WAKTU

JEJAK

JEDA

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2014

Impor Fidel Castro

EKSPOR JOKOWI, IMPOR SUBCOMANDANTE MARCOS

Komentar Menteri Rini dan juga Presiden agar direksi BUMN bisa diduduki orang asing memang ngeri-ngeri sedap, men.

Ngerinya, seakan-akan memang sudah nggak ada lagi orang pribumi yang kompeten ngurusi BUMN. Orang pribumi berkulit coklat itu seakan-akan memang belum siap ngurusi perusahaan sebesar BUMN. Sekali masyarakat jajahan, ya tetap jajahan. Mental jajahan ya memang nggak bisa luntur, salah satu solusinya; serahkan ke asing. Anda protes, ya biarin, bukan urusan saya.

Sedapnya, cie..kita jadi nampak globaliset gitu bro. Bayangkan, jika semua perusahaan dan semua instansi pemerintah bisa juga diduduki orang asing. Keren, khan? Nanti kalo ditanya, bosnya siapa, para pekerja kantoran bisa jawab dengan kece: “Ostrali bro. Bos kita dari ostrali.” Atau “bos kita Amrik men.  Para mahasiswa lugu dan unyu-unyu bisa sedikit busungkan dada ketika ditanya dosennya dari mana. jawabnya: Jerman. Prancis. Italia.  Anak-anak kita nanti bisa dengan keren cerita di rumah kalo guru bahasa Indonesia ternyata dari Inggris dan guru bahasa Inggrisnya dari Osrali. Kalo ortunya Tanya; lantas guru dari Indonesia di sekolahmu pada ke mana, nak? Si Anak dengan kece menjawab: dari pagi sampek siang, Omar Bakri ngelap kaca dan ngepel sekolah!

Kedepannya nanti, akan ada kampus di Madura yang cabangnya langsung dari Havard, Yale, Universitas Sydney, Queensland, dsb. Kampus-kampus cabang Amrik dan Ostrali itu bisa saingan sama ITB, UGM, UI. Atau kalo perlu tutup semua kampus-kampus negeri, ganti dengan kampus cabang luar negeri yang saya sebutkan tadi. Dasyat khan?

Semua pelayan Indomaret, alfamaret, dan carefur dibawakan aja dari luar negeri yang kece dan unyu-unyu. Dengan begitu para jomblowan jomblowati bisa berubah pikiran untuk mengakhiri status jomblo dunia akheratnya dengan berpasangan dengan orang luar negeri. Luar negeri men. Pribumi, apalah pribumi itu.

Sementara pasar-pasar tradisional sikat aja, nanti dibuatin bangunan pasar yang konstruksi ala bangunan pasar di Amrik sana, kontraktornya dari luar negeri. Buruhnya drop dari luar negeri. Semua yang pribumi anggap aja udah nggak kompeten garap yang begituan. Keren khan?

 Termasuk saat rupiah terus melemah, maka solusinya adalah impor dollar. Sebab dengan mengimpor dollar maka akan makin baik ekspornya. Ekspor apa? Tenaga kerja murah.  Jomblo-jomblo murahan yang gampang diperas tenaganya seperti kuda poni.

Piye, ngeri-ngeri sedap bukan? Dan Negara kita nanti akan jadi IndoAmerika! Dulu jaman waktu masih Hindia Belanda taon 1938 timnas sepak bola Hindia Belanda bisa ikut piala dunia di Prancis, kalo jadi IndoAmerika siapa tahu timnas sepak bola bisa juara piala dunia.
Nah, trus yang pribumi mau diapain bro? Lha, itu bukan urusan saya. Urusan mereka. Mau jadi pengemis di kota kek, mau jadi gali kek, daftar jadi spionase polisi kek, mau jadi pelacur kek, germo kek, pemulung kek, terserah. Mau pulang kampung jadi buruh tani juga boleh. Jadi sais delman di pasar, tukang becak, tukang las, tukang tambal ban, terserah.

Tapi kalo pribumi itu bikin masalah, bikin keonaran, gak becus kerja pemerentah punya solusi yang paling mujarab: IMPOR tenaga asing. Ekspor pribumi bau pesing dengan harga miring. Termasuk kalo presidennya nggak becus kita bisa ekspor ke segitiga bermuda lalu impor Fidel Castro ato Subcomandante Marcos!

Sabtu, 05 Januari 2013

Love in Die


Love in Die


Malam Tahun baru 2013 masih penuh warna duka bagi keluarga Kurnianto. Belum kering airmata salah satu pegawai kantor berita radio 68H (KBR68H) itu saat mengenang kematian tragis yang menimpa Ayu Tria Desianti, anak sulungnya. Sore itu, Rabu, 26 Desember 2012, Kurnianto bergegas membawa anaknya ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Sebab kondisi Ayu tiba-tiba drop. Pembuluh darah bocah berusia 9 tahun penderita leukemia itu pecah. Ia harus mendapat pertolongan cepat. Tapi naas bagi Ayu. Hari itu Ruang ICU RS Harapan Kita yang biasa digunakan untuk cuci darah dan kemoterapi sedang digunakan syuting sinetron Love in Paris. Kru sinetron lalu lalang di ruang yang mestinya steril itu. Pelayanan terhadap pasien terganggu. Ayu makin kritis.

Pada Kamis 27 Desember 2012 dini hari, Ayu mengalami koma. Jantungnya berhenti. Pihak rumah sakit berusaha memompa jantungnya. Sementara syuting sinetron masih berlangsung di RS itu. Tapi terlambat. Ayu meregang nyawa. Bocah manis yang menderita kanker darah sejak usia 2 tahun itu dinyatakan meninggal pada pukul 02.30.

Berita kematian itu menyebar ke jejaring sosial. Orang-orang teriak. Orang-orang mengutuk. Orang-orang menghujat sambil bertanya-tanya dengan rasa geram di dada. Bagaimana sebuah ruang ICU di rumah sakit yang mestinya steril bisa menjadi lokasi syuting? Begitu ‘hebatkah” sinetron Indonesia hingga harus menggunakan lokasi beneran, tidak menggunakan lokasi buatan tanpa harus mengorbankan penanganan pasien yang sedang kritis?

Femmy Sagita, Sutradara sinetron Love in Paris, angkat bicara soal itu. ”Pas kemarin malam menunggu barang, kita bukan di ruang ICCU. Tapi ruang biasa yang kami sewa. Dokter kepala menyampaikan memberi izin syuting di ICCU real set. Kita juga tanya, emangnya boleh? Katanya enggak apa-apa, aman syuting di sini, tidak ada pasien. Akhirnya peralatan dari luar kita cancel," jelasnya pada berita online okezone.com.

Namun Kepala Instalasi Humas RS Harapan Kita, Sahrida, saat menggelar jumpa pers di kantornya, membantah jika lokasi syuting yang digunakan adalah ruang ICU. Menurutnya, ruangan yang dipakai untuk lokasi syuting adalah ruang penyimpanan alat. Di ruangan itu, disimpan alat-alat kesehatan yang bisa dipakai kalau dibutuhkan untuk darurat. Tapi letaknya berada di satu lantai dengan ruang ICU. ”Jadi sama-sama di lantai dua letaknya," tegasnya.

Terlepas dari perdebatan sutradara Love in Paris dan Rumah Sakit Harapan Kita, kematian Ayu Tria adalah salah satu bukti dari banyak kasus serupa mengenai tumpulnya sistem kesehatan di negeri ini. Ya. Sistem Kesehatan yang berorientasi pasar terbukti gagal dalam upaya mensejahterakan umat manusia. Sebab dalam sistem pasar, yang menjadi tolak ukur adalah bagaimana mendapatkan laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Akibatnya pasien hanyalah menjadi korban dari kerakusan. Ini bisa dilihat dari mahalnya biaya kesehatan. Maraknya kasus malapraktik yang menimpa pasien adalah contoh lainnya. Termasuk juga rumah sakit jadi lokasi syuting demi menangkup uang dan pencitraan. Ironisnya, dokter dan civitas kesehatan lainnya masih dianggap sebagai “dewa penolong” tanpa cela, tanpa kepentingan politik ekonomi dalam isi kepalanya.

Tentu kita merindukan sebuah rumah sakit seperti Gesundheit! Institute. Sebuah klinik pengobatan gratis di West Virginia yang didirikan oleh Patch Adam. Patch Adams mengembangkan sebuah rumah sakit yang menggunakan tawa sebagai obat, cinta sebagai mata uangnya dan kepercayaan serta dukungan sebagai fondasi pembangunannya. Sebab dalam praktek kedokteran yang ideal, menyembuhkan merupakan interaksi antarmanusia yang penuh kasih sayang, bukan transaksi bisnis. Kaum profesional di bidang kesehatan harus ’berani’ mengulurkan tangan pada pasien yang menunjukkan rasa sakit dan kerapuhan mereka. Demi kesehatan pasien; dokter dan seluruh staf kesehatan lainnya harus berusaha keras membangun persahabatan dengan pasien secara mendalam. Sebab persahabatan adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit

Karena konsep dasar pelayanan kesehatan di Gesundheit! Institute adalah cinta dan persahabatan, maka biaya haruslah dihindarkan. Artinya, melayani adalah tugas kemanusiaan. Dan tugas mulia itu tidak butuh bayaran. Biaya yang tidak terkendali dalam bidang kedokteran mendorong keserakahan. Dan keserakahan adalah musuh utama persahabatan. Dalam perhabatan yang lahir dan dibangun adalah berbagi dalam segala hal baik susah dan senang. Itulah sebabnya rumah sakit Patch Adams mirip sebuah sirkus. Dokter dan staf kesehatannya berpakaian badut. Mereka melucu. Pasien tertawa. Sebab humor adalah obat mujarab dari segala penyakit. Humor sebagai pemberi kesehatan telah ada sepanjang sejarah kedokteran. Mulai Hiprokrates sampai Sir William Osler. Buku mainstream kedokteran tak menyangkal itu.

Tapi rumah sakit di negeri ini bukan Gesundheit! Institute. Tak ada humor di rumah sakit negeri ini. Yang ada ironi dalam tajam jarum suntik, lentik jemari suster dan isak tangis yang santer. Rumah sakit negeri ini adalah abang punya uang, abang akan dapat pelayanan standar kesehatan maksimal. Tapi jika tak punya uang, dengan seribu satu rintihanpun abang tetap akan ditendang. Miris. Ya. Tapi begitulah faktanya. Di kolong langit manapun semua sistem kesehatan yang berorientasi pasar selalu penuh tumbal manusia dan kemanusiaan.

Dan Ayu Tria adalah salah satu dari banyak tumbal sistem kapitalisme kesehatan. Bocah manis yang terus memperjuangkan hidupnya dari gempuran leukemia itu akhirnya kalah. Ia meninggal diantara hiruk pikuk syuting sinetron Love in Paris yang dilakukan di rumah sakit tempat ia biasa berobat. Bukan pembunuhan langsung sebenarnya. Tapi melakukan syuting di ruang ICU tempat di mana pasien-pasien kritis tengah bersabung nyawa adalah tindakan fatal. Kematian Ayu bukanlan sinetron. Dan   Love in Paris kini menjelma Love in Die.

Suara terompet tahun baru masih membahana dalam kepala kita. Warna-warni kembang api berlesatan ke udara. Mewarnai langit kelam berselimut mendung pada malam pergantian tahun yang dingin. Tahun baru 2013 tiba. Dan masih akan terdengar lenguh kesakitan dan isak duka bagi kaum papa. Saat angka-angka disusun kembali di kalender, orang miskin terus menjerit atas segala ketidakadilan yang melindasnya. Dihadapan sistem kesehatan berbasis pasar orang miskin tetap dilarang sakit. Dan hujatan demi hujatan atas segala ketidakadilan tak berperikemanusiaan di jejaring sosial twitter tinggallah sebuah hujatan selama tak ada perlawanan. Kejadian serupa dalam bentuknya yang lain akan terus berulang. Meminjam Widji Thukul dalam sajak “mendongkel orang-orang pintar;” begitu kering rasa jengkel, begitu sign out dari akun twitter, dunia tak bergerak. Kebengisan kapitalisme terus menampar-nampar di depan kita. Bahkan di wajah kita sendiri. Selamat tahun baru 2013.

Selasa, 23 September 2008

Humor Patch Adams vs Sistem Kesehatan Konvensional

Dimuat di MEDIA INDONESIA, 20 September 2008


Humor Patch Adams Vs Sistem Kesehatan Konvensional
Oleh: Edy Firmansyah



Judul : Patch Adams; Kisah Inspiratif Seorang Dokter Eksentrik yang Menyembuhkan Penyakit dengan

Humor dan Kebahagiaan
Penulis : Patch Adams M.D dan Maureen Mylander
Penerjemah : Ibnu Setiawan
Penerbit : B-First (Bentang Pustaka Groups), Yogyakarta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : xxii + 206 Halaman


Sistem Kesehatan yang berorientasi pasar terbukti gagal dalam upaya mensejahterakan umat manusia. Sebab dalam sistem pasar, yang menjadi tolak ukur adalah bagaimana mendapatkan laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Akibatnya pasien hanyalah menjadi korban dari kerakusan. Ini bisa dilihat dari mahalnya biaya kesehatan akhir-akhir ini.

Di Amerika pengeluaran untuk perawatan kesehatan meningkat tajam daripada pengeluaran yang lain—makanan, perumahan, transportasi dan pakaian. Menurut Adminstrasi Pembiayaan Perawatan Kesehatan Negara, perawatan kesehatan menempati sebesar 12 persen dari produk nasional bruto pada 1990 dan meningkat menjadi 16,4 persen pada tahun 2000. Di Indonesia tak jauh beda. Pemerintah berdasarkan Undang-Undang No. 45 tahun 1999 pasal 32 mempunyai kewajiban membayar sebagian dari iuran layanan kesehatan untuk rakyat. Dan ini ditempuh misalnya melalui kartu asuransi kesehatan (Askes) untuk para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Askes Gakin untuk mereka yang miskin. Tapi buktinya baik Askes maupun Askes Gakin tidak mampu mengikuti gerak kenaikan ongkos kesehatan yang jauh lebih cepat. Sebab tarif pelayanan kesehatan justru dibiarkan melonjak antara 25 hingga 75 persen. Akibatnya, hanyak untuk menebus obat generic penurun panas saja, penduduk miskin tetap merogoh kantong lagi. Kondisi di Indonesia sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari sistem kesehatan dunia yang menganut kapitalisme pasar.

Hampir di sebagian besar dunia, sistem kesehatan yang berorientasi pasar, pasien tak hanya dipandang sebagai orang sakit, melainkan konsumen yang perlu dibujuk terus menerus untuk menkonsumsi obat. Sebab obat adalah salah satu produksi massal kesehatan yang mampu meraih laba besar. Padahal ada banyak fakta yang menunjukkan bahwa obat justru menambah parah suatu penyakit. Sebuah studi kepustakaan yang dilakukan oleh Knutt Schroeder membuktikan bagaimana obat batuk yang banyak beredar di pasaran menghasilkan efek-efek buruk bagi esehatan pasiennya. Berbagai macam efek samping seperti mulut kering, kepala pusing, dan susah tidur justru memperparah kondisi penderita.

Melihat fenomena tersebut Patch Adams, seorang revolusioner sosial, dokter sekaligus badut mendirikan Gesundheit! Institute. Sebuah klinik pengobatan gratis di West Virginia. Patch melakukan metode pendekatan hubungan personal kepada pasien untuk membantu mereka sembuh, bukan semata pendekatan klinis yang diterapkan rumah sakit pada umumnya. Uniknya, tiap kali melakukan pemeriksaan atau uapaya pendekatan personal ia seringkali memakai hidung badut berwarna merah untuk menghibur anak-anak kecil yang sakit ataupun mengajak pasien yang gelisah berjalan menuruni bebukitan. Dan buku yang ada di tangan pembaca ini adalah proses panjang Patch Adam bagaimana ide ’melawan’ sistem pengobatan konservatif berorientasi kapitalis itu dibangun.

Patch Adams mengembangkan sebuah rumah sakit yang menggunakan tawa sebagai obat, cinta sebagai mata uangnya dan kepercayaan serta dukungan sebagai fondasi pembangunannya. Sebab dalam praktek kedokteran yang ideal, menyembuhkan merupakan interaksi antarmanusia yang penuh kasih sayang, bukan transaksi bisnis. Kaum profesional di bidang kesehatan harus ’berani’ mengulurkan tangan pada pasien yang menunjukkan rasa sakit dan kerapuhan mereka. Demi kesehatan pasien; staf, dokter harus berusaha keras membangun persahabatan dengan pasien secara mendalam. Sebab persahabatan adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit (hal. 47).

Karena konsep dasar pelayanan kesehatan adalah cinta dan persahabatan, maka biaya haruslah dihindarkan. Artinya, melayani adalah tugas kemanusiaan. Dan tugas mulia itu tidak butuh bayaran. Pasalnya, biaya yang tidak terkendali dalam bidang kedokteran mendorong keserakahan. Dan keserakahan adalah musuh utama persahabatan. Dalam perhabatan yang lahir dan dibangun adalah berbagi dalam segala hal baik susah dan senang. Itulah sebabnya rumah sakit Patch Adams mirip sebuah sirkus.

Bukan saja karena staf rumah sakit Gesundheit! Institute tersebut tidak hanya dokter dan perawat saja. Melainkan para ahli pengobatan alternatif seperti akupuntur, sinsei dan jamu tradisional. Tetapi juga para dokternya dan stafnya kerap berpakaian badut dan melucu sehingga membuat pasien tersenyum dan tertawa. Mengapa? Karena humor adalah obat semua penyakit. Humor telah diperkenalkan secara gencar sebagai pemberi kesehatan di sepanjang sejarah kedokteran, mulai dari hiprokrates sampai Sir William Osler. Bahkan tak sedikit para pasien yang ternyata bisa sembuh setelah menderita penyakit yang kronis karena humor. Benar memang kebenaran tersebut hanyalah berdasarkan pengalaman, meski demikian buku kedokteran mainsream belum menyangkalnya.(hal. 87).

Barangkali karena dianggap sebagai hiburan, setiap bulan ada sekitar ratusan bahkan ribuan orang mengunjungi rumah sakit tersebut. Sebagian selama sejam, sebagian selama berhari-hari. Jumlahnya bervariasi dari satu sampai lima puluh tama yang bermalam setiap malamnya. Mereka datang karena mendengar klinik tersebut menawarkan pengobatan alternatif, tidak memungut bayaran alias gratis dan bersenang-senang. Pasiennya beragam. Mulai orang-orang yang ingin bunuh diri, orang yang berkelahi dengan orang tercinta, hingga penderita penyakit kronis. Semuanya hidup dalam sebuah komunitas seerti babes in Toyland: naif, lugu dan bodoh.

Bagaimana bisa bertahan tanpa penghasilan? Ternyata para stafnya rumah sakit tersebut bertahan hidup dari profesi sambilan dengan bekerja di tempat lain dengan sistem paruh waktu. Setiap orang harus menyumbang $ 19 per blan untuk sewa gedung. Mereka juga bertahan hidup dari hadiah dari teman-teman dekat. Mulai dari pakaian, musik, perabotan berkebun, kendaraan bekas, bahkan binatang piaraan. Hal tersebut dilakukan hanya demi melayani pasien agar mereka bisa menikmati hidup sehat dan berbahagia.

Karenanya buku ini layak untuk menjadi bacaan wajib untuk para pasien, dokter dan seluruh lapisan masyarakat bahwa biaya kesehatan murah dan rumah sakit gratis bukanlah sebuah mimpi. Patch Adams melalui Gesundheit! Institute telah membuktikannya. Dan saya rasa semua dokter mampu melakukannya, kecuali mereka yang anti terhadap perubahan.


TENTANG PENULIS
Edy Firmansyah
adalah Pustakawan di Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura. Alumnus Kesejahteraan Sosial Unversitas Jember.

Senin, 30 Juni 2008

Malaria dan Pembangunan Kesehatan Monokultur

DIMUAT DI HARIAN SURYA, 30 Juni 2008


Malaria dan Pembangunan Kesehatan Monokultur
Oleh: Edy Firmansyah



Keterpurukan sejumlah bangsa di berbagai belahan bumi dalam kubangan kemiskinan, pendidikan, dan kematian mulai menjadi perhatian serius dunia. Pasalnya, keterpurukan tersebut mengancam keberlangsungan hidup sebuah bangsa. Karenanya pada abad 21 badan PBB mengumpulkan kepala pemerintahan untuk menandatangani pembangunan milenium (MDGs) di New York. Tujuannya, tak lain untuk menyelamatkan bangsa (save nations).

Setidaknya ada delapan tujuan MDGs. Namun dari jumlah itu, ada tiga tujuan yang terkait dengan keberlangsungan hidup. Yakni, penurunan angka kematian ibu dan anak, memerangi HIV/AIDS dan memerangi malaria.

Namun tulisan ini tidak akan membahas semua tujuan pokok MDGs, melainkan fokus pada perang melawan malaria. Malaria merupakan penyakit yang sangat cepat menular dan masih merupakan masalah dunia. Diperkirakan 1,2 juta miliar manusia tinggal di daerah endemis malaria. Bahkan menurut laporan WHO 1998 setidaknya 1,50-2,70 juta jiwa manusia meninggal akibat penyakit malaria.

Di Indonesia sendiri serangan malaria tak kalah ganasnya. Ada sekitar 15 juta jiwa penduduk yang menjadi korban malaria. Dan 30 ribu jiwa diantaranya meninggal dunia. Hal itu terjadi terus hampir setiap tahunnya.

Nah, pertanyaan mendasar yang diajukan adalah apa penyebab malaria menjadi penyakit yang ’mematikan’ terutama di Indonesia? Ternyata menurut Gutomo Priyatmono, penulis buku Bermain Dengan Kematian, Potret Kegagalan Pembangunan Kesehatan Monokultur di Negeri 1001 Penyakit, keganasan malaria bukan hanya disebabkan oleh serangan nyamuk semata. Melainkan juga karena Pembangunan kesehatan modern di Indonesia menempatkan dirinya sebagai sebuah pasar.

Dalam pasar, semuanya dikelola berdasarkan untung rugi. Mulai dari obat-obatan, pelayanan kesehatan, dan sebagainya. Rumah sakit, puskesmas, dokter, termasuk didalamnya apotek menjadi kekuatan legal yang menentukan sehat tidaknya seseorang. Akibatnya, program bio-medis modern yang bertujuan untuk kepentingan peningkatan kesehatan justru membuat masyarakat mengalami hal lebih buruk.

Berdasarkan penelitiannya tentang kasus pemberantasan penyakit malaria di dua wilayah pedesaan yang terletak di perbukitan Manoreh Kabupaten Kulon Progo Propinsi DIY, yaitu Hargowilis dan Hargotirto, menunjukkan bahwa program pemberantasan malaria di dua wilayah tersebut belum mampu membawa masyarakat mempunyai pengetahuan baru tentang penyakit dan malaria. Malah sebaliknya, menjerumuskan masyarakat pada ketidakpastian dalam pencegahan, pengobatan dan penyembuhan penyakit tersebut.(Priyatmono, 2007;252)

Contoh dari hal diatas adalah penanganan penyakit seperti demam berdarah dan malaria yang selalu didasarkan pada standar operasional yang sesuai dengan aturan Departemen Kesehatan. Inilah yang disebut Ivan Illich sebagai monopoli bio medis terhadap masyarakat. Usaha menyehatkan dengan teknologi, seperti pengasapan dan pemasangan kelambu berada di tangan penguasa medis.

Padahal keterlibatan aktif masyarakat sebenarnya merupakan pencegah utama dari menjalarnya wabah. Sebab masalah sehat, sakit dan penyakit erat hubungannya dengan kepercayaan, sosial dan psikologi masyarakat.

Karenanya Priyatmoko menuding yang paling bertanggung jawab atas merebaknya penyakit malaria di Indonesia (bisa jadi di negara lainnya) adalah para ahli bidang kesehatan dan para pengambil kebijakan yang berada di Departemen Kesehatan RI. Sebab model pembangunan yang dilakukan pemerintah Indonesia selama hampir 40 tahun hanya sekedar mengedepankan rasionalitas tujuan (instrumental rationality) yang mengarahkan pembangunan pada terminologi construction. Dengan kata lain, pembangunan kita adalah pembangunan yang mengutamakan hasil kuantitatif (material) (hal. 22). Yang terjadi kemudian hasil pembangunan justru bermuara pada depedensi, eksploitasi dan marginalisasi masyarakat. Pembangunan model ini sudah merambah hampir di semua sektor. Termasuk juga di sektor kesehatan.

Betapa tidak, program pemberantasan malaria yang dipahami masyarakat di Hargowilis dan Hargotirto sebatas kegiatan fisik dan bantuan. Kegiatan fisik dan bantuan itu berupa penyemprotan, pembagian kelambu, pembagian poster kampanye anti malaria dan pembagian obat gratis. Tidak lebih.

Sedangkan yang dibutuhkan masyarakat dalam penanganan dan pencegahan penyakit adalah wawasan dan pengetahuan yang lebih mengenai seluk beluk penyakit. Sehingga penanganan dan pencegahan bisa dilakukan dengan cara-cara tradisional seperti dengan tanaman jamu, dan lainnya. Sehingga ketika penyakit menyerang, masyarakat sudah mampu melakukan antisipasi dini, tanpa menunggu pertolongan program pemerintah yang kerap terlambat. Tapi sayang, kesempatan untuk mengetahui sistem pengetahuan dibalik bantuan tersebut justru terkunci rapat.
Masyarakat justru diarahkan pada paradigma baru bahwa konsep sakit dan penyakti malaria hanya bisa diselesaikan dengan cara mengkonsumsi jasa dan obat-obatan malaria yang diproduksi korporasi farmasi multinasional. Alih-alih menyehatkan masyarakat, para komprador di bidang kesehatan ini justru hendak meraup keuntungan atas pemasaran obat-obatan.

Karenanya selama pemerintah tidak mengubah paradigma sehat dan sakit di masyarakat dengan konsep pembelajaran dan pencerdasan masyarakat mengenai seluk beluk penyakit dan cara mengatasinya secara mandiri, maka yang terjadi adalah ketergantungan. Dan jika keadaaan itu dibiarkan, penyakit akan terus menyerang masyarakat.
Pemberdayaan puskesmas adalah langkah paling tepat untuk mengatasi berbagai penyakit. Melibatkan bakul jamu, sinse pengobatan cina, ahli akupuntur menjadi anggota puskesmas adalah hal yang mendesak. Dari mereka, masyarakat miskin akan belajar banyak hal mengenai penanganan penyakit. Sehingga lambat laun masyarakat akan mampu menangani wabah penyakit dengan kemampuannya sendiri, tanpa harus merepotkan pemerintah.

TENTANG PENULIS
*Edy Firmansyah
adalah Peneliti pada IRSOD (Institute of Reaseach Social Politic and Democracy) Jakarta. Alumnus Kesejahteraan Sosial Universitas Jember.

Rabu, 28 November 2007

Demam Berdarah, Kemiskinan dan Kesehatan ProRakyat

Demam Berdarah, Kemiskinan, dan Kesehatan ProRakyat
Oleh: Edy Firmansyah
(Peneliti pada Institute of Reaseach Social Politic and Democracy )
Artikel ini Dimuat di SEPUTAR INDONESIA (SINDO) Edisi SORE, 16 November 2007

Musim pancaroba kembali datang. Yang perlu diwaspadai dari musim peralihan antara musim kemarau dan musim penghujan ini selain keadaan cuaca yang ekstrem, juga menyebarnya berbagai macam penyakit. Salah satu penyakit yang biasa menyertai tiap musim pancaroba adalah demam berdarah dengue (DBD).

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu problem kesehatan serius. Dalam laporan Departemen Kesehatan, penyakit ini sudah menjadi masalah yang endemis di 122 daerah tingkat II, 605 Kecamatan dan 1.800 Desa atau kelurahan. Dan setiap wabah penyakit ini menyebar, tak sedikit yang akhirnya meninggal.

Sebenarnya keadaan tersebut telah menjadi perhatian pemerintah. Hanya saja penanganan yang dilakukan terkesan setengah-setengah. Salah satu andalan dinas kesehatan dalam pemberantasan DBD adalah fogging.

Padahal pengasapan yang berlebihan saat ini justru tidak berfungsi efektif lantaran telah terjadi mutasi gen sehingga menyebabkan nyamuk aides aigepty menjadi makin kebal terhadap fogging. Dan akibatnya bisa ditebak, jumlah kasus demam berdarah tiap tahun selalu saja meningkat. Dalam laporan Kompas tercatat, sejak Januari hingga 31 Mei 2004 dilaporkan secara kumulatif jumlah Kasus DB sebanyak 59.321 kasus dengan jumlah kematian 669 orang(Kompas, 17 Juni 2004). Dan tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut bisa terus meningkat setiap tahunnya.(Eko Prasetyo, 2004).

Parahnya lagi, penduduk yang menjadi korban penyakit DB justru didominasi oleh anak-anak dari kalangan miskin. Memang ada juga korban dari kelas atas yang turut terserang. Hanya saja jumlah dapat dihitung dengan jari. Hal ini sungguh menyakitkan. Ditengah rakyat miskin didera dengan harga BBM yang melambung tinggi dan berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti beras, mereka justru dihadapkan pada wabah penyakit yang mematikan seperti DBD.

Nah, yang menjadi pertanyaan mengapa kalangan miskin yang selalu menjadi korban terbesar DBD? Kita tahu rakyat miskin adalah mereka yang selalu hidup serba kekurangan secara ekonomis. Dalam kondisi semacam itu, syarat hidup sehat, lingkungan yang kumuh, gizi yang buruk dan keadaan hygiene serta sanitasi yang jauh dari memuaskan selalu menjadi warna-warni kehidupan mereka.(Bimo, dalam Peter Hagul, 1985). Sering kita menyaksikan dalam berita televisi akhir-akhir ini tentang sejumlah penduduk yang mengkonsumsi pelepah pisang sebagai makanan pengganti beras.

Padahal dalam ilmu kesehatan, lingkungan yang kumuh menjadi tempat bersarangnya banyak penyakit. Sedangkan keadaan gizi yang jelek menyebabkan daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang penyakit. Sehingga jangan heran ketika demam berdarah menyerang, banyak korban yang berakhir dengan kematian karena imunitas tubuhnya menurun akibat kekurangan gizi.

Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang lebih mempercayakan penyembuhan penyakit dengan cara supranatural ( baca; dukun) daripada penyembuhan secara medis (baca; dokter). Di Madura misalnya, tempat praktek dukun yang letaknya jauh di pelosok kampung bisa lebih ramai daripada puskesmas pembantu yang letaknya tepat dipinggir jalan.

Memang keadaan semacam itu merupakan keadaan umum dijumpai di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, dimana tingkat pendidikan yang rendah merupakan pemicu utama. Meski demikian bukan berarti meningkatkan penyebaran DBD diakibatkan oleh prilaku kaum miskin semata. Sebab kalau mau ditelisik lebih jauh apa yang mereka lakukan sebenarnya diakibatkan oleh sistem yang selama ini cenderung menindas daripada melindungi mereka. Dengan lain kata, orang miskin sengaja didesak agar terus berada dalam situasi yang rawan penyakit.

Bukan rahasia umum lagi jika biaya kesehatan akhir-akhir ini sama mahalnya dengan biaya pendidikan. Benar memang pemerintah sudah memberikan subsidi kesehatan pada masyarakat, yakni berdasarkan UU NO. 45 tahun 1999 pasal 39 tentang kewajiban pemerintah membayar sebagian besar dari iuran layanan kesehatan. Ini bisa dilihat dengan pemberian kastu asuransi kesehatan (Askes) untuk PNS dan kartu Gakin untuk mereka yang miskin. Kendati demikian tarif pelayanan kesehatan justru dibiarkan melonjak antara 25 hingga 75 persen. Akibatnya, hanyak untuk menebus obat generic penurun panas saja, penduduk miskin tetap merogoh kantong lagi.

Belum lagi pelayanan rumah sakit yang cenderung pilih kasih. Rumah sakit mengkategorikan ruang perawatan berdasarkan kemampuan membayar. Bukan berdasarkan prioritas penanganan penyakit. Penderita DB yang parah, tetapi tidak punya banyak uang akan ditempatkan di kelas ekonomi yang bisa berdempetan dengan penderita muntaber. Itupun tidak akan langsung ditangani. Para perawat akan lebih senang merawat penderita yang hanya terindikasi DB tetapi menempati ruang VIP.

Nah, jika keadaan ini terus dibiarkan, jangan harap kita akan terbebas dari penyakit DB. Bakan tahun 2010 yang dicanangkan sebagai Indonesia sehat hanya akan jadi isapan jempol belaka.

Karena ini pemerintah harus segera merombak kesehatan yang ada. Sebagai langkah awal pemerintah harus merombak sistem Puskesmas. Karena puskemas merupakan kantong pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat sebelum rumah sakit. Puskesmas harus berorientasi kerakyatan. Artinya, Puskemas bukan hanya berfungsi menjadi pusat pelayanan kesehatan semata, melainkan harus ditingkatkan menjadi tempat pendidikan dan pemberdayaan. Di Puskemas, masyarakat tidak hanya bisa mendapatkan obat generic saja. Tetapi juga diajari bagaimana membudidayakan tanaman obat sebagai obat alternative terhadap berbagai penyakit. Termasuk DBD.

Untuk itu pengelola puskemas bukan hanya dokter dan perawat saja. Bakul jamu, sinse pengobatan cina, ahli akupuntur bisa dimasukkan dalam anggata puskesmas. Dari mereka, masyarakat miskin akan belajar banyak hal mengenai penanganan penyakit. Sehingga lambat laun masyarakat akan mampu menangani wabah penyakit dengan kemampuannya sendiri, tanpa harus merepotkan pemerintah.***

TENTANG PENULIS
**Edy Firmansyah adalah Pemerhati Masalah Kesehatan Masyarakat. Peneliti pada IRSOD (Institute of Reaseach Social Politic and Democracy) Jakarta . Alumnus Kesejahteraan Sosial Universitas Jember.