WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Selasa, 10 Oktober 2017
PERJUMPAAN TERAKHIR
Jumat, 13 Januari 2017
ROMANTIS
.
Tidak mudah menjadi seorang Henry Roth. Seorang play boy kelas bantam itu tiba-tiba jatuh cinta pada seorang perempuan montok yang kerap duduk di kafe dekat tempatnya bekerja sebagai dokter hewan. Di kafe itu, Perempuan itu kerap duduk di meja dekat jendela. Perempuan itu bernama Lucy Whitmore. Bagi Henry Roth menaklukkan perempuan bukan perkara sulit. Sudah banyak kali perempuan yang ia kencani dan semua perempuan tak sanggup melupakannya. Beberapa diantaranya merengek-rengek minta ia nikahi. Tapi dasar play boy, selalu saja ada alasan untuk melarikan diri.
.
Tapi Lucy Whitmore berbeda. Lucy terkena amnesia anterograde. Asal muasalnya karena mengalami kecelakaan mobil parah. Akibat penyakit itu, tidak ada memori baru yang bisa masuk ke dalam otak Lucy. Ingatan di kepalanya hanya berkisar pada hidup sebelum kecelakan itu terjadi. Dalam sehari, ia bisa bertemu siapa saja dan melakukan apa saja. Namun, esoknya ia akan lupa. Dan jatuh cinta pada Lucy membuat Henry Roth memutar otak begundalnya berkali-kali.
.
Butuh setidaknya 50 kencan pertama untuk membuat Lucy jatuh cinta padanya. Berkali-kali. Meski akibatnya Henry benar-benar mencintai Lucy. Sampai akhirnya keluarga merestui hubungan mereka dan memasrahkan hidup Lucy pada Henry. Henry memutuskan menikahi Lucy. Meski demikian, penyakit itu tak kunjung sembuh. Bahkan hingga Lucy tua pun, Henry mesti terus mengingatkan kembali tiap pagi soal apa yang telah terjadi, tentang kecelakaan itu dan asmara mereka. Namun Henry terus berusaha menyembuhkan Lucy. Dan Henry makin jatuh cinta pada perempuan yang punya penyakit lupa ingatan itu.
.
Kisah yang saya tulis dengan tergesa di atas itu bukanlah kisah nyata. Itu hanya cerita fiksi dari film 50 first dates, sebuah film komedi romantis Amerika tahun 2004 yang disutradarai oleh Peter Segal dan ditulis oleh George Wing. Henry Roth dibintangi oleh Adam Sandler. Sedangkan Lucy diperankan oleh artis montok cantik kelahiran Culver City, Amerika, bernama lengkap Drew Blythe Barrymore. Yach, kalau pernah menonton The Notebook, film drama romantis Amerika Serikat yang dirilis pada tahun yang sama ( disutradarai oleh Nick Cassavetes dan diproduseri oleh Lynn Harris dan Mark Johnson, yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Nicholas Sparks), atau pernah menonton film Korea berjudul A Moment to Remember yang dirilis di tahun yang sama, 50 first dates itu versi komikalnya.
.
Itu tadi sekedar diketahui saja. Tapi bukan itu poin saya kok. Poin saya adalah memang tidak mudah menaklukkan hati perempuan yang lupa ingatan. Tapi jauh lebih tidak mudah lagi membuat perempuan yang kita cintai bisa jatuh cinta berkali-kali. Melakukan romantisme yang sama justru akan terkesan klise. Apalagi bagi pasangan yang telah menikah. Dan parahnya, kebanyakan laki-laki yang sudah menikah cenderung tidak romantis.
.
Kebanyakan lelaki menganggap cinta sebagai medan pertempuran hanya pada saat mendekati perempuan dan berusaha menaklukkan hatinya untuk dijadikan pacar. Di saat-saat itu, lelaki menunjukkan dirinya seperti ksatria berkuda yang siap melibas siapa saja dengan gagahnya demi menjemput putri yang melambaikan tangannya dari menara kastil. Betapa menyenangkan masa-masa itu. Apalagi jika menjadi pemenang. Sang putri diperlakukan layaknya bidadari. Dipuja dan diagung-agungkan. Di saat-saat itu mantan-mantan berguguran. Seiring tegaknya kuade pelaminan.
.
Dan setelah itu semuanya jadi sunyi. Seakan kisah ksatria berkuda dengan pedang dan baju besinya menggendong seorang perempuan telah berakhir. Layar telah diturunkan. Segalanya telah selesai. Menikah dianggap sebuah bukti cinta. Menikah dianggap sebagai tahapan tertinggi dari ungkapan perasaan cinta. Setelah menikah tak ada lagi. Maka, yang kita saksikan kemudian sebuah kisah biasa, kehidupan rumah tangga biasa. Tak ada lagi romantisme masa pacaran. Yang ada kesumpekan. Tak ada lagi ciuman selamat pagi atau sapaan cinta, yang ada kebosanan.
Kadang bersikap romantis pada istri/suami dianggap kekanak-kanakan. Dan bukan suatu yang penting. Usia pernikahan yang makin menua membuat pasangan jadi mekanis. Kemudian enggan bersikap romantis. Sudah tua, dan semua romantisme itu cuma basa-basi.
.
Beberapa lelaki menunjukkan romantismenya hanya ketika hendak bersenggama. Beberapa yang lain menganggap hubungan intim itu adalah romantisme itu sendiri. Akhirnya, begitu usai ejakulasi, segalanya jadi hening. Tak ada ucapan terima kasih atau pelukan. Yang ada hanya dengkuran. Dan esoknya hidup berderak seperti mesin. Laju, laju. tapi membosankan.
.
Tak perlulah mengutip teori cinta Eric Fromm sampek John Lee kalau cuma mengatakan betapa pentingnya romantisme dalam perkawinan. Terutama bagi perempuan. Perempuan bukan mesin sex yang perlu anda tekan tombol on-nya ketika malam jum’at atau anda sedang ingin meluapkan konak. Perempuan adalah bumi di mana dari seluruh elemen hidupnya tumbuh kehidupan lain bagi keberlangsungan jagat raya. Tanpa sentuhan kasih sayang, lambat laun ia akan jadi tanah kering, yang keras, retak dan tak lagi bisa ditanami. Dalam keadaan begitu, jika seorang perempuan itu adalah seorang istri dan ibu dalam keluarga, maka sebuah keluarga hanya akan mengalami kekeringan panjang dan sebentar lagi siap terbakar atau dibakar.
.
Ada paparan yang cukup mencengangkan bahwa angka perceraian di Indonesia telah mencapai rekor tertinggi se-Asia Pasifik. Dalam situs BKKBN, ditulis detikdotcom, dikatakan jumlah perceraian di Indonesia per tahunnya telah mencapai lebih dari 200 ribu kasus. Salah satu diantara penyebabnya karena pasangan tersebut meninggalkan romantisme dalam kehidupan mereka. Romantisme hanya terjadi di awal-awal mereka mengadakan honeymoon. Setelah itu hanya rutinitas rumah tangga yang kadang menjemukan seperti mesin absensi perusahaan.
.
Kita tidak mau bukan memperpanjang angka perceraian di negeri ini, dan hubungan asmara kita berakhir di meja judi, eh, meja hijau? Di luar sana, setelah ketok palu hakim menggema di ruang sidang, sedang menunggu orang-orang yang siap memeluk suami/istri anda dengan mesra, memberikan romantisme yang tak pernah lagi anda berikan pada pasangan anda, dan pada akhirnya anda akan dilupakan atau dikenang sebagai pasangan yang membosankan. Dan sungguh jika itu terjadi, kita akan benar-benar menyesal.
.
Maka beruntunglah pasangan yang hidupnya penuh dengan romantisme meski usia pernikahannya telah menua dan telah menimang anak cucu. Pasangan yang demikian niscaya selamat dari incaran tetangga atau teman atau mantan yang butuh teman ranjang dan sedang kesepian. jangan sampai ada keluh kesah; kau yang berjuang, tetangga yang menikmati.
.
Romantis itu sebenarnya nggak harus mahal. Juga tak perlu jadi play boy macam Henry Roth. Cukup anda berani membisikkan kata I Love You pada kekasih anda tiap bangun pagi itu sudah membuat dunia jadi lebih indah.
Madura, 13 Januari 2017. satu jam sebelum iqomah sholat jum'at berkumandang
Selasa, 06 Desember 2016
PILIHAN HIDUP
Di sebuah apartemen mewah, di tengah kota New York, di tahun 1920an, sebuah "keluarga" sedang berkumpul. Sepasang “kekasih” berdiri di depan jendela apartemen. Si perempuan menatap kota New York yang berdebu dan suntuk dari ketinggian dengan bimbang. Matanya redup. Pikirannya kalut. Si lelaki menggenggam tangan si perempuan dan berkata.
“Katakan, Daisy, katakan bahwa kau tak pernah mencintainya. Katakan bahwa kau mencintai aku. Dan segala penderitaanmu akan lenyap. Aku akan membawamu pergi. ”
Si lelaki itu adalah Jay Gatsby. Lelaki itu dulu adalah pacar Daisy. Cukup lama mereka berpacaran. Namun kecamuk perang dunia I memisahkan cinta mereka. Sebenarnya bukan itu saja. disparitas sosial keduanya juga mempengaruhi hubungan mereka. Jay seorang pemuda miskin. Daisy berasal dari keluarga kaya. Jay merasa tidak sebanding dengan Daisy. Untuk menaikkan status sosialnya, Jay Gatsby memutuskan menjadi tentara. Meninggalkan Daisy. Sebenarnya Daisy telah menunggu Gatsby. Namun kejelasan nasib Gatsby dalam kecamuk perang lama-lama kian redup hingga tak ada lagi kabar beritanya.
Waktu dan peristiwa bisa mengubah seseorang. Lima tahun berpisah, Cinta Daisy pada Gatsby perlahan-lahan luntur. Ia memutuskan menikah dengan Tom Buchanan, seorang pria kaya di daerahnya. Dan di karuniai seorang anak perempuan yang cantik. Daisy menduga Gatsby telah mati di medan perang.
Tapi nyatanya tidak. Pasca perang dunia I, Amerika tumbuh menjadi negara dengan kemampuan ekonomi yang digjaya. Masyarakat Amerika tengah menikmati kemakmuran yang disebabkan oleh meningkatnya pendapatan negara dan laba. Banyak bermunculan orang kaya baru yang antara lain mendapatkan keuntungan dari penyelundupan dan penjualan alkohol. Saat itu, alkohol dilarang dijual dan dikonsumsi sebagaimana yang diamanatkan dalam Amandemen ke-18 Konstitusi Amerika Serikat yang diberlakukan pada 16 Januari 1920 dan Volstead Act yang disahkan pada 28 Oktober 1919. Dan Jay Gatsby salah satu orang kaya baru yang beruntung itu. pensiun dari tentara, ia terlibat bisnis ilegal yang kemudian mengubah garis hidupnya. Dari lelaki miskin menjadi lelaki borjuis bergelimang harta.
Meski kaya raya dan jadi gunjingan banyak orang, Jay Gatsby adalah sosok yang misterius. Ia rutin menggelar pesta di rumahnya, mengundang semua orang dan menyuguhkan kemeriahan dan kemewahan pesta dengan gratis, tapi tak pernah muncul di pesta tersebut. Banyak spekulasi mengenai Gatsby yang muncul dalam perbincangan para tamu di tiap-tiap pesta. Bahwa ia pernah membunuh orang, pernah menjadi mata-mata Jerman, atau berasal dari Oxford dan pernah kuliah di sana. Namun Gatsby tak pernah mau peduli. Ia tak pernah muncul. Tak pernah menampakkan diri. Tapi setiap malam minggu pesta selalu digelar di rumahnya, di East Egg, New York.
Tak pernah ada yang tahu bahwa pesta-pesta itu dibikin hanya untuk menarik perhatian Daisy, kekasihnya, yang tinggal di West Egg, di seberang teluk, berhadapan dengan rumahnya. Sengaja Gastby membeli rumah yang berdekatan dengan rumah Daisy hanya untuk bisa berdekatan dengan Daisy.
Sekian puluh pesta telah digelar tapi Daisy tak jua menampakkan batang hidungnya. Namun Gatsby tak kehilangan akal. Setelah tahu sepupu Daisy, Nick Carraway, tinggal di sebelah rumahnya, Gatsby mengundang secara khusus Nick pada sebuah pestanya dan meminta bantuan untuk mempertemukan dia dengan Daisy. dan untuk pertamakalinya Gatsby muncul di muka publik di depan tamu-tamu pestanya.
Rencana itu berhasil. Gatsby bertemu Daisy. Beberapakali melakukan kencan buta. Hingga akhirnya Gatsby berniat mengambil Daisy dari pelukan Tom Buchanan, suami sah Daisy. Gatsbylah yang mengatur pertemuan antara Tom, Daisy, Gatsby, Nick dan pacarnya di apartemen milik Gatsby yang berakhir dengan pertengkaran hebat itu.
“Katakan, Daisy, katakan bahwa kau tak pernah mencintainya. Katakan bahwa kau mencintai aku. Dan segala penderitaanmu akan lenyap. Aku akan membawamu pergi. ” Gatsby kembali mengulangi perkataannya. kali ini lebih keras dari yang pertama.
Daisy terdiam. Lama sekali. Dia menatap pada suaminya, Tom Buchanan yang duduk berjauhan dengan tempatnya berdiri bersama Gatsby. melihat itu, Tom Buchanan lantas berdiri dari kursi dan mondar mandir di depan pintu kamar. Hatinya meradang melihat istrinya disentuh Gatsby. Tapi ia tak sanggup melakukan apa-apa.
“Aku tidak mencintainya. Aku tidak pernah mencintai Tom” Daisy mengucapkan itu dengan nada lirih dan berat, seakan terpaksa. Kalimat itu nyaris tak terdengar semua orang yang berada di dalam apartemen mewah itu. Airmatanya terus jatuh.
Gatsby tersenyum. Merasa puas pada keberanian Daisy. sementara Tom, suami Dasisy, yang mendengar pernyataan istrinya mendadak naik pitam. ia meletakkan gelas birnya dengan keras di meja.
“Tidak pernah? Termasuk pada hari aku menggendongmu di Puch Bowl agar sepatumu tidak basah? Tidak pernah? Termasuk saat malam pertama di bulan madu kita? aku tahu aku banyak dosa padamu. Aku berselingkuh. Tapi aku selalu kembali padamu. Aku mencintaimu. Daisy...jujurlah pada kata hatimu.”
Tom memang suami yang buruk di mata Daisy. ia berasal dari keluarga kaya di New York. meski demikian Ia sering kali berselingkuh di belakang Daisy. Namun meski Daisy mengetahuinya, dia tetap tak meninggalkan suaminya dan hidup bersama di rumah mewah mereka di area “East Egg” bersama anak perempuan mereka. Sampai akhirnya Gatsby datang dalam kehidupan Daisy dan mencoba kembali lagi mereguk kisah cinta mereka yang dulu berantakan karena perang dan status ekonomi.
Daisy terus terisak. Suasana dalam apartemen itu yang mulanya penuh pesta minum, jadi penuh haru. Gatsby memeluk Daisy. Tapi Daisy kali ini menepis tangan Gatsby. Perempuan cantik berambut pirang dengan potongan pendek itu mendekati meja bir. Mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Airmatanya masih terus mengalir membasahi pipinya yang lembut dan putih itu.
“Jay Gatsby, kamu terlalu banyak keinginan. Aku mencintaimu. Tapi itu semua telah berlalu. Aku bohong jika aku tak mengatakan aku juga mencintai Tom. Tolonglah, Jay, mengertilah posisiku.”
Pada masa kejayaan ekonomi Amerika di tahun 1920-an yang kerap disebut “The Roaring Twenties” kemunculan orang kaya baru dengan kehidupan glamour membuat lunturnya nilai-nilai moral terlebih dalam hal menjaga kesetiaan terhadap pasangan hidup. Angka perceraian terus meningkat dari tahun ke tahun. Perselingkuhan dalam rumah tangga menjadi jamak dan telah jadi rahasia umum. memelihara perempuan atau lelaki simpanan jadi hobi kebanyakan orang kaya baru itu. Di masa-masa itulah, Jay Gatsby mencoba masuk lagi dalam kehidupan Daisy, untuk menarik Daisy, kekasih hatinya di masa lalu itu, dalam kehidupannya. Tepatnya merebut Daisy dari tangan Tom.
Mendengar kata-kata itu, Tom menyalak. “Dengarlah Gatsby, apapun yang kau lakukan tidak akan mengubah kenyataan.”
Gatsby kali ini meradang. Ia membanting gelas birnya dan menggebrak meja. Kemudian melompati Tom, meringkus kerah bajunya dan mengepalkan tangan kanannya ke udara. Siap menghantam Tom.
“Tutup mulutmu. Tutup mulutmu!”
Tom terkejut. Tapi ia tak berbuat apa-apa. Suami Daisy itu pasrah. Daisy terus menangis dan menangis melihat peristiwa itu. Melihat Daisy menangis, Gatsby menghentikan tindakannya. Ia melepas cengkeraman tangannya di kerah baju Tom. Menghampiri Daisy dan mencoba memeluknya lagi. Tapi Daisy lagi-lagi menepisnya. Gatsby terus berbicara hal-hal romantis di telinga Daisy. Tapi makin Gatsby banyak bicara, Daisy makin menutup diri.
“Tom, bawa aku keluar dari sini!”
Daisy berlari keluar apartemen. Gatsby menyusulnya. Tom membanting pintu Apartemen. Dan begitulah segala cerita itu berakhir. Dalam perjalanan mengantar Daisy pulang ke rumahnya, Gatsby menabrak seorang perempuan di dekat pom bensin yang tak lain adalah selingkuhan Tom Buchanan. Sang suami perempuan itu marah. Berikutnya datang mengendap-endap ke rumah Gatsby dan menyarangkan dua butir peluru di dada Gatsby saat usai berenang. Gatsby mati bersimbah darah meninggalkan semua harta bendanya yang melimpah dan meninggalkan cintanya pada Daisy yang terus bertepuk sebelah tangan. Gatsby mati dalam kehampaan. Sementara Daisy terus melanjutkan hidupnya bersama suaminya, Tom Buchanan.
Itulah kisah yang ditulis oleh penulis Amerika F.Scott Fitzgerald (1896-1940) dengan judul Great Gatsby. Mula-mula novel itu terbut pada tahun 1925, namun pasar tidak meresponnya terlalu serius. Ketika pertama kali terbit, hanya terjual novel hanya terjual 25 ribu copy selama sisa hidup Fitzgerald yang meninggal pada usia 44 tahun.
Baru ketika The Great Gatsby dipublikasi ulang pada tahun 1945 dan 1953, novel itu menjadi sangat laris dan melambungkan nama Fitzgerald sebagai pengarang kelas dunia. Tak cukup itu saja. Karya-karya Fitzgerald kemudian menjadi bacaan wajib anak sekolah di Amerika sebagai dasar mengenal budaya dan prilaku orang Amerika. Kelebihan karya-karya pria kelahiran St. Paul Minnesota, Amerika, 24 September 1896 silam itu adalah kritiknya terhadap kaum borjuis yang suka berfoya-foya dan menerabas moralitas masyarakat yang dibalut dalam kisah percintaan yang rumit. Popularitas novel Great Gatsby kemudian diadaptasi ke dalam drama, opera dan film.
Dalam film, setidaknya ada tiga versi adaptasi. Pertama diproduksi pada tahun 1974 yang dibintangi Robert Redford dan Mia Farrow. Kemudian pada tahun 2000 yang dibintangi Toby Stephens dan Mira Sorvino dan Paul Rudd sebagai Nick. Dan yang terakhir versi 2013 hasil karya Sutradara favorit saya Baz Luhrmann dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Carey Mulligan. Semuanya menggunakan judul yang sama The Great Gatsby.
Apa yang bisa ditarik dari karya F.Scott Fitzgerald? Sungguh pernikahan merupakan suatu yang sakral dan bukan perkara main-main. Kata orang, pernikahan lebih besar dari rasa cinta. Namun sebenarnya kebesaran pernikahan karena rasa cinta itu melingkupi kesakralan pernikahan itu sendiri. Menikah berarti merajut hidup masa depan dengan orang lain. jika tidak sanggup mempertahankan pernikahan ada baiknya tidak menikah sama sekali. mempertahankan sesuatu memang perlu keberanian.
Setiap orang berhak berpacaran sebelum melakukan pernikahan. Dan berhak menikah dengan orang lain selain pacarnya karena berbagai alasan. Tapi ketika sang pacar di masa lalu itu menuntut rasa cinta di masa lalunya itu berulang, rasa ego cintanya, tidak berhak merusak pernikahan yang terlanjur dibangun dan melibatkan banyak orang dan banyak sekali perasaan. Daisy bimbang, namun pilihan terbaiknya adalah mempertahankan keluarganya.
Yach, apa boleh bikin. Salah satu hal paling menjengkelkan dari menjadi manusia adalah saat berurusan dengan momen macam ini: meninggalkan atau ditinggalkan. Dan itu bukan berarti hidup tak adil. Sebab dari situ kita belajar bahwa nikmat terbaik dari hidup adalah kerelaan menerima kenyataan.
![]() |
| cover film Great Gatsby, 2013 |
![]() |
| Buku Great Gatsby terbitan Serambi Pustaka, 2010 |
Kamis, 01 Desember 2016
DEMI CINTA
Jumat, 25 November 2016
LEGALISIR SELALU
Saya mengalami banyak sekali hubungan asmara. Dimulai sejak SMP. Namun hubungan asmara dengan lawan jenis yang serius baru dimulai ketika 17 tahun. Saat duduk di bangku SMA. Ada tiga hubungan asmara serius di masa SMA. Satu diantaranya berakhir buruk. Sangat buruk. Saya untuk pertamakalinya mengenal betapa pedihnya sakit hati. Betapa perihnya dikhianati. Putus itu merah, jenderal. Beruntung saya tidak sampai membakar sekolah atau membakar diri. Cukup puas memeras airmata. Sagitarius memang tidak cocok dengan virgo dalam kasus saya.
Namun saya tidak kapok. Setelah itu, saya lebih siap untuk sakit hati. Namun seperti halnya hubungan pertama, dua hubungan asmara berikutnya juga tidak mulus. Kami berpisah baik-baik. Karena alasan-alasan yang prinsipil yang membuat hubungan itu tak lagi bisa diteruskan. Kalaupun dipaksa-paksa ke tahap lebih tinggi, tentu akan makin kacau. Kita akan terus saling melukai. Tentu melukai adalah seburuk-buruknya cinta.
Satu dari dua hubungan itu berakhir karena makin ke depan, kami bukan makin banyak mesranya, malah makin banyak kelahinya. Hanya karena urusan telat menjemput saja, kami bisa kelahi berhari-hari. Tiap kali berkelahi selalu berakhir dengan menghancurkan sesuatu. Bagi saya ini mengerikan. Pacar saya yang ini Libra. Libra memang cenderung mendominasi virgo yang kalem dan simpel. Saya nggak tahan.
Sedangkan yang terakhir sebenarnya tidak ada masalah. Pacar yang ini lagi-lagi Sagitarius. Masalah baru muncul ketika hubungan masuk ke tahap LDR. Pacar saya tidak siap. Saya berkali-kali menawarkan banyak opsi agar hubungan tetap berlanjut, tapi ditolak. Akhirnya saya menyerah. Tidak baik memaksakan kehendak. Harus ada yang berkorban. Harus ada yang dikorbankan demi kebahagiaan bersama.
Saya ingat betul saat-saat terakhir itu. Saya mengulurkan tangan saya tanda kita berpisah. Ia menyambutnya, lalu menarik saya. Ia memeluk saya sambil menangis. Saya tak tahu harus berbuat apa. Perasaan saya hampa. Ketika mengantarkannya pulang ia belum berhenti tersedu. Sebelum lenyap ditelan mulut gang, ia mencium saya dan berkata. "maafkan aku. Terimakasih atas semuanya".
Belakangan saya bertemu lagi dengannya. Kemudian berkomunikasi lagi. Beberapakali bertemu dan dua kali kencan. Tak dinyana, ia minta balik. Tapi saya merasa dengannya telah selesai. Saya paham waktu bisa merubah seseorang. Tapi saya tidak siap disakiti orang yang sama duakali. Lagipula saat itu saya sudah bertunangan. Cowok Virgo orang menghargai komitmen. Biarlah keledai yang masuk ke lubang yang sama duakali. Saya nggak. Saya bukan keledai. Saya jangkerik.
Saat kuliah saya jadi cowok merdeka. Jomblo. Nyaris satu semester. Hingga kemudian bertemu seorang perempuan manis di sebuah 'reuni' kecil teman SD. Beberapakali kami jalan bersama. Berkali-kali berkunjung ke rumahnya. Berkali-kali nelpon. Tanpa banyak cakap, saya menembaknya. Entah apa yang merasuki saya waktu itu. Mungkin jenuh sendirian. Mungkin sumpek. Mungkin juga kena santet. Dan dia menerimanya.
Sebenarnya bukan dia target saya. Saya menyukai temannya. Tapi entah mengapa saya belum benar-benar siap melakukannya. Di hadapannya nasib asmara saya nggak jelas. Kata orang pemburu yang baik harus sabar menunggu. Namun saya sedang malas bersabar.
Kami menjalani hubungan LDR. Bintang kami sama-sama virgo. Kami tak pernah berniat berhubungan sampai ke pelaminan. Malah saya menargetkan hubungan ini akan bertahan tak lebih dari dua tahun. Sebab hubungan ini hanya bermula karena kami butuh bahu untuk bersandar sebab sudah terlalu lama bersandar di tiang listrik. tentu bukan hubungan yang mulus. di saat kami berjauhan, dia justru berpacaran lagi di belakang saya. nyesek sih.
Tapi siapa yang bisa menerka nasib. Siapa bisa menerka masa depan di garis tangan. Jodoh tetap di tangan mantan. Gak ada mantan, nggak ada pelaminan. Jadi beginilah jadinya kita. 1 tahun pacaran, 4 tahun bertunangan, 11 tahun menikah. Bukan hubungan yang pendek. Juga tidak sepenuhnya mulus. Kami bukan jalan tol. Meski begitu kami belum kepikiran untuk selesai. saya tepatnya. tiapkali melihat wajahnya saya melihat ketulusan. tiapkali melihat matanya saya merasa tenang dan damai. apa yang hendak diraih manusia di dunia ini ditengah deraan ambisi duniawi dan kerakusan tiada henti selain ketenangan dan kedamaian. bersamanya, saya merasa menemukan banyak sekali keajaiban yang belum penah saya dapatkan bersama perempuan lain selain dia. dan saya tak ingin berhenti.
Mungkin kalau nanti kepikiran bercerai, saya akan bikin pesta perceraian dan ditayangin di tv, kalian semua saya undang. Termasuk Jokowi. sebab pesta perkawinan sudah terlalu mainstream.
Hari ini adalah hari ke-11 tahun kami resmi menjadi anggota KUA. Punya akte nikah. Jadi, Selamat hari KUA. Legalisir selalu.
20 November 2016
Apakah Cinta? Apakah?
Apakah Cinta? Apakah?
(bagian kedua dari dua tulisan. Untuk yang pertama: Klik di sini )
Karena tahun 2222 berdasarkan ramalan Jihan Fahira bakal kiamat, dan di
akherat kemungkinan tak ada sinyal wifi, ada baiknya juga aku lanjutkan
saja apa yang sudah aku mulai kemarin, hari ini.
Apakah aku mencintai Nurfa Rosanti?
Sungguh jawaban yang rumit. Cinta memang tak mudah didefinisikan dengan
tepat. Tapi jika pertanyaannya diganti dengan; apakah aku rindu
istriku? Iya, selalu. Soalnya begini. Aku hidup bersama dengannya cukup
lama. 1 tahun pacaran, 4 tahun bertunangan, 11 tahun menikah. Bukan usia
yang pendek dalam hubungan asmara. Tak sedikit orang yang tahan hidup
dengan pasangannya selama itu. Beberapa diantaranya memilih berpisah.
Yang lainnya ada yang bunuh diri. Yang lainnya lagi, berpisah, menikah
lagi, berpisah lagi, lalu mati. Aku termasuk beruntung. Masih tahan
sampai sekarang. Meskipun sejak mula bersamanya, tak pernah berpikir
bisa bersama selama ini.
Kami sama-sama virgo. Sebisa mungkin
kami akan saling mengalah satu sama lain jika ada persoalan. Jika
marahan, kami cuma diam-diaman, sampai salah satu diantaranya menyerah
dan mulai membuka pembicaraan dengan; maaf.
Di awal-awal kami
berpacaran, aku tak pernah memintanya meninggalkan pacarnya. Dia
mengambil keputusannya sendiri untuk bersamaku. Persoalan itu buat dia
punya rumitnya sendiri. Aku tak pernah paham seperti apa rumitnya. Dan
aku tak pernah mau tahu. Karena memang nggak tahu.
Di awal-awal
aku menikah dengannya, aku tak pernah tertarik membahas soal masa lalu
itu. Meskipun hari-hari ini kita sering membicarakannya sambil lalu, itu
pun cuma buat mengisi waktu. Menikmati keluguan kita dulu sambil
tertawa bersama melintasi hari-hari yang sibuk dan kadang bikin remuk.
Ada masa-masa kami bersama, melakukan banyak hal bersama. Tapi ada juga
masa-masa kami harus berjauhkan karena tugas-tugas yang tak bisa
ditolak. Pada saat berjauhan itulah, Melakukan sesuatu yang biasa
dilakukan bersama sungguh betapa sangat kesepian.
Aku pernah
ditinggal dia selama setengah bulan karena dia mendapat tugas ke luar
kota. Aku dititipi anak-anak di rumah. Dua anak lelaki. Anak dia. Bukan
anak tetangga. Anakku juga sih sebenarnya.
Hari pertama dia
pergi, segalanya baik-baik saja. Aku bisa mencuci piring. Aku juga bisa
mencuci baju. Mencuci, menyapu, menjaring air dan memasak indomie goreng
sudah sering aku lakukan di rumah orang tuaku dulu, bahkan ketika aku
belum mimpi basah malah. Bukan pekerjaan yang gawat. Setelah pekerjaan
rumah selesai. Aku bermain dengan anak-anak. Makan siang bersama. Lalu
tidur. Nggak ada masalah.
Begitu maghrib tiba, barulah
“malapetaka” itu datang. Mengajari ngaji, membantu mengerjakan tugas
sekolah, kadang anak-anak berkelahi, susah diajak makan, merengek,
menangis. Pada saat-saat begitu, bayangan istriku muncul. Aku rindu dia
ada di sampingku. Di tangannya, semua urusan didik mendidik anak jadi
sedikit lancar. Tidak terlalu gaduh. Ajaib betul. Keadaan jadi rumit
hingga menjelang tidur malam. Dan hari kedua dan seterusnya, rumah makin
berantakan. Buku-buku yang aku baca ada di mana-mana. Mainan anak-anak
ada di mana-mana. Aku tak lagi sempat membereskannya. Semuanya jadi
berantakan. Untunglah ada pemadam kebakaran bernama mertua yang
membereskan.
Tapi tetap saja, kegaduhan demi kegaduhan muncul dan meluas. Dan aku kangen istriku cepat pulang.
Jadi poinnya apa sih? Tanpa ada hubungannya dengan cerita di atas, ada
satu hal yang rumit dari cinta; melupakan. Sampai saat ini aku tak bisa
melupakan wajah istriku. Senyumnya, pelukannya, ciumannya dan segala hal
yang telah kami lewati bersama. Aku masih ingin terus bersamanya.
Melalui hari-hari bersamanya. Banyak anak, banyak mimpi, tak apa-apa.
Banyak rejeki kalau diijinkan semesta, banyak istri kalau nggak
ketahuan. Asal jangan banyak utang. Aku tidak pernah berharap ia menjadi
perempuan yang sempurna. Kesempurnaan itu cuma kekurangan-kekurangan
yang tak tampak. Menjadi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup.
Sungguh aku tak bisa membayangkan ada perempuan lain yang sanggup
menghadapi rumitnya diriku, kecuali dia dan super girl. Tapi aku nggak
mungkin pacaran sama super girl. Bisa marah besar Jerro si putra duyung
atlantis dan brainiac 5. Bisa gaduh komik Marvel nanti.
Aku
mencintainya. Aku tak paham benar sejak kapan mulai benar-benar
mencintainya. Mungkin sejak untuk pertamakalinya aku berani menggandeng
tangannya. Aku selalu merindukannya. Dan yang jelas jasanya begitu besar
buat hidupku hingga sekarang. Tanpa dia status panjang ini tak akan
pernah ada. Dia yang mula-mula mendorongku belajar menulis, mengantarku
jadi jurnalis. Tanpanya mungkin aku sudah disekolahkan ke sekolah sipir
penjara dan hari ini mungkin sedang bengong, bermain kartu dengan
taruhan uang honor lembur sambil menunggui sel dan para napi sebagaimana
dicita-citakan bapakku.
Besok hari pernikahan kami yang ke-11
tahun. Tahun lalu aku membelikannya jam tangan couple G-Shock&baby
G. Lumayan mahal untuk dompetku. Tapi tidak sampai menjual genteng
rumah. Tahun ini aku belum memikirkan sebuah hadiah untuknya di hari
pernikahan kami. Lagipula hari pernikahan sebenarnya tidak sakral-sakral
amat dirayakan. Bukankah banyak pasangan di kolong-kolong jembatan, di
bantaran sungai di kota-kota besar hidup serumah tanpa pernikahan, toh,
langgeng juga. Sampai bercicit-cicit. Itupun masih digusur-gusur pula.
Namun untuk pelipur lara, yang bisa kulakukan hanya menulis sebuah
surat sederhana saja, sebagaimana dulu aku sering menulis surat padanya
untuk membunuh rindu. (tapi jarang dia balas. Seingatku dari puluhan
surat yang aku tulis, hanya dua kali dia membalas suratku. Untung level
kesabaranku masih 78%. Seandainya lobet, aku akan benamkan wajahnya ke
dalam mesin fotokopi. Huh, dasar pemalas).
Ehm, begini aja dech isinya;
"Selamat hari pernikahan kita ya, Mok. Aku nggak bawa kue tar. Nggak
ada lilin untuk ditiup bersama. Kita meniup abu pembakaran sampah saja
ya?
Cium jauh. Cium dekatnya nggak usah bilang-bilang sama
anak-anak fesbuk. Nanti kepo. Nanti baper. Nggak usah pakai swafoto ato
selfie. Nanti dikira menebar pornografi.
Sudah makan, Mok? Kalo
belum, nelen batu ginjal atau batu empedu saja dulu, gih, buat ganjal
perut. Jangan batu vulkanik. Nanti mati. Kalau kamu mati, aku susah. Dan
sedih sungguh. Sebab aku sudah lupa doa dan cara memandikan jenazah
yang diajarkan waktu madrasah dulu.
Ntar aku pulang, aku traktir
indomie goreng dan telor mata sapi. Oya, hanimun kita di terminal
Purabaya saja, ya. Ingat khan, tempat itu adalah tempat saat kita
pertamakali ciuman. Kita berciuman seperti sepasang kekasih yang hendak
berangkat perang. Padahal, ya, cuma mau menemui pacar cadangan, Eh,
Kuliah.
Sayang selalu, dari pacarmu".
Dan barangkali sebuah puisi di bagian penutupnya. Seperti ini:
Aku tak punya kado spesial untukmu di hari pernikahan kita
terlalu banyak kado berarti terlalu banyak pengeluaran.
uangku tidak cukup untuk hidup dalam pemborosan.
negeri ini telah menuntut terlalu banyak
buat konsumsi yang kadang menghancurkan nalar
aku hanya ingin menulis surat, sekali lagi, padamu,
seperti bertahun-tahun lampau
saat aku dirundung rindu.
Awalnya aku ingin menulis surat yang unik.
menukil lagu Grace Simon berjudul “Sayonara, Sayangku.”
judul lagu itu akan aku tulis di balik salah satu foto mantanmu.
tidak, aku tak butuh syair lagunya, aku hanya butuh judulnya saja.
kemudian di belakang foto itu, di bawah judul lagu itu,
aku akan menulis namamu.
berikutnya sebuah kalimat sederhana
yang di antara kalimat-kalimatnya
ada judul lagu itu:
Bersamamu, hanya dua kata yang
tak pernah sanggup aku tulis atau aku ucapkan
dua kata, satu kalimat itu; Sayonara, Sayangku.
Tapi aku tidak jadi melakukannya
sungguh aku tak sanggup melakukannya
mantan adalah kita
lagipula ngapain nulis puisi cinta di foto mantan coba?
Nggak ada kerjaan banget. Mestinya nulis surat yasiin.
Jadi biarlah aku menuliskannya begini saja
di foto pernikahan kita yang menurutmu jelek itu
(kamu sih yang jelek, aku nggak merasa jelek kok):
aku masih ingat betul saat pertamakali mencium bibirmu.
perasaan nyaman itu mengalir dari lidahmu ke dalam lidahku.
menjalar terus ke kepala dengan hawa panas yang menyala.
saat mataku terpejam karena hangat bibirmu,
segala kenangan yang bukan engkau
terbakar
lalu jatuh berguguran.
dan aku jatuh cinta.
Sejak saat itu, hingga hari ini,
tiapkali kau menyentuhku,
aku merasa muda dan selalu jatuh cinta
lagi dan lagi,
padamu.
Romantis ya?! Biasa aja. Aku melakukannya sebagai ritual agar tidak dirasuki jin Ifrit dan mengalami mimpi buruk. itu saja.
19 November 2016







