WAKTU

JEDA

Jumat, 18 April 2008

Humanisme Radikalistik (Dimuat di KORAN PAK OLES (KPO) Edisi 150, 16-30 April 2008)


Menuju Humanisme Radikalistik
Oleh : Edy Firmansyah


Judul : Revolusi Pengharapan: Menuju Masyarakat Teknologi yang semakin

Manusiawi
Penulis : Erich Fromm
Penerbit : Pelangi Cendekia, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : xxv + 223 Halaman


Ada bahaya laten yang tengah membayangi kehidupan manusia. Bahaya itu bukanlah komunisme, bukan pula fasisme, melainkan “masyarakat yang telah sepenuhnya menjadi mesin” (a completely mechanized society) yang mendewakan produksi material dan konsumsi maksimal dibawah pimpinan Komputer. Masyarakat yang demikian pelan tapi pasti dibunuh daya hidupnya dalam kepasifan total akibat kecanduan konsumsi, sehingga menjadi manusia yang nyaris mati rasa.

Itulah warning Eric Fromm dalam bukunya Revolusi Pengharapan: Menuju Masyarakat Teknologi yang semakin Manusiawi. Ketika manusia sudah semakin mekanis, yang tertinggal hanyalah nafsu menguasai. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, kekerasan kerap dijadikan pilihan. Makanya, jangan heran jika dalam a completely mechanized society kerusakan lingkungan akibat eksploitasi rakus manusia dan konflik antar golongan selalu menjadi masalah yang sulit dipecahkan.

Memang jalan satu-satunya untuk mengakhiri semua itu adalah perubahan. Namun Fromm mengingatkan agar pilihan perubahan tak jatuh pada revolusi radikal (baca: kekerasan). Sebab dengan revolusi tersebut keadaan justru akan bertambah runyam, karena seluruh sistem akan runtuh, dan yang tampil adalah kediktatoran militer atau fasisme. (hal. xiv). Itu artinya penderitaan rakyat semakin panjang karena kehilangan kedaulatan.

Dalam buku ini Erich Fromm menawarkan revolusi humanisme radikal sebagai solusi. Revolusi ini harus melibatkan banyak ideologi yang berbeda dan kelompok sosial. Setidaknya ada tiga tingkatan yang menjadi sasaran perubahan. Pertama, perubahan pola produksi dan konsumsi. Kedua, transformasi manusia, warga negara dan partisipan dalam proses sosial dari obyek-pasif yang secara birokratis termanipulasi menjadi pribadi yangaktif, kritis dan bertanggung jawab. Dan terakhir adalah rebolusi kultural, dimana menghancurkan keterasingan dan kepasifan yang menjadi ciri masyarakat teknologi, yakni dengan menggali potensi cinta dan akal budi sehingga mampu mengatasi fiksasi infantilis.(hal. 196).

Buku ini diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris The Revolution of Hope – Toward a Humanized Technology, merupakan keprihatinan Fromm pada kondisi masyarakat industri modern di Amerika Serikat pada tahun 1968 yang makin tenggelam dalam reifikasi akibat dirasuki kapitalisme. Meski demikian analisa Fromm masih menunjukkan relevansinya, terutama di belahan dunia ketiga dimana dalam banyak hal kondisinya serupa dengan Amerika Serikat pada saat itu.

Kapitalisme yang menjadi sasaran tembak Fromm bukanlah kapitalisme Laisez faire seperti yang disyahadatkan Adam Smith mengenai persaingan bebas. Lebih daripada itu, kapitalisme disini, adalah tahapan lanjut Revolusi Industri, yakni revolusi Industri tahap II. Dimana bukan hanya energi hidup (hewan dan manusia) yang digantikan oleh energi mekanis, tetapi lebih dari itu otak manusia digusur oleh hadirnya otak-otak mesin.

Perkembangan selanjutnya, menurut Daniel Bell adalah proses produksi yang diarahkan pada pembuatan barang-barang yangdiselaraskan dengan hasrat pelepasan dan pemuasan diri tanpa kendali. Artinya semua keinginan manusia dipaksa tunduk pada kaidah pasar. Dalam pasar manusia dipaksa menjadi budak nafsu untuk memiliki apa saja dengan semakin menggila (baca; hedonisme).

Buku ini dibagi dalam enam bab. Bab pertama berbicara tentang masyarakat dalam belenggu industri, konsumerisme dan hedonisme. Bab kedua, bicara mengenai jebakan-jebakan kapitalisme dengan memanipulasi pengharapan manusia. Bab ketiga, Fromm meramalkan munculnya sebuah peradaban baru dengan memanusiakan kaum borjuasi menjadi borjuasi baru yang lebih manusiawi. Bab empat, Fromm bicara tentang hakekat kemanusiaan termasuk juga nilai-nilai dan norma manusia. Dalam bab ini digali secara detail tentang potensi manusia untuk tercapainya sebuah perubahan atau Revolusi pengharapan.

Pada bab lima, Fromm mengajukan strategi taktik menuju masyarakat tekhnologi yang semakin manusiawi. Sedangkan pada bab terakhir, ditawarkan sejumlah perubahan fundamental untuk menyelamatkan manusia dari modernisasi. Mungkinkah? Fromm optimis. Bahwa selalu ada harapan di dunia ini, sebuha harapan yang nyata—tidak utopis, bahwa perlawanan manusia terhadap kapitalisme akan melahirkan masyarakat tehnologi yang lebih manusiawi.***

TENTANG PENULIS
*Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura.

Membangun (Kembali) Imajinasi Indonesia (Dimuat di SINDO Edisi Sore, 17 April 2008)

Membangun (Kembali) Imajinasi Indonesia
Oleh: Edy Firmansyah


Setiap bulan April kita mengenang dua tokoh Indonesia yang erat hubungannya dengan imajinasi dan pembebasan. Kedua tokoh itu adalah Kartini dan penyair Chairil Anwar. Semua orang tahu 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Tapi hanya segelintir orang saja yang tahu bahwa 28 April diperingati sebagai hari sastra, untuk mengenang kematian penyair Chairil Anwar. Karenanya tak salah kiranya jika Eka Budianta menganggap bulan April ini sebagai bulan imajinasi dan pembebasan.

Berkat imajinasinya yang kuat, Kartini bukan saja berhasil meletakkan cita-citanya ke dasar kehidupan, yakni menghendaki persamaan hak dan kewajiban perempuan dengan pria. Tetapi sosok Kartini lahir sebagai sosok ‘pemberontak’ sejati. Kartini melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun. Dengan kata lain Kartini tidak hanya memberontak terhadap kolonialisme yang sedemikian kejam mencengkram rakyat. Tetapi juga memberontak terhadap budaya Jawa yang feodalistik. Dan Kesemuanya itu dia lawan dengan tulisan. Semua kepekaan, perasaan dan keprihatinannya terhadap nasib bangsanya dia tuangkan dalam tulisan.(Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja, hal. 67)

Chairil Anwar, dengan berimajinasi melalui sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. tapi jarang orang yang mau menghubungkan puisi Chairil dengan gejolak politik pada masa itu.

Ironisnya tak sedikit masyarakat kita justru menganggap imajinasi sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak memiliki arti di negeri ini. Serta cenderung membahayakan. Pada akhir tahun 60-an, misalnya, kritikus sastra terkemuka HB Jassin diajukan ke pengadilan karena memuat cerpen Langit Makin Mendung, karangan Ki Panji Kusmin. Cerpen itu dianggap ‘menginjak kaki’ banyak orang karena melukiskan pengalaman Nabi Muhammad dalam imajinasi pengarang.

Bahkan ketika Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Tetralogi Bumi Manusia, Pemerintah orde baru melalui Kejaksaan Agung mengeluarkan surat larangan atas buku-buku tersebut. Karena buku karangan Pram dianggap berbau Komunisme. Padahal apa yang ditulis Pram tak lebih hanya untuk membongkar Budaya Jawa yang menindas. Bahkan hingga saat ini larangan itu belum dicabut.

Yang terbaru ketika Slank meluncurkan lagu Gosip Jalanan yang salah satu syairnya menyentil kinerja DPR/MPR kontan anggota dewan menyalak dan hendak menuntut Slank karena dianggap mencemarkan nama baik. Meski akhirnya tuntutan itu tak jadi dilakukan, setidaknya niat DPR MPR menuntut Slank merupakan salah satu bukti betapa kita memang phobia imajinasi.

Sistem pendidikan juga tak jauh beda. Pendidikan (baca: sekolah) yang sejatinya menjadi tempat mengasah kreativitas dan mengembangkan imajinasi justru dikebiri hanya sekedar transfer ilmu belaka. Tak ada ruang sedikitpun bagi imajinasi. Murid hanya dianggap kendi kosong yang bisa diisi apa saja oleh guru. Pengajar masih sering menggunakan system pengajaran gaya bank; Yakni siswa dianggap tidak bisa apa-apa dan guru sebagai satu-satunya sumber yang mencekoki siswa. Sehingga siswa lebih banyak diam (pola hamba-tuan). Siswa tidak dibantu mengembangkan imajinasi dan bernalar jadi kritis.

Padahal bangunan kebangsaan kita terdiri atas varian-varian kebudayaan (subkultur) yang majemuk. Dan bangunan tersebut bisa berdiri ditengah kemajemukan karena, mengutip Benedict Anderson, merupakan komunitas terbayang (Imagined Communities) yang terbentuk atas dasar pembayangan anggota-anggotanya mengenai kehidupan dan cita-cita bersama.

Sejak berumur belasan tahun Mohammad Hatta, misalnya, ‘mengimajinasikan” Indonesia merdeka. Demikian kuatnya imajinasi itu, sehingga kemudian menjadi cita-cita yang diperjuangkan. Soekarno juga demikian. Pada bulan Maret 1933, sambil berpakansi di Pangelengan, daerah selatan Bandung, Ir. Soekarno berimajinasi pula dan menuangkannya dalam risalah ”Mencapai Indonesia Merdeka.” Imajinasi-imajinasi Sokarno-Hatta dan imajinasi besar lainnya pada akhirnya memupuk bangsa yang tercerai-berai di berbagai pulau dan adat Istiadat menjadi bangsa besar dan bersatu, yaitu Indonesia.(Budianta, 1993)

Karena itu, ditengah gempuran berbagai krisis multidimensi yang tak kunjung usai, ditengah maraknya Korupsi yang dilakukan para birokrat sepertinya kita perlu mengelola kembali imajinasi-imajinasi besar yang ada dalam benak kita menjadi sebuah langkah kongret untuk mengakhiri krisis. Dan sangat potensial sekali jika pengembangan imajinasi dimulai dari sekolah dasar. Karena di tangan anak-anaklah tongkat estafet pembangunan negeri ini disematkan.

Tentu saja imajinasi yang dilandasi dengan cinta, perdamaian, keindahan dan menjunjung tinggi kehormatan. Bukan imajinasi liar yang membuat orang justru saling bermusuhan. Seperti imajinasi yang digarap salah seorang anggota parlemen Belanda, Geerts Wilders berupa film berjudul ”Fitna.” Karena imajinasi macam ini bisa dibeli di jalan-jalan.

TENTANG PENULIS
**Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK). Peneliti pada IRSOD (Institute of Reaseach Social Politic and Democracy) Jakarta.

Minggu, 13 April 2008

Sisi Lain Perempuan Arab (Dimuat di MEDIA INDONESIA, 12 April 2008)


Sisi Lain Perempuan Arab*)
Oleh: Edy Firmansyah


Judul : The Princess Sultana’s Daughters
Penulis : Jean P Sasson
Penerjemah : Milfana
Penerbit : RAMALA BOOKS (Ufuk Press Groups), Jakarta
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xvi+386 Halaman


Membicarakan penindasan terhadap perempuan memang tak akan pernah usai. Berdasarkan riset, terungkap fakta bahwa setiap 6 jam terjadi kasus perkosaan seksual terhadap perempuan. Belum lagi kasus yang tidak pernah disadari orang sebagai kasus yakni pelecehan seksual, tampaknya sudah menjadi kegiatan spontanitas yang dilakukan dimana-mana. Daftar penindasan bisa bertambah panjang kalau kita memasukkan kasus perdagangan perempuan sebagai budak seks. Hal ini dikarenakan kentalnya sistem Patriakat yang dianut hampir semua negara di dunia, dimana perempuan tak lebih sebagai pelengkap, baik dalam kehidupan keluarga maupun negara.

Parahnya kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan nyaris di semua negara mengalami hal serupa. Termasuk di Arab Saudi. Benarkah? Sepintas tudingan bahwa Arab Saudi merupakan negeri yang turut serta dalam penindasan terhadap perempuan diragukan. Dalam tradisi Arab, seorang perempuan tidak diperkenankan membuka jilbab (baca:cadar) sejak menginjak masa puber. Nah, Jilbab itulah yang menjadi perisai bagi perempuan dari ’tangan jahil’ laki-laki.

Namun faktanya tidaklah demikian. Menurut Jean Sasson, penuli buku ini, dibalik jilbab yang serba ketat, perempuan Arab justru mengalami penderitaan akibat penindasan dari sistem Patriakat yang tak kalah pedihnya dengan penderitaan perempuan Indonesia yang cenderung pluralis.

Salah satunya nikah mut’ah. Nikah mut’ah adalah nikah sementara atau lebih sebuah ’pernikahan untuk bersenang-senang,” yang biasa dipraktekkan oleh sebagian orang Arab. Pernikahan tersebut bisa terjalin selama satu jam atau bahkan mungkin sembilan puluh sembilan tahun, tergantung kesepakan kedua belah pihak. Jika kontrak selesai, secara otomatis pasangan akan bercerai tanpa formalitas perceraian. Kelompok Islam Suni yang mendominasi Arab saudi memandang pernikahan semacam ini tak lebih sebagai pelegalan prostitusi. Akan tetapi, tidak ada otoritas resmi yang dapat melarang seseorang yang akan melakukan nikah Mut’ah. Bahkan kelompok Syiah kerap mengutip beberapa ayat pendek dan dua atau tiga baris hadis untuk melegitimasi pernikahan ini (hal. 37-38).

Korbannya tentu saja perempuan-perempuan belia yang baru beranjak puber dari keluarga miskin dan tidak terpelajar. Demi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, kebanyakan masyarakat miskin rela menjual anak gadisnya untuk melakukan Nikah Mut’ah dengan orang-orang kaya. Termasuk juga diantaranya para pejabat dan keluarga dekat kerajaan Arab Saudi.

Selain nikah mut’ah satu hal lagi yang membuat hak kaum perempuan Arab dikebiri adalah dibentuknya badan sensor. Pemerintah Arab Saudi bahkan mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk membentuk badan sensor dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam badan sensor itu semua pegawainya berjenis kelamin laki-laki. Mereka duduk di kantor-kantor pemerintahan, mengamati apa yang mereka pandang menjijikkan tentang perempuan dan seks di setiap publikasi yang masuk ke Arab Saudi. (hal. 79). Untuk mengontrol sikap dan prilaku kaum hawa, dibentuk juga ’polisi moral’ atau ’polisi agama’, kadang disebut mutawwa. Anggota adalah para laki-laki. Mereka melakukan tugas mengawasi gerak gerik kaum perempuan di seluruh Arab saudi. Polisi ini berpatroli di kota-kota mencari perempuan-perempuan yang tidak bercadar dan memukul mereka dengan tongkatnya atau menyemprotnya dengan tinta merah. Polisi ini juga memiliki hak untuk menahan perempuan yang dianggap melanggar etika moral dan kosopanan.

Pertanyaannya sekarang apakah dengan kontrol yang ketat terhadap kehidupan perempuan sebuah negeri akan hidup dengan damai? Nyatanya tidak. Melalui buku ini Jean P. Sasson hendak mengatakan—Mengutip Durkhaeim—ketika semua bentuk ekpsresi dan penyaluran emosi secara normal terkunci rapat yang lahir justru ketidaknormalan.

Ketika hubungan laki-laki dan perempuan yang belum menikah dilarang bertemu satu dengan lain oleh hukum agama yang terjadi adalah ketegangan seksual di antara sesama jenis menjadi sesuatu yang biasa. Ya, di arab Saudi hubungan homoseksual terus merajalela. Bahkan Putri Sultana, tokoh utama dalam buku ini, yang bernama Maha juga mengalami hal serupa.

Disamping itu, ketidaknormalan lain yang muncul akibat terlalu ketatnya kontrol terhadap kehidupan perempuan adalah lahirnya kelompok-kelompok Islam garis keras. Kelompok ini kerap menggunakan segala cara agar semua peraturan Islam bisa ditegakkan di muka bumi ini. Termasuk juga dengan jalan mencelakai manusia lain. Itu pula yang dialami Amani, putri kedua Sultana.

Sejatinya buku ini merupakan kelanjutan dari buku laris berjudul ”Princess: Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi.” Jika, buku pertama menggambarkan kehidupan masa kecil Putri Sultana, maka buku ini menggambarkan kisah kehidupan anak-anak perempuannya dan perempuan arab lain dalam nuansa ketatnya sistem Patriakat secara lebih personal. Buku ini adalah sebuah kisah nyata yang ditulis dengan cukup memikat dalam bentuk novel sehingga pembacanya dapat merasakan emosi dari masing-masing tokoh dalam buku ini.

Meski menggunakan sudut pandang wanita kerajaan Arab Saudi, setidaknya buku ini masih mampu mewakili betapa kejinya penindasan terhadap perempuan miskin yang dilakukan pemerintahan Arab Saudi. Sungguh buku yang layak dibaca, bukan hanya bagi mereka yang menganggap Arab, tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW itu merupakan negeri ’surga’ yang penuh kedamaian, melainkan bagi siapa saja yang peduli nasib perempuan.

TENTANG PENULIS
Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura.
*) Sayang, Ketika dimuat di MEDIA INDONESIA tulisan ini mengalami edit ketat dari Pihak Redaksi. Karenanya di blog ini saya turunkan secara utuh.