WAKTU

JEDA

Kamis, 18 Februari 2010

LELAKI DI WARUNG ES CAMPUR

LELAKI Di WARUNG ES CAMPUR
Cerpen: Edy Firmansyah

Lelaki itu menghempaskan pantatnya di kursi paling ujung sebuah warung es campur. Matahari sedang ganas-ganasnya siang itu. Lidah apinya tak hanya menjilat-jilat kulit tubuh dan muka hingga memerah dan membuat pori-pori menganga. Air di seluruh tubuh seakan menguap tak tersisa. Begitu kering. Begitu dahaga.

“Es campur satu bang!” teriak lelaki itu sembari mengacungkan telunjuknya ke udara. Si penjual es campur mengangguk tanda mengerti. Lalu memulai tugasnya; meracik semangkuk es campur untuk lelaki itu.

Sembari menunggu pesanannya datang, lelaki itu menatap jalan yang masih dipenuhi puluhan demonstran dari salah satu organisasi Islam. “Begitu kuat orang-orang yang rata-rata berpeci dan berpakaian putih itu. Matahari begitu teriknya, tapi mereka masih penuh semangat berorasi dan berteriak-teriak menyebut namaNYA. Sementara aku yang sedari tadi duduk di pinggir jalan, dibawah pohon rindang, toh akhirnya takluk juga dihajar panas yang ganas ini” batinnya.

Tiba-tiba lamunan lalaki itu pecah. Sekitar enam demonstran tiba-tiba berdiri di depan warung es campur itu. Salah seorang demonstran bersurban dengan mengaphone putih tiba-tiba berorasi; “Jalan kalian terbujuk oleh nafsu setan dengan membeli majalah-majalah porno. Majalah yang mengumbar syahwat. Bacaan yang melenakan maksiat adalah bacaan syetan dan merusak iman. Gambar-gambar perempuan telanjang dan mekbuat merangsang adalah dosa besar. Baik si perempuan yang dengan sengaja mengumbar kemaluannya maupun laki-laki yang dengan sengaja menenggelamkan diri dalam birahi ia di akherat nanti akan dirajam kemaluannya dengan besi membara. Dan seluruh tubuhnya akan dijilat-jilat api neraka,”

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” pekik demonstran yang lain.

Lelaki itu tiba-tiba kaget bukan kepalang. Saking kagetnya ia nyaris meloncat dari kursi. Ia kaget bukan lantaran takbir yang diteriakkan para demonstran itu. Baginya kalimat takbir bukanlah slogan asing. Lagipula ia bukanlah seorang muallaf seperti kisah-kisah hikayat arab, yang tiap mendengar namaNYA, hatinya langsung bergetar. Sepanjang hidupnya hingga ia paruh baya begini, takbir telah jadi kredo. Ia lahir dari keluarga yang taat beragama. ayahnya, meski tak pernah membaca qur'an setiap malam, hafal betul surah yasiin. dzikir sehari-hari sang ayah adalah shalawat nuriyah. " Tak ada dzikir paling ampuh selain shalawat pada nabi," pesan ayahnya tiap kali ia pulang kampung. Sementara ibunya adalah guru ngaji. suara sang ibu merdu sekali ketika melantunkan ayat-ayat suci. "Waktu muda aku selalu juara tilawatil qur'an tingkat kabupaten," cerita sang ibu.

Namun dalam beberapa tahun ini, ia sedang mempertanyakan tuhan. lelaki itu kecewa sebab hidupnya sebatang kara dan terlunta-lunta sekarang. anak semata wayangnya, Imah, yang baru berusia 3 tahun, mati, tersiram kuah bakso dari gerobaknya sendiri saat razia PKL. Gerobaknya terjungkir ketika ia mencoba mempertahankan gerobaknya agar tak diangkut ke truk Sat Pol PP. Anak semata wayangnya itu yang bercita-cita jadi guru itu meregang nyawa dipelukannya dalam perjalanan ke rumah sakit. 90 persen tubuhnya melepuh terpapar kuah panas. dan dikala penindasan itu terjadi dimana tuhan? Tak ada yang menolongnya. negara pun tidak. nyawa anaknya hanya dihargai 15 juta. oh, betapa murahnya harga sebuah nyawa.

Penderitaannya berlanjut. istrinya, Ipeh, akhirnya mati beberapa bulan setelah Imah meninggal. Ipeh stess berat setelah anaknya meninggal. ia kemudian gantung diri di kamar mandi umum, tempat ia biasa mencuci pakaian. dan tuhan, dimana tuhan? tuhan tak pernah mencegah istrinya. juga tuhan tak pernah ada ketika ia ditangkap dan diinterogasi intel karena memimpin demo menolak penggusuran PKL. ia disiksa, disetrum, diludahi, harga dirinya sebagai manusia ditelanjangi. tiap kalimat takbir yang iya ucapkan tiap kali menahan sakit siksa interogasi dijawab sinis para penyiksa itu;

"Sebut saja sampai kau mati juga nggak bakal ada yang menolong!"

Sejak itulah, bahkan setelah dilepaskan aparat, ia mulai mempertanyakan tuhan. Barangkali bagi kebanyakan orang bertanya soal dzat yang serba maha itu adalah suatu yang tabu. "haram hukumnya. bisa-bisa musyik," itu kata para pendakwah dan guru ngajinya. tapi ia tak peduli. hampir separuh catatan harian-nya akhir-akhir ini yang rutin ia isi sejak kematian keluarganya selalu bermuara pada dua pertanyaan besar; pertama, siapa yang menciptakan saya? hingga saat ini ia belum menemukan jawaban yang tepat yang bisa diterima nalarnya. Sebab ketika pertanyaan pertama itu dijawab dengan Tuhan, maka muncul pertanyaan kedua; siapa yang menciptakan Tuhan?

"Itu pertanyaan bodoh! kau hanyalah patung, sementara tuhanmu adalah pematung. patung memiliki keterbatasan. sementara pematung memiliki kebebasan," ujar kawannya suatu kali ketika lelaki itu sempat curhat pada karibnya.

Lelaki itu memang sempat cekikikan dalam tekstasi karena komentar kawannya itu. analogi kawannya yang menyamakan manusia sebagai patung jelas melukai nalarnya. Patung adalah benda mati yang tak memiliki syarat apapun untuk mempertanyaan tuannya. sementara manusia adalah mahkluk berpikir yang bisa kapan saja menanyakan tu(h)annya. toh karibnya sendiri itu yang--entah dengan alasan apa--menganalogikan manusia sebagai patung, tak pernah hidup sebagai patung dalam sedikit dan banyak hal. karib lelaki itu melancong ke Jakarta dari kampung halamannya di Madura untuk tak sekedar bertahan hidup secara ekonomis. ia malah menegaskan dirinya sebagai; calon enterpeunership. ia berdagang. dan patung jelas-jelas tak bisa melakukan itu. hewanpun juga tak akan berdagang untuk bertahan hidup. Hanya manusia yang bisa. Malah bisa menggugat bahkan memberontak. Pun manusia bisa menjadi tuhan.

"Manusia jelas tidak sama dengan tuhan," ucap karibnya yang lain suatu kali di sebuah warung kopi.

"Aku katakan menjadi. bukan sama dengan. kedua kata itu berbeda. kata menjadi menunjuk pada proses dan bukan hasil. jadi, manusia berproses menjadi tuhan. syaratnya ada dua; ia mau dan mencari! seperti yang dilakukan para sat pol pp yang membunuh anakku dan yang dilakukan aparat ketika menyiksaku. mereka menjadi tuhan," debatnya pada karibnya.

"Barangkali tuhan memang tak ada, wahai lelaki? ya. barangkali. segala seuatu yang ada di langit dan dibumi pasti mempunyai sebab. dan kalau kita bergerak mundur pada mata rania sebab kita pasti sampai pada sebab pertama, dan sebab pertama itu dinamai tuhan. namun jika segala sesuatu mempunyai sebab, maka tuhan juga harus mempunyai sebab. jika segala sesuatu ada tanpa sebab, ia jelas sebuah kepalsuan yang dibuat-buat." begitu tulis lelaki paro baya itu di buku hariannya.

Ia kaget juga bukan lantaran ancaman neraka disebut berkali-kali dalam demo itu bagi manusia-manusia yang durhaka. Bagi lelaki itu dokrin neraka adalah sebuah dokrin tentang kekejaman. kekejaman didunia yang sengaja diturunkan dan menjadi warisan bagi seluruh manusia beragama. Bukankah kebanyakan kaum beragama menindas? Sungguh tidak bisa dikatakan tuhan dan agama sebagai jawaban atas ketidakadilan dimuka bumi ketika ia melanggengkan hukuman neraka yang keji. dibiarkan manusia dalam dua jurang yang berbeda; surga dan neraka. sementara mereka yang dineraka berteriak kesakitan, merintih, mengaduh, memuncratkan darah. Sedangkan yang lain bersenang-senang, minum anggur dan arak (yang didunia diharamkan, tapi diakherat dihalalkan) sambil main wanita (baca; bidadari) sembari melupakan istrinya di dunia dulu. (mungkin karena bosan dan perlu variasi?). Lagipula tak ada yang abadi di semesta ini, bukan? Jika tuhan menciptakan keabadian; surga abadi, neraka abadi, penyiksaan abadi, manusia abadi, ia menyalahi kodratnya sendiri. Bukankah di kitab sucinya, tuhan sendiri berkata hanya tuhan yang abadi. dan manusia di akherat nanti abadi? Awas hati-hati! manusia punya pikirannya sendiri. Ia akan mengobrak-abrik akherat dengan kemampuan berpikirnya. Dan tuhan bisa dimakzulkan.

Ia kaget bukan alang kepalang dan nyaris berdiri dari tempat duduknya karena es campur pesanannya tumpah dicelananya, tepat dibagian selangkangannya. kuah es campur yang sangat dingin yang dipenuhi serbuk-serbuk es itu menjilati kemaluannya yang sedari tadi ngaceng karena lelaki itu baru saja melihat perempuan muda dengan lingerie hitam tipis melintas didepannya.

Surabaya-Sampang 10-11 Februari 2010

Jumat, 12 Februari 2010

Valentine Datang Lagi

Valentine datang lagi. Dan notisi-notisi cinta bertebaran di mall-mall dan plasa-plasa dengan sampul merah muda. Ia dilacurkan dan menunggu dibeli para remaja yang abai kesejatian cinta. Remaja-remaja yang hanya percaya pada ketelenjangan, ciuman nafsu dan pentil susu perempuan-perempuan remaja korban iklan.

Valentine datang lagi. Dan cinta yang dulu digadaikan atau dijual murah di ranjang-ranjang pergundikan tiba-tiba disucikan. Cinta yang kelabu, cinta remaja yang penuh birahi tiba-tiba disulap merah jambu. Sampulnya, heroisme St. Valentine yang gigih menentang raja Claudius yang haus darah dan kuasa. Bagi Claudius harta dan tahta adalah segalanya. Untuk mewujudkan itu ia butuh militer yang kuat. Maka ia melarang remaja-remaja menikah untuk mau bergabung menjadi prajurit perang yang bengis. St. Valentine menetang. Ia lebih memilih menikahkan pasangan muda dengan sembunyi-sembunyi dalam sebuah kapel yang diterangi pendar lilin.

Valentine datang lagi. Dan sebuah kisah perkawinan suci dewa zeus dan dewi Hera meliuk-liuk di kepala. Sebuah hari yang diyakini sebagai hari kesuburan. Dan terbayang orang-orang roma kuno khusyuk di hari Lupercalia. Menyembelih kurban. Kemudian minum anggur ramai-ramai dan berlarian di jalan-jalan sembari membawa potongan korban. Terdengar teriakan dan tertawa lirih para perempuan yang berebut menyentuh potongan kurban itu. Untuk menegakkan mitos tentang kesuburan.

Valentine datang lagi. Dan masih saja aku baca cerita rasis soal valentine. Sebuah perayaan murtad bagi mereka yang bukan umat Yesus. Sembari mencuplik ayat suci mereka ‘bernyanyi’; soal kekafiran. Soal perbuatan haram. Soal neraka jahanam. Soal remaja-remaja yang dirajam. Oh, agama, mengapa kau bisanya menakut-nakuti umatmu saja? Oh Valentine, kau datang lagi. Masih dengan semangat purba; cinta yang dijual. Cinta yang dikomersilkan.

Valentine datang lagi. Dan ia bukan soal cinta-cintaan melulu. Ia juga bukan Nafsu birahi yang ditancapkan di kelaminmu. Valentine barangkali adalah kejujuran. Kejujuran untuk mengakui bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna. Ia lahir dari lendir yang asin. Campuran kebajikan dan dosa yang dipilin dalam desah yang sublim. Valentine barangkali sebuah perlawanan. Perlawanan melawan lupa. Melawan setiap penindasan dengan cinta. Cinta pada kejamakan. Bukan cinta pada kejumudan.
Melawan lupa adalah perjuangan tersulit manusia. Karena itu ada baiknya aku mendedahkan kisah cintaku tiap valentine tiba. Agar tak lupa. Agar tak pandir sebagai manusia.

Tiap Valentine tiba, Aku selalu Ingat Yunita Nur Diana. Ia kucinta sejak masih usia belia; 8 tahun. Kawan SD. Sekelas pula. Cinta monyet. Barangkali iya. Bukankah manusia adalah monyet juga nenek moyangnya. Tapi tak pernah berani kukatakan cinta padanya. Pernah sekali dua mencobanya. Tapi jujur tak pernah bisa sampai di kerongkongan. Yang bisa kulakukan hanya mondar-mandir aja di depan rumahnya tiap pulang sekolah. Itupun sudah cukup mengobati rindu kala itu. Ah, barangkali cinta hanya sekedar perjalanan saja. Seperti pendulum; ia mondar mandir hingga akhirnya ketika daya dorongnya kembali ke titik nol ia diam. cinta punya keterbatasan, kawan.

Tiap Valentine tiba, aku selalu ingat Verania Enri Elria. Usiaku remaja kala itu; 16 tahun. Teman SMA. Sekelas pula. Menyukainya seperti mengulang sejarah; barangkali cintaku hanya berakhir di teman sekelas saja. Tapi menyukainya seakan memberi pengalaman baru soal cinta. Jika pertama aku hanya menyukai perempuan di hati saja, tanpa pernah berani berkata-kata, dengannya aku bisa berbagi cerita. Tapi maaf, hanya beraninya lewat telepon saja. Nyaris saban hari aku telepon dia. Bicara macam-macam (umumnya dipaksakan) soal pelajaran, soal tugas, soal kawan, soal kegemaran. Tapi tak pernah berani ngomong suka. Tapi menyukainya aku jadi belajar bahwa ketakutan kerap melahirkan kebohongan. Dengannya aku tak pernah berani ngomong suka. Tapi aku pernah berbohong dengan sok jadi ‘penyair’. Pernah kutulisi halaman buku matematikanya yang aku pinjam dengan bait lagu katon bagaskara. Ia sempat ‘kagum’ dipikir aku bisa nulis puisi. Padahal plagiat. Mungkin sebal, mungkin juga iseng, salah satu halaman belakang buku tulisku ia tulis juga dengan bait lagu (entah aku lupa judulnya). IMPAS. Dalam bercinta mungkin perlu juga kebohongan?

Kata orang cinta itu mahal. Bukankah menelpon perlu biaya. Tapi ternyata pengalamanku mengenal cinta itu murah kok. Pasalnya, telepon umum dekat rumahku sedang rusak kala itu. Cukup aku masukin koin Rp. 500,- aku sudah menelpon berjam-jam lamanya. Ah, barangkali cinta memang seharga Rp. 500 perak saja. Memang akhirnya aku memang tak pernah pacaran dengannya. Maklum masih pecinta kelas teri.

Tiap Valentine tiba, aku selalu Ingat Veni Adri Santi. Ia kucinta ketika usiaku 17 tahun. Umur kami terpaut jauh. Aku kelas II SMA. Sementara ia masih SMP kelas II. Tapi dengannya aku mulai berani menyatakan cinta. tapi masih tak berani langsung berhadapan muka. Aku menulis surat cinta padanya. Itulah awal aku belajar tulis-menulis soal cinta. Tiap kali aku membaca surat-surat cinta baik yang kutulis maupun yang ia balas (yang aku simpan rapi di kamarku) aku sering cekikikan sendiri. Ternyata cinta kadang konyol kadang juga cengeng. meski mencoba untuk romantis, tapi tetap cengeng. Sayang, hubunganku dengannya kala itu hanya bertahan enam bulan.

Putus dengannya aku nangis di kamar. Luka cinta memang memedihkan. Tapi cerita cinta memang tak pernah usai bukan? Seseorang bisa dikatakan pecinta sejati ketika cintanya diuji. Cinta yang tak pernah diuji adalah cinta yang rapuh.

Tiap Valentine tiba, aku selalu ingat Diana Trisnasari. Ia kupacari setelah dua bulan jomblo. Statusnya sama. Ia kupacari ketika masih kelas II SMP. Barangkali cinta awalnya kebiasaan, setelah itu kerinduan. Ia anak tetangga sebelah. Dengannya aku bisa bertahan tiga tahun. Dengannya aku bisa menulis puluhan surat cinta dalam seminggu. Sebuah rekor dalam hidupku. Aku bisa berbusa-busa menulis surat cinta padanya. Meski jarang berbalas, tapi aku suka sekali. Tiap kali menulis aku seperti orang yang paling romantis. Kita putus setelah aku kuliah. Salah satu lawan dari kerinduan adalah jarak. Semakin jauh jarak yang ditempuh cinta, semakin sulit dipertahankan daya hipnotisnya.

Tapi Valentine kali ini aku tak ingat siapa-siapa lagi. Yang kuingat hanya istriku saja. Nurfa Rosanti. Bersamanya cintaku tumbuh sempurna. Berdua kita belajar menderita. Berdua kita belajar bahagia. Meski tiap pelajaran mengandung alpa, kita selalu mencoba menebusnya. Sejak menikah aku memang tak lagi menulis surat cinta padanya. Tapi aku yakin ia percaya, setiap kesetiaanku adalah kredo bagi cinta kita. I Love You, Sha!

Rabu, 27 Januari 2010

Ferrari One 200



Akhirnya saya memutuskan membeli notebook baru. Tepat di awal Desember 2009. Alasannya sederhana. Rumah baru yang kini saya tinggali belum punya listrik sendiri. Rumah saya—dan empat rumah lainnya—masih numpang daya. Masing-masing rumah mendapatkan jatah 250 watt. Menyalakan komputer desktop jelas tidak memungkinkan. Menyalakan rice cooker di malam hari saja listrik langsung padam. Apalagi komputer desktop yang selalu saya nyalakan hampir sepanjang hari. Sementara kerja tidak bisa berhenti.

Setelah tanya sana-sini soal notebook apa yang layak dengan kantong dan aktivitas saya, akhirnya saya memutuskan membeli Ferrari One 200. Sebenarnya ada kawan saya yang menyarankan untuk meminang HP DV3. Namun setelah saya cek harganya, ternyata masih diatas 10 juta (dengan rate dollar kala itu Rp. 9.410 ). Padahal budget saja tidak sampai segitu.

Produk Acer yang diuncurkan pada kwartal ke-III bulan oktober 2009 itu menurutku memang keren. Bukan hanya logo kuda jingkrak khas Ferrari dan warna merah menyala dengan bahan karbon yang bikin saya memilih notebook ini. Namun karena tipis, ringan, cukup elegan serta performanya lumayan bagus. ” Kalau mau gaya tapi performa tidak mengecewakan ya memang Ferrari pilihannya,” begitu saran Joko Intarto, paman saya.

Dengan processor AMD Athlon X2 Dual Core L 310 1,20 Ghz (1Mb L2 cache), memori 2GB (telah saya upgrade jadi 4 Gb), hard disk 320 Gb, AGP ATI Radeon HD 3200, DVD RW 8x eksternal, dan OS Windows 7 Home Premium original tentu merupakan pengalaman baru bagi saya yang awam dunia IT. Maklum komputer desktop yang saya gunakan sejak 2005 masih menggunakan Pentium 4 dengan OS windows XP Profesional.

Itulah mengapa dua hari sebelum saya memutuskan membeli Ferrari One 200 saya sempat membeli dua majalah IT yang mengulas tentang Windows 7. Karena bagi orang awam yang biasa menggunakan OS Windows XP jelas akan tergagap-gagap ketika menggunakan Windows baru yang dirilis Microsoft.corp itu.

Notebook Bermasalah?
Namun ketika Acer Ferrari One 200 itu pertama kali saya gunakan, saya dibuat kecewa. Semua game bawaan windows 7 seperti; Solitaire, spider, chess Titans, Free Cell, dsb tidak bisa dijalankan. Tiap kali membuka chess titan misalnya, langsung muncul warning di desktop yang kira-kira bunyinya begini; perhatikan driver display anda. Mungkin perlu diupdate. Karena .dll tidak ditemukan. Pastikan driver telah diupdate untuk menjalankan program dengan baik. Membuka slide show untuk gambar juga amat lamban. Restart ulang yang kerap dilakukan ketika komputer bermasalah juga tidak cukup membantu. Semua masalah di notebook itu bisa hilang dengan melakukan Lock off. Namun tiap kali akan menonton film atau mengisi waktu dengan iseng bermain game di notebook ini saya harus melakukan Lock off terlebih dahulu jelas amat mengganggu.

Karena itu saya memutuskan membawa notebook tersebut ke tempat saya membelinya. Solusi yang diberikan; Install ulang. Memang untuk melakukan install ulang Windows 7 tidak serumit XP yang harus menyediakan DVD. Program recovery ini bisa dipanggil hanya dengan menekan tombol Shift+F8 saat booting. Di Vista sebenarnya program recovery ini telah ditanamkan. Namun hanya ada di dalam Vista Bussines dan Ultimate. Di Windows 7 ini Microsoft berbaik hati menanamkannya pada versi murah Windows 7 (home basic dan home premium).

Masalah selesai? Tidak juga. Selama dua hari digunakan usai di install ulang itu, notebook bisa berjalan normal. Namun pada hari berikutnya masalah yang sama muncul lagi. Dan saya lagi-lagi merasa tidak nyaman menggunakan notebook ini. Sayapun kemudian memutuskan untuk menyelesaikan sendiri masalah ini. Sebab saya yakin yang bermasalah hanyalah softwarenya. Sebab ketika saya cek di divice manager, hardware tidak ada masalah.

Cara pertama yang saya lakukan adalah meng-install driver robot versi trial. Program ini bisa secara otomatis mengupdate driver versi lama tanpa harus menginstal satu-satu driver yang telah out of date. Tapi ternyata tak cukup membantu. Masalah tetap muncul.

Cara kedua yang saya lakukan adalah menurunkan versi direct X di windows 7. Windows 7 telah mendukung direct X 11. Jadi saya beranggapan versi teranyar direct X di windows 7 tidak sesuai dengan game-game kecil. Tapi cara ini justru menimbulkan masalah baru. Program windows error. Beberapa aplikasi justru tidak bisa dibuka sama sekali. Akhirnya, saya terpaksa melakukan install ulang lagi.

Kalau tidak salah sudah hampir satu bulan saya memikirkan untuk menyelesaikan masalah di notebook saya (mungkin kalau orang yang paham IT bisa dua jam tuntas). Pernah juga curhat pada kawan yang kebetulan seorang dosen IT. Tapi jawabannya sama; Install ulang. ”Coba diformat ulang hard disk-nya. Mungkin ada masalah di harddisknya,” begitu terangnya.

Saya ikuti sarannya. Tapi hasilnya sama saja. Masalah masih saja ada. Jadi saya memutuskan membaca notebook saya ke Acer Service Center (ASC) di Hi-Tech Mall pada pertengahan Desember 2009 lalu. Saya dilayani oleh Customer Service berinisial G. padanya aku jelasnya masalah di laptop saya, termasuk langkah-langkah yang saya tempus untuk menyelesaikan trobel tersebut. G mencatat penjelasan saya setelah sebelumnya mencatat nomer seri notebook dan biodata saya. ”silahkan bapak kembali dua-tiga jam. untuk mengecek apakah notebook sudah selesai ditangani teknisi,” ujarnya. Sebagai orang yang awam IT Saya manut aja.

Setelah tiga jam saya kembali ke ASC. Notebook sudah selesai. Dan alamak, lagi-lagi install ulang. “teknisi kami terpaksa melakukan recovery,” terang G. Padahal sudah saya jelaskan kalau install ulang tidak menyelesaikan masalah. Beruntung G menyuruh menyalakan notebook untuk mengecek apakah masalah telah selesai atau belum. Notebook saya nyalakan lagi di hadapan G dan saya bisa menunjukkan masalahnya. Ketika game-game yang saya buka tak bisa beroperasi pasca install ulang diam diam. “coba saya bawa ke teknisi lagi,” jawabnya sambil membawa laptop saya ke laboratorium acer tepat di belakang G melayani costumer.

Beberapa menit kemudian G datang dengan senyum ramahnya. Penjelasannya lagi-lagi bikin saya kecewa. “Kami minta maaf. Setelah di cek oleh teknisi, ternyata direct X. 11 tidak berjaalan normal. Jadi direct X-nya terpaksa kami turunkan ke versi lama,” terangnya. Padahal cara itu sudah pernah saya tempus ketika mencoba menyelesaikan masalah tersebut secara mandiri. Dan hal itu sudah saya jelaskan detail pada G. Saya jadi bertanya-tanya apakah kemampuan teknisi Acer sekelas kemampuan kemampuan IT saya yang awam begini? Saya pulang dengan kecewa yang sangat.
Mengupdate Driver ATI

Pada awal bulan Januari 2010 saya mencoba berselancar di google untuk mencari jawaban dari masalah di notebook saya. Dan saya mendapatkan artikel yang sangat memuaskan (dalam versi inggris) di http://laptopuser.blogspot.com. Isi artikel itu kira-kira begini. Barangkali Ferrari one 200 adalah produk paling baik dari Acer tahun ini. Hanya saja penggunaan Grafis Ati Radeon didalamnya kerap menyulitkan pengguna pemula. Pasalnya, rata-rata driver Ati Radeon selalu meminta versi up to date. Tapi anda tak perlu kwatir. Silahkan download di http://game.amd.com/us-en/drivers_catalyst.aspx untuk mendapat driver display terbaru dan catalyst Control Center teranyar.

Kemudian saya download kedua dariver yang disarankan artikel itu. Setidaknya butuh satu jam untuk mendowload kedua software itu dengan Speedy karena masing-masing berkapasitas 56 Mb dan 59,5MB. Setelah itu saya installkan di Ferrari one 200 saya. Dan benar, masalah bisa diselesaikan. Notebook saya kini bisa berjalan normal. Beberapa game berat juga sempat saya coba seperti Counter Strike dan NFS: Shift. Semuanya berjalan normal tanpa tersendat-sendat.

Saya jadi berkesimpulan begini: Teknisi IT itu seperti dokter spesialis. Tak semua dokter spesialis bisa mendiagnosa penyakit dengan benar. Tak sedikit dokter yang melakukan mall praktek bukan? Seperti juga teknisi IT. Dengan mau sedikit belajar dan mencoba-coba sendiri kadang masalah IT bisa diselesaikan sendiri. Meski butuh waktu yang lama. Menurut anda?