HUJAN BULAN JANUARI
Januari, tak banyak berubah disini
hanya bangkai hujan
jadi banjir susulan
rumahrumah tergenang
sawahsawah tergenang
tengah kota jadi sungai
hidup barangkali ancaman bahaya
bagi mereka yang tak mau terjaga
pagi ini tak kulihat lagi tawa
kecuali keriangan anakanak yang
mandi di pancoran
bergulingan di genangan air
setinggi lutut orang dewasa
orangorang sibuk mengemasi nasib sendiri
agar tak basah oleh kesedihan yang
jatuh bersama hujan
malam ini
bangkai hujan masih disini
di kamar tempat aku membongkar puisi
dan menulis sepi sendiri
sms masuk kubuka tergesa:
dua anak terseret air bah
satu selamat. yang satu sudah jadi mayat
oh, siapa yang bisa menduga ajal
nomor urut kematian sendiripun kita tak kenal
januari, tak banyak yang berubah disini
hujan datang dan pergi
juga hidup dan mati
WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Jumat, 07 Januari 2011
HUJAN BULAN JANUARI
Minggu, 26 Desember 2010
HUJAN BULAN DESEMBER

HUJAN BULAN DESEMBER
hujan jatuh mendadak
gentenggenteng berasap
pohonpohon membungkuk
angin kalap
hujan memang tak berperasaan
juga angin
juga guntur
tapi hujan begitu jujur
juga angin
juga guntur
dan aku tak mau berbohong
keadaan petang ini
para tukang bangunan berteduh
di bawah rumah tingkat yang di rehab
mereka bernyanyi lagu tik tik tik bunyi hujan
sambil tertawa
seakan meledekku yang tepekur di kamar
diantara bukubuku
dan listrik padam
sejam lalu;
"kalau kau hanya begitu
dunia kita tak pernah bertemu"
hujan jatuh mendadak
gentenggenteng berasap
sebatang pohon ambruk
angin kalap
Madura 25122010
NATAL DI KAMPUNGKU

NATAL DI KAMPUNGKU
aku rasa natal tak ada disini
di kampung nelayan, tempat aku berhenti
anakanak dekil mengejar kepiting
para lelaki dewasa merajut jaring
kerja adalah natal itu sendiri
menjaring ikan agar tak lapar esok hari
aku rasa natal juga tak ada disini, di kampungku ini
di siang garang ketika para petani istirah
perempuanperempuan menyiapkan makan siang
sepiring nasi, sambal petis dan tahu sisa pagi tadi
anakanak yang mengasah cangkul sudah berkumpul
kebersamaan adalah natal itu sendiri
menggarap sawah agar tak lapar esok hari
ya, barangkali mereka tak kenal natal
tapi mereka paham bagaimana hidup menahan lapar
dan natal milik semua mereka
yang berani hidup meski lapar mendera
o, lonceng gereja, o, lonceng gereja
gentamu sampai juga disini, di kampungku ini
tapi mengertikah mereka yang khusuk di rumahrumah suci
di pura, di masjid, di gereja, di wihara
duduk juga orangorang yang memporakporandakan dunia
berdoa mereka dengan hatinya
tapi tangan, kaki dan pikirannya
terus menyulut peperangan, perselisihan, permusuhan
dan orangorang lapar itu adalah tumbal
dari segala keserakahan
o, tuhan yang maha suci
tak ada natal di kampungku ini
tapi gentamu sampai juga disini
o, tuhan yang maha suci
tak ada natal di kampungku ini
tapi kami paham soal lapar, soal kebersamaan
dan kami merayakannya setiap hari
seperti juga mereka yang
merayakan natal setahun sekali
[Surabaya-Pamekasan, 24122010]

