Jaket Yang Terbakar
jaketmu terbakar
oleh puntung rokok
di atas lincak kampus
di jalan-jalan lapar
hitam kota besar
dan kita menyaksikannya
pikiran terbaik dalam jaket putih tulang itu
hangus
mengkerut
dilumat api
sementara iklan tivi. kuis ramadhan. reality show
panggilan sahur
dari toa-toa masjid
pipis di telingaku
aku masih mengantuk
sambil batuk-batuk
tapi bangkit juga dari ranjang
ke kamar mandi
meludah
cuih!
api membesar
adakah yang sanggup memadamkannya? teriakmu
api tak bisa padam. cinta tak bisa padam
menyala terus di tanah lain. mengalir terus
di hati dan air lain
siapa yang punya tanah dan air? aku?
di sini Amerika yang punya
dan Indonesia?
Indonesia adalah upacara bendera tiap tanggal 17
Indonesia adalah jerit lapar dan suara memelas
Indonesia adalah suara boldozer menggilas
Indonesia adalah suara tembakan aparat
Indonesia adalah yang terkapar bersimbah darah
Indonesia adalah yang mati di tanah airnya sendiri
Indonesia adalah yang merasa menang menembaki rakyatnya sendiri
Indonesia adalah yang puas menghisap isi bumi buat upeti
Indonesia adalah preman bersurban dan cukong berdasi
Indonesia adalah korupsi berkali-kali sudah itu mati
Indonesia adalah hidup dijajah 1000 tahun lagi
kau tak terima? baiklah. mari ria lagi dengan airmata
sambil telanjang dalam pagi
setelah bersuci diri dengan air hitam di papua
sungai coklat merah di Ogan Ilir dan Bima
bercermin pada bayangan hari di kaca mesin cuci
yang tergelincir ke lubang dubur Amerika
yang berak di tanah-tanah dunia ketiga
dan membuatmu makin busuk dalam sepi jembut sendiri
jadi biarlah jaket itu terbakar
jadi abu
seperti segala yang telah kuserahkan padamu
terbang
ke langit kelabu
yang tak lagi punya apa-apa selain kata-kata
untuk menghantuimu!
atau kau ingin menembakku karena sajak ini?
tembaklah!
jika kau ingin membunuh
nuranimu sendiri
Agustus 2012
WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Jumat, 17 Agustus 2012
MERDEKA ADALAH......
Kamis, 16 Agustus 2012
Mengabdikan Alam Melalui Puisi
Mengabdikan Alam Melalui Puisi*)
Oleh: Imalah Hasanah
(Alumni Sastra Arab UIN Malang)
Sebuah
novel, Ciuman di Bawah Hujan ( Lan Fang ) sepintas dari sisi judul
memberi kesan seolah-olah novel ini bercerita soal romantisme. Seperti
novel ngepop, maka bila ada novel sebentuk itu seakan-akan berkisah
tentang percintaan yang melibatkan dua sejoli. Jika yang diharapkan
pembaca dari novel Lan Fang adalah plot romantis yang bertutur tentang
cinta dan pengorbanan, pembaca pasti kecewa. Sebab novel berjudul di
atas tidak berkisah tentang cinta dan romantisme melainkan cerita
tentang pergolakan politik terutama soal pemilu dan pemilukada hingga
pilpres.
Penyair muda asal Madura Edy Firmansyah dalam kumpulan puisi bertajuk Ciuman Pertama seakan-akan berkisah tentang kissing
an sich. Padahal apa yang dilakukan Edy dalam antologinya kali ini
adalah nasionalisasi diksi, dari Madura untuk Indonesia. Ini dibuktikan
dengan kondisi alam Madura yang dilakukan Edy ke dalam puisi.
Sekedar
menyebut contoh, dalam puisi Ciuman Malam Gerimis (Hal. 46) Edy
memasukkan Kecamatan Torjun (Sampang), Gunung Gegger (Bangkalan), hutan
jati dan penumpang yang turun dari bus (ekonomi) melalui kaca di sebelah
kiri kanan bus. Selain itu, diksi ciuman berikutnya dapat dibaca dalam
judul yang lain, Tentang Ciuman (halaman 53).
Sebagai
warga Pamekasan, Edy menemukan sesuatu yang unik, yang pertama meski
adegan ciuman tidak sekali saja dan berlangsung disitu. Meski sebagai
kota gerbang salam, di Pamekasan bukan tidak terjadi sepasang remaja
pacaran dan berciuman di pinggir jalan. Di sinilah ada kritik bahwa
dalam sekularisme memang tidak ada larangan dalam ciuman yang dilakukan
sukarela. Yang dikritik Edy justru bercinta yang seharusnya seperti
penyair menulis puisi, butuh ruang privacy dan bukan di tempat umum di
mana setiap mata yang lewat jadi malu karena melihat adegan seperti itu.
Ini Indonesia.
Kesembilan puluh tujuh puisi dalam Ciuman
Pertama ini semua bernada naturalis, alami. Edy, sastrawan yang juga
pernah menjadi wartawan ini ingin menampilkan dan mengatakan pada
pembaca bahwa alam itu indah. Bumi merupakan inspirasi yang paling
banyak dihilangkan dari ruang imajinasi. Padahal dengan alam, bumi dan
isinya, seseorang bisa kreatif, tidak saja untuk sastra, tetapi dapat
dijadikan alat untuk mewujudkan sesuatu yang lain melalui kreativitas
dan inovasi-kreatif.
Puisi sesungguhnya sesuatu yang
sederhana. Ini seperti cinta yang dipuisikan dengan sangat indah oleh
Sapardi Djoko Damono; Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan
kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Apa
yang ditulis Edy Firmansyah dalam Ciuman Pertama ini tak lebih dari
sesuatu yang sederhana. Ia berbicara tentang alam, cinta, kekerasan dan
sosialisme dalam sastra. Di sisi lain, keterlibatan sastra dalam
ideologi suatu komunitas mengakibatkan sastra mempunyai keberpihakan
atau terlibat secara langsung dalam dinamika masyarakat. Dengan
demikian, sastra menggambarkan alam sosial masyarakat dan media
propaganda perjuangan mewujudkan gagasan atau ide.
Pergumulan
sastra-sosial mengakibatkan adanya pertarungan alamiah yang berpijak
kepada sesuatu yang bersifat naturalistik. Di sinilah satra (puisi)
tidak hadir dalam rahim sosial yang kosong. Tetapi kelahiran sastra
penuh dengan makna. Plekhanov (Eagleton, 2002;7) mengurai penciptaan
karya yang tidak hadir secara misterius. Karya-karya tersebut adalah
bentuk persepsi, cara khusus dalam memandang dunia, dan juga memiliki
relasi dengan cara memandang realitas yang menjadi mentalitas suatu
zaman.
Sastra dan ideologi suatu masyarakat tak luput
terefleksikan dalam karya sastra karena hasil gesekan sastrawan dengan
dunia realitas sosialnya. Keterkaitan antara sastra dan ideologi suatu
zaman, seperti yang diungkap Plekhanov adalah produk dari hubungan
sosial yang kongkret yang di dalamnya manusia memasuki ruang dan waktu
tertentu.
Antologi puisi Ciuman Pertama ini merupakan
refleksi untuk memberi pencerahan bahwa yang sederhana ternyata jauh
lebih fantastis, imajinatif, dan berasa. Ini ibarat seseorang yang mandi
tetapi menikmati setiap aliran air yang menyentuh tubuh. Mandi dengan
hanya membasahi diri lalu bersabun bahkan bershampoo, tak lebih dari
pengulangan dan rutinitas. Namun bagaimana indahnya mandi dan merasakan
sentuhan air yang pelan-pelan membasahi tubuh, hasilnya akan berbeda.
Begitu
juga, memandangi alam Madura yang sudah seperti ini adanya, terasa
begitu-begitu saja. Namun melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda dan
merasakannya, lahirnya puisi, lahirnya Ciuman Pertama (*)
*) Resensi ini dimuat di Majalah SULUH MHSA Edisi 14, Agustus-September 2012 Hal. 28-29
Tentang Peresensi
Imalah Hasanah adalah Alumni Sastra Arab Universitas Islam Negeri ( UIN) Malang.
---
Berminat dengan buku puisi "Ciuman Pertama"? Murah saja. Hanya Rp. 39.000,- (gratis ongkir se-Indonesia). silahkan kontak email stapers2002@yahoo.com jika berminat. Atau hubungi 081937381133 via SMS.
Kamis, 12 Juli 2012
NAFAS SAJAKMU
Nafas Sajakmu
pada kawan-kawan Teater Fataria
bukan bulan penuh itu yang menyinari kata-kata
tapi matahari yang membagi dari punggung segala suara
jadi tak perlu keluh kesah itu
segelas kopi tinggal ampas
bisa jadi sajak keras
dalam malam
yang jadi api
jadi gitar
jadi angin bergetar
di atas karpet merah
orang-orang kalah
aku berkarya maka aku ada
kata tulisan dinding itu
tapi apalah sajak
jika cuma jadi jarak
antara kenyang dan lapar
sementara pedih hidup terus mengular
bukan bulan penuh seluruh
nafas sajak-sajakmu
tapi plastik sisa gorengan
dan bekas minyak
di mulutmu
tulislah itu
Madura, Juni 2012


