WAKTU

JEJAK

JEDA

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2015

Rumah Kaca Orwell



Judul              : 1984
Penulis            : George Orwell
Penerbit          : Bentang Pustaka, Jogyakarta
Cetakan          : I, 2014 (edisi II)
Nomor ISBN  : 978-602-291-003-9
Tebal              : vii + 392 halaman

Kabut cemas masih menggantung di hampir seluruh belahan dunia meski perang dunia kedua telah reda. Tahun itu, 1949. Gema genderang perang baru, yang ditabuh dua tahun lalu masih terdengar nyaring di telinga; perang dingin. Ketegangan politik dan militer antara Dunia Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya, dengan dunia Komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet di bawah Stalin beserta sekutu negara-negara satelitnya, terus memanas. Ekonomi dunia bergerak seperti siput. 
Pada tahun penuh ketidakpastian dan rasa takut, sebuah penerbit bernama Secker and Wardburg yang bertempat di London, Inggris, meluncurkan sebuah novel distopian berjudul 1984. Penulisnya bernama George Orwell yang belakangan baru diketahui merupakan nama pena dari Eric Arthur Blair, seorang bekas opsir polisi Kerajaan Inggris kelahiran India.
Novel itu membuat masyarakat eropa yang terbelah dalam arus perang dingin berguncang. Mereka seakan mendapatkan sokongan tenaga melawan otoritarianisme yang terus mencakarkan kuku-kuku tajamnya. Tak lama setelah novel yang terdiri dari tiga bagian dengan satu lampiran khusus mengenai kaidah bahasa newspeak itu tebit, istilah orwellian jadi semacam kosakata baru untuk menunjukkan  pengebirian pendapat, kebebasan berpikir dan pemelintiran berita yang dilakukan kekuasaan yang otoriter. Istilah  “Tuan besar sedang mengawasimu” jadi jamak digunakan masyarakat eropa untuk mengolok-olok negara yang anti kebebasan berpendapat.
Apa pasal? Masyarakat Eropa terpengaruh dengan tokoh Winston Smith dalam novel tersebut. Dalam novel tersebut diceritakan, Winston bekerja di kantor kementerian kebenaran. Tugas utamanya adalah menulis ulang artikel koran masa lalu agar sesuai dengan garis kebijakan partai. Agar setiap ucapan dan isi pidato partai dan tuan besar (sang ketua partai} yang berhubungan dengan prediksi masa depan dapat terdokumentasi kebenarannya. Meskipun semuanya hanyalah hasil rekayasa belaka. Kerja orang-orang di belakang meja yang bertugas melakukan pemalsuan sejarah tingkat tinggi hingga tak seorangpun dapat menemukan bukti bahwa sejarah dan kebenaran telah dipalsukan (hal.46-58).
Sejatinya novel yang ditulis Orwell enam bulan sebelum ajal menjemputnya merupakan kritik satir atas otoritarianisme Stalin di Uni Soviet yang berimbas pada partai buruh dimana kala itu tengah berkuasa di Inggris. Dan barangkali banyak orang setuju Stalin memang pantas dikritik. Kalau perlu dikutuk dan dicaci-maki. Di bawah kakinya cita-cita revolusi Lenin untuk menciptakan masyarakat sosialis tanpa penindasan luluh lantak. Marxisme jadi ‘kitab suci’ yang tak dapat ditafsir ulang. Satu-satunya yang berhak menafsir pemikiran-pemikiran Karl Marx hanyalah partai komunis. Masyarakat Uni Soviet hidup dalam ketakutan. Mereka seakan tersedot dalam labirin kegelapan yang mengerikan. Kebebasan berpendapat dibungkam. Pengkritik dilenyapkan. Leon Trotsky merupakan contoh bagaimana nasib pengkritik kekuasaan Stalin. Diburu habis-habisan, hingga akhirnya kepalanya dikapak mata-mata Stalin yang menyamar jadi pembantu Trotsky di persembunyiannya di Siberia. Sastrawan Maxim Gorky juga mengalami nasib serupa meski tak setragis Trotsky. Diasingkan. Pembabatan total pada orang-orang yang dianggap makar pada kekuasaan Stalin dilakukan. Kuburan massal jadi pemandangan yang mencekam.
Dalam novelnya, Orwell menggambarkan kesepian, kegetiran dan ketakutan orang-orang yang hidup dalam kungkungan negara diktator melalui tokoh Winston Smith. Meski Winston bekerja di departemen milik negara dimana partai Sosing berkuasa, tapi dalam pikirannya Winston selalu memberontak. Pemberontakannya terhadap segala kebijakan tuan besar partai sosing yang despotik dan manipulatif itu ia tuangkan dalam buku hariannya dengan cemas. Cemas karena di negara Oeceania tempatnya tinggal terpasang teleskrin di mana-mana. Sebuah alat yang memantau semua gerak gerik warga. Bahkan termasuk mimik muka dan gestur. Juga terdapat polisi pikiran yang bertugas menyelidiki pikiran warga. Sehingga privasi hanyalah fantasi di negeri Oceania. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang membangkang, terpaksa diuapkan. Yang paling mengerikan, sebelum diuapkan para pembangkang dikirim ke kamp-kamp penyiksaan untuk menjalani serangkaian kebiadaban bernama alat siksa. Karenanya novel ini sengaja bergerak dengan alur lambat dengan penggambaran suasana mencekam untuk mengajak pembaca merasakan hidup berkalang ketakutan dalam pengawasan penuh negara.
Cara Orwell menggambarkan bagaimana negara otoriter mengawasi masyarakatnya mengingatkan saya pada novel Rumah Kaca Pramoedya Ananta Toer. Pram menulis Rumah Kaca untuk menggambarkan bagaimana kolonialisme mengawasi gerak-gerik para aktivis kemerdekaan. Dalam novel tersebut yang diawasi ketat adalah Minke. Bedanya dengan 1984-nya Orwell, jika orwell menggambarkan bentuk pengawasan ketat negara otoriter terhadap segala tindak tanduk warganya melalui novel futuristik, Pram justru menggambarkan bagaimana cara perumahkacaan negara kolonial melalui novel epik. Sementara tokoh Winston Smith adalah tokoh rekaan Orwell, sedangkan tokoh Minke justru diadaptasi Pram dari tokoh nyata bernama RM. Tirto Adisurjo, pendiri harian Medan Prijaji. Berkat novel 1984 dan Animal Farm, nama Orwell melambung sebagai sastrawan penting eropa. Sementara Pram terus duduk di kursi kandidat nobel sastra dunia. Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan Pram yang menjungkirkan ide Orwell dalam 1984 menjadi Rumah Kaca, mengingat 1984 terbit lebih dulu dibandingkan novel terakhir dari tetralogi pulau buru itu. Meskipun demikian, kedua sastrawan besar tersebut memiliki muara yang sama; menolak tunduk. Dan karya mereka adalah jalan perlawanan, jalan menuju kemerdekaan.
Pertanyaannya kemudian, masih relevankah membaca 1984? Bukankah perang dingin telah usai dan Uni Soviet sudah runtuh? Di Indonesia sendiri—negara yang dulu sempat menganggap novel 1984 sebagai novel berbahaya—kekuasaan Soeharto yang mirip dalam novel 1984 sudah lama jatuh? Bukankah tahun 1984 telah lama berlalu dan kini kita tengah berjalan di tahun 2015? Jawabannya tentu saja masih.
Hari-hari ini, di tengah gema teriakan revolusi mental di segala lini di negeri ini, kita menyaksikan bagaimana negara terus melakukan kebohongan-kebohongan dan pemelintiran berita. Alih-alih menurunkan harga BBM, negara justru menaikkannya lagi. Alih-alih mensejahterakan rakyat, negara justru membiarkan harga kebutuhan pokok terus melambung dan membiarkan tarif dasar listrik melonjak. Alih-alih memberikan kebebasan berpendapat, pemolisian para pengkritik negara hingga pemblokiran situs-situs yang dianggap radikal terus dilakukan.
Sementara itu, para aktivis-ativis pergerakan yang dulu pernah merasakan nyerinya disiksa di ruang penyiksaan orde baru, pernah merasakan ganasnya sepatu lars dan peluru tentara, seakan tutup mata atas penderitaan rakyat. Malah sebaliknya, menjadi bagian dari kekuasaan. Menjadi pengurus partai penguasa, menjadi komisaris utama dan staf ahli negara. Mereka terlihat persis seperti Winston. Setelah mengalami siksaan bertubi-tubi puluhan tahun, akhirnya Winston keluar. Airmatanya jatuh. Siksaan yang memedihkan itu ‘merusakkan’ otaknya. Ia sadar telah melakukan kesalahpahaman besar. Sekeluarnya dari kamp penyiksaan itu ia merasa meraih kemenangan atas dirinya. Menang, karena keinginan memberontak dan perasaan takut disiksa lagi dengan amat mengerikan saling bertarung. Winston jadi linglung. Ingin rasanya dirinya ditembak mati saja. Tapi ia tak dilenyapkan sebagaimana para pemberontak yang lain. Ia dibebaskan. Sekeluarnya dari kamp penyiksaan, Winston merasa sangat mencintai bung besar,  sang penguasa otoriter itu.
Sungguh novel yang layak dibaca bagi mereka yang ingin mengetahui dari dekat seperti apa hidup dalam pengawasan ketat negara. Lupakan bahwa Orwell mungkin sedang mengikuti angin anti komunisme yang sedang dihembuskan CIA lewat lembaga bernama Congress for Cultural Freedom (CCF), yang tujuannya menjauhkan kaum intelektual maupun sastrawan (awalnya Eropa Barat, tapi kemudian mendunia) dari Marxisme dan Komunisme. Suka tidak suka, Lu Tsun, sastrawan Cina itu benar, karya sastra adalah propaganda, tapi tak semua propaganda adalah sastra. Propaganda Orwell lewat 1984 bisa dibilang berhasil. Sejak pertamakali terbit, novel ini telah memberikan banyak pengaruh bukan hanya masyarakat eropa, tapi juga pada kesusastraan Inggris. Karenanya tak heran jika majalah Time menjadikan novel ini sebagai salah satu dari 100 novel terbaik sejak 1923-2005. Demikian besarnya pengaruh Orwell, malah masyarakat Burma/Myanmar banyak memanggilnya sebagai ‘sang nabi’, karena ramalan dalam novel 1984 masih relevan hingga hari ini.
 

cover buku 1984 terbitan Bentang Pustaka

cover buku 1984 terbitan tahun 1960an

Selasa, 31 Maret 2015

'Tubuh' Madura dalam Tiga Kacamata*)



Judul              : Sosiologi Tubuh; Membentang Teori di Ranah Aplikasi

Penulis          : Ardhie Radtya, M.A

Penerbit        : Kaukaba Dipantara, Yogyakarta

Cetakan         : Pertama, Agustus 2014

Tebal              : xxxvi+312 halaman

ISBN               : 978-602-1508-52-7

Peresensi      : HN. Amrif**)


APA jadinya jika ‘tubuh’ Madura dibedah melalui kacamata sosiologi tubuh? Buku berjudul Sosiologi Tubuh: Membentang Teori di Ranah Aplikasi karangan sosiolog muda Madura bernama Ardhie Raditya ini memberi jawabannya. 

Dengan menggunakan tiga kacamata sebagai obyek bantu menelisik soal madura itulah buku ini bergerak. Kacamata pertama memandang Madura melalui tubuh perempuannya. Kacamata berikutnya, memandang  Madura dari kacamata tubuh para jagoannya. Para preman Madura. Kacamata terakhir, melihat ‘tubuh’ Madura dari klasifikasi para tukang pijat tradisional Madura.

Dalam kacamata tubuh perempuan madura, dosen tetap di jurusan Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini memaparkan bahwa perempuan Madura tidak hanya ditindas oleh budaya patriakat saja. Perempuan madura, terutama perempuan dumeh (perempuan kelas bawah) ditindas oleh sesama perempuannya, yakni perempuan dari golongan parjejih (baca: priyayi). Menggunakan konsep pertentangan kelas ala feminisme marxis, kajian ini bergerak pada pandangan tentang posisi subaltern, yakni subyek yang tertekan dan tertindas. Berada dalam posisi inferior karena tersubordinasi oleh struktur dominan, yakni dominasi perempuan priyayi terhadap perempuan dumeh. Yang ditawarkan kemudian sebuah dekonstruksi untuk mensejajarkan posisi antara priyayi dan dumeh dalam segala lini kehidupan masyarakat. (hal. 259-265).

Dalam kacamata berikutnya, yakni tubuh Madura melalui para premannya, penulis buku ini menjelaskan bagaimana para preman Madura menafsir ulang tentang sehat dan sakit. Penulis buku ini memaparkan bagaimana para blater Madura menjaga kualitas tubuh mereka dari sakit. Baik sakit karena lemahnya fisik, maupun sakit karena berhasil ditembus senjata supranatural (baca: santet). Melalui cara menafsir ulang definisi sakit dan sehat ala blater madura, penulis kemudian menklasifikasi para blater bedasarkan tubuh mereka. Para preman Madura yang berhasil menjaga tubuhnya tetap prima baik dalam aspek mental (puasa berahi), ekonomi (sanggup puasa materi), dan kultural (menggendalikan supranatural) maka akan dianggap sebagai jagoan rajeh (kelas atas dalam dominasi jagoan Madura). Begitu juga sebaliknya. Yang gagal menjaga tubuhnya dianggap jagoan keni’ (preman kelas teri) (hal. 269-299). Cara mengklasifikasi para jagoan berdasarkan konstruksi tubuh dan kuasa tubuh atas sehat dan sakit tergolong unik dalam banyak penelitian atas jagoan Madura. 

Tapi, di samping dua kacamata diatas dalam memandang tubuh Madura, ada kacamata lain yang dipakai untuk mengupas budaya madura melalui sudut pandang sosiologi tubuh. Yakni, tentang tukang pijat Madura. Melalui analisa sosiologi tubuh, alumni UGM ini, mengklasifikasi berbagai jenis dukun pijat di madura. Termasuk darimana asal usul tukang pijat tersebut mendapatkan ilmu pijat. 

Bagi para penikmat budaya Madura, kajian ‘tubuh’ Madura dari tiga aspek diatas tentu menarik perhatian. Sebab hingga saat ini kebanyakan madura masih dipandang melalui aspek antropologi dan budaya semata. Sementara jarang sekali peneliti melakukan kajian dengan aspek sosiologi, apalagi sosiologi tubuh. Dan buku ini setidaknya menjadi angin segar bagi makin luasnya kajian tentang masyarakat Madura.

Hanya saja, kajian tentang Masyarakat Madura dalam buku ini tidaklah mewarnai keseluruhan buku ini. Kajian tentang Madura dengan tiga kacamata itu hanya ada di bab terakhir. Sedangkan mengenai tubuh Madura melalui sudut pandang tukang pijat berada di Bab I dan hanya diulas sekitar empat halaman saja (hal. 89-95). Padahal jika tiga tubuh Madura itu menjadi inti dari buku ini tentu akan menjadi lebih menarik bagi banyak orang, mengingat buku-buku mengenai Madura memang memiliki segmentasi yang jelas.

Sejatinya buku ini adalah buku mengenai teori sosiologi tubuh. Hal ini bisa dilihat dari sebagian besar isi buku ini yang mengulas dan mengutip berbagai teori dan pendapat tentang sosiologi tubuh. Tepatnya buku ini lebih identik sebagai buku diktat kuliah sosiologi dilihat banjirnya kutipan dan teori di sana-sini. Hal yang menguatkan lainnya bahwa buku ini merupakan diktat kuliah sosiologi adalah kata sambutan dan epilog yang ditulis oleh Dekan FISIKUM Unesa dan Rektor Unesa yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi pembaca. 

Buku setebal 300an halaman yang dikata pengantari Prof. Yusraf Amir Piliang, seorang guru besar kajian budaya pop di ITB dan penulis buku best seller berjudul “Dunia Yang Dilipat” ini, terdiri dari empat Bab. Bab pertama mengurai tentang sejarah dan teori-teori tentang sosiologi tubuh (hal.1-143). Bab kedua mengurai tentang tubuh hubungannya dengan globalisasi dan teknologi (hal.151-209). Bab ketiga memaparkan tentang tubuh dan media massa (hal. 213-266). Dan terakhir, pada bab empat, mengurai tentang tubuh dalam aras lokal (hal.269-300). 

Sebenarnya, bagi sosiolog kontemporer kajian soal tubuh bukanlah barang asing. Sejak revolusi industri menggerus masyarakat dalam gilda-gilda ekonomi kapitalis, sejak itu pula sosiologi tubuh menjadi alat untuk mendekonstruksi kesadaran masyarakat akan tubuh di bawah kungkungan kapitalisme. 

Dalam pandangan sosiologi tubuh, tubuh memiliki relasi kuasa dengan sistem sosial yang ada. Tubuh bisa menjadi objek eksploitasi kekuasaan dan sekaligus bisa juga menjadi subjek dalam eksploitasi terhadap tubuh lainnya. Dalam kondisi macam ini, selama relasi kuasa dan eksploitasi tubuh tak tuntas didekonstruksi, maka tubuh jadi bagian paling empuk dihajar tajam kuku kapitalisme. Dan ketika tubuh ambruk, maka masyarakatpun bakal limbung dan terpuruk.

Melalui sosiologi tubuh, para sosiolog mengungkap selubung gelap tubuh di bawah bengis tapak kaki kapitalisme untuk menyadarkan masyarakat betapa tubuh begitu berharga dan punya kuasa untuk melawan segala tindasan budaya terhadap dirinya. 

Sayangnya, buku bersampul wajah perempuan yang terbelah ini, terlalu sedikit membahas ‘tubuh’ Madura. Sebaliknya, justru buku ini menjenuhkan jika dilihat dari definisi, teori dan kutipan dari berbagai pemikir yang disusun bertumpuk-tumpuk termasuk istilah-istilah ilmiah yang bikin pembaca awam mengernyitkan dahi. Namun bagi mereka yang ingin menekuni sosiologi tubuh, terutama mahasiswa, praktisi dan akademisi masalah sosial yang ingin mengetahui bagaimana sosiologi tubuh bekerja membedah tubuh Madura dalam aplikasi penelitian di lapangan buku ini pantas dibaca. Termasuk mereka yang ingin mengenal masyarakat madura lewat sosiologi tubuh. 

*) Resensi ini dimuat di Harian SUARA MADURA, 31 Maret 2015 

**) HN. Amrif adalah alter ego Edy Firmansyah, seorang jurnalis partikelir, penyair dan penulis cerpen. Pernah bekerja di JAWA POS selama satu tahun (2005-2006). Menulis resensi di banyak media  nasional, media daring dan lokal.

Selasa, 24 Februari 2015

Prosa Spiritual dalam Kecamuk Perang*)





Judul                 : Siddhartha
Penulis             : Herman Hesse
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan            : I,  2014
Nomor ISBN     : 978-602-03-0419-9
Tebal                 : 166 Halaman
Peresensi         : HN. Amrif
Tahun 1922. Perang dunia pertama baru saja reda. Puing-puing sisa perang berserakan bersama anyir darah, ketakutan dan airmata yang menyungai di seantero eropa. Ekonomi limbung, nyaris ambruk. Kehidupan kacau. Masyarakat Eropa tengah bergulat dengan kegamangan diri yang akut. Mereka mencari jalan baru untuk ketenangan batin pasca perang sebelum jatuh dalam kubangan banalitas yang menggila. Pada saat itulah kehausan religius melanda. Dan Herman Hesse seakan menjadi oase diantara dahaga religi eropa itu.
Melalui tangannya yang dingin, peraih nobel sastra tahun 1946 yang lahir di Cawl Jerman tahun 1877 itu menulis novel berjudul Siddhartha. Sebuah novel pendek yang bercerita tentang kehidupan Siddartha, seorang pemuda yang kebetulan bernama sama dengan sang Buddha. Dan bisa ditebak, dengan segera novel itu memikat masyarakat Eropa yang tengah bergulat dengan kegamangan pasca perang dunia. Novel tersebut kembali mengerek nama Hesse ke jajaran penulis papan atas eropa.
Dalam Siddartha, Hesse melompati pagar pembatas spiritualitas pagan yang kaku dan hitam putih dengan menggarap prosa yang mengupas intisari dari perjalanan spiritualitas manusia beragama. Sejatinya novel tersebut terinspirasi setelah perjalanan Hesse ke Burma dan Indonesia pada tahun 1911 untuk mendalami Budhisme. Novel tersebut jadi best seller. Dicetak ulang berkali-kali dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Eropa kemudian mengenang Siddartha sebagai salah satu karya klasik garapan anak dan cucu misionaris Protestan itu sebagai salah satu karya yang berhasil merangkum kata Om sebagai puncak pencapaian spiritual Budhisme.
Siddhartha berkisah tentang seorang anak muda yang cerdas dan keras kepala bernama Siddhartha yang sedang bergulat dengan dirinya sendiri dalam pencarian kebenaran spiritual. Bersama sahabatnya, Govinda, ia berkelana mencari pencerahan. Melepas segala gelar dan kemewahan istana yang menjadi takdir hidupnya. Melewati segala rintangan dan cobaan hidup, mengambil hikmah atas semua perjalanan nasibnya mulai dari berkelana dengan Samana, para pertapa musafir, bertemu Gautama, bercinta dengan pelacur bernama Kamala, menjadi pedagang, hingga akhirnya bertemu Vasudeva si tukang tambang dan menemukan pencerahan.
Novel yang ditulis pada tahun 1922, di tengah kecamuk perang dunia pertama yang tengah mereda, terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdari empat subbagian; Putra Brahmana, Bersama Para Samana, Gautama dan Kebangkitan. Berkisah tentang awal mula Sidharta mewujudkan tekadnya mencari kebenaran spiritual. Bagian kedua yang terdiri dari delapan subbagian (Karmala, Bersama orang-orang Kekanakan, Sansara, Di Sungai, Tukang Tambang, Si Anak Lelaki, Om, dan Govinda) menceritakan tentang pergulatan hidup Sidharta hingga menemukan titik terang spiritualnya (dan tak pernah lagi berpaling) ketika menjadi seorang penambang.
Melalui Novel ini, penulis buku berjudul Demian itu, hendak mengajak kita untuk kembali melihat kearifan timur dan berjabat tangan pada kedamaian. Perang tak akan memberikan apa-apa selain kerakusan dan tindakan manusia yang paling banal: pembantaian. Kita diajak menekuni kearifan melalui laku spiritual yang tak kosong. Yang tak hanya berisi aturan dan laku ibadah panjang tapi samasekali hampa saat diejawantahkan dalam laku hidup sehari-hari antar sesama manusia.
            Sebagaimana pesan Gus Dur, bahwa agama janganlah sekedar dijadikan sekedar emblem semata. Haji berkali-kali tapi korupsi kian banter. Sholat duha dan tahajjud sepanjang hidup tapi menjadi rentenir dan tukang peras penduduk kecil. Mengaku beragama tapi paling sibuk mengutuki dan mengkafirkan agama lain.
            Meski ditulis puluhan tahun silam, novel ini masih juga tak kehilangan rohnya sebagai bahan perenungan kita bahwa kedamaian adalah jalan terakhir tiap manusia. Tak akan ada kedamaian hidup dalam gelimang harta dan kerakusan akan kuasa dunia. Tak akan ditemukan kedamaian jiwa sejati ditengah ambisi dan harapan-harapan duniawi. Kebahagiaan ditemukan dalam penyerahan penuh seluruh pada totalitas spiritual dan kesederhanaan.
            Membaca novel ini kita diajak merasakan pahit getirnya hidup seorang pencerah. Siddharta melakoni semua itu tanpa ada anasir dalam dirinya untuk menjadi nabi. “Sebab  di dalam diri semua manusia terdapat jiwa pencerah. Bahkan di dalam jiwa seorang pendosa paling berdosa sekalipun.” Ujar Siddharta ketika menasehati Govinda dalam pertemuan terakhirnya di pinggir sungai.(hal.158) Karena itu, lanjut Siddharta, “kearifan sebenarnya tidak bisa disampaikan. Sebab kearifan yang selalu disampaikan orang bijak selalu terdengar seperti kebodohan.”(hal.156). Sebab tiap manusia memiliki kearifannya sendiri. Dan kearifan itu datang dari cara manusia membebaskan dirinya dari penderitaan-penderitaan hidupnya. Karena itu tiap manusia punya jalannya sendiri menjadi sang pencerah.
Meski Hesse tak hendak menulis otobiografi Sidharta Gautama dalam novel berjudul nyaris sama dengan nama sang buddha itu, tapi banyak kisah dan laku kehidupan Siddartha mirip dengan kehidupan sang buddha. Makanya tak heran jika karya klasik ini dapat bertahan dan terus dicetak ulang hingga sekarang. Bahkan tak sedikit yang menduga Novel ini adalah novel semiotobiografi sang pencerah dari Nepal itu.
Di Indonesia sendiri, seingat saya setidaknya ada tiga penerbit yang menerbitkan Siddartha. Yang pertama adalah penerbit Bentang, Yogyakarta pada tahun 2002. Kemudian penerbit Jejak, Yogyakarta pada tahun 2007. Lalu diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014. Tentu saja, mengingat betapa fenomenalnya novel ini, di tahun-tahun sebelum tahun yang saya sebutkan Siddartha telah hadir ke hadapan pembaca Indonesia melalui berbagai penerbit.
Bagi mereka yang ingin mengenal budhisme, novel bercover merah hati dengan gambar kepala buddha di covernya ini bisa menjadi pintu masuk pertama. Terlebih lagi terjemahan Gita Yuliani atas novel ini juga tak bisa dibilang sembarangan. Dalam versi Indonesianya ini kita masih bisa menikmati keindahan kata-kata dan pesan spiritual yang menjadi ciri khas Herman Hesse, meskipun hurup yang digunakan dalam buku yang desain covernya dibuat oleh Eduard Iwan Mangopang ini terbilang kecil dan cukup mengganggu cara baca.
Lagipula novel ini tidak dikhususkan pada penganut buddha, melainkan pada semua manusia yang merindukan kedamaian hakiki melalui laku spritual. Melalui novel ini kita diajak untuk meraba teladan dan mendekap kharisma tokoh Siddhartha agar tak gagal mewarisi sebuhul kearifan dan rasa kasih sayang antar sesama. Meskipun kadang manusia gagal menemukan secercah pencerahan dan melulu larut dalam pertumpahan darah dan serang-menyerang atas nama Tuhan.

*) Resensi ini dimuat di harian Suara Madura, 24 Februari 2015

TENTANG PERESENSI

*HN. Amrif adalah alterego Edy Firmansyah, seorang penulis cerpen sekaligus penyair. Mantan jurnalis Jawa Pos (2005-2006) yang telah menerbitkan satu Buku kumpulan cerpen dan dua buku kumpulan puisi. Kini menjadi kerani di “Sanggar Bermain Kata (SBK)” sambil terus menulis. 

Sabtu, 16 November 2013

#5bukudalamhidupku: Syekh Siti Jenar dan Kenangan Gedung Bioskop Yang Dibakar


Syech Siti Jenar dan Kenangan Gedung Bioskop Yang Dibakar



Tumenggung Wilarikta, seorang adipati di Tuban, memergoki anaknya, Raden Mas Said tengah mencuri beras di lumbung keluarga. Sang Tumenggung marah besar. Raden Mas Said dihukum sekap di gudang makanan setelah sebelumnya tangannya dicambuk. Padahal Raden Mas Said mencuri untuk membantu salah seorang keluarga dilingkungan kadipaten yang tengah kelaparan. Anak itu terima hukuman bapaknya. Ia berdiri di pojok gudang. Airmatanya pelan-pelan berlinang’ 

Saya ikut sedih. Sedih sekali menyaksikan Said terdiam menahan tangisnya. Saya terus merapatkan duduk saya ke dada Ibu untuk sekedar berbagi kesedihan. Itulah adegan pembuka film Wali Songo yang ditayangkan di Bioskop Trunojoyo sebagai rangkaian akhir dari peresmian dan pembukaan gedung bioskop pertama di Kabupaten Sampang. Kala itu November tahun 1993. Saya lupa tanggalnya. Saya menonton film yang disutradarai Soyjan Sharna itu karena diajak bapak. Saya tak tahu apakah bapak membeli karcis atau mendapat undangan resmi sebagai PNS. Yang saya ingat sebagian besar penonton bioskop yang terletak di Jalan Trunojoyo, Sampang, berpakaian batik. Di deretan depan ada yang berpakaian polisi dan tentara. Juga ada yang bersorban. 

Kami sekeluarga duduk di deretan tengah. Saya dipangku Ibu. Adik digendong bapak. Saat itu filmnya berjudul Wali Songo. Belakangan setelah dewasa saya baru tahu Bahwa film tersebut termasuk film yang sukses karena ditonton lebih dari 500 ribu orang sejak ditayangkan pertama kali pada tahun 1984 di layar lebar.

Saya tak ingat lagi cerita selanjutnya. Yang jelas Raden Mas Said kemudian menjadi pencuri yang budiman. Mirip seperti Robin Hood. Dan akhirnya menjadi sunan kalijaga. Selain itu ada satu lagi adegan yang saya ingat betul dari film itu, yakni cerita tentang sosok antogonis Syech Siti Jenar. Dikisahkan ia berasal dari cacing. Namun karena menempel di perahu saat Sunan Bonang mewariskan ilmu pada Sunan Kali Jaga, maka ia menjelma manusia dan menjadi wali. Tapi ia dianggap sesat karena mengajarkan pandangan manunggaling kawula gusti. Pandangan ini merumuskan bersatunya Tuhan dalam  hamba-Nya. Sebab Tuhan telah ada dalam aku, maka akulah Tuhan. Pandangan ini ditentang sembilan wali. Singkat cerita Syech Siti Jenar ‘dikeroyok’ wali songo dan akhirnya ia dipenggal.

Namun film Wali Songo adalah film pertama sekaligus film terakhir di Bioskop itu. Dua hari setelah peresmian Bioskop oleh Bupati Sampang Kolonel Bagus Hinayana, ribuan massa mengamuk di kota bertajuk Sampang Bahari itu. Mereka menuntut Bupati mundur. Sembari meneriakkan tuntutan, massa merusak kios-kios SDSB. Merobohkan lampu kota. Membakar mobil polisi dan membakar gedung bioskop. Media menulis tak ada korban jiwa dalam peristiwa amuk itu. Hanya korban luka-luka. Tapi dari cerita seorang intel polisi yang terlibat langsung dalam peristiwa itu korban justru banyak. Mayat-mayat terpaksa ditumpuk di truk dan dibawa ke Omben untuk menghindari wartawan. Terutama wartawan internasional. “Kami sampai mengerahkan pemadam kebakaran untuk membersihkan genangan darah di sepanjang jalan raya” ujarnya.

Amuk massa itu imbas dari peristiwa dua bulan sebelumnya. 25 September 1993, petugas BPN kembali melakukan pengukuran untuk melanjutkan proses waduk Nipah di Kecamatan Banyuates. Kali ini dikawal 60 tentara bersenjata lengkap. Warga kembali protes. Menolak. Bentrok tak terhindarkan. Melihat warga tak tunduk, tentara kalap. Akibatnya, tiga warga tewas diterjang timah panas tentara. 

Sejak amuk massa itu, Kabupaten yang terkenal dengan jambu air itu tak lagi punya gedung bioskop hingga sekarang. Bekas gedung bioskop Trunojoyo itu kini menjadi gedung BPU; Balai Pertemuan Umum. Dan hanya menjadi tempat acara pernikahan. Tapi film wali songo dan adegan Syech Siti Jenar terus tersimpan dalam ingatan saya. Terutama tentang Wali Songo sebagai hero dan Syech Siti Jenar sebagai penjahat.

Sampai akhirnya saya membeli buku berjudul Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar; Konflik Elite dan Lahirnya Mas karebet karangan DR. Abdul Munir Mulkhan terbitan Kreasi wacana, Januari 2002. Sebenarnya apa yang ditulis doktor sosiologi agama UGM kelahiran Banyuwangi itu merupakan tafsir atas terjemahan bebas dari buku asli serat Syekh Siti Jenar karya tulis Raden Sosrowijoyo tahun 1958 yang diterbitkan oleh keluarga Brotokesowo (hal. 179). Artinya buku ini bisa dikata tafsir atas tafsir. Namun bagi saya yang mahasiswa semester tiga merupakan buku yang mengesankan. 

Apa yang ditulis Mulkan berbeda dengan yang telah menjadi keyakinan saya berdasarkan film Wali Songo yang dulu saya tonton saat masih kanak-kanak. Bahwa persoalan Jenar dengan Wali Songo tidak semata-mata soal ajaran sesat dan tidak sesat belaka. Melainkan juga politik. Misalnya, dalam ajaran Jenar mengenai hidup. Bahwa manusia hidup di dunia ini sejatinya adalah mati. Yang berkeliaran itu semua mayat. Zombie. Jadi tubuh pembungkus raga ini adalah najis, kotor dan penuh racun karena dipenuhi keinginan-keinginan menumpuk-numpuk harga, berkuasa atas yang lemah, berharap-harap pahala. itulah mengapa, lanjut jenar, didalam al-qur’an bahwa seluruh alam dunia ini termasuk isinya (juga manusia) hanyalah mayyidun atau mayat.

            Mayat-mayat itu berkeliaran, mencari makan, mencari rejeki, bersenggama dengan istrinya, memakai perhiasan berkilau. mereka yang naik delman, kereta, dokar, memakai baju kerajaan beserta paying kebesaran hanyalah mayat belaka, meskipun seringkali berwatak keji terhadap sesamanya.(suluh siti jenar pasal 10).

            Ajarannya itu bukan saja nyeleneh, tapi juga mengancam domonasi kejayaan kerajaan demak yang despotik dan keji itu! Artinya ajaran Jenar adalah bentuk perlawanan dominasi Demak dan protes terhadap kemapanan kaum agamawan, khususnya wali singo yang hidup bergelimang harta sebagai penasehat spritual raja Demak. Karenanya Jenar mengajarkan pada muridnya untuk  menolak tunduk pada rejim kerajaan Demak, menolak membayar upeti dan mengajarkan pada pengikutnya untuk tak takut pada sesama manusia. Sebab tak ada manusia yang harus menguasai manusia lainnya. Karena sejatinya manusia dimuka bumi ini adalah mayat. Ajakan atau ajaran menolak tunduk itu tentu saja angin segar bagi rakyat kebanyakan yang terus berada dalam represi feodal. Terutama melihat sepak terjang pasukan Glagawangi yang bengis dan tanpa ampun memburu sisa-sisa Majapahit dan penganut Budha. 

            Karena itulah perlu dilakukan tindakan agar ajaran Jenar tak meluas dan menimbulkan pembrontakan. Tapi Wali Songo tak mau mengotori tangannya dengan darah. Karena itu diatur siasat agar Jenar mengakhiri hidupnya sendiri. Bahkan wali songo kemudian mengganti jasad Jenar dengan seeokor bangkai anjing untuk meredam gejolak para pengikutnya.

            Membaca buku Syekh Siti Jenar Abdul Munir Mulkhan ini ingatan saya kembali pada tragedi Waduk Nipah di Sampang. Bagaimana lihainya rejim orde baru memanipulasi fakta bahwa korban hanya tiga orang tewas padahal ada puluhan orang yang terkapar dengan tubuh berlobang dan bersimbah darah. Juga mengingatkan saya pada tragedi 1965. Bagaimana dengan licik Tentara menggunakan tangan ormas Islam dan organisasi sipil untuk menjagal hampir tiga juta orang komunis dan atau yang dituduh PKI. 

            Lamat-lamat kemudian adegan terakhir film Wali Songo melintas dalam ingatan. Bagaimana Syekh Siti Jenar berjongkok di halaman Masjid kemudian Sunan Kali Jogo menebas lehernya. Seakan kita diberi warning dalam film itu; tunduklah. Patuhlah. Memberontak dan melawan kerajaan (negara) kau akan bernasib seperti Jenar.

            Ya hari ini kita tak lagi hidup di era rejim orde baru. Tapi bau busuk rejim itu terus keluar masih terus tercium hingga sekarang. Mirip bau bangkai anjing yang sengaja ditukar Wali Songo dengan jasad Syekh Siti Jenar untuk menundukkan pengikut-pengikutnya.
           

       #5Bukudalamhidupku    







Kamis, 13 Desember 2012

Membaca Sastra Indonesia Hitam Putih

Membaca Boemipoetra, Membaca Sastra Indonesia Hitam Putih*)

Judul                : Djoenal Boemipoetra
Penulis              : Wowok Hesti Prabowo, dkk
Penerbit            : Boemipoetra, Tangerang
Cetakan           : I, November 2012
Halaman           : 272 halaman



Jurnal itu cuma sekedar corat-coret di toilet. Begitulah kira-kira komentar Goenawan Mohammad (GM) ketika menanggapi terbitnya Djoernal Boemipoetra (selanjutnya disingkat BP). Malah saking tak bergunanya BP di mata penyair yang juga pernah jadi pemimpin redaksi Majalah Tempo itu, ia sempat meramalkan, dalam sebuah wawancara, bahwa BP tak akan bertahan lebih dari enam bulan.

Tapi ‘’ramalan’’ salah satu penandatangan manifes kebudayaan (manikebu) itu keliru sama sekali. BP terus terbit. Dicetak 1000 eksemplar tiap edisinya, meski dananya berdasarkan patungan antar redakturnya dan hasil sumbangan dari sukarelawan. Bahkan pada Oktober 2011 lalu BP memasuki usianya yang genap lima tahun.

Nah, buku ini adalah salah satu bentuk perayaan awak redaksi BP. Jurnal BP yang bertebaran selama lima tahun itu dikumpulkan ulang kemudian dijadikan buku. Tujuannya sebagai pelajaran bagi kesusastraan Indonesia bahwa di mana tumbuh rezim sastra, disitu akan lahir pejuang-pejuang yang menentangnya. Tidak untuk menjadi pahlawan atau pecundang. Yang terpenting dari perlawanan adalah mengangkat bendera tinggi-tinggi. Pena dilesatkan.

Lalu apa yang membuat GM memandang rendah BP hingga menganggap isinya sekedar corat-coret di toilet? Kalau membaca pengantar di cover belakang buku ini ( yang diambil dari “tajuk rencana” BP edisi kedua 2007) kita akan mengerti mengapa GM memandang sinis BP. Sebab BP tanpa tedeng aling-aling menuding GM sebagai pecundang bangsa, penipu rakyat dan pelacur budaya.

Buktinya? Pertama, GM yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai orang yang pro demokrasi ternyata prilakunya sangat anti demokrasi. Contoh kongkretnya adalah kasus DKJ (Dewan Kesenian Jakarta). Nyaris hampir semua pengurus DKJ adalah orang-orang KUK ( Komunitas Utan Kayu) yang dipilih dengan cara amat tidak demokratis.

Kedua, GM yang selama ini mencitrakan dirinya pro-rakyat nyatanya tidak berpihak pada rakyat. Ia dan antek-anteknya secara nyata mengiklankan dirinya mendukung kenaikan BBM melalui iklan sehalaman penuh di berbagai koran nasional. Mereka dibiayai Freedom Institute milik keluarga Bakrie yang kini menenggelamkan Sidoarjo dengaan lumpur lapindo.

Ketiga, alih-alih menghargai keberagaman, justru ia dan antek-anteknya memaksakan keseragaman pikiran dan nilai-nilai barat yang diimpornya ke dalam kebudayaan Indonesia. Termasuk upayanya menyeragamkan warna kesusastraan Indonesia dengan sastra kelaminnya.

Bukan hanya GM yang diserang oleh BP. Komunitas Utan Kayu (KUK) dan Salihara, dua ‘lembaga’ yang menjadi wadah kesenian yang didirikan GM juga tak luput dari tajam pena BP. Termasuk juga karya yang dikeluarkan anggota komunitas tersebut. Kritik sastra dan sastra kritik dilancarkan BP baik melalui esai-esai, cerpen, dan puisi. Misalnya esai yang ditulis kritikus sastra Indonesia asal Jerman, Katrin Bandel, berjudul “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” ( BP edisi Mei-Juni 2008), atau esai “Seksualitas dalam Sastra Indonesia” untuk mengkritik Novel Saman karya Ayu Utami (BP edisi Januari-Maret 2010).

Apa reaksi mereka yang dituduh BP secara terang-terangan tanpa tedeng aling-aling itu? Seorang Sitok Srengenge dalam suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa BP hanya berisi fitnah belaka. Tapi salah seorang redaktur BP yang dikenal sebagai presiden penyair buruh, Wowok H Prabowo, justru menantang balik Sitok. ”Jika benar ada isi BP fitnah, silahkan tunjuk tulisan mana yang berisi fitnah. Bila perlu melalui jalur hukum” tulis peraih penghargaan Yin Hua tahun 2001 itu di BP edisi Agustus-Oktober 2011.

Tantangan Wowok terhadap Sitok menunjukkan bahwa BP tidak digarap main-main dan asal-asalan untuk sekedar meraih popularitas dalam jagad sastra Indonesia. Banyak sastrawan ternama yang menjadi kontributor di BP. Mulai dari D. Zawawi Imron, Katrin Bandel, Beni Setia, Kusprihyanto Namma, Saut Situmorang, Ahmadun Y. Herfanda, untuk sekedar menyebut beberapa nama. Dengan lain kata tudingan GM bahwa BP sekedar corat-coret di toilet makin menunjukkan bahwa komentar penulis catatan pinggir itu hanya sekedar asal bunyi belaka. Sulit dibantah misalnya, esai-esai Katrin Bandel dalam BP sekedar corat-coret di toilet belaka, meskipun beberapa tulisan istri Saut Situmorang itu di BP itu sebelumnya pernah juga diterbitkan dalam buku kumpulan esainya ”Sastra, Perempuan dan Seks” oleh penerbit Jalasutra tahun 2006 silam.

Nyatanya bukan hanya GM dan antek-anteknya di KUK dan Salihara saja yang diserang BP. Taufiq Ismail dan Seno Gumira Adjidarma juga tak luput dibahas BP. Pasalnya, keduanya terlibat kasus plagiasi. Taufiq Ismail diduga kuat melakukan plagiasi dalam puisinya berjudul “Kerendahan Hati” atas puisi salah satu penyair Amerika, Douglas Malloch (May 5, 1877 – July 2, 1938). Sedangkan Seno Gumira Adjidarma diduga kuat melakukan plagiasi atas cerpen Tiga pertama karya sastrawan legendaris Rusia, Leo Tolstoy, dalam cerpennya berjudul “Dodolitdodolitdodolibret. Ironisnya, cerpen penulis buku kumpulan cerpen “Saksi Mata” yang juga peraih SEA Write Awars itu justru mendapatkan anugerah cerpen terbaik pilihan Kompas 2010. (BP, edisi Januari-Juni 2011).

Karena itu, bagi mereka yang ingin tahun perkembangan sastra Indonesia dengan berbagai intrik politik yang terjadi di dalamnya selama lima tahun silam buku setebal 272 halaman ini layak dibaca. Dalam buku ini kita diajak membuka mata lebar-lebar bahwa sastra bukanlah dunia suci yang turun dari kepala dewa-dewa langit. Sastra adalah produk kebudayaan. Sebagai sebuah produk kebudayaan sastra tidaklah netral. Disamping itu, buku ini penting bagi mereka (terutama sastrawan di daerah yang mengtahui hiruk-pikuk sastra “nasional” dari media mainstream) yang memitoskan sastrawan KUK dan Salihara sebagai ‘dewa’ sastra untuk menata ulang pikirannya tentang mitos-mitos yang telah disebarkan melalui media massa.

Dibandingkan buku lain buku BP ini ”unik”. Selain tidak dilengkapi halaman (karena sekedar mengkliping 22 edisi BP selama lima tahun), buku ini juga terbilang besar; 21 x 29,5 cm. Pembaca akan membaca versi asli BP yang dibeberapa edisi masih banyak typo di sana-sini. Meski begitu hal tersebut tak mengurangi manfaat buku ini. Hanya saja buku ini tidak dijual bebas di toko buku di Indonesia. Mereka yang berminat harus memesannya lewat akun twitter @indiebookcorner atau melalui situs www.bukuindie.com yang kabarnya saat meluncurkan buku BP ini situs tersebut diserang hacker. Meski demikian, buku tersebut telah melanglang buana ke benua eropa (Belanda, Jerman dan Prancis) dibawa salah satu redaktur BP, Saut Situmorang, dalam perjalanan sastranya pada akhir November 2012 lalu.

*) Tulisan ini dimuat di KORAN MADURA, 13 Desember 2012 [ http://issuu.com/koranmadura/docs/koran_madura ]