WAKTU

JEDA

Sabtu, 19 September 2009

UJIAN SEKOLAH

Oleh: Edy Firmansyah

“Nek, ceritakan padaku tentang penyesalan,” kata Fesha pada neneknya yang jago cerita itu. Maka sang nenekpun bercerita tentang Karim.

Karim adalah pelajar sebuah sekolah. Hari ini ia sedang mengikuti ujian sekolah.
“Apa lagi yang kau takutnya, Karim? Ayo, ambil contekanmu. Bu Ratmi sedang ada di luar. Mengapa kau masih ragu? Ayo cepat. Masa depanmu tergantung pada ujian ini. Kalau kau tak lulus, emakmu bakal kecewa berat. Ayo Karim. Jawaban dari 50 soal Bahasa Indonesia itu ada di catatanmu itu,” Bisikan itu terus menyemangati Karim
Tapi Karim tak juga mengambil catatan yang terletak di kantong celana, baju dan dibalik kaos kakinya itu. Tangannya masih gemetar. Seumur hidupnya baru kali ini ia membuat contekan. Biasanya ia belajar sebelum ujian dimulai. Pantang baginya mencontek. Jangankan mencontek, bertanya ketika ulangan dimulai saja tak pernah ia lakukan. "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku jujur sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Dan berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri," itulah pesan Bapaknya ketika menghembuskan nafas terakhirnya. Pesan itu kemudian dijadikan falsafah hidupnya.

Tapi kemarin ia tak sempat belajar. Ia harus mengantarkan emaknya ke rumah Paman Oki untuk menjual kalung emas satu-satunya milik emaknya. Untuk apa? Untuk membayar uang sekolah yang sudah tiga bulan nunggak. Tanpa menjual kalung itu mungkin Karim tak akan bisa mengikuti ujian akhir sebagai pintu gerbang bagi ia untuk lulus SMA.
Rumah Paman Oki cukup jauh. Kurang lebih 50 kilometer. Tak mungkin ia meninggalkan emaknya berangkat sendirian. Karena emaknya pelupa. Setiap kali pergi ke rumah kerabat yang tempatnya jauh emak Karim selalu kesasar. Bahkan pernah ketika bertandang ke rumah Bi Marni di Surabaya, emak justru tak sampai kesana. Sejak itulah Karim selalu menemani emak tiap pergi jauh. Karim baru tiba di rumah tengah malam. Badannya sudah terlalu telah untuk belajar. Untuk berjaga-jaga ia terpaksa merobek-robek buku catatan bahasa Indonesia-nya kemudian lembaran-lembaran itu ia selipkan di kantong baju, celana dan di balik kaos kakinya.

Persetan dengan petuah Bapakmu itu, Karim. Kau berada dalam posisi terjepit sekarang. Jangan kecewakan Emakmu, Karim. Kau harus lulus. Tanggalkan idealismemu itu. Buka catatanmu, seperti yang dilakukan teman-temanmu.

Karim melirik ke sebelah kanan. Ia lihat Rani sedang membalik-balikkan contekan yang ditulisnya di kertas tisu. Cara itu sudah dilakukan Rani bertahun-tahun. Rani adalah teman sekelas Karim sejak SMP dan Rani selalu menjadi juara kelas. Karim kemudian melirik esebelah kiri. Ia lihat Adnan juga sibuk dengan buku cetakan bahasa Indonesia yang diselipkan di balik bangku. Sesekali ia keluarkan buku itu, ia buka lembarannya, kemudian tersenyum puas karena menemukan jawaban.

”Jawaban nomor 10 apa?” tiba-tiba Ruli yang duduk di belakang Karim berbisik dengan pelan. Karim membaca lagi soal nomor 10. Pertanyaan; siapa pengarang Novel Olenka? Ada lima pilihan jawaban. (a) Sutan Takdir Alisyahbana. (b) Budi Darma. (c) Pramoedya Ananta Toer (d) Taufik Ismail (e) Ayu Utami. Tapi Karim menggelengkan kepala tanda tidak tahu.

Sebenarnya Karim sudah menandai huruf pada lembar jawaban miliknya. Tapi ia merasa tak yakin kalau jawabannya benar. Karim menjawab C. Karena tak mau menjerumuskan Ruli, Karim sengaja menjawab tidak tahu pada Ruli.

Jangan berjudi dengan nasib, Karim. Kau harus cari tahu jawaban yang benar di catatanmu itu. Bukalah contekanmu, jangan sungkan.

”Waktu tinggal 30 menit lagi,” Suara Bu Ratmi, pengawas ruang D memecah keheningan. Serentak siswa berseru huuuuuuuuuuu.......huuuuuu....! atas pemberitahuan itu.
Karim melihat lembar jawabannya lagi. Hanya ada 20 soal yang berhasil ia jawab. Dan hampir kesemuanya tidak seratus persen benar. Karim hanya menduga-duga saja ketika menjawab soal tersebut.

Aku tak boleh menyerah. Karim harus juga seperti kawan-kawan lainnya. Maka segera kuseret ingatan Karim pada Pesan Emak ketika berangkat ujian tadi pagi. ”Ingat, Nak. Kau harus lulus. Biar ringan beban emak. Adikmu sebentar lagi masuk SD. Dan kau tahu bukan biaya sekolah saat ini tidak murah. Jika kau tinggal kelas, emak tak sanggup membayar uang sekolah kalian berdua nantinya.”

Camkan pesan Emakmu, Karim. Camkan. Tidakkah kau ingin jadi anak yang berbakti? Kalau ingin, segera ambil catatanmu dan menyonteklah. Bukan perbuatan dosa, Karim. Lihat semua kawan sekelasmu melakukannya. Sudah jadi kebiasaan umum, Karim. Hanya untuk menyelamatkanmu dari ketidaklulusan. Dengan kata lain, salah satu cara membantu orang tua, Karim. Ayo lakukan, waktumu terbatas!

Karim akhirnya luluh. ”Aku harus lulus,” batinnya. Pelan-pelan diambilnya selembar cacatan di Saku celana sebelah kiri. Ia ingat, ada jawaban nomor 21 hingga 25 di catatan itu. Segera ia selipkan dalam lembar soal. Ia kemudian membacanya dengan hari-hati. Dan benar. Jawaban dari Pertanyaan; siapa pengarang kumpulan cerpen Godlob? Apa persaman kata definisi? Sebutkan nama asli penyair Widji Thukul? Siapa pengarang Ronggeng Dukuh Paruk? Dan sebutkan salah satu judul Tertalogo Pulau Buru Pramodya Ananta Toer? Ada di catatan itu. Karim girang alang kepalang. Keringat dingin yang baru saja bercucuran karena takut kini berubah menjadi keringat tantangan.

Aku tertawa ngakak. Karim yang alim dan teguh pendiriannya itu akhirnya luluh. Tidak sia-sia aku menelusup dalam dadamu, dalam aliran darahmu dan diberi kesaktian menjelma dan menirukan suara orang-orang terdekatmu Karim. Orang miskin seperti kau rupanya takut akan kegagalan. Ha.....ha.......ha.......ha...... teruskan Karim, terus mencontek. Kau telah berbakti pada Ibumu. Ibumu akan bangga dengan nilai ujianmu meski hasil dari mencontek. Ayo Karim, waktu sudah hampir habis.
”Waktu kurang 10 menit lagi,” Bu Ratmi kembali bersuara.

Karim semakin tegang. Masih tersisa 15 soal yang belum dijawab. Tapi Karim ingat soal nomor 35-40 ada di catatan yang ia selipkan di kaos kakinya. Tapi Karim belum bisa mengambilnya. Karena Bu Ratmi masih mondar-mandir mengawasi murid-muridnya. Setelah melewati bangkunya, Karim langsung mengambil catatan tersebut dan membacanya dengan hati-hati.

”Apa dibalik lembaran soal itu, Karim? Keluarkan!” tiba-tiba Bu Ratmi berbalik arah. Rupanya ia sudah mengawasi gerak-gerik Karim yang mencurigakan dari awal.
Kali ini Karim tak bisa mengelak. Ia tertangkap basah mencontek. Karim pasrah. Airmatanya meleleh ia ingat emak di rumah. Yang sudah menunggu dengan masakan kesukaannya sayur bayam, sambal garam cabe dan telor dadar.

”Nek, apakah Karim kemudian bisa lulus sekolah?,” tanya Fesha pada Neneknya
”Di negeri dongeng semua bisa terjadi cucuku,” jawab neneknya sambil memeluk erat cucu semata wayangnya itu.

***
(CERPEN ini dimuat di Majalah ANNIDA, edisi Agustus 2009.)

Tentang Penulis
Edy Firmansyah adalah penulis lepas.

Jumat, 28 Agustus 2009

Membumikan Puasa Ramadhan

Oleh: Edy Firmansyah
(Peneliti Muda pada IRSOD (Institute of Reaseach Social Politic and Democracy), Jakarta)

Banyak orang sering menyebut Ramadhan sebagai ujian bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan dan keberagamaannya. Karenanya miliaran pemeluk Islam di dunia menyambut kedatangan bulan suci yang penuh berkah ini dengan berbagai cara dan tradisi. Pasalnya, janji Tuhan bagi mereka yang dianggap lulus akan mendapatkan paket ‘bonus’ pahala di bulan Ramadhan yang nilainya lebih hebat dari ibadah seribu bulan (80 tahun) dan berhak menyandang gelar manusia yang fitri. Tentu saja sebagai ujian, Ramadhan menjadi tolok ukur peningkatan kualitas keberagamaan kita pada bulan-bulan berikutnya.

Menurut Gordon W. Allport, seorang psikolog—sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat, setidaknya ada dua cara manusia beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukannya untuk kehidupan, Something to use and not to live. Orang yang beragama dengan cara ini memang melaksanakan hampir semua ritual agama: salat, puasa, zakat, bahkan naik haji—tapi tidak di dalamnya, melainkan di bagian kulitnya yang paling luar.

Lain halnya dengan manusia yang beragama secara intrinsik. Cara beragama seperti ini lebih substansial, lebih ke dalam, agama menjadi faktor pemadu. Ia menghujam dalam aras kehidupan yang manusiawi. Inilah barangkali yang disebut Jalaluddin Rakhmat sebagai “Islam Aktual” yang coba bertarung hidup-mati melawan ganasnya kelaliman. Ia melawankan “Islam Aktual” ini dengan istilah “Islam Konseptual” yang tidak bisa ngapa-ngapain ketika berhadapan dengan realitas. Tegasnya, ibadah bagi manusia yang beragama secara intrinsik tidak sebatas menjalankan ritual semata. Lebih dari itu beribadah merupakan manifestasi keberagamaan yang mampu membangun kesalehan sosial (social piety) yang berdampak pada orang lain. Kesalehan sosial ini yang oleh Tuhan akan dinilai sebagai bentuk lain dari iman seseorang. Iman seseorang yang layak disisi Tuhan adalah mampu membebaskan manusia lain dari penindasan sesamanya atau minimal membebaskan diri sendiri dari penindasan.

Sayangnya tak sedikit umat Islam yang menganggap ibadah puasa dibulan Ramadhan hanyalah sekedar ibadah ekstrinsik, yakni sekedar menggugurkan kewajiban. Dalam hal puasa, mereka berlapar-lapar di siang hari, tidak melakukan hubungan seksual suami-istri, tidak berkata kotor namun tak mampu memaknai kurang mampu menggali nuansa religius secara mendalam pada bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan hanya jadi ajang menumpuk-numpuk pahala individualistik. Sehingga jangan mengharapkan cara beragama seperti ini melahirkan realitas hidup yang manusiawi. Yang lahir justru watak individualistik yang penuh dengan patologi sosial; irihati, kebencian, dan segala bentuk banalitas lainnya.

Makanya tak heran ketika sebuah ibadah hanya dimaknai sekedar ritual semata, ia mudah dikapitalisasi pemilik modal hanya sekedar untuk mendulang uang dan memperlancar arus produksi barang yang sengaja dibungkus pesan-pesan religius. Indikasinya setiap kali menjelang Ramadhan atau pada awal-awal Ramadhan yang dikunjungi pertama kali oleh umat Islam adalah pusat-pusat perbelanjaan.

Tak cukup disitu. Industri pertelevisian, juga mulai mengkapitalisasi dawah agama dengan menyajikan tayangan sinetron hingga reality show dengan nuansa religius selama Ramadhan. Umat Islam seakan dibius bahwa Ramadhan hanya untuk menahan hawa nafsu pribadi. Karena itu daripada keluar rumah sebaiknya menonton tv. Sehingga hakekat dari Ramadhan nyaris tak tersentuh. Kapitalisme telah menggiring manusia untuk menjalankan keagamaan secara individualistik, menumpuk-numpuk pahala, bahkan menguasai tuhan untuk diri sendiri, serta menutup peluang bagi orang lain untuk mendapatkan posisi serupa.

Karenanya jangan heran jika ada segolongan/sekelompok muslim yang menyongsong bulan suci Ramadhan dengan melakukan sweeping, termasuk men-sweeping warung yang buka siang hari, diskotik, hotel dan PSK yang kebetulan masih mangkal karena tidak punya ongkos pulang kampung. ironisnya fenomena tersebut terjadi hampir setiap tahun. Sehingga seakan-akan tindakan sweeping tersebut sah dilakukan demi menyambut bulan suci yang penuh berkah ini.

Dan yang lahir ketika ramadhan usai tentu saja lenyapnya kemanusiaan. Sudah berpuasa lebih dari 50 kali, tapi prilaku sosialnya tidak menunjukkan makna taqwa. Banyak pejabat, anggota pegawai, pemuka agama yang berpuasa sebulan penuh tapi prilaku korupnya, banalnya, penyalahgunaan kekuasaan dan watak penindasnya semakin membabi buta. Itu semua akibat keberpuasaan dan keimanannya dijalankan sebatas mencari pahala menghindari siksa.

Padahal tujuan ideal dari ibadah puasa ialah penumbuhan kesadaran kemanusiaan sekaligus kesadaran spiritual ilahiah. Kesadaran kemanusiaan adalah kunci bagi tumbuhnya kesadaran duniawi dan kepekaan sosial rohani. Kesadaran kemanusiaan adalah jalan mencapai kebebasan bendawi dan ego pribadi. Tegasnya ritual ibadah puasa (juga ibadah lainnya) lebih bersifat intrinsik daripada ekstrinsik. Secara intrinsik sejatinya puasa merupakan kritik kemanusiaan dan kritik pada praktik kehidupan duniawi yang tidak adil. Karena itu diturunkannya ibadah puasa untuk manusia adalah membangun keberpihakan kaum kaya dan berpunya terhadap kaum mikin dan tertindas. (Mulkhan, 2007). Inilah barangkali yang disebut Jalaluddin Rakhmat sebagai “Islam Aktual” yang coba bertarung hidup-mati melawan ganasnya kelaliman. Ia melawankan “Islam Aktual” ini dengan istilah “Islam Konseptual” (keberagamaan ekstrensik yang tidak bisa ngapa-ngapain ketika berhadapan dengan realitas).

Itulah mengapa puasa jauh lebih bermakna dan diwajibkan bagi mereka yang mampu (kaya dan mapan secara material) daripada kepada kaum miskin tertindas. Tujuannya untuk menghancurkan watak banal dan ego kapitalistik dalam pikiran kaum kaya. Bagi kaum miskin, berpuasa telah sering dilakukan bahkan sebelum ramadhan datang mereka telah terbiasa bekerja mencari makan dengan perut lapar. Memaksa kuli kasar, buruh angkut, tukang becak berpuasa berarti memaksa terjadinya penurunan produktivitas kerja yang berimbas pada pengurangan upah (gaji), dimana upah penuh mereka barangkali hanya 1 % persen dari gaji pejabat.

Perlu diketahui bahwa angka kemiskinan di Indonesia belum membaik. Hingga Juni 2007, angka kemiskinan masih berada pada angka 37,17 juta atau 17,75 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu angka pengangguran terbuka hingga Juni 2007 berkisar pada angka 10,6 juta orang (9,8 persen). Dan angka ini relatif belum banyak berubah dari angka tahun 2005. Kondisi diatas semakin diperparah dengan adanya krisis global yang juga menerpa Indonesia. Imbas dari semua ini adalah PHK pekerja menjadi peristiwa yang tak terelakkan. Angka pengangguran juga melonjak drastis. Imbasnya tentu saja jumlah masyarakat miskin akan semakin meningkat. Kondisi ini semakin diperparah dengan perilaku korup para pejabat, tidak peduli orang lain, dan penyalahgunaan kekuasaan yang terus meningkat.

Kondisi diatas jelas amat berbahaya. Bukankah dalam hadist telah disebutkan bahwa kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran. Dan kufur dalam hal ini bukan saja merupakan sikap berpaling pada keesaan tuhan tetapi juga berpaling pada kemanusiaan. Seperti misalnyanya melakukan kekerasan dan anarkisme sebagai bentuk eskapisme sosial sebagai wujud ketidak mampuan mendorong perubahan ekonomi-politik di pusat kekuasaan.

Karena itu manusia berpunya yang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa adalah ketika segala aktivitas hidupnya usai menjalankan ritual puasa (atau ditengah-tengah menjalankan puasanya) ditujukan untuk kepentingan publik, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Kaum kaya mampu menghancurkan watak banal dan feodal-kapitalistiknya dalam dirinya menjadi kekuatan berlawan untuk kesejahteraan kaum tertindas. Kebahagiaan sejati bukan dengan menjadi miskin tetapi bagaimana menggunakan harta dan kekuasaan untuk membela kaum tertindas. Sedangkan puasa bagi mereka yang menderita akibat kemiskinan untuk tidak menyerah melakukan perubahan secara massif. Karena sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Ar-ra’du; 21; Tak akan berubah nasib suatu kaum jika ia sendiri tidak merubahnya. Inilah momentum untuk membangun Islam secara kaffah dan proses menjadi manusia yang fitri. Walluhu a’lam.

(Artikel ini Dimuat di Harian Radar Surabaya, 27 Agustus 2009)

Minggu, 26 Juli 2009

Prostitusi Madura Pasca Suramadu

Oleh: Edy Firmansyah

Dalam sebuah conference chat dengan beberapa kawan di YM, seorang kawan, sebut saja M bertanya; bisnis apa yang prospek di madura pasca suramadu? Saya yang memang tidak paham soal bisnis kontan saja bingung menjawab pertanyaan itu. Tapi entah otak saya sedang ngeres atau apa tiba-tiba saja saya menjawabnya; bisnis perempuan.

Semua kawan saya yang kebetulan ikut dalam conference kala itu tertawa ngakak. Kawan saya yang lain kemudian komentar; “Prostitusi? Di Madura? Seperti akan sulit karena akan diobrak-abrik ormas Islam. Madura khan serambi madinahnya Indonesia? Lagipula pemerintah daerah dan masyarakat tidak akan tinggal diam. Madura harus bersih dari prostitusi.” begitu ujarnya.

Tentu saja pendapat kawan saya itu tak sepenuhnya benar. Benar memang Sebelum suramadu rampung aksi bersih-bersih tempat-tempat pengumbar syahwat kerap dilakukan Pemkab. Madura. Di tiap-tiap tindakan penertiban selalu saja ada PSK (pekerja seks komersial) yang terjaring.

Namun bukan berarti Madura sepenuhnya bebas prostitusi. Toh, disetiap aksi penertiban selalu ada PSK yang terjaring. Artinya, dunia lendir di madura sudah ada jauh sebelum Suramadu dioperasikan. Pemerintah daerah tak menampik hal itu. Hanya saja menurut mereka prostitusi di Madura hanyalah prostitusi musiman. Bahkan seorang anggota dewan di Pamekasan mengatakan praktek prostitusi hanyalah persoalan tahunan. Praktek syahwat itu marak ketika musim panen tembakau tiba. Di Pamekasan misalnya, setidaknya ada 12 titik rawan yang kerap menjadi tempat prostitusi. Diantara 12 titik itu adalah kecamatan Larangan, Batumarmar, dan Galis. Namun ke-12 titik itu baru beroperasi dan ramai ketika musim tembakau tiba.

Namun menurut laporan Pemkab para PSK yang ada di madura bukan orang madura asli. Umumnya para PSK yang datang ke pulau garam ini berasal dari luar Madura. Seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi dan ada pula yang mengaku dari Surabaya. Pandangan ini cukup bisa diterima. Pertama, sudah menjadi hukum besi sejarah bahwa prostitusi selalu berkelindan erat dengan perkembangan ekonomi masyarakat. Tiap musim panen termbakau tiba, perputaran uang di Madura begitu cepat. Musim panen tembakau di madura ibarat sebuah kenduri. Setiap usai musim tembakau seakan ada budaya konsumsi yang sengaja dipertahankan. Masyarakat desa berbondong-bondong membeli barang dan emas dari hasil laba panen. Meskipun dari tahun ke tahun harga tembakau madura terus anjlok, toh budaya konsumsi itu tak surut. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan PSK luar madura. Logika ada gula ada semut bergerak di sini.
Tentu saja PSK musiman yang datang ke Madura bukan PSK paling top di luar Madura. PSK yang masih laris ketika berpraktek di Jawa tak akan sudi meninggalkan tempat prakteknya hanya sekedar mencari pangsa pasar yang baru dan tak jelas peruntungannya. Artinya, mereka yang menjual birahi ke madura hanyalah pekerja seks yang kalah bersaing di Jawa. Sebuah persaingan kerja yang biasa dalam upaya merebut pasar. Saya menyebut persaingan kerja karena PSK bisa dikategorikan sebagai sebuah kerja. Dalam dunia prostitusi prasyarat untuk disebut sebuh kerja cukup terpenuhi. Ada profesionalitas, disiplin, skill dan pengalaman yang mumpuni untuk menjadi PSK favorit dan ‘sukses”. Karenanya wajar jika kemudian terjadi persaingan.

Disamping itu, dari tahun ke tahun angka prostitusi terus meningkat seiring dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok dan imbas krisis global yang menimpa Indonesia. Ambil contoh lokalisasi Dolly. Dari tahun ke tahun lokalisasi terbesar di Indonesia terus melonjak PSK-nya. Pada tahun 1991-1992 di lokalisasi ini hanya terdapat 1.200 pekerja seks. Pada tahun 1997, angka tersebut bertambah menjadi 2.500 orang. Bahkan pada tahun 2001, pekerja seks di Dolly sudah mencapai 3.060 orang. Para pekerja seks itu tersebar di RW VI dan RW XII (gang dolly) dan wilayah RW III dan RW X (gang Jarak) (Kadir, 2007). Tentunya pelonjakan itu terjadi pula pada PSK-PSK yang tidak terlokalisir. Bahkan kemungkinan peningkataban jumlah PKS ‘liar’ ini jauh lebih pesat dari PSK di lokalisasi.

Karena itu terlalu berlebihan jika prostitusi di Madura hanyalah gelaja musiman. Dunia esek-esek tak mengenal musim. Ia hadir seiring dengan desah nafas manusia. Ia akan terus hadir, entah dengan cara mengendap-endap tersembunyi atau dengan terang-terangan. Laporan mengenai aktivitas perempuan bispak yang sempat diturunkan media lokal di Madura beberapas waktu lalu semakin mempertegas langgengnya prostitusi di pulau garam. Ini belum termasuk perempuan-perempuan yang menjadi simpanan pejabat hingga PSK-PSK yang disediakan hotel.
***
Prostitusi tidaklah asal jadi. Tak ada manusia yang bercita-cita menjadi pelacur sejak lahir. Praktek jual beli vagina ini adalah produk ketimpangan sosial-ekonomi masyarakat. Semakin timpang kehidupan masyarakat maka praktek-praktek lendir ini akan semakin marak bak jamur di musim hujan. Tak ada tempat yang bebas dari prostitusi. Di Acehpun yang mengusung syariat Islam, prostitusi jadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bahkan di Arab, tempat manusia menunaikan ibadah haji, praktek prostitusi tak kalah liarnya.

Namun saya hanya mengulai prostitusi di Nusantara. Sudah sejak zaman feodal prostitusi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Praktek perbudakan (jual beli manusia) misalnya. Para tuan tanah kerap mencari budak-budak perempuan yang rupawan, bukan hanya untuk diperas tenaganya, tetapi juga untuk disetubuhi. Praktek ini terus berlanjut dalam masa kerajaan-kerajaan. Meski masa feudal beberapa perbudakan mulai dihapuskan, tetapi para raja-raja masih gemar memelihara selir yang diambil dari perawan-perawan desa. Cerita Gadis Pantai karya Pramodya Ananta Toer adalah secuil cerita suram tentang eksploitasi perempuan. Gadis pantai dipinang seorang bangsawan. Sebenarnya ia tidak mau. Tetapi karena desakan orang tuanya agar bisa memperbaiki nasib (dari kehidupan yang miskin menjadi bisan seorang bupati) gadis pantai berangkat juga. Tegasnya ia ‘dijual. Ia dijadikan ‘nyai’ hanya untuk melampiaskan nafsu birahi bangsawan tersebut sembari menunggu dan mencari perempuan yang sederajat (yang juga keturunan darah biru) hadir dalam kehidupannya dan menjadi pendamping sejatinya. Ketika perempuan bangsawan itu hadir dan gadis pantai melahirkan anak perempuan, ia dicampakkan. Diusir dari rumah ‘tuannya’ tanpa membawa anaknya.

Beberapa perempuan yang mengalami kasus seperti gadis pantai tak pernah kembali ke rumahnya. Mereka merantau ke daerah lain dan hidup menjadi pelacur. Beberapa yang lainnya memilih bunuh diri. Peristiwa ini tak berhenti sampai di sini, ketika zaman kolonial praktek perlontean atas nama selir semakin marak. Para colonial tersebut rupanya tertarik dengan cara raja-raja Jawa (juga madura) melampiaskan syahwat. Maka pada gubernur dan pejabat VOC berbondong-bondong memelihara selir dan mencampakkannya ketika sudah bosan. Tak sedikit para orang tua yang tergiur untuk naik kelas dengan menjual putri-putrinya sendiri. Kondisi ekonomi membuat masyarakat miskin semakin tega mengorbankan perawan-perawannya untuk memperbaiki nasib. Praktek perlontean atas nama selir inilah yang kemudian memarakkan produksi jamu dan obat kuat tradisional. Jamu Madura salah satu obat kuat yang terkenal di zaman kolonial sebagai doping alami untuk bersenggama. Dari sini bisa ditarik benang merah bahwa praktek perlontean dengan selubung selir juga marak di Madura kala itu.

Perdagangan di Nusantara kian pesat. Hindia Belanda menjadi pusat perdagangan internasional paling ramai. Banyak pedagang yang datang dan menetap untuk sementara di nusantara. Tersebar dari maluku, jawa hingga madura. Rata-rata para pedagang ini adalah para bujangan, atau meskipun beristri, istri dan anak-anaknya mereka tinggal di eropa. Tentu saja para pedagang itu sangat butuh pelampiasan birahi. Maka VOC kemudian mulai membangun lokalisasi-lokalisasi. Lokalisasi tersebar hampir disemua wilayah jajahan Belanda. Termasuk Madura. Awalnya para PSK itu adalah selir-selir yang dicampakkan tuannya itu. Tetapi kemudian karena masyarakat mulai melihat bahwa kehidupan para pelacur di lokalisasi itu kian baik, tak sedikit masyarakat miskin yang tergiur. Maka, tak sedikit penduduk yang sengaja menjual istrinya sendiri dalam lokalisasi itu untuk memperbaiki nasib. Disini jelas bahwa pelacuran berkelindan erat dengan kondisi ekonomi.

Praktek prostitusi paling parah terjadi di zaman penjajahan jepang. Sudah bukan rahasia umum lagi jika tentara-tentara kerap membutuhkan perempuan-perempuan untuk melampiaskan syahwat. Dan biasanya perempuan-perempuan negeri jajahan yang dijadikan ‘tumbalnya.’ Jugun Ianfu. Itulah sebutan bagi perempuan-perempuan yang dijadikan pelacur di zaman jepang. Cara tentara jepang menjebak perempuan-perempuan cantik masuk dalam praktek prostitusi sungguh licik. Ia menyebar pamplet, brosur dan memberikan pengumuman-penguman melalui pengeras suara bahwa sebagai saudara tua pemerintah Jepang akan membalas jasa dengan menyekolahkan para perempuan-perempuan nusantara ke Jepang dan eropa. Maka, berbondong-bondonglah para perempuan nusantara mendaftar. Tak sedikit anak-anak bupati dan kepala desa turut serta. Tapi janji itu bohong belaka. Para perempuan itu diangkut ke kamp-kamp lokalisasi untuk dijadikan pemuas nafsu tentara jepang. Ketika Jepang kalah perempuan-perempuan itu dibuang ke pulau buru(selengkapnya, baca “Perempuan dalam Cengkraman Militer, Pramodya Ananta Toer, 2001). Sementara yang berhasil lolos terus menjadi pelacur karena merasa hidupnya tak lagi berharga sebagai perempuan ‘terhormat.’

Pasca kemerdekaan Indonesia, pertumbuhan tempat-tempat pelacuran semakin meningkat seiring dengan gonjang-ganjing ekonomi seperti melonjaknya harga minyak dunia yang di Indonesia dikenal dengan bonanza minyak, semangat revolusi hijau dan paham pembangunanisme orde baru. Di era reformasi dunia pelacuran tidak kian surut, malah kian marak dan kompleks. Buku Jakarta Undercover Cover, Memoar Emka adalah sedikit fakta betapa kompleksitas dunia pelacuran.
***
Jembatan Suramadu resmi dioperasikan. Kedepan, Madura pasca suramadu akan semakin berkembang pesat menjadi, tak hanya wilayah agraris, tetapi secara bertahap menjadi sebuah wilayah industri yang massif. Sawah-ladang yang menghampar di sebagian besar wilayah Madura akan disulap menjadi daerah-daerah industri. Bahkan di kawasan sekitar suramadu di sisi madura akan dijadikan area pariwisata. Suka tidak suka masyarakat Madura yang rata-rata memiliki ketrampilan bercocok tanam dan beternak harus bersaing dengan masyarakat industri. Disinilah akan terjadi kontradiksi ekonomi. Industrialisasi yang membutuhkan tanah yang luas untuk membangun pabrik-pabrik dan gudang-gudang baru dengan segala cara akan menggeser peran masyarakat atas tanah sawah kedalam sebuah kerja-kerja pabrik. Para pemilik sawah yang tergiur dengan harga tanah dan investasi barang tak bergerak yang cenderung melonjak berlomba-lomba merebut tanah pertanian untuk pabrik dan real estate. Para petani penggarap dipaksa masuk dalam kerja-kerja industri, ia dipaksa menjual tenaga mereka (karena tidak miliki lagi keterampilan selain kekuatan ototnya); menjadi buruh.

Tentu saja kondisi ekonomi buruh tak sebaik kehidupan ketika menjadi petani penggarap. Maknanya sebenarnya sama saja; menjual tenaga. Artinya, kabut kemiskinan masih akan terus menyelimuti sebagian besar masyarakat madura. Ditengah harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi, harga pendidikan semakin tak terjangkau serta biaya kesehatan yang nyaris tak tersentuh keluarga miskin, memaksa perempuan-perempuan sawah keluar rumah, mengadu nasib untuk menopang biaya hidup keluarga.

Namun karena rendahnya daya saing perempuan sepertinya minimnya ketrampilan kerja, pengalaman dan koneksi, membuat tak sedikit dari mereka harus gagal masuk ke sektor formal. Kegagalan itulah yang kemudian menggiring banyak perempuan masuk dalam dunia lendir.

Karena itu menyelesaikan masalah pelacuran tidak cukup hanya dengan razia dan penertiban belaka. Tindakan represif semacam itu ibaratnya mencabut rumput di pekarangan rumah. Mungkin dalam sehari pekarangan rumah bisa bersih karena rumputnya dipotong dan dicabuti. Tetapi ia akan muncul lagi, karena akar-akarnya masih menghujam jauh dalam tanah. Karena itu mungkin harus dipikirkan pula lokasi yang strategis untuk lokalisasi di pulau madura. Suka tidak suka prostitusi akan jadi warna tersendiri bagi masyarakat madura pasca suramadu. Keteguhan religi dan spiritual masyarakat Madura semakin diuji dengan maraknya prostitusi pasca suramadu. Disini saya hendak menegaskan, bahwa langkah represif menangani pelacuran hanya akan menciptakan perlawanan.

Disamping itu Harus terus dipikirkan upaya-upaya perbaikan ekonomi masyarakat yang progresif dan adil untuk rakyat. Semakin kecil jarak ketimpangan ekonomi, semakin kreatif masyarakat. Sehingga semakin tipis untuk terjerembab dalam dunia syahwat. Bukankah ada hadist yang mengatakan kemiskinan lebih dekat dengan kekufuran? Maka tak ada jalan lain selain mengambil kebijakan-kebijakan pro rakyat dalam perbaikan ekonomi. Karena pelacuran memang berkelindan erat dengan upaya bertahan hidup. Makanya jangan heran jika, Sari (bukan nama sebenarnya), PSK di Jember, yang mengaku asal pamekasan kerap mengusapkan uang yang dibayarkan laki-laki hidung belang pertama yang ‘memakainya’ ke payudara dan vaginanya sambil berucap; “penglaris….penglaris.”

Saya memang tak jadi menurunkan penjelasan saya yang panjang ini pada kawan-kawan chat saya. Karena saya lihat diskusi memang berlangsung tidak serius. Malah salah satu kawan saya nyeletuk; “Kalau memang nantinya ada lokalisasi besar di Madura sebesar Dolly, kau sebaiknya juga ikut jadi Germo saja.”



Madura, 23-25 Juli 2009