WAKTU

JEJAK

JEDA

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 April 2017

MOGOK




MOGOK




“Kalian tahu kalian dianggap apa? Kotoran! Sampah! Mereka pikir kalian bisa diperas, dikunyah. Mereka, tuan tanah itu, mengambil keuntungan dengan memeras darah dan keringat kita. Dan para polisi? Mereka cuma babi. Babi pemodal. Mereka menendang kita, mematahkan gigi kita agar kita tunduk pada tuan tanah. Kalian masih mau bekerja pada orang yang menyiksa kita?”

Belum usai Jay, salah seorang pekerja pemetik apel itu, berorasi, sebuah tembakan meletus. Entah berasal darimana. Jay terhuyung, bersimbah darah dengan dada berlobang. Ratusan pekerja pemetik apel yang berkerumun, histeris. Pekerja perempuan berteriak ketakutan. Beberapa yang lain kalap dan mulai mendorong barikade polisi. Beberapa lainnya lagi berlari hendak menangkap tubuh Jay agar tak terjerembab di tanah. Namun, belum sempat mereka menangkap orang tua itu, sebuah tembakan menyalak lagi. Dan Jay benar-benar tersungkur di tanah. Mati. Bersimbah darah.

Jay adalah salah satu penumpang kereta api yang membawa ratusan pekerja pemetik apel pengganti di Torgas Valley, California, sebab ratusan pekerja sebelumnya menuntut kenaikan upah. Saat tiba di pemberhentian kereta, rombongan Jay sudah disambut ratusan pekerja sebelumnya. Mereka berorasi agar para pekerja pengganti itu turut serta dalam perlawanan. Sial bagi Jay, kakek tua anggota kelompok radikal itu. Orasinya yang berapi-api membuatnya dihujam timah besi hingga mati. Tak jelas siapa yang menembak. Seperti kebanyakan kisah pemerintah di belahan negara manapun yang menganut kapitalisme, buruh mati sama sekali tidaklah berharga. Dan penembaknya tak pernah tertangkap.

Tahun itu tahun 1933. Di tahun 1930an, Amerika sedang dilanda depresi ekonomi parah. B
encana kekeringan akut melanda negeri Paman Sam. Akibatnya, gagal panen merebak. Di Oklahoma Barat dan Texas, misalnya, produksi pertanian sekarat. Daerah ini telah banyak mengalami penanaman berlebihan oleh petani gandum di tahun-tahun setelah Perang Dunia Pertama. Tanah mengalami rusak parah. Ekonomi macet. Keluarga tercerai-berai, bisnis bangkrut, pemerintahan kacau dan bank banyak menyita aset-aset keluarga karena tak mampu membayar utang. Dunia seakan telah berakhir dan runtuh saat itu. Hampir seperempat penduduk Amerika menganggur. Mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan justru tak kalah menderita. Bekerja dengan waktu yang lama, kondisi kerja yang kumuh dan upah yang tidak layak. Di Torgas Valley, California, tempat perkebunan apel menghampar luas, para pemetik apel yang dijanjikan dibayar 10 dollar perhari hanya dibayar 5 dollar perhari. Dari hari ke hari gaji mereka terus digunting oleh pemilik lahan apel dengan dalih efisiensi. Hingga hanya 1 dollar perhari. Kondisi para pekerja memprihatinkan; kucel, kumal, miskin dan terjerat utang.

Mula-mula mereka menganggap tak ada pilihan, kecuali menerima takdir sebagai buruh pengembara. Mengembara melintasi lembah demi lembah mencari bayaran meski amat murah dan kadang disiksa dengan menyakitkan. Beberapa kelompok radikal menyusup dalam kelompok buruh itu mempengaruhi mereka dan berupaya memberikan perlawanan pada pemilik lahan apel untuk menaikkan upah dengan cara mogok!

Sebenarnya sebelum Jay datang dengan kereta api bersama para pekerja pengganti itu, Mac Mcload dan Jim Nolan yang satu kelompok dengan Jay telah lebih dulu menyusup dalam komunitas para pekerja pemetik apel dan berhasil meyakinkan sebagian besar diantaranya bahwa buruh punya hak menuntut upah layak dan berhak diperlakukan layak sebagaimana warga negara amerika merdeka. Sebagian yang lain ragu akan nasib baik mereka dan menganggap mogok adalah kesia-siaan belaka.

Tapi kematian Jay benar-benar membangkitkan semangat mereka. Keragu-raguan melakukan mogok tiba-tiba berubah jadi bara api semangat yang menyala-nyala. Mogok dimulai. Para pekerja pengganti yang sejatinya untuk melancarkan laju produksi malah berpihak pada buruh. Ikut mogok. Tuntutan mereka adalah; 3 dollar sehari dan kami takkan lari.

Itulah tema utama film In Dubious Battle garapan James Franco. Sebuah film yang diadaptasi dari novel John Steinbeck berjudul sama yang baru saja saya tonton via streaming. konon, pembuatan film yang memakan waktu kurang lebih enam bulan ini mengambil lokasi syuting di Atlanta, termasuk Southeastern Railway Museum di Duluth, Georgia. Termasuk juga berlangsung di Bostwick, Georgia, dan Yakima, Washington dengan biaya sekitar $15,000,000. Franco sendiri memercayakan urusan naskah pada Matt Rager. Tak hanya itu, Franco juga memasukkan banyak bintang dalam film ini, diantaranya: Robert Duvall, Selena Gomez, Ed Harris, Vincent D’Onofrio.

Berfokus pada penceritaan tentang Jim Nolan (diperankan Nat Wolff) seorang pemuda, dan juga aktivis yang mengatur segala macam bentuk aksi protes, demi mendapatkan keadilan untuk para buruh. Dari film ini kita bisa merasakan betapa tidak mudah mengorganisir aksi mogok kerja.

Bagian terberat dari aksi mogok adalah saat negosiasi mengalami jalan buntu. Saat kedua pihak sama-sama tidak mau mengalah. Para pekerja menuntut kenaikan upah. Sementara pemilik lahan bersikeras membayar hanya satu dollar sehari, dengan komprosi tambahan 20 sen saja. tak ada kesepakatan politik. Kesabaran menunggu adalah musuh terberatnya. Belum lagi tekanan-teknan psikis dan politik yang dilakukan para tuan tanah terhadap para pekerja yang mogok. Mulai dari intimidasi, kekerasan, membayar pekerja untuk jadi pengkhianat gerakan, membakar lumbung makan para peserta mogok, menuduh terlibat komunis hingga memanipulasi fakta dengan membayar media massa untuk menggiring opini publik bahwa pelaku mogoklah yang membuat kondisi ekonomi makin pelik dan tak berkesudahan.

Menyaksikan film berdurasi 1 jam 50 menit ini seperti menyaksikan sebuah peristiwa yang dekat dengan kita. Aksi penolakan pembangunan pabrik semen oleh petani Kendeng. Aksi penolakan penambangan Freeport di Papua oleh masyarakat Papua. Pola-pola intimidasi yang dilakukan kaum pemilik modal terhadap para pekerja, para investor kepada petani masih saja sama sebagaimana yang digambarkan dalam film yang diangkat dari novel yang ditulis John Steinbeck pada tahun 1930an yang berhasil membawa penulisnya mendapatkan Pulitzer ini.

Kita tahu tak terhitung jumlah perlawanan serupa seperti yang digambarkan dalam film ini. Hanya untuk mendapatkan perlakuan yang adil. Kebanyakan gagal karena lemahnya organisir dan rendahnya daya tahan perlawanan. Beberapa dari para pekerja yang melawan itu berakhir dengan dibunuh, disiksa, dipenjara. Seperti kasus Marsinah, seorang buruh arloji, yang mati disiksa tentara karena menuntut kenaikan upaya di media tahun 90an.

Tapi semua perlawanan sekecil apapun pasti punya hasil. Sejak mogok kerja tahun 1930an itu, berlangsung banyak pemogokan serupa dari tahun ke tahun. Dan pada akhirnya, tahun 1935 kongres mengeluarkan wagner act yang menjamin para pekerja bersatu, menawarkan secara kolektif dan mogok. Pada tahun 1938 Presiden Roosevelt menandatangani Fair labor Standard act yang menetapkan upah minimum regional, upah lembur dan 40 jam kerja seminggu.

Lantas apa tujuan mogok apa tujuan perlawanan sejenis di berbagai tempat di belahan dunia lain yang terus terjadi hingga hari-hari ini? Banyak orang mengira banyak mereka ingin kekayaan atau kekuasaan. Padahal itu salah. Mereka hanya ingin hidup mereka dihargai. Memegang kendali atas hidup mereka sendiri. manusia tak pantas memperbudak manusia lain hanya karena manusia lain itu tak punya apa-apa. Dan itu semua demi generasi berikutnya agar hidup lebih aman di dunia yang akan kita tinggali. Itu pesan moral yang disampaikan John Steinbeck dalam novelnya yang kemudian diangkat dalam film oleh James Franco dengan judul sama; In Dubious Battle. Perlawanan penuh keraguan.

Bagi saya sih ini sentimentil. Meskipun Franco kurang dalam menggali karakter tokoh Jim Nolan dan durasi waktunya film bertema buruh dengan kompleksitasnya yang rumit terlalu pendek. Sementara yang digarap menjadi film adalah novel John Steinbeck, peraih nobel sastra 1962 itu yang karyanya sangat kaya detail dan menyentuh. Entah kamu.


Tapi lepas dari semua itu, In Dubious Battle adalah film menarik diantara banyak film tentang perjuangan buruh di seluruh dunia. Bahwa kekuataan massa adalah niscaya. Satu hal kecil saja, tanpa demo-demo buruh kita takkan pernah merasakan nikmatnya libur 1 Mei yang dirayakan sebagai hari buruh dunia.

Rabu, 12 April 2017

Sedikit Bento dalam Kong

SEDIKIT BENTO DALAM KONG

Sejak pertamakali diproduksi Hollywood pada tahun 1933, film King Kong garapan Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack segera menarik perhatian. Tidak hanya bagi penonton, tetapi juga bagi industri layar lebar dengan laba yang dihasilkan dari pemutaran filmnya. Makanya tak heran jika film dengan tokoh monyet raksasa itu sempat memiliki sejumlah sekuel sekaligus diulangbuat beberapa kali. Taruhlah misalnya, King Kong garapan John Guillermin pada tahun 1976 silam Dan King Kong garapan Peter Jackson yang dirilis 2005.

Dua film dengan tokoh monyet raksasa yang disebut di atas itu memiliki alur cerita yang sama dengan film tahun 1993. Seekor monyet raksasa penguasa pulau Skull Island jatuh cinta pada seorang aktris bernama Ann Darrow (tahun 1933 diperankan Fay Way, tahun 1976 diperankan Jessica Lange dan tahun 2005 diperankan Naomi Watts) yang sedang menghadapi maut ketika hendak dipersembahkan pada si monyet sebagai tumbal oleh penduduk setempat. Dari situlah ketegangan-ketegangan dimulai. Yach mirip-mirip kisah Beauty and the Beast milik Disney.

Nah, tahun 2017 ini Jordan Vogt-Roberts kembali mencoba membuat ulang film Kong itu. Dengan efek yang lebih bagus dan alur cerita yang berbeda. Berbeda? Iya, dengan naskah cerita yang digarap bersama oleh Dan Gilroy (Nightcrawler, 2014), Max Borenstein (Godzilla, 2014) dan Derek Connolly (Jurassic Park, 2015).

Hasilnya, tidak ada lagi monyet raksasa yang jatuh cinta pada perempuan. Yang ada adalah Kong si penjaga pulau. Pelindung kehidupan hutan. Si mahkluk raksasa penjaga harmoni alam. Perhatian Kong pada karakter Mason Weaver hanya sebuah tribut pada konflik klasik di film King Kong terdahulu. Bukan cerita utamanya.
Juga tidak ada lagi penduduk primitif yang buas dan jahat, yang ada adalah penduduk hutan yang ramah dan melindungi dan memuja Kong sebagai dewa, bukan sebagai monster yang meminta tumbal manusia secara berkala. Tidak ada lagi plot kapal besar yang ditumpangi sutradara gagal dan aktris gagal yang mencoba membuat film di pulau asing. Tak ada lagi adegan membawa Kong ke kota untuk dipertontonkan pada manusia modern.

Kali ini yang hadir dalam Kong garapan Jordan Vogt-Roberts adalah sekelompok pasukan helikopter yang dipimpin Lieutenant Colonel Preston Packard (Samuel L. Jackson) dan seorang mantan pasukan elit militer Inggris, Captain James Conrad (Tom Hiddleston). keduanya dipekerjakan oleh agen pemerintah Bill Randa (John Goodman) untuk mengawal ekspedisinya dalam memetakan sebuah pulau asing di Samudera Pasifik yang selama ini dikenal sebagai Skull Island. Perjalanan itu juga diikuti oleh jurnalis foto, Mason Weaver (Brie Larson), yang mencurigai bahwa ekspedisi ilmu pengetahuan tersebut hanyalah sebuah samaran bagi sebuah operasi militer rahasia yang sedang dijalankan pemerintah. Setibanya di Skull Island, pasukan helikopter yang dibawa Bill Randa mulai menjatuhkan rentetan bom yang digunakan untuk mengetahui kondisi tanah di pulau tersebut. Tanpa disangka, satu sosok monyet raksasa penghuni Skull Island yang merasa terganggu atas kedatangan kelompok tersebut lantas melakukan serangan mematikan. Menyerang dan menghancurkan helikopter. Tindakan tersebut tidak lagi sebuah tindakan membabi buta, melainkan upaya melindungi pulau dari kebangkitan kull Crawler – seekor kadal raksasa yang dikisahkan pernah membunuh keluarga Kong dan menjadi musuh utama bagi para penghuni Skull Island.

Mau tak mau Captain James Conrad dan kawanannya yang selamat dari serangan pertama, harus bertahan hidup di pulau tersebut sebelum pasukan penyelamat datang tiga hari kemudian.

Pada menit-menit pertama, saat menonton Kong: Skull Island garapan Jordan Vogt Roberts, saat lagu The Hollies--band pop rock asal Inggris era 60an--mengalun, kontan saya berteriak dalam hati: Bento nih. Bento. Pasalnya, instrumen lagu berjudul Long Cool Woman in a Black Dress itu mirip banget dengan instrumen musik salah satu lagu Iwan Fals yang terkenal itu. Bento.

Memang Vogt-Roberts sepertinya sengaja memasukkan deretan lagu-lagu rock popular di tahun ‘70an ke dalam banyak adegan film penuh makhluk gigantis itu. tapi serasa tidak terlalu mengesankan jika dibandingkan dengan soundtrack, misalnya, Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) yang sukses menjadikan setiap lagu klasik dalam adegan filmnya sebagai pendukung suasana pengisahan atau Soundtrack film Dead Poll, deretan lagu dalam jalinan kisah Kong: Skull Island terasa hambar.


Namun efek visualnya patut dijempol. Dengan sentuhan efek visual sekaligus dukungan penampilan motion capture dari aktor Terry Notary yang memerankannya, penampilan Kong tampak sangat meyakinkan. Konon ukuran Kong dibikin Jauh lebih besar dari Kong milik Peter Jackson. Kera berukuran gigantis itu digambarkan memiliki tinggi 100 kaki. Di tangan sutradara film drama The King of Summer ini, Kong bahkan memiliki kepribadian yang jauh lebih berwarna dari kebanyakan karakter manusia yang mengisi jalan cerita film. Dengan lain kata, film Kong: Skull Island seakan hendak menggiring penonton justru agar fokus pada karakter Kong dan kehidupan yang berada di sekitarnya. Hutan, pulau dan ekosistem alam di dalamnya. Sehingga seakan-akan karakter-karakter manusia dalam jalan penceritaan film ini menjadi sama sekali “tidak berguna” kehadirannya.

Pertempuran Kong dengan kadal raksasa yang bringas dan buas adalah fokus utama film ini. Kita akan disuguhkan efek pertarungan raksasa baik melawan raksasa jahat. Manusia hanya cukup menonton dan menyelamatkan diri. Pertarungan hidup mati pada paruh akhir penceritaan Kong: Skull Island menghadirkan puncak ketegangan maksimal bagi jalan cerita film dan mampu tereksekusi dengan sangat baik.

Akibatnya, seakan tak satupun diantara karakter tersebut yang memiliki pendalaman kisah yang cukup berarti. Kebanyakan diantara mereka malah hanya dihadirkan sebagai korban keganasan raksasa-raksasa penghuni Skull Island dengan deretan dialog yang cukup menggelikan. Para tentara-tentara yang kalah perang dalam perang Vietnam jadi terlihat makin konyol. Kecuali karakter Hank Marlow yang diperankan oleh John C. Reilly dan digambarkan sebagai sosok mantan anggota pasukan militer Amerika Serikat yang telah terdampar di Skull Island selama 28 tahun memiliki deretan kisah yang membuat karakternya begitu menarik. Begitu pula dengan karakter Lieutenant Colonel Preston Packard yang diperankan Jackson. Terutama saat dia berteriak: “aku ajarkan padanya kali ini raja diraja bumi ini adalah manusia”. Angkuh di tengah kerapuhannya pada maut. Meskipun hadir terlalu terbatas, karakteristik antagonis itu mampu diterjemahkan dengan baik.

Namun, lepas dari semua itu, Kong: Skull Island berhasil meyakinkan saya bahwa memang manusia itu cuma elemen kecil dalam semesta. maka tidak pantaslah menjadi perusak alih-alih demi nasionalisme. Menonton Kong: Skull Island, saya terbayang-bayang begitu banyaknya penolakan penduduk adat dan hutan pada eksploitasi alam atas nama tambang. Seakan-akan penolakan itu seperti raksasa yang bangkit melindungi harmoni alam. Dan akan terus membesar. Seperti Kong.

Jumat, 13 Januari 2017

ROMANTIS

ROMANTIS
.
Tidak mudah menjadi seorang Henry Roth. Seorang play boy kelas bantam itu tiba-tiba jatuh cinta pada seorang perempuan montok yang kerap duduk di kafe dekat tempatnya bekerja sebagai dokter hewan. Di kafe itu, Perempuan itu kerap duduk di meja dekat jendela. Perempuan itu bernama Lucy Whitmore. Bagi Henry Roth menaklukkan perempuan bukan perkara sulit. Sudah banyak kali perempuan yang ia kencani dan semua perempuan tak sanggup melupakannya. Beberapa diantaranya merengek-rengek minta ia nikahi. Tapi dasar play boy, selalu saja ada alasan untuk melarikan diri.
.
Tapi Lucy Whitmore berbeda. Lucy terkena amnesia anterograde. Asal muasalnya karena mengalami kecelakaan mobil parah. Akibat penyakit itu, tidak ada memori baru yang bisa masuk ke dalam otak Lucy. Ingatan di kepalanya hanya berkisar pada hidup sebelum kecelakan itu terjadi. Dalam sehari, ia bisa bertemu siapa saja dan melakukan apa saja. Namun, esoknya ia akan lupa. Dan jatuh cinta pada Lucy membuat Henry Roth memutar otak begundalnya berkali-kali.
.
  Butuh setidaknya 50 kencan pertama untuk membuat Lucy jatuh cinta padanya. Berkali-kali. Meski akibatnya Henry benar-benar mencintai Lucy. Sampai akhirnya keluarga merestui hubungan mereka dan memasrahkan hidup Lucy pada Henry. Henry memutuskan menikahi Lucy. Meski demikian, penyakit itu tak kunjung sembuh. Bahkan hingga Lucy tua pun, Henry mesti terus mengingatkan kembali tiap pagi soal apa yang telah terjadi, tentang kecelakaan itu dan asmara mereka. Namun Henry terus berusaha menyembuhkan Lucy. Dan Henry makin jatuh cinta pada perempuan yang punya penyakit lupa ingatan itu.
.
Kisah yang saya tulis dengan tergesa di atas itu bukanlah kisah nyata. Itu hanya cerita fiksi dari film 50 first dates, sebuah film komedi romantis Amerika tahun 2004 yang disutradarai oleh Peter Segal dan ditulis oleh George Wing. Henry Roth dibintangi oleh Adam Sandler. Sedangkan Lucy diperankan oleh artis montok cantik kelahiran Culver City, Amerika, bernama lengkap Drew Blythe Barrymore. Yach, kalau pernah menonton The Notebook, film drama romantis Amerika Serikat yang dirilis pada tahun yang sama ( disutradarai oleh Nick Cassavetes dan diproduseri oleh Lynn Harris dan Mark Johnson, yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Nicholas Sparks), atau pernah menonton film Korea berjudul A Moment to Remember yang dirilis di tahun yang sama, 50 first dates itu versi komikalnya.
.
Itu tadi sekedar diketahui saja. Tapi bukan itu poin saya kok. Poin saya adalah memang tidak mudah menaklukkan hati perempuan yang lupa ingatan. Tapi jauh lebih tidak mudah lagi membuat perempuan yang kita cintai bisa jatuh cinta berkali-kali. Melakukan romantisme yang sama justru akan terkesan klise. Apalagi bagi pasangan yang telah menikah. Dan parahnya, kebanyakan laki-laki yang sudah menikah cenderung tidak romantis.
.
Kebanyakan lelaki menganggap cinta sebagai medan pertempuran hanya pada saat mendekati perempuan dan berusaha menaklukkan hatinya untuk dijadikan pacar. Di saat-saat itu, lelaki menunjukkan dirinya seperti ksatria berkuda yang siap melibas siapa saja dengan gagahnya demi menjemput putri yang melambaikan tangannya dari menara kastil. Betapa menyenangkan masa-masa itu. Apalagi jika menjadi pemenang. Sang putri diperlakukan layaknya bidadari. Dipuja dan diagung-agungkan. Di saat-saat itu mantan-mantan berguguran. Seiring tegaknya kuade pelaminan.
.
Dan setelah itu semuanya jadi sunyi. Seakan kisah ksatria berkuda dengan pedang dan baju besinya menggendong seorang perempuan telah berakhir. Layar telah diturunkan. Segalanya telah selesai. Menikah dianggap sebuah bukti cinta. Menikah dianggap sebagai tahapan tertinggi dari ungkapan perasaan cinta. Setelah menikah tak ada lagi. Maka, yang kita saksikan kemudian sebuah kisah biasa, kehidupan rumah tangga biasa. Tak ada lagi romantisme masa pacaran. Yang ada kesumpekan. Tak ada lagi ciuman selamat pagi atau sapaan cinta, yang ada kebosanan. 

Kadang bersikap romantis pada istri/suami dianggap kekanak-kanakan. Dan bukan suatu yang penting. Usia pernikahan yang makin menua membuat pasangan jadi mekanis. Kemudian enggan bersikap romantis. Sudah tua, dan semua romantisme itu cuma basa-basi.
.
Beberapa lelaki menunjukkan romantismenya hanya ketika hendak bersenggama. Beberapa yang lain menganggap hubungan intim itu adalah romantisme itu sendiri. Akhirnya, begitu usai ejakulasi, segalanya jadi hening. Tak ada ucapan terima kasih atau pelukan. Yang ada hanya dengkuran. Dan esoknya hidup berderak seperti mesin. Laju, laju. tapi membosankan.
.
Tak perlulah mengutip teori cinta Eric Fromm sampek John Lee kalau cuma mengatakan betapa pentingnya romantisme dalam perkawinan. Terutama bagi perempuan. Perempuan bukan mesin sex yang perlu anda tekan tombol on-nya ketika malam jum’at atau anda sedang ingin meluapkan konak. Perempuan adalah bumi di mana dari seluruh elemen hidupnya tumbuh kehidupan lain bagi keberlangsungan jagat raya. Tanpa sentuhan kasih sayang, lambat laun ia akan jadi tanah kering, yang keras, retak dan tak lagi bisa ditanami. Dalam keadaan begitu, jika seorang perempuan itu adalah seorang istri dan ibu dalam keluarga, maka sebuah keluarga hanya akan mengalami kekeringan panjang dan sebentar lagi siap terbakar atau dibakar.
.
Ada paparan yang cukup mencengangkan bahwa angka perceraian di Indonesia telah mencapai rekor tertinggi se-Asia Pasifik. Dalam situs BKKBN, ditulis detikdotcom, dikatakan jumlah perceraian di Indonesia per tahunnya telah mencapai lebih dari 200 ribu kasus. Salah satu diantara penyebabnya karena pasangan tersebut meninggalkan romantisme dalam kehidupan mereka. Romantisme hanya terjadi di awal-awal mereka mengadakan honeymoon. Setelah itu hanya rutinitas rumah tangga yang kadang menjemukan seperti mesin absensi perusahaan.
.
Kita tidak mau bukan memperpanjang angka perceraian di negeri ini, dan hubungan asmara kita berakhir di meja judi, eh, meja hijau? Di luar sana, setelah ketok palu hakim menggema di ruang sidang, sedang menunggu orang-orang yang siap memeluk suami/istri anda dengan mesra, memberikan romantisme yang tak pernah lagi anda berikan pada pasangan anda, dan pada akhirnya anda akan dilupakan atau dikenang sebagai pasangan yang membosankan. Dan sungguh jika itu terjadi, kita akan benar-benar menyesal.
.
Maka beruntunglah pasangan yang hidupnya penuh dengan romantisme meski usia pernikahannya telah menua dan telah menimang anak cucu. Pasangan yang demikian niscaya selamat dari incaran tetangga atau teman atau mantan yang butuh teman ranjang dan sedang kesepian. jangan sampai ada keluh kesah; kau yang berjuang, tetangga yang menikmati.
.
Romantis itu sebenarnya nggak harus mahal. Juga tak perlu jadi play boy macam Henry Roth. Cukup anda berani membisikkan kata I Love You pada kekasih anda tiap bangun pagi itu sudah membuat dunia jadi lebih indah. 

Jadi kapan terakhir anda bersikap romantis pada istri/suami anda?


Madura, 13 Januari 2017. satu jam sebelum iqomah sholat jum'at berkumandang

Kamis, 01 Desember 2016

DEMI CINTA

DEMI CINTA

Seorang lelaki tua, usia 70 tahun, yang sedang telanjang karena usai bersenggama, mengatakan sesuatu pada kekasihnya yang juga tua dan telanjang, yang membuat perempuan itu berlinang. 

“Aku sudah menunggu momen ini selama 54 tahun”

“Ya, aku tahu, aku tahu, kau sudah pernah mengatakannya padaku.”

Keduanya kemudian berpelukan dalam kamar. Melanjutkan percintaan mereka. Di luar, angin laut berhembus pelan. Semilir dan membius. Kapal, tempat sepasang kekasih itu mereguk keindahan cinta, bergoyang pelan. Mengikuti riak gelombang laut di sore yang pelan-pelan melarut ke dalam malam berkabut. Di tiangnya berkibar bendera kuning diembus angin. 

Lelaki tua itu bernama Florentino Ariza. Sedangkan sang perempuan bernama Fermina Daza. Keduanya bukan sepasang kekasih yang hidup bersama sejak muda seperti dalam novel Notebook karya Nicholas Sparks yang kemudian difilmkan dengan judul sama dan mendulang sukses di Amerika. Keduanya baru saja bertemu, setelah suami Fermina meninggal karena terjatuh dari tangga. Keduanya kemudian menuntaskan takdir cinta mereka yang terenggut dinding pembatas di kala muda. Sungguh penantian panjang dan melelahkan. 

Cinta mereka mula-mula bersemi di Argentina, di tahun 1879, ketika wabah Kolera mengamuk dan mencabut banyak sekali nyawa manusia. Florentino yang miskin dan bekerja sebagai pengantar telegram mendadak jatuh hati pada pandangan pertama kepada si jelita Fermina yang lahir dari keluarga kaya. Tak berpikir panjang, Florentino yang mahir menulis puisi kemudian mulai menulis surat cinta atau menantikan Fermina di luar rumahnya untuk sekedar menarik perhatian dan melihat wajah cantik pujaan hatinya. berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. 

Gayung pun bersambut. Bait-bait puisi yang ditulis Florentino dalam surat-suratnya dengan getar kata penuh perasaan akhirnya meluluhkan hati Fermina, hingga gadis ini bersedia menikah dengannya. 

Sayang hubungan itu tidaklah mulus. Memang tak ada yang mulus dalam cinta. Ayah Fermina, Lorenzo, menentangnya. Soalnya sederhana, perbedaan kelas sosial. Untuk memutus jalinan cinta itu, akhirnya sang ayah mengirim putrinya berdiam dengan keluarganya yang lebih kaya, di luar kota hingga belasan tahun lamanya. Dan tak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan cinta. Florentino remuk mengetahui kenyataan pahit itu. Ia demam berhari-hari. Jiwanya limbung. 

Meski begitu rasa cintanya pada Fermina tak juga kemput. Florentino terus memelihara cintanya melalui surat-surat cinta yang ditulis tanpa henti, dan tak terkirimkan sembari menunggu pujaan hatinya kembali pulang. 

Namun waktu bisa merubah seseorang. Saat Fermina kembali, dia sudah menjadi perempuan yang berbeda. Baik secara fisik maupun cara pandang. Dalam soal memaknai cinta Florentino, tentu atas tekanan Ayahnya, Fermina akhirnya menganggap cintanya pada Florentino sekedar cinta monyet belaka dan mustahil diharapkan berakhir di pelaminan dengan bahagia. 

"Cinta kita yang dulu hanya ilusi. Jadi jauhi aku. Kita selesai" ujar Fermina pada Florentino saat mereka untuk pertamakalinya bertemu di sebuah pasar, setelah perpisahan itu.

Untuk mempertegas pernyataannya, Fermina, terpaksa menikah dengan Juvenal Urbino, seorang dokter muda yang ganteng, yang dianggap lebih sepadan oleh Fermina. Pertemuan keduanya terjadi saat Fermina sakit dan diobati Juvenal. 

Apakah Florentino Ariza mengubur dalam-dalam cintanya pada Fermina Daza? Nyatanya tidak. Florentino Ariza bersedia menunggu selama setengah abad untuk bisa hidup bersama dengan pujaan hatinya. Namun ia menunggu dengan kegetiran yang amat sangat dalam. Bercinta dengan banyak sekali perempuan untuk membunuh kebosanannya dalam penantian. ia melakukannya dengan perasaan pedih dan begitu hampa. 622 perempuan sudah ia tiduri selama penantian panjang yang melelahkan dan membuatnya nyaris sakit jiwa itu. Tubuhnya bersenggama dari satu perempuan ke lain perempuan. Namun jiwanya masih memeluk bayangan Fermina. 

Kisah-kisah Florentino dalam meniduri perempuan-perempuan itu ia catat dalam jurnal hariannya, bukan dalam format 3gp. Ia terpaksa melanggar janjinya sendiri untuk menjaga keperjakaannya selama menunggu Fermina Daza. Hari demi hari, seiring kekayaannya berlimpah karena sukses bekerja di perusahaan kapal sebagai sekretaris, ia bermain api cinta semu dengan banyak wanita. Sampai hari yang ditunggunya tiba jua. Suami Fermina meninggal dunia setelah jatuh dari tangga saat hendak menangkap burung. Dan Florentino datang lagi dalam kehidupan Fermina. Mula-mula ditolak. Namun Florentino kembali menulis dan mengirimkan surat-surat cintanya pada Fermina. Fermina pun luluh juga. Keduanya kemudian menuntaskan cinta yang tertunda lebih dari setengah abad. 

Terkesan fiktif? Iya, ini memang kisah novel klasik yang ditulis pemenang nobel sastra asal Kolombia, Gabriel García Márquez, yang kemudian difilmkan ulang oleh Mike Newell di tahun 2007. Dengan penulis skenarionya Ronald Harwood, peraih Oscar untuk skenario The Pianist. ketika Film ini ditayangkan perdana. banyak kritikus film menganggapnya film buruk dari berbagai film yang diadaptasi dari novel. Pasalnya sederhana, plot film terlalu mengikuti plot novel. bagi mereka yang pernah membaca buku penulis novel 100 tahun kesunyian itu, film itu terasa sekedar sinopsis novel. Unsur realisme magis yang menjadi kekuatan Gabriel Garcia Marquez dalam novel-novelnya lenyap.

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Soalnya adalah tak ada yang fiksi dalam cinta. Cinta memiliki keajaibannya sendiri. Di dunia nyata ada kisah yang hampir mirip dengan apa yang ditulis Gabriel García Márquez. Salah satunya, Ah Ji asal Taiwan. Ah ji rela tinggal dan menua selama 20 tahun di stasiun kereta api Tainan. Semuanya bermula dari sebuah janji untuk bertemu di stasiun tersebut pada jam yang telah ditentukan. Laiknya pria yang akan berkencan dengan pujaan hati, Ah Ji pun mengenakan pakaian yang sangat rapi untuk menemui sang kekasih. Namun, hingga 20 tahun kemudian, sang kekasih tak kunjung datang. Dan Ah Ji tetap setia menunggu, sebab percaya kekasihnya akan datang. 

Tindakan Ah Ji bagi beberapa orang menggelikan. Bisa juga disebut keterlaluan. Tapi ini soal daya tahan saja. mereka yang tak punya daya tahan menunggu cinta, akhirnya memilih beralih ke hati lain dan menjalani hidup dengan orang lain. Membiarkan cinta lain tumbuh dan bersemi sambil terus membunuh cinta silam yang tak jua memberi kejelasan nasib.

Itu bisa terjadi pada siapa saja. termasuk kita juga. Benarkah kita telah menikahi atau memacari orang yang benar-benar mencintai kita? Jangan-jangan dalam hatinya, ia sedang menunggu orang lain, orang yang didambakannya dalam kenangan untuk bisa bersamanya. Jangan-jangan kita yang sedang menghabiskan waktu bersama pasangan kita untuk sekedar menghabiskan waktu sembari menanti momen yang tepat untuk bisa bersama dengan pujaan hati yang karena berbagai keterbatasan di masa silam tak bisa dimiliki. Siapa yang tahu isi hati seseorang? Kita bisa menikahi atau memiliki orang yang kita cintai, tapi kita tak pernah bisa menikahi jiwanya secara total. Lagipula fisik bisa terus menua, tapi gelora cinta akan tetap muda dan berbahaya.
Sungguh beruntunglah mereka yang bersama karena cinta, karena benar-benar saling mencintai, bukan karena pelarian dari perasaan cinta yang sejati yang tak bisa dimiliki. 

Cinta dan kenangan itu seperti iblis. Ia mengganggu, menghantui dan tak bisa mati.



Rabu, 05 Agustus 2015

Tentang Kretek: Dari Sehat Tentrem Sampai ke Divine



Di saat kampanye anti tembakau kian gencar menyerang membabi buta, di saat industri kretek makin takluk dengan kebijakan pemerintah untuk memasang warning (baik gambar maupun kata-kata) tentang bahaya mengisap tembakau, ada jenis kretek yang tak peduli dengan itu semua. Bahkan menantangnya.

Jenis kretek yang saya maksud adalah kretek Sehat Tentrem dan Divine. Kretek Sehat Tentrem adalah kretek produksi rumahan sebuah Ponpes di Jombang. Sementara Divine klobot adalah garapan Dr. Greta Zahar lewat klinik Griya Balur. Merokok salah satu dari dua jenis kretek ini tak akan membunuhmu. Sebaliknya, bakal menyehatkanmu.

Divine klobot, misalnya. Rokok ini diciptakan seorang pakar nuclear science bernama Dr. Greta Zahar. Ia mengelola klinik kesehatan dengan terapi tembakau. Kliniknya telah membantu ratusan orang yang sudah tidak bisa ditangani oleh rumah sakit. Asap tembakau merupakan salah satu elemen penting dalam penyembuhan. Tidak hanya diisap, asap tembakau itu dimasukkan melalui hidung, telinga, dan anus. Asap tembakau dipercaya bisa membantu mengeluarkan radikal bebas dari dalam tubuh. Radikal bebas adalah zat yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya di tubuh. Dengan mengluarkannya, tubuh bisa dengan optimal menciptakan antibodi dan melakukan regenerasi untuk menyembuhkan penyakit.

Rokok yang dinamai Divine Klobot itu mengandung asam amino. Tembakaunya diambil langsung dari petani tanpa perantara. kemudian diproses sedemikian rupa sehingga bukan hanya bebas dari radikal bebas tetapi juga mengandung asam amino. Fungsi asam amino adalah memecah radikal bebas dalam tubuh menjadi partikel yang berukuran jauh lebih kecil. "Dengan terapi asap, radikal bebas yang keluar dari tubuh akan berukuran kecil, sehingga pasien tidak perlu mengalami siksaan seperti luka-luka yang besar dan basah atau aroma tubuh yang sangat mengganggu", kata Dr. Gretha dalam sebuah wawancara. Proses penyembuhan melalui asap tembakau menjadi jauh lebih cepat, bahkan selama proses pengobatan pasien bisa tetap menjalani kehidupan normal tanpa diet khusus, asalkan ia bersedia secara teratur, merokok!

Sayangnya Divine klobot tidak dijual bebas. Saya pernah mencoba hendak membeli via online melalui email resmi Griya Balur. Namun, Prof. Sutiman B. Sumitro, guru besar Unibraw, mitra kerja Dr. Greta, membalas email saya;

"Maaf, kami tidak menjual rokok" ujarnya. Untunglah ada teman yang menjadi 'member' Griya Balur sehingga saya bisa menikmati Divine Klobot.

Divine yang saya nikmati adalah kretek nomor 2 dan 19. Divine klobot memang punya nomor di tiap bungkusnya. Tiap nomor memiliki fungsi berbeda untuk mengobati penyakit. Kretek nomor 2 dan 19 adalah kretek standar.

Kalau dilihat dari bungkusnya, orang awam tak akan percaya bahwa Divine klobot punya khasiat luar biasa bagi kesehatan. Divine hanya dibungkus plastik bening. Tanpa tulisan apapun. Rasanya juga hambar, mirip rokok putihan, karena hanya berisi tembakau murni tanpa tambahan apapun di setiap batangnya.

Berbeda dengan kretek Sehat Tentrem. Kretek produksi Majmaal Bahroin Hubbul Wathon Minal Iman - Shiddiqiyyah Jombang itu dibungkus dengan baik layaknya rokok komersil. Bedanya dengan rokok komersil, bungkus Sehat Tentrem tanpa gambar mengerikan akan bahaya rokok dan tanpa cukai. Kalimat peringatan "merokok membunuhmu" di rokok komersil diganti dengan kalimat provokatif yang bikin siapapun yang membacanya bakal tersenyum; "rokok ini dapat menyebabkan kesehatan"

Rasanya gurih. Sama gurihnya dengan Dji Sam Soe. Hanya asapnya lebih ringan. dan sedikit terasa sejuk seakan-akan terdapat campuran mint di dalamnya. Hisaplah dan tahan sebentar asapnya di paru-paru, maka anda yang baru pertama merokok Sehat Tentrem akan dibuat pening dan mengeluarkan keringat di kening.

"Tanda khasiat sehat tentrem sedang bekerja" ujar Taufik, salah satu penjual Sehat Tentrem asal Bangkalan yang saya hubungi via telepon.

Dari berbagai testimoni yang saya baca di fanpage fesbuk Sehat Tentrem, rokok kretek tak berfilter berbungkus coklat dengan hiasan batik itu juga berhasil menyembuhkan beragam penyakit. Mulai yang ringan hingga berat. Mulai dari maag sampai stroke. Mulai dari hepatitis hingga sirosis. Di yutub malah ada testimoni anggota TNI yang lumpuh karena stroke selama 13 tahun sembuh setelah rutin merokok Sehat Tentrem.

Pengakuan Istri saya Nurfa Rosanti yang mengidap asma sejak usia belia, tiap kali menghirup asap Sehat Tentrem kala saya merokok dan kebetulan nafasnya mulai berat karena asmanya kambuh karena udara dingin, mengaku lebih plong dan merasa lega.

Sama dengan Divine Klobot, Sehat Tentrem juga memiliki klinik kesehatan yang menggunakan tembakau sebagai terapi menyembuhkan penyakit. Nama kliniknya Assyifa'. Letaknya di Jalan Raya Ploso, Jombang, Jawa Timur. Baik klinik Griya Balur maupun klinik Assyifa' juga memroduksi kopi sebagai rangkaian terapi pengobatan selain tembakau. Pasien yang datang ke klinik tersebut ditangani oleh dokter bukan dukun. Juga diberi resep obat. Tapi bukan pil atau sirup, melainkan kretek dan kopi.

Harga per bungkus Divine maupun Sehat Tentrem juga tak jauh beda. Divine nomor 2 dan 19 bisa ditebus dengan uang sebesar Rp. 25.000,- Sedangkan Sehat Tentrem per bungkus dijual seharga Rp. 35.000,-. Bedanya, Divine tidak dijual bebas, sedangkan Sehat Tentrem dijual bebas untuk Indonesia Raya.

“Semua rokok sama saja. Asapnya mengandung penyakit. Tak ada rokok yang menyehatkan” ujar Risol, salah satu perawat di Rumah Sakit Umum Bangkalan. Risol percaya apa yang dikampanyekan Kementerian Kesehatan tentang bahaya rokok benar adanya. Pernyataan Risol didukung Slamet Riyadi, seorang PNS yang hampir 10 tahun telah berhenti merokok. PNS yang lima tahun lagi akan menghadapi pensiun ini mengaku berhenti setelah diagnosa dokter bahwa paru-parunya kena. Nikotin dalam rokok sangat mematikan bagi manusia.

Herannya meski Risol mendukung kampanye antirokok Kementerian Kesehatan, ia seorang perokok. Dia mengaku ia tak sendiri. Banyak pegawai rumah sakit tempatnya bekerja juga tak sedikit yang perokok. Termasuk beberapa dokter senior dan dokter muda yang tengah magang di tempatnya bekerja.  ”Dokter yang ngerti kesehatan juga ada yang merokok loh, Mas.” Ujarnya ketika bertandang ke rumah saya lebaran 2015 kemarin. Risol adalah sahabat karib adik bungsu saya.

            ”Jadi merokok itu tidak berbahaya dong, jika civitas kesehatan juga merokok?” saya balik bertanya. Risol hanya tertawa. Kemudian kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.

Nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun. Nikotin memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotin tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.

            ”Yang penting tahu penetralnya” kilahnya. Dia kemudian mengatakan bahwa penetral nikotin dalam tubuh adalah olah raga yang teratur dan menjaga pola makan. Risol sejak dua tahun lalu menurut penuturannya memang aktif ikut Gym. Dulu tubuhnya kerempeng. Namun sekarang badannya terbentuk bagus.
            Sementara itu, Erika Hidayanti, Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta, menjelaskan lebih jauh tentang penetralisir nikotin dalam tubuh. Selain berolah raga, mengonsumsi air mineral 8-12 per hari efektif untuk mereduksi nikotin dalam tubuh. Bukan hanya nikotin saja, namun, zat-zat lain yang tak menguntungkan tubuh bisa keluar.

            “Makanan lain yang dapat mentralkan nikotin adalah wortel, jeruk nipis dan pisang. Wortel kaya akan vitamin A, B, C, D, E, dan K. Kandungan vitamin yang lengkap ini membuat wortel mengandung nutrisi dan antioksidan yang tinggi sehingga mampu mereduksi nikotin. Sementara jeruk nipis kaya akan antioksidan dan vitamin C sehingga dapat membantu pengeluaran nikotin yang mengendap dalam tubuh. Sedangan pisang mengandung vitamin B6 dan B12 yang bisa menjadi peluruh nikotin dalam tubuh.” Ujarnya dalam artikelnya yang dimuat di www.komunitaskretek.co.id

            Seorang dokter spesialis paru-paru di salah satu Rumah Sakit Umum di Madura punya cara lain menetralisir bahaya nikotin. Yakni dengan asap daun mentol atau mint. Ia seorang perokok. Di sakunya selalu tersedia dua rokok. Satu bungkus rokok kretek biasa, satu bungkus lagi rokok mentol.

            ”Tiap lima batang rokok yang dihabiskan, usahakan untuk merokok satu batang rokok mentol. Ini untuk mengurangi kelebihan nikotin dalam tubuh,” ujar dokter paruh baya itu yang enggan disebut namanya.

            Meski demikian, beberapa riset terbaru di bidang medis justru menunjukkan manfaat nikotin. Berdasarkan siaran pers perusahaan “Reasearch Indicating That Nicotin Holds Potential for non surgical Heart by-pass procedures Honored by American Collage Cardiology pada 17 Maret 2000 silam, dijelaskan bahwa agen nikotin mampu menghasilkan pembuluh darah baru lebih banyak pada urat nadi yang tersumbat dibandingkan faktor penumbuh lain manapun yang dikenal.

            “Bahkan suatu hari nanti nikotin bisa menjadi alternatif yang mengejutkan untuk menangani bentuk-bentuk tuberkolosis yang membandel. Sebab berdasarkan penelitian, senyawa nikotin mampu menghentikan pertumbuhan tuberkolosis dalam uji laboratorium, bahkan ketika dipakai dalam jumlah kecil.” Ujar Saleh Nasser, salah satu anggota asosiasi profesor microbiologi dan biologi molekuler di UCF sebagaimana yang dikutip Wanda Hamilton dalam bukunya, Nicotine War. Pendapat Saleh Nasser seakan-akan mendukung divine kretek yang terus dikembangkan Dr. Greta Zahar dan kawan-kawannya.

            ”Sebenarnya tembakau sudah dimanfaatkan sebagai obat oleh penduduk pribumi di daratan Amerika jauh sebelum warga pendatang tiba dari Eropa. Apa yang kami lakukan hanya melanjutkan tradisi yang maha kaya itu” ungkap Dr. Greta.

                Jadi, masih percaya dengan kampanye anti rokok? Kalau masih, berarti mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam.






Kamis, 30 Juli 2015

Mati Karena Berita

Seandainya ia sedikit bersabar dengan segala tekanan batin yang menggempur pikirannya hingga ambruk, ia tak harus ditulis dengan kisah yang muram. Seandainya ia mau bersabar menunggu buku Noam Chomsky terbit, ia mungkin akan tersenyum dan menikmati hari-hari penuh bunga bersama istri dan tiga anaknya dengan bintang jurnalistik berkilau di dadanya. Tapi siapa yang dapat menghapus ingatan? Tak banyak orang yang sanggup bertahan dari stigma buruk yang terus diberondongkan padanya seperti senapan mesin dalam setiap detik kehidupannya. Dan Gary Webb merupakan salah satu dari banyak orang yang bertekuk lutut dihantam masa silam. Mati karena berita.

Tahun 2004, Gary Webb, seorang wartawan media lokal bernama The San Jose Mercury News, ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak di kepala. Ia mati karena depresi berat, kemudian bunuh diri.

Semua bermula dari sebuah hubungan telepon dengan seorang perempuan bernama Coral Baca, seorang narasumbernya. Setelah telepon itu, Gary Webb menemui Coral di sebuah café. Coral membagikan sebuah dokumen rahasia milik CIA. Dokumen tersebut berisi catatan tentang perdagangan kokain di Amerika. Tentu bukan perdagangan narkotika biasa. Dokemen tersebut mencatat keterlibatan pejabat-pejabat penting di Amerika (khususnya pejabat CIA, kejaksaan, kepolisian dan militer) dalam perdagangan kokain. Sangat kontradiktif dengan kampanye pemerintah Amerika yang berniat memerangi narkotika. Tak hanya itu saja. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa uang-uang hasil skandal busuk pemerintah Amerika dengan mafia narkoba Amerika Tengah justru digunakan untuk membiayai peralatan perang paramiliter Contra bentukan CIA untuk memerangi Sandinista, gerilyawan berhaluan komunis yang menentang pemerintang Samoza di Nikaragua. Pemerintahan boneka bentukan AS. Maklum, meski tembok berlin telah runtuh sebagai penanda akhir perang dingin, komunismephobia Amerika ternyata tak sembuh-sembuh. Segala bentuk negara yang berbau komunis harus jatuh.

Webb yang beberapa waktu sebelum mendapat dokumen rahasia tersebut memang sedang tekun meliput tentang peredaran narkoba di wilayahnya seakan mendapat durian runtuh. Terlebih dalam dokumen tersebut dinyatakan pemerintah Amerika justru terlibat dalam peredaran narkotika. Inilah liputan investigasi pertama sekaligus terakhir yang dilakukan Webb. Webb melacak semua nama yang disebut dalam dokumen tersebut. Bahkan ia rela terbang ke penjara Tipitapa, Nikaragua, dengan biaya sendiri untuk menemui Manasess, seorang mafia narkoba besar yang menjadi agen CIA dalam memasok persenjataan dan kebutuhan pokok pada paramiliter Contra.

Dari Manasess, Webb mendapatkan nama Freid Weil, seorang agen CIA yang menjadi penghubung gelapnya. Webb menemui Weil di Washington DC, dan kebenaran dari dokumen tersebut makin terang mengenai keterlibatan negara dalam peredaran narkotika. Meski demikian, Weil memperingatkan Webb mengenai ancaman besar jika investigasi dia diterbitkan. nyawanya bakal terancam. Webb mulai ragu.
Keragu-raguan Webb runtuh ketika CIA memanggilnya secara khusus setelah mengetahui kerja investigasinya. Webb diancam. Bukannya surut, Webb balik mengancam. Investigasinya bakal tayang.
Dan benar, begitu berita Webb tentang keterlibatan pemerintah dalam perdagangan narkoba dan pembiayaan peralatan tempur dalam perang ilegal, khalayak Amerika gempar. Media-media besar seperti Washington Post, New York Times, L.A Times seakan tertampar. Berita besar tentang skandal negara AS itu justru terbit di media lokal jauh dari hiruk pikuk pusat Amerika.

Terbitnya investigasi Gary Webb membuat ia laksana bintang jatuh. Dia tiba-tiba menyala sebentar, tetapi kemudian lenyap ditelan langit malam. Pujian demi pujian melayang padanya. Tapi itu tak lama. Hari-hari kelam kemudian menantinya.Pemerintah AS, di tengah masa-masa kampanye pemilihan presiden tahun 1998 kalap.

Sebuah konspirasi jahat dijalankan untuk membungkam Webb. Media besar pesaing koran tempat Webb bekerja mulai membuat berita tandingan. Termasuk mulai membuat opini mengenai betapa meragukan validitas berita Webb. Tak hanya itu saja. Berita gosip mengenai skandal perselingkuhan Webb di masa silam dengan seorang reporter bernama Barbara juga diungkap. Rumah Webb terus diawasi orang tak dikenal. Teror demi teror terhadap Webb dan keluarganya terus terjadi.

Belakangan, semua narasumber Webb yang pernah ia wawancarai tiba-tiba mengaku tak pernah bertemu dan diwawancarai Webb. Imbasnya The San Jose Mercury News mendapatkan teguran dan dituntut minta maaf atas berita 'palsu' hasil liputan Webb. Webb menolak menulis permintaan maaf.

Atas kerja jurnalistiknya itu Webb mendapat anugerah jurnalistik terbaik. Sejak itu ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, kemudian benar-benar gantung pena. Sampai kemudian setelah tujuh tahun mengundurkan diri dari tempatnya menjadi kuli tinta ia ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak di kepala. Bunuh diri. Beberapa pendapat lain meragukan Webb bunuh diri dengan dua luka tembak. Webb dibunuh. Namun sebuah penelitian yang dilansir wikipedia menyebutkan dalam 138 kasus bunuh diri 5 diantaranya (3,8%) bunuh diri dengan dua tembakan di kepala. bahkan pernah dilaporkan sebuah bunuh diri dengan empat tembakan di kepala.

Film yang diadaptasi dari kisah nyata kerja jurnalistik Gary Webb itu mengingatkan kita bahwa memang tak mudah mengungkapkan kebenaran. Apalagi jika skandal kejahatan melibatkan negara. Di negeri ini kita punya kisah muram yang tak jauh beda dengan Gary Webb. Kita punya Munir yang diracun dalam penerbangannya menuju Belanda dan hingga kini bahkan aktor intelektual yang paling bertanggungjawab atas kematiannya tak pernah merasakan dinginnya jeruji penjara. Kita punya kisah pedih Marsinah yang mati disiksa dengan kemaluan rusak berat karena disodok laras senjata hanya karena menuntut Haknya sebagai buruh. Kita juga punya Udin, wartawan Bernas yang ditembak orang tak dikenal karena liputannya tentang korupsi Bupati Bantul dan hingga detik ini pelakunya tak juga tertangkap. Kita punya Widji Thukul yang dihilangkan negara karena puisinya menggedor tembok kekuasaan yang retak. Kematian orang-orang yang saya sebutkan itu, hanyalah contoh kecil dari banyak kematian di negeri ini yang suka tidak suka juga melibatkan tangan-tangan keji kekuasaan. Negara terlibat.

Berdurasi 111 menit, film yang dibintangi Jeremy Renner benar-benar menjadi film yang layak ditonton. Meski bergerak dengan datar tapi ketegangan demi ketegangan yang dibangun dalam film yang diadaptasi dari buku karangan Nick Svhou berjudul sama dengan film tersebut dan buku berjudul Dark Alliance karya Gary Webb sangat terasa bahkan jika dibandingkan dengan film True Story yang punya tema sama; tentang wartawan. Kita bisa menyaksikan betapa melelahkan dan penuh bahaya mengungkap kebenaran melalui kerja investigasi.

Sudahlah, saya terlalu banyak basa-basi. Ini film bagus. Pilihan hidup memang memiliki resikonya masing-masing. Mau jadi penulis atau mau jadi petani, jika sudah berhadapan dengan pemerintah korup dan keji resikonya sama saja; disiksa dengan keji sampai mati atau ditembak di rumah sendiri. Film ini tayang perdana pada 10 Oktober 2014 silam. Tentu sudah banyak yang nonton. Saya saja yang terlambat menontonnya. Anda sudah?

Selasa, 23 Desember 2014

TIPS DAN TRIK LOLOS DARI PENJARA MESKI DOYAN DAUN MUDA

Oleh: Edy Firmansyah*)

Saya terhenyak begitu membaca Koran lokal hari ini dengan berita: “kepala BPBD Sampang resmi jadi tersangka”. Bukan, bukan karena korupsi atau ngemil bantuan bencana, tapi karena doyan daun muda. Bayangkan, kota yang juga dapat julukan seribu pesantren itu yang dipimpin oleh seorang kiai yang konon penyabar dan baik pekerti, dicemari oleh tindakan asusila oleh pejabatnya.

Sebenarnya sih, kasus macam begitu bukan kali pertama terjadi di salah satu kabupaten di Madura berjuluk kota bahari yang plesetannya dikenal dengan; "kalau musim hujan banjirnya bisa berhari-hari" ini. Dulu, dulu sekali, sempat beredar video mesum yang dilakukan anak seorang guru ngaji. Kasak-kusuk berita selingkuh jadi perbincangan sehari-hari. Konon pernah juga ada berita pasangan selingkuh PNS yang main kuda-kudaan di toilet kantornya sendiri. pernah juga ramai berita, anggota dewan yang juga suka daun muda. Tapi modusnya lumayan ‘agamis’, siri dulu baru digoyang. Setelah itu cerai. Barangkali si anggota dewan yang konon juga santri, doyan ngaji dan dari partai yang islami itu nggak mau menghilangkan citra Sampang Bahari. Bersih, Agamis, Harmonis, Aman, Rapi dan Indah. Jadi biar bersih dan agamis, disiri dulu baru digoyang.

Eih, tunggu dulu. Di sini saya nggak mau ngomongin soal moral apalagi menggurui pembaca dengan teori seksualitas yang bla..bla,..bla… yang juga kadang saya nggak ngerti. Bahwa terlibat dan menjadi pelaku pelacuran di bawah umur adalah prilaku yang sakit semua orang normal dan punya nurani paham sekali. Justru yang bikin saya terhenyak, mengapa sih masih ada pejabat yang tertangkap karena perkara mesum begini? Bukankah yang tertangkap itu hanya puncak dari gunung es soal kesukaan pejabat kita ini. kalau nggak harta (korupsi), tahta (kekuasaan) ya perempuan. 

Karena itulah saya ingin memberikan tips aman untuk para pejabat yang hendak main gila dengan perempuan lain yang bukan istrinya. Tips ini penting agar para pejabat kita tak terus-terusan jadi kambing hitam media. Media memang jahat. Suka memutarbalikkan fakta. Makanya pepatah yang mengatakan bahwa profesi yang paling dekat dengan fitnah adalah profesi wartawan memang ada benarnya. Bayangkan, betapa malunya pejabat-pejabat kita yang jadi pemberitaan miring media. Sudah pejabatnya memang prilakunya miring, malah makin dimiring-miringkan sama wartawan. Begitu roboh (baca: diciduk polisi) masih diinjak-injak pula. Betapa sedihnya bukan kalau anak-anaknya yang di rumah tahu bapaknya jadi tersangka karena doyan daun muda?

Konon, raja-raja jawa dan juga pejabatnya punya banyak selir toh nggak pernah terlibat dengan polisi. Nggak pernah dilaporkan warganya sebagai tindak pencabulan meski yang dijadikan selir perempuan belia yang baru mengalami haid pertamanya. Dan raja-raja itu malah tercatat namanya dalam buku sejarah. Dikenang-kenang. Dipuja-puja sebagai ikon sebuah kabupaten kota.

Baiklah kembali ke soal tips. Karenanya untuk menjauhkan dari pemberitaan media yang terkutuk penting adanya tips saya ini dibaca baik-baik dan penuh rendah diri.

Pertama, jangan meniru tupai. Jangan melompat-lompat dari satu daun muda ke daun muda lainnya. Itu berbahaya, bro/sis. Apalagi musim hujan begini. Dahan dan ranting pada basah semua. Setialah pada satu daun muda. Istri sendiri misalnya. Bayangkan istri anda muda terus seperti saat malam pertama tiap kali bercinta.

Kedua, adillah sejak dalam pikiran. Kalau memang anda punya kelainan jiwa bernama pedofia, cobalah untuk berganti-ganti pasangan dalam pikiran. Misalnya, sambil bercinta dengan istri sendiri, bayangkan anda sedang bercinta dengan maria ozowa. Besoknya ganti tokoh dengan Kim Kardashian waktu mudanya. Saya yakin berganti-ganti pasangan dalam pikiran nggak akan masuk penjara atau diciduk polisi. Siapa sih yang bisa memenjarakan pikiran? nggak ada. tapi ingatlah, berlaku adil sama daun muda dalam pikiran sodara.

Ketiga, kalau memang keinginan untuk menyetubuhi daun muda benar-benar tak terbendung, cobalah hubungi jin terdekat yang berprofesi sebagai mucikari. Tidak ada salahnya mencoba daun muda dari kalangan jin. Tempo hari ada berita pernikahan seorang manusia dengan bangsa jin bisa masuk tivi loh. Siapa tahu dengan menkoleksi daun muda dari bangsa jin bisa juga jadi berita. Malah saya jamin saudara tidak akan masuk penjara hanya karena pamer cabe-cabean dari bangsa jin koleksi sodara. Kalau masuk berita pasti iya. Media memang suka peristiwa yang aneh-aneh akhir-akhir ini, bukan?

Keempat, perbanyaklah amal sholeh. Berbuat kebajikan. Ya, ini serius. Lantas apa hubungannya dengan keinginan berhubungan intim dengan daun muda? Hem, begini. Jika keinginan untuk bersetubuh dengan daun muda sudah tak terbendung lagi, gantung dirilah sampai mati. Berharaplah tuhan menghantarkan sodara ke surga yang sudah diisi dengan bidadari-bidadari cantik usia belia. Anda bisa pilih yang mana suka. Bisa bercinta di mana saja, kapan saja. Yang penting bisa ngaceng dan nggak kehabisan sperma.

Kelima, dan ini yang terakhir. Kalau keempat tips di atas tak sanggup saudara jalankan dengan baik dan bertaqwa, dan sodara masih suka jajan daun muda, apa boleh buat, itu hak anda. Orang yang punya uang dan punya kuasa memang bisa membeli apa saja, termasuk vagina perempuan-perempuan muda di bawah umur yang terhimpit ekonominya atau terbelenggu sindikat perdagangan manusia. Saya doakan saudara diciduk polisi dan masuk penjara. Para pelaku pelacuran anak ini di penjara sering diperlakukan tidak senonoh oleh napi lain yang paling berkuasa. Bisa disodomi, bisa disuruh onani dengan menggunakan remason. Bisa sodara bayangkan, bukan? “Sakitnya tuh di sini!” (sambil nunjuk dubur dan kemaluan). Semoga dengan demikian sodara insaf.




Sampang, 23 Desember 2014

*) Penulis adalah jurnalis cum penyair sambil lalu. 

Jumat, 19 Desember 2014

Impor Fidel Castro

EKSPOR JOKOWI, IMPOR SUBCOMANDANTE MARCOS

Komentar Menteri Rini dan juga Presiden agar direksi BUMN bisa diduduki orang asing memang ngeri-ngeri sedap, men.

Ngerinya, seakan-akan memang sudah nggak ada lagi orang pribumi yang kompeten ngurusi BUMN. Orang pribumi berkulit coklat itu seakan-akan memang belum siap ngurusi perusahaan sebesar BUMN. Sekali masyarakat jajahan, ya tetap jajahan. Mental jajahan ya memang nggak bisa luntur, salah satu solusinya; serahkan ke asing. Anda protes, ya biarin, bukan urusan saya.

Sedapnya, cie..kita jadi nampak globaliset gitu bro. Bayangkan, jika semua perusahaan dan semua instansi pemerintah bisa juga diduduki orang asing. Keren, khan? Nanti kalo ditanya, bosnya siapa, para pekerja kantoran bisa jawab dengan kece: “Ostrali bro. Bos kita dari ostrali.” Atau “bos kita Amrik men.  Para mahasiswa lugu dan unyu-unyu bisa sedikit busungkan dada ketika ditanya dosennya dari mana. jawabnya: Jerman. Prancis. Italia.  Anak-anak kita nanti bisa dengan keren cerita di rumah kalo guru bahasa Indonesia ternyata dari Inggris dan guru bahasa Inggrisnya dari Osrali. Kalo ortunya Tanya; lantas guru dari Indonesia di sekolahmu pada ke mana, nak? Si Anak dengan kece menjawab: dari pagi sampek siang, Omar Bakri ngelap kaca dan ngepel sekolah!

Kedepannya nanti, akan ada kampus di Madura yang cabangnya langsung dari Havard, Yale, Universitas Sydney, Queensland, dsb. Kampus-kampus cabang Amrik dan Ostrali itu bisa saingan sama ITB, UGM, UI. Atau kalo perlu tutup semua kampus-kampus negeri, ganti dengan kampus cabang luar negeri yang saya sebutkan tadi. Dasyat khan?

Semua pelayan Indomaret, alfamaret, dan carefur dibawakan aja dari luar negeri yang kece dan unyu-unyu. Dengan begitu para jomblowan jomblowati bisa berubah pikiran untuk mengakhiri status jomblo dunia akheratnya dengan berpasangan dengan orang luar negeri. Luar negeri men. Pribumi, apalah pribumi itu.

Sementara pasar-pasar tradisional sikat aja, nanti dibuatin bangunan pasar yang konstruksi ala bangunan pasar di Amrik sana, kontraktornya dari luar negeri. Buruhnya drop dari luar negeri. Semua yang pribumi anggap aja udah nggak kompeten garap yang begituan. Keren khan?

 Termasuk saat rupiah terus melemah, maka solusinya adalah impor dollar. Sebab dengan mengimpor dollar maka akan makin baik ekspornya. Ekspor apa? Tenaga kerja murah.  Jomblo-jomblo murahan yang gampang diperas tenaganya seperti kuda poni.

Piye, ngeri-ngeri sedap bukan? Dan Negara kita nanti akan jadi IndoAmerika! Dulu jaman waktu masih Hindia Belanda taon 1938 timnas sepak bola Hindia Belanda bisa ikut piala dunia di Prancis, kalo jadi IndoAmerika siapa tahu timnas sepak bola bisa juara piala dunia.
Nah, trus yang pribumi mau diapain bro? Lha, itu bukan urusan saya. Urusan mereka. Mau jadi pengemis di kota kek, mau jadi gali kek, daftar jadi spionase polisi kek, mau jadi pelacur kek, germo kek, pemulung kek, terserah. Mau pulang kampung jadi buruh tani juga boleh. Jadi sais delman di pasar, tukang becak, tukang las, tukang tambal ban, terserah.

Tapi kalo pribumi itu bikin masalah, bikin keonaran, gak becus kerja pemerentah punya solusi yang paling mujarab: IMPOR tenaga asing. Ekspor pribumi bau pesing dengan harga miring. Termasuk kalo presidennya nggak becus kita bisa ekspor ke segitiga bermuda lalu impor Fidel Castro ato Subcomandante Marcos!