnya selalu memanjang dan ibu tibatiba menjelma menjadi batu.
IV
Srigala itu akhirnya kena getahnya sekarang. Setelah sekian lama menyamar jadi domba, ia lupa melepas bulu dombanya dan lupa cara melolong. Begitu tiba dikomunitasnya, ia dibantai ramairamai.
V
''Mengapa tak segera kau cium kodok itu agar berubah jadi pangeran dan kalian hidup bahagia?'' tanya tukang cerita pada tuan putri.
''Aku lebih suka ia jadi kodok. Sebab ketika jadi pangeran ia selalu berencana kawin lagi'' ujar si putri.
VI
Bawang merah dan bawang putih kini saling mencintai. Malah keduanya memutuskan mengadopsi anak bernama bawang prei. Satusatunya orang yang mereka benci adalah pengarang cerita mereka. Pengarang itulah yang membuat mereka saling membenci. Itulah mengapa bawang merah melaporkan pengarang itu pada yang berwajib dengan tuduhan pencemaran nama baik.
VII
Si kancil kini bukan lagi anak nakal. Ia lebih tepat disebut kriminal. Ia tak mencuri timun sekarang. Tapi mulai berani memperkosa istri pak tani.
VIII
Para buaya tahun ini berbondong-bondong masuk TK. Mereka sudah lelah dikibuli kancil dan kelinci disetiap cerita.
IX
Niat Bandung bodowoso mengawini jongrang sudah didepan mata.Pembangunan candi tinggal satu stupa lagi. Tapi tiba2 semua jin berhenti kerja.
''Kenapa kalian berhenti! Masih jam. 01.00. Ayo lekas!
''Tuan lupa. Sekarang pas 1 mei. Jadi kita mogok kerja, persiapan demo ke senayan!'' ujar seorang jin yg jadi pimpro.
X
Padahal Aladin sudah lakukan sesuai buku petunjuk: Gosok lampunya tiga kali. Jika Jin penunggu lampu itu keluar segeralah ucapkan satu keinginanmu. Tapi ketika ia gosok lampunya yang terjadi justru Aladin terhisap masuk kedalam lampu itu dan tak bisa keluar hingga sekarang.
XI
”Mengapa kau menciumku?” ujar putri tidur
”Bukankah begitu jalan ceritanya. Aku datang, mengalahkan penyihir membangunkanmu dengan ciuman dan kita hidup bahagia.” Jawab Pangeran dari seberang
Si putri turun dari pembaringan. Kemudian menangis tersedu di sudut ruangan. Ia sedih karena harus berpisah dengan pangeran lain yang lebih tampan dalam mimpinya. Padahal ia sudah hamil dua bulan.
XII
Setelah ratusan tahun menyimpan dendam, tanpa sepengetahuan penulis cerita, si kelinci mendatangi si kura-kura dan menantangnya adu lari lagi. Dan si kura-kura setuju.
”Tapi ingat, tak ada kecurangan seperti pertandingan dulu itu!” ujar kelinci. Si kura-kura mengangguk pelan.
Pertandinganpun dimulai. Dan bisa ditebak si kura-kura lagi-lagi tertinggal di garis belakang. Tapi sekitar 500 meter mendekati garis finis, si kelinci jatuh tersungkur meregang nyawa karena serangan jantung.
”Itulah akibatnya kalok membuat cerita sendiri. Sudah renta begitu kok adu lari,” ujar penulis cerita sambil geleng-geleng kepala.(*)
Sabtu, 15 Mei 2010
Proklamasi 10 Cermin
Proklamasi 10 Cerita Mini
Saya atas nama penulis muda Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaan bercerita. Hal-hal yang berkenaan dengan dunia karang-mengarang dengan berbagai komplesitasnya akan kita lalui dengan kerja keras dan belajar melalui buku-buku sastra bermutu untuk mencapai kematangan berkarya. Karena itu kali ini ijinkan saya bercerita dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya:
Tragedi Anak Yang Tak Bahagia
Sumirah tak habis pikir mengapa setiap bertemu dirinya, ibunya selalu kesetanan. Lusa lalu ia disiram air panas. Kemarin disekap di kamar mandi yang penuh uap amoniak. Hari ini pahanya disetrika. Sebagai anak, ingin ia melihat ibunya bahagia. Selalu tersenyum dan mengasihi dirinya.
Pada suatu malam sumirah bermimpi bertemu tuhan. Dalam pertemuan itu, tuhan mengajarkan bahwa hidup lebih penting dari mati, meski kematian adalah jalan kebahagiaan. Kini Sumirah tahu cara membuat Ibunya bahagia.
Ketika terjaga Sumirah kaget. Ibunya sudah tak bernyawa dengan garpu menancap dimata.
Membahagiakan Orangtua
Sebagai anak perempuan satu-satunya, Putri ingin membahagiakan orangtuanya. Satu hari menjelang pengumuman UN, putri gantung diri di kamar mandi.
Perempuan Yang Menyalakan Lilin
Perempuan itu terpar. Usai menyalakan lilin diatas tar, ketika tabung gas disampingnya meledak. Esoknya ia datang lagi ketempat itu. Kembali menyalakan lilin. Tidak diatas kue tar. Tapi diatas tubuhnya sendiri. ” Selamat hari Kartini Perempuan.” ujarnya sambil terus berusaha memadamkan api yang membakar payudaranya sendiri.
Tragedi Bayi
Kemarin kulihat bayi itu tewas. Dibekap ibunya sendiri dengan bantal. Paginya mayatnya mengapung di sungai. Tapi malam tadi kulihat bayi itu duduk manja sambil menetek susu dipangkuan ibunya yang sudah jadi mayat.
Badut
Berhari-hari aku mencari manusia. Tapi yang kutemukan badut semua. Karena lelah aku mencuci wajah di toilet sebuah plasa. Dan, ketika berkaca betapa terkejutnya aku. Dalam bayangan kaca itu kulihat seorang badut yang terus-menerus melucu, tapi tak pernah berhasil membuatku tertawa.
Mimpi Basah
Perempuan itu mencekikku hingga aku menggelepar nyaris meregang nyawa, ketika aku mencoba bangun dari mimpiku. Tapi aku berhasil merobohkannya. Esok paginya, kulihat celana dalamku sudah basah oleh sperma.
Tapi alamak, perempuan itu berhasil membawa kabur penisku kedalam mimpinya.
Menunggu Istri Melahirkan
Sang istri mengerang kesakitan. Hendak melahirkan. Sang suami bersicepat membawanya ke bidan terdekat.
Didalam kamar bersalin terdengar erang kesakitan dan deru nafas memburu. Diluar kamar si suami menunggu dengan gelisah. Degup jantung satu-satu.Dua jam menunggu, tak terdengar lagi erang kesakitan, maupun tangis bayi. Tak sabar menanti si suami mendobrak pintu kamar.
Dilihatnya istrinya sudah terkapar tak bernyawa. Darah persalinan memenuhi ranjang. Didepan gua garba sang istri tampak seorang malaikat sedang menggegam sebongkah batu berlumuran darah sedang duduk bersila.
Perempuan Yang Bunuh Diri
Seorang perempuan seksi mati bunuh diri. Melompat ke dalam liang vaginanya sendiri.
Perempuan Yang Dimutilasi
Seorang perempuan mati. Tubuhnya dimutilasi. Kini ia sibuk mencari potongan tubuhnya sendiri sebelum melapor pada polisi.
Cincin Kawin
Sudarta senang alang kepalang. Cincin kawinnya yang hilang akhirnya ditemukan. Padahal sudah berhari-hari ia mencari. Bahkan sempat minta bantuan paranormal. Tapi hasilnya nihil. 'Ditemukan dimana, Mas?' tanya istrinya. 'Dalam vagina adikmu.' jawabnya spontan.
Madura, April-Mei 2010
Minggu, 09 Mei 2010
Penantian Yang Luka
Menunggu Ijah Pulang
Cerpen: Edy Firmansyah
Sebelum duduk kembali di bangku ruang tunggu penumpang usai buang air kecil, Kasim sempat melirik jam dinding bulat bergambar kereta api yang dipaku di dinding bagian atas, dekat langit-langit. Pukul Sembilan kurang lima belas menit. ” ah, lima belas menit lagi” batinnya. Kasim menghempaskan lagi pantatnya di kursi besi panjang yang sudah dipadati setidaknya delapan orang. Ia membayangkan lagi sebuah pertemuan yang mengharukan. Istrinya, Ijah, yang hampir dua tahun bekerja jadi pembantu di Jakarta akan keluar dari salah satu pintu kereta eksekutif dengan barang bawaan yang banyak. Ia kemudian melompat dari kursi besi itu, berlari menghampiri istrinya lalu memeluknya erat-erat. “ orang-orang boleh iri. Boleh bergunjing apa saja. tapi ijah istriku. Aku rindu padanya. Aku punya hak memeluknya di stasiun ini” batinnya lagi.
Sengaja memang Kasim tak mengabarkan perihal kepulangan Ijah malam ini pada sanak keluarganya. Ia juga mewanti-wanti Tutik, orang yang memberi tahu Kasim perihal kepulangan Ijah agar tidak bercerita pada tetangga lainnya, termasuk pada mertuanya kabar gembira itu. Tutik adalah tetangganya yang juga bekerja jadi PRT di Jakarta yang kebetulan rumah majikannya tak terlalu jauh dengan tempat ijah bekerja.
Kasim tak mau kejadian lima tahun lalu terjadi lagi. Waktu itu, begitu mendengar sumirah, istri pertamanya yang juga kakak ijah akan pulang dari negeri jiran tempatnya bekerja dari TKW, Kasim langsung girang. Ia cerita pada tetangga dan sanak keluarganya. Ia juga pinjam uang untuk acara selamatan menyambut kedatangan Sumirah. Tapi yang pulang apa? Sumirah pulang tinggal jasad. Yang dikirim ke kampung mayatnya yang disemayamkan dalam peti mati berukir naga kembar. Soal kematian Sumirah juga gelap. Desas-desus mengatakan Sumirah mati kerena disiksa majikannya di Malaysia sana. Kabar angin lainnya sumirah mati setelah diperkosa majikannya. Ia tak kuat menanggung aib. Tak tahu mana yang benar. Yang jelas Sumirah pulang tinggal jasad. Sebagian besar tubuhnya lebam-lebam ketika hendak dimakamkan. Tak ada yang bertanggung jawab. Yang Ada hanya ucapan turut berduka cita dari perusahaan pengirim TKW tempat Sumirah jadi anggota. Dan uang santunan satu juta rupiah. Ya..ya..ya..nyawa Sumirah hanya dihargai dua juta. Dan jadilah kemudian acara selamatan yang akan digelar berubah menjadi tahlilan.
” Sudahlah Sim jangan ijinkan lagi si Ijah jika ingin kerja jadi TKW” begitu pesan Amat karib Kasim usai prosesi pernikahan kasim dan Ijah, adik Sumirah.
Kasim sebenarnya setuju dengan pendapat Amat. Apalagi tiap kali mendengar berita TV tentang buruh migran yang kebanyakan bernasib sama dengan Sumirah. Mati mendadak dan tidak lumrah. Pulang ke kampung tinggal nama. Tapi siapa yang membiayai anak-anak sekolah jika tak kerja? Sebentar lalu Si Lukman anak sulung Kasim masuk SMP. Sedangkan si Mirah juga akan masuk SD. Dan semua tahu biaya masuk sekolah mahal. Siapa yang bayar jika tiba-tiba keluarga sakit? Mengandalkan gaji buruh tani dia yang sehari hanya Rp. 15.000,- jelas tidak mungkin. Itulah mengapa ketika Ijah, seperti halnya Sumirah merengek-rengek ingin kerja Kasim tak bisa apa-apa. Yang dilakukan hanya mengangguk pasrah.
Untunglah Ijah tak memilih jadi TKW. Ia hanya mengadu nasib ke Jakarta. Jadi babu disana. ” dua atau tiga tahun kang. Setelah itu aku pulang.” Begitu janji Ijah. Ijahpun berangkatlah. Barangkali nasib ijah lebih mujur dari Sumirah. Tiap bulan Ijah rutin kirim uang hasil kerjanya. Rp. 300 ribu per bulan. Kadang pernah lebih. Dan mala mini Ijah menepati janjinya. Malam ini Ijah akan kembali ke pelukannya setelah hampir dua tahun berpisah. Dulu di Stasiun ini Kasim melepas kepergian Ijah. Kini di stasiun ini pula Kasim akan menyambutnya. Melalui tutik, tetangga satu kampung yang juga jadi babu di Jakarta, ia titipkan kabar itu. Tak lupa Ijah menitipkan uang pada Tutik sebesar Rp. 500 ribu.
” Apakah Ijah baik-baik saja, Tik?” Tanya Kasim pada Titik ketika mengabarkan rencana kepulangan Ijah.
” Sepertinya majikannya baik. Aku tak tahu pasti kang. Hanya tiga kali aku ketemu waktu belanja di pasar. Tapi ijah tambah gemuk kang.”
” Syukurlah”
Terdengar lagi pemberitahuan dari pengeras suara bahwa kereta api Pegasus adalah kereta api eksekutif terakhir yang akan tiba malam ini. Orang-orang terus memadati stasiun. Pedagang rokok dan tukang semir sepatu berseliweran menawarkan jasa menghampiri satu persatu orang yang menunggu kereta tiba. Ruang tunggu penumpang hiruk pikuk. Kasim menegakkan lagi badannya memperbaiki caara duduknya yang sudah menggelayut ditarik kantuk.
Seperti apa wajahmu sekarang Ijah? Masih cantikkah engkau meski kata titik sudah tambah gemuk? Apakah karena selalu makan enak di Jakarta dengan majikan yang baik-baik? Ataukah sebenarnya kau tambah kurus karena direndam rindu pulang kampung? Tidakkah kau rindu padaku Ijah? Aku kangen…aku kangen…jangan berangkat lagi ke Jakarta Ijah.
Kasim melirik lagi jam dinding bulat bergambar kereta api yang dipaku di dinding bagian atas, dekat langit-langit. Pukul sepuluh. ” Kereta terlambat lagi.” Batin Kasim. Padahal dada Kasim terus menerus berdegup kencang seperti orang jantungan membayangkan pertemuan pertamanya setelah dua tahun tak bersua dengan istrinya, Ijah. Dibayangkan lagi ketika sebentar lagi Ia akan melompat dari kursi besi itu begitu melihat Ijah keluar dari pintu kereta, berlari menghampiri isitrinya lalu memeluknya erat-erat. ”Oh, betapa menyakitkan sebuah penantian.” Begitu batin Kasim.
”Sudahlah. Cukup kali ini saja, Ijah. Lelah dua tahun aku dan anak-anak menunggumu. Selalu berdo’a agar kau mendapatkan majikan yang baik. Tidak disiksa-siksa seperti kebanyakan babu. Setelah ini tak perlu berangkat lagi. Buka warung saja. Aku masih simpan beberapa ratus uang kirimanmu itu.”
Tiba-tiba suara klakson kereta api terdengar dari kejauhan. Bising dan menyayat-nyayat. Suara perempuan dari pengeras suara kembali terdengar: "Kereta Pegasus akan tiba. Periksa sekali lagi barang bawaan anda sebelum meninggalkan stasiun. hati-hati copet." Tak sampai lima menit kereta sudah merapat di staisun. Kasim berdiri dari duduknya. Orang-orang juga. Berkerumun di depan pintu kereta yang masih tertutup.
Beberapa saat kemudian pintu-pintu dari gerbong kereta terbuka. Satu per satu para penumpang keluar. Beberapa diantaranya disambut dengan pelukan. Beberapa yang lain pergi entah kemana dengan supir taksi. Kasim masih berdiri diantara kerumuman orang-orang yang mulai berkurang. Namun Ijah tak juga muncul dari pintu kereta hingga penumpang terakhir. ” Oh, Ijah dimanakah kau Ijah?”
Kasim memberanikan bertanya pada petugas adakah kereta lain yang akan tiba. ” Ada kereta eksekutif mawar. Tapi besok jam lima pagi.” Ujar petugas.
Kasim kembali ke tempat duduknya semula. Ruangan sudah sepi. Yang tinggal hanya anak-anak pengamen, pedagang rokok dan pengemis yang tertindur di lantai dingin beralaskan Koran. diliriknya lagi jam dinding bulat bergambar kereta api yang dipaku di dinding bagian atas, dekat langit-langit. Pukul sebelas. “Dimanakah kau ijah, dimanakah kau?”
Disebuah ruangan gelap dengan cahaya bulan di dekat stasiun di ibukota Ijah terkapar diatas lincak. Pingsan. Pakaiannya koyak. Vaginanya berdarah.
” Mantap, bos. Wanita muda, hamil tua pula.” Kata salah seorang sambil memasang retsliting celananya.
” Ayo cabut. Dan jangan lupa, sekalian bawa barang-barangnya sapa tahu ada yang berharga buat kita bikin pesta”
“Beres boss.” Diambilnya tas Ijah yang diletakkan di bawah lincak. Orang itu kembali mendekati wajah ijah yang sayu. Kemudian dicium bibirnya. Setelah itu ia menyusul bos-nya dengan senyum kemenangan, meninggalkan ruangan gelap dengan pendar cahaya bulan sebagai penerangan. Ijah masih terkapar. Wajahnya dipendari sinar bulan.
Kasim menunggu dengan kesetiaan yang cemas. Kesabarannya ditata lagi. Fondasinya tentang kereta eksekutif yang akan tiba dini hari nanti. Stasiun sudah sepi. Yang tinggal hanya suara dengkur dan deru angin malam yang gigil. ” Ijah dimanakah kau ijah. Aku rindu Ijah.” Kasim masih menunggu dengan kesetiaan yang cemas.
Dengan tertatih-tatih dan menahan sakit yang sangat, Ijah berjalan menuju stasiun yang jaraknya sepelemparan batu dengan tempatnya pingsan tadi. Ijah sadar, hidupnya kini terasa hancur berkeping-keping, tapi Ijah tak mau mengingkari janji. Hari ini ia harus pulang ke kampung, menemui suami dan anak-anaknya sebagaimana janjinya ketika berangkat dahulu. Ia tak mau mengecewakan keluarganya. Bagi Ijah janji adalah hutang. Dan Ijah kembali menunggu kereta api pagi yang akan membawanya pulang.
Sampang-Madura 30 - 31 Maret 2010

