WAKTU

JEJAK

JEDA

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 April 2017

APAKAH AKAN ADA

APAKAH AKAN ADA

apakah akan ada
ataukah tidak ada
nama kita
pada sekon pertama
saat tulah itu
mencekik kita

 

dalam selubung kesedihan itu
desah nafasmu turun
begitu lembut, teramat lembut
di tengkukku
bagai angin surgawi
berembus perlahan
di pagi pertama
hari kebangkitan

sambil menarik selimut kau berkata;
"kita akan tua"

"tapi kita tak harus bersedih" ujarku

"kita akan mati"

"tapi tak ada alasan untuk
tak berbahagia"

seketika cahaya menghambur dari balik jendela
menyusun semesta dalam gelas waktu
desah nafasmu turun di bahuku
kini berat, teramat berat
di bekuk asma

apakah akan ada
ataukah tidak ada
nama kita
pada sekon pertama
saat tulah itu
mencekik kita

aku memelukmu
dan berkata:
"nama kita ada atau tidak ada
cinta akan menyentuh segala
yang berbahagia"
lalu pasir dalam gelas waktu
menghambur ke arah kita

2017

Jumat, 25 November 2016

Apakah Cinta? Apakah?

Apakah Cinta? Apakah?
(bagian kedua dari dua tulisan. Untuk yang pertama: Klik di sini )

Karena tahun 2222 berdasarkan ramalan Jihan Fahira bakal kiamat, dan di akherat kemungkinan tak ada sinyal wifi, ada baiknya juga aku lanjutkan saja apa yang sudah aku mulai kemarin, hari ini.

Apakah aku mencintai Nurfa Rosanti? Sungguh jawaban yang rumit. Cinta memang tak mudah didefinisikan dengan tepat. Tapi jika pertanyaannya diganti dengan; apakah aku rindu istriku? Iya, selalu. Soalnya begini. Aku hidup bersama dengannya cukup lama. 1 tahun pacaran, 4 tahun bertunangan, 11 tahun menikah. Bukan usia yang pendek dalam hubungan asmara. Tak sedikit orang yang tahan hidup dengan pasangannya selama itu. Beberapa diantaranya memilih berpisah. Yang lainnya ada yang bunuh diri. Yang lainnya lagi, berpisah, menikah lagi, berpisah lagi, lalu mati. Aku termasuk beruntung. Masih tahan sampai sekarang. Meskipun sejak mula bersamanya, tak pernah berpikir bisa bersama selama ini.

Kami sama-sama virgo. Sebisa mungkin kami akan saling mengalah satu sama lain jika ada persoalan. Jika marahan, kami cuma diam-diaman, sampai salah satu diantaranya menyerah dan mulai membuka pembicaraan dengan; maaf.

Di awal-awal kami berpacaran, aku tak pernah memintanya meninggalkan pacarnya. Dia mengambil keputusannya sendiri untuk bersamaku. Persoalan itu buat dia punya rumitnya sendiri. Aku tak pernah paham seperti apa rumitnya. Dan aku tak pernah mau tahu. Karena memang nggak tahu.

Di awal-awal aku menikah dengannya, aku tak pernah tertarik membahas soal masa lalu itu. Meskipun hari-hari ini kita sering membicarakannya sambil lalu, itu pun cuma buat mengisi waktu. Menikmati keluguan kita dulu sambil tertawa bersama melintasi hari-hari yang sibuk dan kadang bikin remuk.

Ada masa-masa kami bersama, melakukan banyak hal bersama. Tapi ada juga masa-masa kami harus berjauhkan karena tugas-tugas yang tak bisa ditolak. Pada saat berjauhan itulah, Melakukan sesuatu yang biasa dilakukan bersama sungguh betapa sangat kesepian.

Aku pernah ditinggal dia selama setengah bulan karena dia mendapat tugas ke luar kota. Aku dititipi anak-anak di rumah. Dua anak lelaki. Anak dia. Bukan anak tetangga. Anakku juga sih sebenarnya.
Hari pertama dia pergi, segalanya baik-baik saja. Aku bisa mencuci piring. Aku juga bisa mencuci baju. Mencuci, menyapu, menjaring air dan memasak indomie goreng sudah sering aku lakukan di rumah orang tuaku dulu, bahkan ketika aku belum mimpi basah malah. Bukan pekerjaan yang gawat. Setelah pekerjaan rumah selesai. Aku bermain dengan anak-anak. Makan siang bersama. Lalu tidur. Nggak ada masalah.

Begitu maghrib tiba, barulah “malapetaka” itu datang. Mengajari ngaji, membantu mengerjakan tugas sekolah, kadang anak-anak berkelahi, susah diajak makan, merengek, menangis. Pada saat-saat begitu, bayangan istriku muncul. Aku rindu dia ada di sampingku. Di tangannya, semua urusan didik mendidik anak jadi sedikit lancar. Tidak terlalu gaduh. Ajaib betul. Keadaan jadi rumit hingga menjelang tidur malam. Dan hari kedua dan seterusnya, rumah makin berantakan. Buku-buku yang aku baca ada di mana-mana. Mainan anak-anak ada di mana-mana. Aku tak lagi sempat membereskannya. Semuanya jadi berantakan. Untunglah ada pemadam kebakaran bernama mertua yang membereskan.

Tapi tetap saja, kegaduhan demi kegaduhan muncul dan meluas. Dan aku kangen istriku cepat pulang.
Jadi poinnya apa sih? Tanpa ada hubungannya dengan cerita di atas, ada satu hal yang rumit dari cinta; melupakan. Sampai saat ini aku tak bisa melupakan wajah istriku. Senyumnya, pelukannya, ciumannya dan segala hal yang telah kami lewati bersama. Aku masih ingin terus bersamanya. Melalui hari-hari bersamanya. Banyak anak, banyak mimpi, tak apa-apa. Banyak rejeki kalau diijinkan semesta, banyak istri kalau nggak ketahuan. Asal jangan banyak utang. Aku tidak pernah berharap ia menjadi perempuan yang sempurna. Kesempurnaan itu cuma kekurangan-kekurangan yang tak tampak. Menjadi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup.

Sungguh aku tak bisa membayangkan ada perempuan lain yang sanggup menghadapi rumitnya diriku, kecuali dia dan super girl. Tapi aku nggak mungkin pacaran sama super girl. Bisa marah besar Jerro si putra duyung atlantis dan brainiac 5. Bisa gaduh komik Marvel nanti.

Aku mencintainya. Aku tak paham benar sejak kapan mulai benar-benar mencintainya. Mungkin sejak untuk pertamakalinya aku berani menggandeng tangannya. Aku selalu merindukannya. Dan yang jelas jasanya begitu besar buat hidupku hingga sekarang. Tanpa dia status panjang ini tak akan pernah ada. Dia yang mula-mula mendorongku belajar menulis, mengantarku jadi jurnalis. Tanpanya mungkin aku sudah disekolahkan ke sekolah sipir penjara dan hari ini mungkin sedang bengong, bermain kartu dengan taruhan uang honor lembur sambil menunggui sel dan para napi sebagaimana dicita-citakan bapakku.

Besok hari pernikahan kami yang ke-11 tahun. Tahun lalu aku membelikannya jam tangan couple G-Shock&baby G. Lumayan mahal untuk dompetku. Tapi tidak sampai menjual genteng rumah. Tahun ini aku belum memikirkan sebuah hadiah untuknya di hari pernikahan kami. Lagipula hari pernikahan sebenarnya tidak sakral-sakral amat dirayakan. Bukankah banyak pasangan di kolong-kolong jembatan, di bantaran sungai di kota-kota besar hidup serumah tanpa pernikahan, toh, langgeng juga. Sampai bercicit-cicit. Itupun masih digusur-gusur pula.

Namun untuk pelipur lara, yang bisa kulakukan hanya menulis sebuah surat sederhana saja, sebagaimana dulu aku sering menulis surat padanya untuk membunuh rindu. (tapi jarang dia balas. Seingatku dari puluhan surat yang aku tulis, hanya dua kali dia membalas suratku. Untung level kesabaranku masih 78%. Seandainya lobet, aku akan benamkan wajahnya ke dalam mesin fotokopi. Huh, dasar pemalas).

Ehm, begini aja dech isinya;
"Selamat hari pernikahan kita ya, Mok. Aku nggak bawa kue tar. Nggak ada lilin untuk ditiup bersama. Kita meniup abu pembakaran sampah saja ya? 

Cium jauh. Cium dekatnya nggak usah bilang-bilang sama anak-anak fesbuk. Nanti kepo. Nanti baper. Nggak usah pakai swafoto ato selfie. Nanti dikira menebar pornografi. 

Sudah makan, Mok? Kalo belum, nelen batu ginjal atau batu empedu saja dulu, gih, buat ganjal perut. Jangan batu vulkanik. Nanti mati. Kalau kamu mati, aku susah. Dan sedih sungguh. Sebab aku sudah lupa doa dan cara memandikan jenazah yang diajarkan waktu madrasah dulu. 

Ntar aku pulang, aku traktir indomie goreng dan telor mata sapi. Oya, hanimun kita di terminal Purabaya saja, ya. Ingat khan, tempat itu adalah tempat saat kita pertamakali ciuman. Kita berciuman seperti sepasang kekasih yang hendak berangkat perang. Padahal, ya, cuma mau menemui pacar cadangan, Eh, Kuliah. 

Sayang selalu, dari pacarmu". 


Dan barangkali sebuah puisi di bagian penutupnya. Seperti ini:

Aku tak punya kado spesial untukmu di hari pernikahan kita
terlalu banyak kado berarti terlalu banyak pengeluaran.
uangku tidak cukup untuk hidup dalam pemborosan.
negeri ini telah menuntut terlalu banyak
buat konsumsi yang kadang menghancurkan nalar
aku hanya ingin menulis surat, sekali lagi, padamu,
seperti bertahun-tahun lampau
saat aku dirundung rindu.

Awalnya aku ingin menulis surat yang unik.
menukil lagu Grace Simon berjudul “Sayonara, Sayangku.”
judul lagu itu akan aku tulis di balik salah satu foto mantanmu.
tidak, aku tak butuh syair lagunya, aku hanya butuh judulnya saja.
kemudian di belakang foto itu, di bawah judul lagu itu,
aku akan menulis namamu.
berikutnya sebuah kalimat sederhana
yang di antara kalimat-kalimatnya
ada judul lagu itu:
Bersamamu, hanya dua kata yang
tak pernah sanggup aku tulis atau aku ucapkan
dua kata, satu kalimat itu; Sayonara, Sayangku.

Tapi aku tidak jadi melakukannya
sungguh aku tak sanggup melakukannya
mantan adalah kita
lagipula ngapain nulis puisi cinta di foto mantan coba?
Nggak ada kerjaan banget. Mestinya nulis surat yasiin.

Jadi biarlah aku menuliskannya begini saja
di foto pernikahan kita yang menurutmu jelek itu
(kamu sih yang jelek, aku nggak merasa jelek kok):
aku masih ingat betul saat pertamakali mencium bibirmu.
perasaan nyaman itu mengalir dari lidahmu ke dalam lidahku.
menjalar terus ke kepala dengan hawa panas yang menyala.
saat mataku terpejam karena hangat bibirmu,
segala kenangan yang bukan engkau
terbakar
lalu jatuh berguguran.
dan aku jatuh cinta.
Sejak saat itu, hingga hari ini,
tiapkali kau menyentuhku,
aku merasa muda dan selalu jatuh cinta
lagi dan lagi,
padamu.

Romantis ya?! Biasa aja. Aku melakukannya sebagai ritual agar tidak dirasuki jin Ifrit dan mengalami mimpi buruk. itu saja.

19 November 2016

Senin, 28 September 2015

RAHASIA

buat: Nurfa Rosanti


mestinya
kau tak perlu tahu
hal ini

karena aku mencintaimu
tiapkali aku menghirup udara pagi
dan angin gigil mengerutkan pori-pori
aku seakan menghirup aroma tubuhmu
yang bercampur wangi softener soklin
semesta pagi adalah tubuhmu
nafasku bertukar nafasmu
tubuhku menyentuh tubuhmu
menyalakan hari
mempersiang segala yang redup
di hidupku

namun jika kau menjauhkan cintamu dari cintaku
maka cintaku akan belajar memunggungimu
kemudian melenyap di tikungan jalan

jika kau menyakiti cintaku
ia akan memaafkan
tapi tak satu incipun melupakan
setiap kepedihan
jadi jangan pernah mencarinya lagi
ia akan menghilang bersama airmata
yang mengering di tangan

mungkin ini menyedihkan
tapi tak akan ada yang lebih menyedihkan
jika sepasang lengan tanganku
mencabut semua akar-akarnya dari pinggangmu
kemudian cintaku tumbuh di hati lain
di nama dan jiwa lain
selain dirimu
karena kau berhenti mencintaiku
dan aku pelan-pelan melupakan cintamu

cinta barangkali ibarat biji tumbuhan
ia akan hidup di tanah manapun
yang rela memberinya kehidupan

tapi jika setiap saat cintamu menyala untuk cintaku
percayalah
cintaku adalah api tanah yang tak mati
cintaku adalah benih yang tak henti bersemi
di keningmu
di bibirmu
di pinggangmu
di semua detail tubuhmu
yang pernah menyentuh tubuhku

cintaku tak akan berhenti memeluk cintamu
bahkan di sepanjang jalan
kematianmu

mestinya
kau tak perlu tahu
hal ini

tapi di hari ulang tahunmu ini
kau berhak tahu
untuk jadi rahasia
kita berdua

Madura, 26 Agustus-01 September 2015

Senin, 14 September 2015

PESTA KECIL


antara hari lalu dan hari depan
bergelombang pesta kecil hari ini
cinta mengibas-kibaskan ekornya
di bibir angin september
saat fajar terbuka
hari ini lebih bermakna dari hari lain
meski usia berguguran
dalam hening


hari ini,
segalanya terlihat begitu dekat
cinta di tubuhmu
berbunga di tubuhku
dan nafas anak-anak yang tersengal-sengal
dalam mimpi malam mereka yang lugu
menjelma kebun putih di rambutku
namun yang dekat
tak selamanya bisa disentuh tapak tanganku

sebab waktu berdenyut
tidak selalu untukku

setiap waktu berdenyut
hariku menipis

dan akan tiba masanya
manakala hari pesta kecil
ulang tahunku
datang lagi
rumah ini, kamar ini,
rak buku ini, tumpukan buku ini
lampu tidur ini
akan terasa dingin
dingin dan asing

ketika setiap denyut waktu
kita hanya bisa saling bersentuhan
dalam pesta kecil ingatan
dengan sepasang mata bola
berlinang


14 September 2015

Selasa, 16 Desember 2014

DI RUANG TUNGGU


dalam penantian, apa yg akan dibunuh?
waktu!
tapi waktu tak pernah mati
meski dikibuli iklan kecantikan ini:
"for your beauty
for younger skin for more healthy"
ruang tunggu yang terkutuk
orang-orang bersin, orang-orang mengantuk
akupuntur tahap lima, kanker serviks tertawa
berjejer pasien stroke & diabet & kolesterol
seperti berjejer pulau-pulau nusantara
yang dihisap Amerika
bau obat kimia di dalam sini
bau hujan di luar sana
bau luka dari mesin kecantikan yang gila
totok di bibir vagina, detoks wajah dengan kurma
apakah kau baik-baik saja sayangku?
jerawatmu masih ada, tapi aku tetap cinta
menunggu memang kesepian yang kejam
membuka majalah cosmopolitan edisi Desember 2008
ada tren rambut & tren make up
ada testimoni Luna Maya: kulit saya jatuh cinta dengan la mer
di tv Jokowi berkata: bukan urusan saya
pintu praktek terbuka. kulihat Dokter menghitung uang
menghitung penderitaan orang-orang dalam rencana liburan akhir pekan
brosur phyto five di dinding
dagumu saraf hormon, kantong matamu ginjal
di hidung ada jantung kedua pipimu lambung
o, tangan tangan penantian yang murka
mengapa begitu melelahkan hari hariku di pelukanmu?
hidup begitu pendek
penantian begitu panjang
sayang, apakah kau sudah selesai?
ayo lekas pulang
martabak terang bulan
kedinginan

Desember, 2014

SEBAB AKU TAK BISA MENGHENTIKAN KEMATIAN

Oleh: Emily Dickinson

Sebab aku tak bisa mencegah kematian--
dia menghentikan langkahku begitu ramah--
membawa gerbong di pundaknya
dan kekekalan

kami melangkah pelan-pelan--kematian tak pernah terburu-buru
dan aku telah pasrah
tenaga dan waktuku juga
untuk segala keramahanNYA

kami melewati sekolah, ketika anak-anak berlari
saat bel istirahat berdenting
kami melewati ladang Gazin Grain
kami melewati perlintasan matahari

atau lebih tepatnya--kematian melewati kami--
embun-embun jatuh bergetar dan menggigil
menyentuh gaunku, lembut sekali

kami berhenti sebelum rumah terlihat
menggelar tikar dan perbekalan
dari atap rumah itu terbayang
sebuah hiasan dinding--jatuh perlahan
sejak itu--abad ini--dan abad lalu
terasa lebih pendek dari hari-hari
dan aku menduga kepala kuda itu
begitu abadi

(Terjemahan Bebas saya dari sajak penyair perempuan Amerika dari negara bagian Massachusetts berjudul " Because I Can't Stop For Death")

KANTOR DI KEPALAKU

KANTOR DI KEPALAKU

Memencet jerawat
diantara suara mesin tik
dan suara printer berderik
adalah kesunyian kantor di kepalaku

kesunyian kabel-kabel
kebisingan kata-kata di gugel
adalah kerapuhan kita yang
jadi angin jadi nasi, jadi kuah
lalu jadi luka, jadi nanah, jadi tangis
jadi gerimis
jatuh

halaman sastra koran minggu lalu
di baca jum'at ini
adalah ruang interogasi di kepalaku
seperti SPPD yang diketik terlambat
SPJ-SPJ berserakan
kwitansi bertandatangan
korupsi yang direncanakan
dalam buku pintar keuangan
dokumen usang di map hijau
laporan akhir yang disampul merah
ditindih peraturan menteri
tentang pembangunan daerah
muntah!
isi kantor di kepalaku
dalam datang bulan sajak-sajakku
kudengar suara mesin tik
suara printer
deru AC pukul 3 sore
dan bangku-bangku mulai kosong
sepuntung rokok LA ditindih kibot
komputer dimatikan
rokok dinyalakan
kesunyian mencekik segala
yang mendadak reda
dari jerit
kata-kata

2014

Kamis, 11 Desember 2014

Pekerjaan Rumah

PEKERJAAN RUMAH
Oleh: Allen Ginsberg

: buat Kenneth Koch

jika aku hendak mencuci, akan kucuci segala kotoran di Iran
lalu kulempar ke Amerikaku, dan kutuang sabun warna tulang
menggosok Afrika, mengembalikan burung dan gajah ke dalam rimba
aku akan mencuci di sungai Amazon dan membersihkan sisa minyak
& pasir Teluk Meksiko
menyapu sisa asap Kutub Utara, membersihkan semua pipa di Alaska
membersihkan Rocky Flats dan Los Amamos, membilasnya sampai jernih
dengan casium dari kanal cinta
membilas hujan asam di atas Parthenon dan Sphinx, menguras lumpur
dari cekungan Mediterania dan membuatnya jadi biru tua
menaburkan sedikit warna biru ke langit di sungai Rhine, sedikit pemutih
untuk awan-awan agar kembali putih seperti salju
membersihkan Hudson Themes & Neckar, memberi bilasan akhir dari Danau Erie
kemudian membuang semua kotoran Asia Raya dalam kontainer raksasa & menyeka darah & agen oranye herbisida
melunturkan segala kekacauan Rusia dan China dalam alat pemeras, kemudian meremas segala adu domba dari pusat Amerika yang berkedok sang polisi dunia
& menjemur planet di alat pengering & bersantailah selama 20 menit atau beribu-ribu tahun
sampai segalanya bersih bening

Boulder, 26 April 1980

(Terjemahan bebas saya dari sajak penyair Amerika yang juga salah satu pendiri beat generation. Judul asli sajak tersebut adalah "Homework")


HomeWork
Homage Kenneth Koch
If I were doing my Laundry I’d wash my dirty Iran
I’d throw in my United States, and pour on the Ivory Soap, scrub up Africa, put all the birds and elephants back in the jungle,
I’d wash the Amazon river and clean the oily Carib & Gulf of Mexico,   
Rub that smog off the North Pole, wipe up all the pipelines in Alaska,   
Rub a dub dub for Rocky Flats and Los Alamos, Flush that sparkly Cesium out of Love Canal
Rinse down the Acid Rain over the Parthenon & Sphinx, Drain Sludge out of the Mediterranean basin & make it azure again,
Put some blueing back into the sky over the Rhine, bleach the little Clouds so snow return white as snow,
Cleanse the Hudson Thames & Neckar, Drain the Suds out of Lake Erie   
Then I’d throw big Asia in one giant Load & wash out the blood & Agent Orange,
Dump the whole mess of Russia and China in the wringer, squeeze out the tattletail Gray of U.S. Central American police state,
& put the planet in the drier & let it sit 20 minutes or an Aeon till it came out clean.

Boulder, April 26, 1980
Share this text ...?
Allen Ginsberg, “Homework” from Collected Poems, 1947-1980. Copyright © 1984 by Allen Ginsberg. Used with the permission of HarperCollins Publishers.

Kau Ingin Jadi Penulis?

KAU INGIN JADI PENULIS?
Oleh: Charles Bukowski

jika bukan luapan hatimu
meskipun betapa berartinya itu
jangan lakukan

kecuali jika keinginan itu datang tanpa diminta
dari hatimu, dari pikiranmu dari mulutmu
dari ususmu
jangan lakukan

jika hanya sekedar duduk berjam-jam
sambil menatap layar komputer
atau membungkuk di depan mesin tik
menekuri kata-kata
jangan lakukan

jika menulis hanya untuk uang
atau jadi terkenal
jangan lakukan

jika menulis hanya untuk
meniduri perempuan
jangan lakukan

jika harus duduk dan
menulis ulang lagi dan lagi
jangan lakukan

jika hanya berpikir untuk menulis
jangan lakukan

jika kau mencoba menulis
hanya untuk jadi epigon
lupakan

jika kau harus menunggu ide itu datang
dan menunggu dengan sabar
dan jika ide itu tak pernah muncul
kerjakan hal lain

jika pertama-tama kau membacanya untuk istrimu
atau pacar-pacarmu
atau orang tuamu atau siapapun yang kau kenal
kau tidak siap

jangan jadi seperti kebanyakan penulis
jangan jadi seperti ribuan orang
yang menyebut dirinya penulis

jangan urakan dan membosankan dan
jangan sombong, jangan dibaca sendiri
perpustakaan di seluruh dunia sedang mengantuk
lebih dari yang kau bayangkan
jangan membuatnya makin terlelap
jangan lakukan itu

kecuali keluar
dari jiwamu seperti roket
kecuali hal itu membuatmu gila
dan ingin bunuh diri atau membunuh
jangan lakukan

kecuali matahari dalam dirimu
membakar seluruh ragamu
jangan lakukan

ketika saat itu tiba
dan kau telah menentukan pilihan
kerjakan dengan segenap jiwamu
sampai kau mati karena menulis atau
menulis membunuhmu

tak pernah ada cara lain
tak pernah ada

(Terjemahan bebas saya dari sajak penyair kelahiran Jerman dan berkarya di Amerika itu yang berjudul "So You Want to be writer?")


So You Want To Be a Writer?

if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.

unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.

if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,

don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,

don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.

if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.

if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.

if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.

if you have to wait for it to roar out of you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.

if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.

don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,

don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with selflove.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.

unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.

unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.

when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in
you.

there is no other way.
and there never was.


Rabu, 10 Desember 2014

PADA PAPUA

PADA PAPUA

anak-anak yatim bertanya;
bagaimana cara
memeluk bapak
yang tergeletak mati
sementara senapan dan sepatu lars mengancam lagi?
peluklah dengan hati dan mata terpejam
sesaplah gelora api kitorang
jadi abadi

istri-istri bertanya;
bagaimana cara
mencium suami
yang tergeletak dengan dada tertembak?
ciumlah dengan hati dan mata terpejam
salju nemangkawi akan turun
jatuh ke pangkuanmu, wahai perempuanku

para ibu bertanya;
bagaimana menangisi anak
sedangkan senapan itu membungkam mulutku?
menangislah dengan hati dan mata terpejam, wahai ibu
bunga api akan mekar
di dadamu
mengharumkan yang pantas
dan membakar yang tak pantas
bersimpuh di kakimu

seluruh lembah bergetar
seluruh hati terbakar
mereka yang tak pilu
akan disapu burung pitohui

2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Esai Puisi Buat Denny JA


Esai Puisi buat Denny JA

Kakak Denny JA yang baik dan banyak uangnya. Sebenarnya saya tak sanggup menulis esai ini, karena saya tak sekaya kakak Denny JA yang banyak uangnya. Lagipula saya sedang tidak terpengaruh dengan kakak. Tapi apa boleh baut dan ulirnya, apa boleh buat dan tindakannya, saya merasa sedang melakukan percobaan, Kak. Ya, mirip-mirip ilmuwan di laboratoriumnya itu. Percobaan. Boleh dikata percobaan saya tidak dengan keseriusan yang ngaceng atau kengacengan yang kelewat serius. Tak perlulah itu saya kira. Sebab ketika kengacengan itu terganggu, orang mudah jadi kalap, lalu lapor aparat. Percobaan saya memang agak main-main sih. Tapi seringkali karya monumental justru dimulai dengan "main-main" bukan? Bukankah slogan, "Boeng, ayo, Boeng!" di lukisan Affandi yang fenomenal itu berasal dari keisengan Chairil Anwar yang terinspirasi dari kalimat yang digunakan para pekerja seksual di Kawasan Senen untuk menawarkan servis mereka ke para pria yang lalu lalang.

Begini percobaan saya. Kalau kak Denny JA mencoba bikin puisi esai yang ternyata gagal itu (tenang kak, masih ada harapan. Khan belum gagal total), dan Bang Saut Situmorang yang bajingan itu kemarin bikin pantun esai, maka saya baru saja mencoba bikin esai puisi. Bayangkan, esai puisi. Keren khan Kak sebutannya?! Esai puisi (cie…busungkan dada dikit). Sebuah esai yang dilengkapi catatan kaki. Tapi catatan kakinya bukan seperti “data sosial’ seperti puisi esai. Tapi catatan kakinya justru puisi. Entah pantun, haiku, sajak modern, prosa liris, dan lain sebagainya yang sejenis. 

Dan percobaan saya itu, Kak, saya temukan pertamakali ketika saya jongkok di kakus dan mengejan. Pas BAB itulah saya ingat Kakak dan haiku. Saya baru pertamakali ini loh bikin haiku(1). Dan temanya tentang Kakak. Maklum pemula, kalau haiku saya gagal, mohon dibina ya kak. Tapi tolong jangan dibinasakan. Apalagi dipenjarakan. Saya tahu kakak orang baik dan tidak sombong. Orang kaya dan banyak omong. Tapi penting dicatat, tidak sombong. Wajar tho orang kayak banyak omong. Yang penting tidak sombong. Sedang saya? Saya cuma salah seorang anak Indonesia(2) yang sedang belajar. Bukankah amat tidak pantas bukan, membinasakan murid yang sedang giat-giatnya belajar menulis esai puisi dan mencoba peruntungan siapa tahu bisa jadi ‘maha dasyat’ seperti puisi esai yang dielu-elukan tante Fatin Hamama (maha dasyat dari Hongkong?!). Sebab dengan esai puisi saya mencoba muvon kakak. Muvon.(3)

Esai puisi saya ini tentu saja tak bisa saya sebarluaskan dengan riuh gemuruh seperti pesta pernikahan Raffi dan Gigi itu. Seperti puisi esai itu. dilombakan, diyutubkan, diseminarkan dengan terbatas. Bayangkan berapa duit yang akan saya habiskan untuk itu. Bisa ambruk hidup saya, Kak. Kalo kakak yang baik tidak sombong dan banyak uangnya tentu tidak akan berpikir seperti saya. Buktinya, riuh pesta puisi esai terus membahana diseantero medsos, meskipun saya mendengarnya cuma satu hal. Berat sebenarnya ngomong satu hal itu karena sakitnya tuh di sini kakak, di sini (sambil nunjuk dada). Satu hal itu; Puisi esai ditolak. Dijadikan guyonan. Diledek-ledekin. Bermula karena masuknya kakak menjadi 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Apa hebatnya kakak Denny JA dan mbah Pramoedya Ananta Toer atau Chairil Anwar kok bisa dikelompokkan dalam satu buku menjadi sastrawan berpengaruh? Karena buku puisi Atas Nama Cinta itu? Yang dibacakan, diyutubkan, dilombakan resensinya hanya karena honornya gede-gede. Bukan karena orang secara intuitif tergerak untuk melakukannya karena karya tersebut memang bagus. Pemberian honor begitu tentu bikin ngiler siapa saja yang isi dompetnya sekaligus isi kepalanya sering lebih mirip kopiah. Kopong. 

Kak, orang tak bisa seenaknya membeli pengaruh seperti membeli telur puyuh. Pengaruh itu soal capaian seseorang dengan natural. Tidak dibuat-buat. Tidak dipaksakan. Orang boleh melakukan percobaan atas sesuatu yang dianggapnya genre baru. Tapi tak selalu berhasil bukan? Karena itu, mereka, sastrawan-sastrawan itu, yang berhasil kakak beli opininya, pernyataan, dan keputusan-keputusannya untuk memasukkan kakak dalam buku 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh hanya bagian kecil, sangat kecil malah, dalam jagad sastra Indonesia yang maha luas ini.
Melihat kegagalan puisi esai menjadi genre sajak berpengaruh maka saya mencoba bikin genre baru bernama esai puisi ini. Kakak mau membantu menyebarluaskan esai puisi saya? bikin lomba-lomba esai puisi gitu? Hem, kalo iya, bisa kita bicarakan. (mau nomor rekening saya?)

Sedangkan bekenaan dengan penolakan buku 33 tokoh sastra indonesia paling berpengaruh itu, di mana kakak nangkring di dalamnya, jangan berkecil hati . Selalu ada harapan. Selalu. Asal jangan main tikam dari belakang dan mau sedikit rendah hati masuk halaman orang. Misalnya, cobalah terima tantangan aliansi anti pembodohan itu soal debat terbuka atas buku dimana kakak masuk di dalamnya. Percayalah, orang sastra sebenarnya baik hati kakak. Asal pendatang tahu diri. Jangan congkak. Jangan seakan-akan bisa membayar segelintir orang sastra kakak bisa berlagak seenaknya. Itu tidak baik kakak. Apalagi dengan main adu ke polisi. Tapi kau memang itu mainan kakak ya apaboleh baut dan ulir-ulirnya. Kadang seorang politikus bisa sedikit curang ya? Sedikit main strategi mengalihkan perhatian. Oke sih. Tapi kakak masih ketahuan kok. 

Soal main sih, saya cukup main di jhengkah(4). Obyek wisata api alam dekat kampung saya. Tempat favorit saya. Kakak mau main sama saya? Kalau mau nanti kita bakar jagung berdua. Bang Saut nggak apa-apa nggak usah diajak. Cukup kirimi satu krat bir bintang. Dia pasti udah oh yes oh no. Sementara kita? Kita bisa bicara empat mata. Dari hati ke hati. Sapa tau saya bisa puk puk kakak. Atau dapat ide sehingga bisa bikin sajak temuan(5). Pasti seru dech. 

Demikian esai puisi saya. Kakak suka? Enggak!? Sama berarti. Kita impas. Karena saya emang nggak suka sama puisi esai. Beli bukunya aja enggak. Sebab saya ngintip sekali dua kali di website kakak ternyata biasa aja. Tapi kalo kakak suka esai puisi saya, kita jadi satu kosong. Karena saya tetep nggak suka puisi esai. Kecuali, kecuali, wani piro?


Catatan Kaki

(1) HAIKU
Lubang Kakus
Denny JA terpeleset
Plung!


(2) AKU ANAK INDONESIA
aku tidak sehat
tubuhku kumat
karena ibuku digusur aparat

sewaktu aku bayi hidup penuh polusi
makannya indomie kadang nasi basi

berat badanku kerempeng slalu
posyandu menunggu tapi tak membantu

bila aku diare
ibu slalu merana
pertolongan oralit
kalo duitnya ada


(3) MUVON
ketika kau pergi
cintapun pergi
buat apa memelihara yang tak pasti

tapi tidak dengan kerinduan
ia suka ikut jalan jalan naik delman
duduk di muka sambil dengarkan mp3
menyusuri sepanjang jalan kenangan
jalan dimana sms dari mantan
pilih opsen lalu delet pelan pelan

kerinduan itu lalu menjelma jadi bayangan
dalam tangis dalam kesedihan
kemudian melarut ke dalam malam
malam malam haru
malam malam penuh miskol
dari nomor nomor tak dikenal

tapi hanya pemberani
yang membiarkan cinta kembali
tanpa miskol atau sms kosong

tentu tidak berbagi denganmu yang dulu lagi
ke lain hati pasti

yang penting jadiannya
tetap di mekdi


(4) JHENGKAH DALAM SEBUAH SAJAK
semesta apa yang kini ada dalam dadamu?
tuhan pun tak akan tahu
meski Ki Moko membelah pusar bumi
lalu tanah menyemburkan api

api itu. api yang tak mati
kini mencipta rusuk rusuk kampung
dan tangis orang miskin yang berembun
sepasang pohon kapuk tua
dengan puluhan luka cinta di tubuhnya
masih di sana, di kelokan ketiga
terus meranggas dan meranggas
melawan lidah matahari
yang saban hari mencambuk bumi

masih ingatkah kau?
diantara pagar kaktus
dan bekas kolam belerang yang terputus
dadaku pernah menyentuh dadamu
kita terbakar di situ
hingga yang kita tanam runtuh
dan tak ada lagi yang tumbuh
setiap kali ada yang kita sentuh

atau kau masih terus berusaha melupakan setiap luka
hanya untuk ingin disebut selalu berbahagia?

tapi apalah kebahagiaan, gadisku
cuma kesedihan kesedihan yang tertunda
dan nasib kadang luput
memberinya airmata

api itu masih menyala
kadang begitu haru
kadang begitu lugu
seperti tangis anak bisu
kehilangan tekukurnya

aku tak akan melupakan dadamu
tak akan. seperti api itu
sebab dari jalan setapak yang pecah
diantara rumah rumah pengemis
dan bekas kuburan penjajah
aku menyimpan dadaku
yang hangus terbakar dulu
dan kini bangkit
menjilat jilat semesta
kepedihanku


(5) SAJAK TEMUAN
menidurimu di pagi buta
atau malam luka

sama saja

tubuhmu
yang lembut imut
seperti gugusan jembut itu
selalu meronta dan meronta
di sampingku

tiapkali tanganku memelukmu
kau menangis

seribu kunang kunang
keluar dari airmatamu
lalu seribusatu tuhan
berguguran
dari kutangmu

kunang kunang itu pergi
tiap hujan turun
sedangkan tuhan tuhan itu
menjelma jadi
genteng bocor

kau menggigil
dan menggigil

aku mendengkur
dalam baskom


20 Oktober 2014

Kamis, 19 Juni 2014

" Cerita Tentang Sebuah Ledakan"

" Cerita Tentang Sebuah Ledakan"


ada yang meledak di udara
ada yang meledak

orang orang menutup mata
lalu mendongak ke angkasa

jalanan runtuh, gedung-gedung melepuh
orang orang melihat tuhan dari lubang sedotan yang jauh

seorang kepala negara mencungkil sepasang matanya
lalu jumpa pers dimulai;

"tak ada yang perlu ditakutkan. kemiskinan menurun dalam angka statisitik"

dia berbohong. dia berbohong.

di luar istana jutaan orang saban hari kelaparan.
di luar istana jutaan orang tidur di kandang hewan

"percayalah kita aman. kita aman. kita bangsa besar yang berdaulat"

sekali lagi dia berbohong. dia berbohong 

ketakutan ditebarkan negara tiap hari
emas, perak dan nikel dijarah di Papua

minyak dan batubara dijarah di Sumatera
jutaan masyarakat hutan kehilangan tanahnya

belatung belatung terus keluar dari matanya yang berlubang

bau busuk menyebar ke penjuru kota

ada yang meledak lagi di udara
ada yang meledak

sepertinya kita harus belajar menutup telinga
atas segala kebohongan yang ditularkan media
kita juga harus belajar mengakhiri semua dengan mata terpejam
dan melihat dengan hati murka



Madura,  2005-2013

Kamis, 27 Februari 2014

AKU TAK DAPAT LAGI MENGINGAT MIMPI MALAM TADI

AKU TAK DAPAT LAGI MENGINGAT MIMPI MALAM TADI

aku tak dapat lagi mengingat mimpi malam tadi
mimpi di mana sebuah puisi menuliskan dirinya sendiri
hanya laki-laki berkaos hijau itu
dengan motor bebek Yamaha 80 yang masih menyala
berdiri berkacak pinggak
dan terus melarang orang bermain volley di jalan
tak kuingat apa-apa lagi setelah itu
hanya bapak, hanya bapak hidup lagi
lalu menyuntikkan insulin di perutnya

untuk memberi kehidupan, kau harus menyerahkan kehidupan

O, betapa panjang kepedihan
yang terluka oleh masa lalu yang terus membuka pintu
dalam mimpi-mimpiku
suara perut keroncongan. asam lambung naik. suara sendawa kesunyian. mual. perut terbakar. dada terbakar
suara batuk pemulung di luar
mengorek-ngorek nasibnya dari sampah yang dibuang
apa kabar kematian?
aku makin tua, kita makin akrab saja bukan?

aku ingin menulis puisi yang menulis dirinya sendiri dalam mimpiku
tapi aku tak sanggup mengingatnya lagi
hanya jawaban atas soal matematika di fesbuk yang membuatku tertawa;
“Bob punya 36 permen. Dia telah memakannya sebanyak 29.
apa yang Bob miliki sekarang?
diabet. Bob terkena diabet”

dan senin pagi tanggal tua ini seperti suara kematian.
membuka mata dengan nafas berat.
menyibak jendela dengan dompet nyaris kiamat.
sunyi di luar sunyi di dalam.
dan dingin
menjatuhkan sajak mungil
di tubuhku



Rabu, 22 Januari 2014

SAAT KAU MENELPONKU


Saat kau menelponku aku akan baca puisi ini:
  
aku mencintaimu dengan seluruh jembutku
jembut yang melambai lambai diterpa angin kemarau yang panjang dan riuh
saat pipis di bawah jembatan itu

aku mencintaimu dengan seluruh jembutku
jembut yang diam dan tak pernah berkata kata
saat tumbuh maupun jatuh
tapi setia dan tak rapuh

aku mencintaimu dengan seluruh jembutku
apakah kau juga mencintaiku dengan seluruh jembutmu, sayangku?

saat kau menelponku aku akan baca puisi itu. maka terkutuklah henpon yang lobet saat bus berjalan. powerbeng ketinggalan. ada api di atas kepala pagi. suara orang muntah di bangku belakang. aku terjaga. aku terjaga. mengingat cinta yang terluka. membalas inbox dengan tergesa. aku ingin mendengar lagi suara tawamu saat kau menelponku dan aku baca puisi itu, sebelum henpon ini mati tiba-tiba. 

runcing matahari menembus kaca. aku terpejam. aku terpejam dalam kehampaan yang asing dan menunggu henpon berdering. 


Madura, Januari 2012-2014