WAKTU

JEDA

Rabu, 05 Agustus 2015

Tentang Kretek: Dari Sehat Tentrem Sampai ke Divine



Di saat kampanye anti tembakau kian gencar menyerang membabi buta, di saat industri kretek makin takluk dengan kebijakan pemerintah untuk memasang warning (baik gambar maupun kata-kata) tentang bahaya mengisap tembakau, ada jenis kretek yang tak peduli dengan itu semua. Bahkan menantangnya.

Jenis kretek yang saya maksud adalah kretek Sehat Tentrem dan Divine. Kretek Sehat Tentrem adalah kretek produksi rumahan sebuah Ponpes di Jombang. Sementara Divine klobot adalah garapan Dr. Greta Zahar lewat klinik Griya Balur. Merokok salah satu dari dua jenis kretek ini tak akan membunuhmu. Sebaliknya, bakal menyehatkanmu.

Divine klobot, misalnya. Rokok ini diciptakan seorang pakar nuclear science bernama Dr. Greta Zahar. Ia mengelola klinik kesehatan dengan terapi tembakau. Kliniknya telah membantu ratusan orang yang sudah tidak bisa ditangani oleh rumah sakit. Asap tembakau merupakan salah satu elemen penting dalam penyembuhan. Tidak hanya diisap, asap tembakau itu dimasukkan melalui hidung, telinga, dan anus. Asap tembakau dipercaya bisa membantu mengeluarkan radikal bebas dari dalam tubuh. Radikal bebas adalah zat yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya di tubuh. Dengan mengluarkannya, tubuh bisa dengan optimal menciptakan antibodi dan melakukan regenerasi untuk menyembuhkan penyakit.

Rokok yang dinamai Divine Klobot itu mengandung asam amino. Tembakaunya diambil langsung dari petani tanpa perantara. kemudian diproses sedemikian rupa sehingga bukan hanya bebas dari radikal bebas tetapi juga mengandung asam amino. Fungsi asam amino adalah memecah radikal bebas dalam tubuh menjadi partikel yang berukuran jauh lebih kecil. "Dengan terapi asap, radikal bebas yang keluar dari tubuh akan berukuran kecil, sehingga pasien tidak perlu mengalami siksaan seperti luka-luka yang besar dan basah atau aroma tubuh yang sangat mengganggu", kata Dr. Gretha dalam sebuah wawancara. Proses penyembuhan melalui asap tembakau menjadi jauh lebih cepat, bahkan selama proses pengobatan pasien bisa tetap menjalani kehidupan normal tanpa diet khusus, asalkan ia bersedia secara teratur, merokok!

Sayangnya Divine klobot tidak dijual bebas. Saya pernah mencoba hendak membeli via online melalui email resmi Griya Balur. Namun, Prof. Sutiman B. Sumitro, guru besar Unibraw, mitra kerja Dr. Greta, membalas email saya;

"Maaf, kami tidak menjual rokok" ujarnya. Untunglah ada teman yang menjadi 'member' Griya Balur sehingga saya bisa menikmati Divine Klobot.

Divine yang saya nikmati adalah kretek nomor 2 dan 19. Divine klobot memang punya nomor di tiap bungkusnya. Tiap nomor memiliki fungsi berbeda untuk mengobati penyakit. Kretek nomor 2 dan 19 adalah kretek standar.

Kalau dilihat dari bungkusnya, orang awam tak akan percaya bahwa Divine klobot punya khasiat luar biasa bagi kesehatan. Divine hanya dibungkus plastik bening. Tanpa tulisan apapun. Rasanya juga hambar, mirip rokok putihan, karena hanya berisi tembakau murni tanpa tambahan apapun di setiap batangnya.

Berbeda dengan kretek Sehat Tentrem. Kretek produksi Majmaal Bahroin Hubbul Wathon Minal Iman - Shiddiqiyyah Jombang itu dibungkus dengan baik layaknya rokok komersil. Bedanya dengan rokok komersil, bungkus Sehat Tentrem tanpa gambar mengerikan akan bahaya rokok dan tanpa cukai. Kalimat peringatan "merokok membunuhmu" di rokok komersil diganti dengan kalimat provokatif yang bikin siapapun yang membacanya bakal tersenyum; "rokok ini dapat menyebabkan kesehatan"

Rasanya gurih. Sama gurihnya dengan Dji Sam Soe. Hanya asapnya lebih ringan. dan sedikit terasa sejuk seakan-akan terdapat campuran mint di dalamnya. Hisaplah dan tahan sebentar asapnya di paru-paru, maka anda yang baru pertama merokok Sehat Tentrem akan dibuat pening dan mengeluarkan keringat di kening.

"Tanda khasiat sehat tentrem sedang bekerja" ujar Taufik, salah satu penjual Sehat Tentrem asal Bangkalan yang saya hubungi via telepon.

Dari berbagai testimoni yang saya baca di fanpage fesbuk Sehat Tentrem, rokok kretek tak berfilter berbungkus coklat dengan hiasan batik itu juga berhasil menyembuhkan beragam penyakit. Mulai yang ringan hingga berat. Mulai dari maag sampai stroke. Mulai dari hepatitis hingga sirosis. Di yutub malah ada testimoni anggota TNI yang lumpuh karena stroke selama 13 tahun sembuh setelah rutin merokok Sehat Tentrem.

Pengakuan Istri saya Nurfa Rosanti yang mengidap asma sejak usia belia, tiap kali menghirup asap Sehat Tentrem kala saya merokok dan kebetulan nafasnya mulai berat karena asmanya kambuh karena udara dingin, mengaku lebih plong dan merasa lega.

Sama dengan Divine Klobot, Sehat Tentrem juga memiliki klinik kesehatan yang menggunakan tembakau sebagai terapi menyembuhkan penyakit. Nama kliniknya Assyifa'. Letaknya di Jalan Raya Ploso, Jombang, Jawa Timur. Baik klinik Griya Balur maupun klinik Assyifa' juga memroduksi kopi sebagai rangkaian terapi pengobatan selain tembakau. Pasien yang datang ke klinik tersebut ditangani oleh dokter bukan dukun. Juga diberi resep obat. Tapi bukan pil atau sirup, melainkan kretek dan kopi.

Harga per bungkus Divine maupun Sehat Tentrem juga tak jauh beda. Divine nomor 2 dan 19 bisa ditebus dengan uang sebesar Rp. 25.000,- Sedangkan Sehat Tentrem per bungkus dijual seharga Rp. 35.000,-. Bedanya, Divine tidak dijual bebas, sedangkan Sehat Tentrem dijual bebas untuk Indonesia Raya.

“Semua rokok sama saja. Asapnya mengandung penyakit. Tak ada rokok yang menyehatkan” ujar Risol, salah satu perawat di Rumah Sakit Umum Bangkalan. Risol percaya apa yang dikampanyekan Kementerian Kesehatan tentang bahaya rokok benar adanya. Pernyataan Risol didukung Slamet Riyadi, seorang PNS yang hampir 10 tahun telah berhenti merokok. PNS yang lima tahun lagi akan menghadapi pensiun ini mengaku berhenti setelah diagnosa dokter bahwa paru-parunya kena. Nikotin dalam rokok sangat mematikan bagi manusia.

Herannya meski Risol mendukung kampanye antirokok Kementerian Kesehatan, ia seorang perokok. Dia mengaku ia tak sendiri. Banyak pegawai rumah sakit tempatnya bekerja juga tak sedikit yang perokok. Termasuk beberapa dokter senior dan dokter muda yang tengah magang di tempatnya bekerja.  ”Dokter yang ngerti kesehatan juga ada yang merokok loh, Mas.” Ujarnya ketika bertandang ke rumah saya lebaran 2015 kemarin. Risol adalah sahabat karib adik bungsu saya.

            ”Jadi merokok itu tidak berbahaya dong, jika civitas kesehatan juga merokok?” saya balik bertanya. Risol hanya tertawa. Kemudian kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.

Nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun. Nikotin memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotin tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.

            ”Yang penting tahu penetralnya” kilahnya. Dia kemudian mengatakan bahwa penetral nikotin dalam tubuh adalah olah raga yang teratur dan menjaga pola makan. Risol sejak dua tahun lalu menurut penuturannya memang aktif ikut Gym. Dulu tubuhnya kerempeng. Namun sekarang badannya terbentuk bagus.
            Sementara itu, Erika Hidayanti, Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta, menjelaskan lebih jauh tentang penetralisir nikotin dalam tubuh. Selain berolah raga, mengonsumsi air mineral 8-12 per hari efektif untuk mereduksi nikotin dalam tubuh. Bukan hanya nikotin saja, namun, zat-zat lain yang tak menguntungkan tubuh bisa keluar.

            “Makanan lain yang dapat mentralkan nikotin adalah wortel, jeruk nipis dan pisang. Wortel kaya akan vitamin A, B, C, D, E, dan K. Kandungan vitamin yang lengkap ini membuat wortel mengandung nutrisi dan antioksidan yang tinggi sehingga mampu mereduksi nikotin. Sementara jeruk nipis kaya akan antioksidan dan vitamin C sehingga dapat membantu pengeluaran nikotin yang mengendap dalam tubuh. Sedangan pisang mengandung vitamin B6 dan B12 yang bisa menjadi peluruh nikotin dalam tubuh.” Ujarnya dalam artikelnya yang dimuat di www.komunitaskretek.co.id

            Seorang dokter spesialis paru-paru di salah satu Rumah Sakit Umum di Madura punya cara lain menetralisir bahaya nikotin. Yakni dengan asap daun mentol atau mint. Ia seorang perokok. Di sakunya selalu tersedia dua rokok. Satu bungkus rokok kretek biasa, satu bungkus lagi rokok mentol.

            ”Tiap lima batang rokok yang dihabiskan, usahakan untuk merokok satu batang rokok mentol. Ini untuk mengurangi kelebihan nikotin dalam tubuh,” ujar dokter paruh baya itu yang enggan disebut namanya.

            Meski demikian, beberapa riset terbaru di bidang medis justru menunjukkan manfaat nikotin. Berdasarkan siaran pers perusahaan “Reasearch Indicating That Nicotin Holds Potential for non surgical Heart by-pass procedures Honored by American Collage Cardiology pada 17 Maret 2000 silam, dijelaskan bahwa agen nikotin mampu menghasilkan pembuluh darah baru lebih banyak pada urat nadi yang tersumbat dibandingkan faktor penumbuh lain manapun yang dikenal.

            “Bahkan suatu hari nanti nikotin bisa menjadi alternatif yang mengejutkan untuk menangani bentuk-bentuk tuberkolosis yang membandel. Sebab berdasarkan penelitian, senyawa nikotin mampu menghentikan pertumbuhan tuberkolosis dalam uji laboratorium, bahkan ketika dipakai dalam jumlah kecil.” Ujar Saleh Nasser, salah satu anggota asosiasi profesor microbiologi dan biologi molekuler di UCF sebagaimana yang dikutip Wanda Hamilton dalam bukunya, Nicotine War. Pendapat Saleh Nasser seakan-akan mendukung divine kretek yang terus dikembangkan Dr. Greta Zahar dan kawan-kawannya.

            ”Sebenarnya tembakau sudah dimanfaatkan sebagai obat oleh penduduk pribumi di daratan Amerika jauh sebelum warga pendatang tiba dari Eropa. Apa yang kami lakukan hanya melanjutkan tradisi yang maha kaya itu” ungkap Dr. Greta.

                Jadi, masih percaya dengan kampanye anti rokok? Kalau masih, berarti mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam.






Kamis, 30 Juli 2015

Mati Karena Berita

Seandainya ia sedikit bersabar dengan segala tekanan batin yang menggempur pikirannya hingga ambruk, ia tak harus ditulis dengan kisah yang muram. Seandainya ia mau bersabar menunggu buku Noam Chomsky terbit, ia mungkin akan tersenyum dan menikmati hari-hari penuh bunga bersama istri dan tiga anaknya dengan bintang jurnalistik berkilau di dadanya. Tapi siapa yang dapat menghapus ingatan? Tak banyak orang yang sanggup bertahan dari stigma buruk yang terus diberondongkan padanya seperti senapan mesin dalam setiap detik kehidupannya. Dan Gary Webb merupakan salah satu dari banyak orang yang bertekuk lutut dihantam masa silam. Mati karena berita.

Tahun 2004, Gary Webb, seorang wartawan media lokal bernama The San Jose Mercury News, ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak di kepala. Ia mati karena depresi berat, kemudian bunuh diri.

Semua bermula dari sebuah hubungan telepon dengan seorang perempuan bernama Coral Baca, seorang narasumbernya. Setelah telepon itu, Gary Webb menemui Coral di sebuah café. Coral membagikan sebuah dokumen rahasia milik CIA. Dokumen tersebut berisi catatan tentang perdagangan kokain di Amerika. Tentu bukan perdagangan narkotika biasa. Dokemen tersebut mencatat keterlibatan pejabat-pejabat penting di Amerika (khususnya pejabat CIA, kejaksaan, kepolisian dan militer) dalam perdagangan kokain. Sangat kontradiktif dengan kampanye pemerintah Amerika yang berniat memerangi narkotika. Tak hanya itu saja. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa uang-uang hasil skandal busuk pemerintah Amerika dengan mafia narkoba Amerika Tengah justru digunakan untuk membiayai peralatan perang paramiliter Contra bentukan CIA untuk memerangi Sandinista, gerilyawan berhaluan komunis yang menentang pemerintang Samoza di Nikaragua. Pemerintahan boneka bentukan AS. Maklum, meski tembok berlin telah runtuh sebagai penanda akhir perang dingin, komunismephobia Amerika ternyata tak sembuh-sembuh. Segala bentuk negara yang berbau komunis harus jatuh.

Webb yang beberapa waktu sebelum mendapat dokumen rahasia tersebut memang sedang tekun meliput tentang peredaran narkoba di wilayahnya seakan mendapat durian runtuh. Terlebih dalam dokumen tersebut dinyatakan pemerintah Amerika justru terlibat dalam peredaran narkotika. Inilah liputan investigasi pertama sekaligus terakhir yang dilakukan Webb. Webb melacak semua nama yang disebut dalam dokumen tersebut. Bahkan ia rela terbang ke penjara Tipitapa, Nikaragua, dengan biaya sendiri untuk menemui Manasess, seorang mafia narkoba besar yang menjadi agen CIA dalam memasok persenjataan dan kebutuhan pokok pada paramiliter Contra.

Dari Manasess, Webb mendapatkan nama Freid Weil, seorang agen CIA yang menjadi penghubung gelapnya. Webb menemui Weil di Washington DC, dan kebenaran dari dokumen tersebut makin terang mengenai keterlibatan negara dalam peredaran narkotika. Meski demikian, Weil memperingatkan Webb mengenai ancaman besar jika investigasi dia diterbitkan. nyawanya bakal terancam. Webb mulai ragu.
Keragu-raguan Webb runtuh ketika CIA memanggilnya secara khusus setelah mengetahui kerja investigasinya. Webb diancam. Bukannya surut, Webb balik mengancam. Investigasinya bakal tayang.
Dan benar, begitu berita Webb tentang keterlibatan pemerintah dalam perdagangan narkoba dan pembiayaan peralatan tempur dalam perang ilegal, khalayak Amerika gempar. Media-media besar seperti Washington Post, New York Times, L.A Times seakan tertampar. Berita besar tentang skandal negara AS itu justru terbit di media lokal jauh dari hiruk pikuk pusat Amerika.

Terbitnya investigasi Gary Webb membuat ia laksana bintang jatuh. Dia tiba-tiba menyala sebentar, tetapi kemudian lenyap ditelan langit malam. Pujian demi pujian melayang padanya. Tapi itu tak lama. Hari-hari kelam kemudian menantinya.Pemerintah AS, di tengah masa-masa kampanye pemilihan presiden tahun 1998 kalap.

Sebuah konspirasi jahat dijalankan untuk membungkam Webb. Media besar pesaing koran tempat Webb bekerja mulai membuat berita tandingan. Termasuk mulai membuat opini mengenai betapa meragukan validitas berita Webb. Tak hanya itu saja. Berita gosip mengenai skandal perselingkuhan Webb di masa silam dengan seorang reporter bernama Barbara juga diungkap. Rumah Webb terus diawasi orang tak dikenal. Teror demi teror terhadap Webb dan keluarganya terus terjadi.

Belakangan, semua narasumber Webb yang pernah ia wawancarai tiba-tiba mengaku tak pernah bertemu dan diwawancarai Webb. Imbasnya The San Jose Mercury News mendapatkan teguran dan dituntut minta maaf atas berita 'palsu' hasil liputan Webb. Webb menolak menulis permintaan maaf.

Atas kerja jurnalistiknya itu Webb mendapat anugerah jurnalistik terbaik. Sejak itu ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, kemudian benar-benar gantung pena. Sampai kemudian setelah tujuh tahun mengundurkan diri dari tempatnya menjadi kuli tinta ia ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak di kepala. Bunuh diri. Beberapa pendapat lain meragukan Webb bunuh diri dengan dua luka tembak. Webb dibunuh. Namun sebuah penelitian yang dilansir wikipedia menyebutkan dalam 138 kasus bunuh diri 5 diantaranya (3,8%) bunuh diri dengan dua tembakan di kepala. bahkan pernah dilaporkan sebuah bunuh diri dengan empat tembakan di kepala.

Film yang diadaptasi dari kisah nyata kerja jurnalistik Gary Webb itu mengingatkan kita bahwa memang tak mudah mengungkapkan kebenaran. Apalagi jika skandal kejahatan melibatkan negara. Di negeri ini kita punya kisah muram yang tak jauh beda dengan Gary Webb. Kita punya Munir yang diracun dalam penerbangannya menuju Belanda dan hingga kini bahkan aktor intelektual yang paling bertanggungjawab atas kematiannya tak pernah merasakan dinginnya jeruji penjara. Kita punya kisah pedih Marsinah yang mati disiksa dengan kemaluan rusak berat karena disodok laras senjata hanya karena menuntut Haknya sebagai buruh. Kita juga punya Udin, wartawan Bernas yang ditembak orang tak dikenal karena liputannya tentang korupsi Bupati Bantul dan hingga detik ini pelakunya tak juga tertangkap. Kita punya Widji Thukul yang dihilangkan negara karena puisinya menggedor tembok kekuasaan yang retak. Kematian orang-orang yang saya sebutkan itu, hanyalah contoh kecil dari banyak kematian di negeri ini yang suka tidak suka juga melibatkan tangan-tangan keji kekuasaan. Negara terlibat.

Berdurasi 111 menit, film yang dibintangi Jeremy Renner benar-benar menjadi film yang layak ditonton. Meski bergerak dengan datar tapi ketegangan demi ketegangan yang dibangun dalam film yang diadaptasi dari buku karangan Nick Svhou berjudul sama dengan film tersebut dan buku berjudul Dark Alliance karya Gary Webb sangat terasa bahkan jika dibandingkan dengan film True Story yang punya tema sama; tentang wartawan. Kita bisa menyaksikan betapa melelahkan dan penuh bahaya mengungkap kebenaran melalui kerja investigasi.

Sudahlah, saya terlalu banyak basa-basi. Ini film bagus. Pilihan hidup memang memiliki resikonya masing-masing. Mau jadi penulis atau mau jadi petani, jika sudah berhadapan dengan pemerintah korup dan keji resikonya sama saja; disiksa dengan keji sampai mati atau ditembak di rumah sendiri. Film ini tayang perdana pada 10 Oktober 2014 silam. Tentu sudah banyak yang nonton. Saya saja yang terlambat menontonnya. Anda sudah?

Selasa, 12 Mei 2015

Mereka yang Menghabiskan 80 Juta Rupiah dalam Setengah Jam

Kasus tertangkapnya AA dalam bisnis pelacuran kelas atas bikin heboh publik. Bukan karena penggerebekannya yang dramatis, tetapi karena tarifnya. Bayangkan saudara, untuk sekali crot seorang pria hidung belang harus merogoh kocek 80 juta rupiah. Bukan angka yang sedikit untuk ukuran saya. Uang segitu udah cukup buat beli mobil murah merek Ayla atau Agya yang sampai saat ini bahkan untuk membeli rodanya, saya masih mikir duakali. Apalagi untuk ukuran seorang Tuki, tukang becak motor di kampung saya.

Sebenarnya soal gerebek pelacuran satuan polisi pamong praja dan kepolisian memang paling jago. Cuma levelnya masih kelas coro. Pinggiran. Pelacuran kelas teri. Yang bahkan bagi seorang pelacur kelas pinggir jalan itu, untuk dapat 10 juta saja, mungkin harus rela kerja selama tiga bulan nonstop tanpa prei. Sementara yang ini, kelas elit. Padahal, ya, nikmatnya vagina masih begitu begitu juga. Cuma mungkin beda sensasi aja. Duh...pusing pala babi.

Bagaimana nggak pusing, uang sebanyak 80 juta hanya dibuat untuk memuntahkan sperma usai bergesekan dengan vagina yang barangkali hanya perlu waktu paling lama setengah jam. Waktu sependek itu membuat uang 80 juta sudah harus rela berpindah tangan. Orang macam apa yang begitu gampang melepas duit yang kalau dibelikan cendol itu bisa memenuhi dua kolam renang? Toh vagina perempuan di mana-mana sama saja. Masih vertikal. Tidak horisontal. Masih terus ditumbuhi bulu bukan ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit. Masih licin kalau terangsang tidak keras seperti moncong senapan atau kenalpot telo. Jadi, laki-laki macam apakah gerangan yang mau menghabiskan uang untuk hal yang tak masuk akal bagi orang kebanyakan itu?

Pertama, jelas orang kaya yang penghasilannya sebulan bisa satu miliar sehingga angka 80 juta rupiah seperti sekedar uang dua puluh ribu di saat saya gajian. Begitu enteng dikeluarkan dan diberikan pada ponakan atau sepupu yang pulang kampung. Atau lebih tegasnya orang kaya yang sombong, sehingga uang 80 juta rupiah hanya dihabiskan hanya untuk short time main dengan pelacur. Kalaupun bukan orang kaya yang sombong, tentu kelas menengah yang stress berat, sehingga uang 80 juta yang bertahun-tahun ia tabung dengan laku hidup hemat akhirnya dihabiskan cuma buat ngasah keris tumpul di gua garba habis kehujanan. Tapi senekat-nekatnya kelas menengah, jelas susah ditemukan kebenarannya untuk menghabiskan tabungan 80 juta hanya untuk sekali crot.

Kedua, jelas orang kaya yang buruk rupa, yang di masa mudanya tak pernah bisa berkencan dengan perempuan yang cantik jelita dengan cara yang normal. Normal dalam artian, pacaran, tunangan, sampai akhirnya menikah. Sehingga untuk memuaskan obsesinya mengencani cewek-cewek jelita ciptaan bapak dan ibunya itu harus rela menghamburkan uang sedemikian banyaknya. Sebab orang-orang tampan macam saya tak perlu harus merogoh kocek sampai segila itu untuk hanya sekedar mengencani cewek cantik. Cukup tebar pesona dan pasang senyum, para perempuan yang tertarik pasti akan segera meminta tukeran nomor telepon.

Ketiga jelas orang kaya yang sadar betul bahwa adagium hidup kaya raya dan mati masuk surga bukanlah takdir dirinya. Mereka sadar takdirnya hidup kaya raya dan matinya disiksa dalam neraka. Karena duit sebanyak yang dia punya tak didapat dengan cara halal, melainkan dengan cara haram; menindas orang, merampas hak orang lain,menipu buruhnya sendiri, hingga korupsi. Akhirnya, daripada sama sekali tidak bisa menikmati peluk cium dan desah berahi para bidadari di surga maka ia memutuskan untuk menikmati bidadari-bidadari dunia. Terserah berapapun harga yang harus dibayarnya. Pokoknya ia harus menikmati sebanyak-banyaknya bidadari dunia yang mampu memuaskan syahwat liarnya sebelum ajal menjemputnya.

Buat mereka yang mengejar surga dan masih punya harapan untuk mendapat surga setelah kiamat, buat apa menghabiskan uang sebanyak itu untuk mengumbar syahwat. Mending diamalkan ke masjid atau mushalla. Atau buat menyantuni anak yatim dan orang miskin. Sebab balasannya jelas, surga. Dan orang-orang macam begitu boleh membayangkan bahwa memek bidadari di surga tentu lebih nikmat dari memek bidadari di dunia. Dan halal. Kecuali tidak digerebek FPI atau perlu stempel halal MUI.
Jadi nikmat apalagi yang hendak kau dustai wahai sodaraku?