WAKTU

JEDA

Senin, 07 September 2015

MASIH ADAKAH SASTRA INDONESIA?

Oleh: Edy Firmansyah*)

Ditetapkannya penyair gimbal asal Medan, Saut Situmorang sebagai tersangka atas kasus pencemaran nama baik karena diskusi di fesbuk terkait dengan terbitnya buku “33 tokoh sastra paling berpengaruh” yang di dalamnya memuat Denny JA sebagai salah satu tokoh sastra di dalam buku tersebut, membuat saya bertanya; masih adakah sastra Indonesia?

Tentu kalau yang kita bicarakan adalah banyaknya karya-karya sastra yang terbit dan beredar di pasaran buku, kita boleh saja menjawab bahwa sastra Indonesia itu masih ada. Dan saya terlalu berlebihan bertanya soal itu. 

Tapi dalam kemerdekaan menggunakan elemen-elemen bahasa sebagai alat komunikasi sastrawan baik dalam berkarya maupun dalam berdiskusi di ruang publik, pertanyaan saya jadi penting diajukan. Bermula dari kata bajingan, Saut Situmorang kemudian dituntut dengan pasal karet pencemaran nama baik. Awalnya dipanggil kepolisian sebagai saksi. Kemudian statusnya dinaikkan sebagai tersangka. Dan status tersangka itu tidak menutup kemungkinan penyair yang lama tinggal di Jogya itu akan menghadapi hari-hari panjang pengadilan yang bisa menyeretnya meringkuk dalam penjara.

Pelapornya, seorang perempuan yang mengaku juga sastrawan yang juga penyair bernama Fatin Hamama. Merasa tak tahan dengan ledekan dan sindiran, karena terus menerus membela buku Denny JA yang dikritik Saut Situmorang (dan kawan-kawannya) Fatin Hamama, melaporkan Saut Situmorang dan Sutan Iwan Sukri Munaf dengan tuduhkan “pencemaran nama baik.” Pelaporan itu kerena menurut sang karib Denny JA itu, dalam dunia Sastra, bahasa yang dipakai para pengkritik tidak pantas, tidak sopan, tidak tahu aturan dan sebagainya. Karena menurut pandangannya, dunia sastra itu santun, kemayu, unyu-unyu, kayak manten jawa. Kuat dugaan, tindakan pelaporan itu hanyalah upaya mengalihkan isu atas cacat akademik buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang terus dibeberkan para pengkritik Denny JA. Belakangan, Iwan Sukri Munaf akhirnya harus tunduk pada kemauan Fatin Hamama. Ia memilih jalan damai. Didampingi pengacaranya, Ia meminta maaf pada Fatin Hamama secara terbuka. Meski ia selamat jadi cengkeraman pasal karet itu, tapi tindakannya mendapat cibiran banyak pihak. Tapi tiap orang punya daya tahannya sendiri dan punya keputusannya sendiri. 

Sementara, Saut Situmorang? Sangat tidak mungkin menekuk penyair yang sudah bicara dengan Tuhan itu. Kalau Fatin Hamama ingin Saut bertindak seperti Iwan Sukri Munaf, saya yakin itu hanya terjadi dalam mimpi indah diantara mimpi-mimpi buruk tidur malamnya. 

Soalnya sederhana, apakah kata bajingan adalah tindakan melanggar hukum dalam dunia sastra? Nyatanya tidak. Sarkasme masih menjadi bagian dalam majas. Ia diajarkan di bangku sekolahan bahkan sejak bangku sekolah kelas menengah pertama. Sebagai bagian dari gaya bahasa, sarkasme diijinkan digunakan siapa saja dan pada siapa saja baik secara verbal maupun tekstual. Alegori juga begitu. Ia juga masih diajarkan di bangku sekolahan sebagai bagian dari majas. Penggunaan kata seperti lonte tua yang tak laku juga tidak muncul begitu saja seperti kengawuran orang mabuk di sudut pasar. Dan Saut Situmorang tentu tidak menggunakannya dengan kengawuran anak sekolah yang baru belajar beladiri. 

Lantas mengapa persoalan macam begini harus berakhir di ranah hukum? Tentu banyak kemungkinannya. Bisa jadi Fatin Hamama memang tidak serius menjadi sastrawan apalagi penyair sehingga soal majas begini saja ia harus kebakaran jilbab dan perlu main polisi. Sangat mungkin pula tindakan pelaporan itu hanyalah upaya mengalihkan isu atas cacat akademik buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang terus dibeberkan para pengkritik Denny JA. Dengan demikian buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" bisa berlenggang kangkung di pasaran buku, dimamah dan dipercaya anak sekolahan sebagai buku ajar sastra Indonesia meski menyesatkan. Atau Fatin Hamama ingin sekali ikut terkenal seperti Denny JA. Dan “menggebuk” Saut Situmorang adalah kunci? Entahlah.

Tapi kalau memang yang terakhir yang dicari Fatin Hamama, kayaknya dia salah pilih jalan. Fatin Hamama gagal menjadi penyair besar, cita-citanya sejak kecil (menurut pengakuannya sih) itu. Dia belum matang secara mental memasuki jagad yang penuh para pendekar. Terbukti, baru diledek bajingan aja sudah main lapor polisi. Susah memang kalok anak rumahan yang mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam masuk dunia sastra yang di dalamnya bukan hanya pendekar kata-kata, juga pendekar bogem mentah nan digjaya. 

Sebab, kalau mau jujur, dunia sastra nyatanya juga penuh ledekan dan cacian. Perkelahian. Pukulan. bahkan tonjokan. Tapi berkat itu semua seseorang bisa lantas terkenal sedemikian lama dan jadi populer serta berpengaruh di dunia sastra. Bukan hanya tingkat nasional pengaruhnya. Tapi bisa sampai nginternasional. Karena bukan cuma kecerdasannya teruji, mentalnya juga teruji.

Saya ambil contoh satu saja. dari Amerika Latin. Sebenarnya banyak sih, tapi satu saja biar tulisan ini tak panjang-panjang amat. Kalau di Indonesia kita tahu bagaimana HB. Jassin pernah menonjok muka Chairil Anwar karena meledeknya saat main teater. atau Idrus yang meledek Pramoedya Ananta Toer sebagai tukang berak, bukan penulis. Seandainya Chairil melaporkan Jassin ke polisi dan Pram menanggapi Idrus dengan main lapor aparat, kita tak mengenal Chairil dan Pram sebesar sekarang. 

Nah yang di Amerika Latin begini ceritanya. Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa sahabat karib. Keduanya sastrawan besar Amerika Latin. Sama-sama peraih nobel sastra. Tak jelas ujung pangkalnya kemana kemudian keduanya bermusuhan hebat. Puncaknya, di sebuah bioskop di Meksiko pada 1976, dalam acara pemutaran perdana film karya René Cardona La Odisea de los Andes, begitu Vargas Llosa bertemu García Márquez, peraih nobel sastra asal Peru itu langsung melayangkan tinjunya ke muka García Márquez. Mata kiri García Márquez bengkak. Dan aneh bin ajaib bagai dalam novel-novel realis magisnya, seorang teman lari ke toko daging dekat situ, mengambil seiris daging, lalu menaruhnya di mata García Márquez yang lebam sebagai kompres! 

Tapi Garcia Marquez tak pernah melaporkan sahabat karib yang sekaligus musuh bebuyutannya itu ke polisi. Dan hingga kini karya keduanya sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Bahkan tanpa mereka, sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini. 

Kembali ke soal sastra Indonesia. Oke, nasi sudah jadi bubur. Saut Situmorang sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal pencemaran nama baik. Soalnya adalah apakah kemerdekaan menggunakan majas sebagai gaya bahasa dalam bahasa indonesia yang besar itu sudah tidak ada lagi? Sedemikian suramkah kemerdekaan kita berpendapat dan mengkritik orang menggunakan gaya bahasa yang sah dan diajarkan secara legal di bangku sekolahan hingga harus berakhir di tangan polisi? kalau menyaksikan bagaimana Ahok, Gubernur DKI itu dengan enteng menggunakan seribu satu caci maki dalam merespon banyak persoalan kita sangsi. Tapi sepertinya yang boleh mencaci hanya orang yang punya kuasa. Bukankah sudah tidak terhitung orang yang kena jerat pasal pencemaran nama baik? Dan kini pasal itu coba menekuk seorang penyair. Menekuk karena dia benar. 

Tentu kita tak ingin kehilangan kemerdekaan itu. Kita yang bangga pada sastra dan bahasa Indonesia tak ingin bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dikerdilkan sedemikian rupa hanya karena memilih menggunakan majas sarkasme dan alegori sebagai gaya bahasa. 

Kalau persoalan begini didiamkan begitu saja, barangkali sastra Indonesia telah selesai. Selesai ditekuk kuasa uang. Selesai ditekuk orang-orang kerdil dan punya uang untuk mengobrak abrik jejak sejarahnya demi mendongkrak popularitasnya. Dan kita akan terus menjadi bangsa yang seolah-olah santun tapi munafik. Munafik pada kenyataan sosial. Kalau sastrawan ya sastrawan yang lembek dan gampang patah kalau sudah dikukus sama dollar. Dan Saut Situmorang akan mendekam juga di balik jeruji penjara. Selanjutnya, mungkin kita. 

Selamat beraktivitas. jangan lupa sisa kondomnya dibuang, nanti ketahuan.


*) Edy Firmansyah, penyair unyu-unyu dan petani melon.

Rabu, 05 Agustus 2015

Tentang Kretek: Dari Sehat Tentrem Sampai ke Divine



Di saat kampanye anti tembakau kian gencar menyerang membabi buta, di saat industri kretek makin takluk dengan kebijakan pemerintah untuk memasang warning (baik gambar maupun kata-kata) tentang bahaya mengisap tembakau, ada jenis kretek yang tak peduli dengan itu semua. Bahkan menantangnya.

Jenis kretek yang saya maksud adalah kretek Sehat Tentrem dan Divine. Kretek Sehat Tentrem adalah kretek produksi rumahan sebuah Ponpes di Jombang. Sementara Divine klobot adalah garapan Dr. Greta Zahar lewat klinik Griya Balur. Merokok salah satu dari dua jenis kretek ini tak akan membunuhmu. Sebaliknya, bakal menyehatkanmu.

Divine klobot, misalnya. Rokok ini diciptakan seorang pakar nuclear science bernama Dr. Greta Zahar. Ia mengelola klinik kesehatan dengan terapi tembakau. Kliniknya telah membantu ratusan orang yang sudah tidak bisa ditangani oleh rumah sakit. Asap tembakau merupakan salah satu elemen penting dalam penyembuhan. Tidak hanya diisap, asap tembakau itu dimasukkan melalui hidung, telinga, dan anus. Asap tembakau dipercaya bisa membantu mengeluarkan radikal bebas dari dalam tubuh. Radikal bebas adalah zat yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya di tubuh. Dengan mengluarkannya, tubuh bisa dengan optimal menciptakan antibodi dan melakukan regenerasi untuk menyembuhkan penyakit.

Rokok yang dinamai Divine Klobot itu mengandung asam amino. Tembakaunya diambil langsung dari petani tanpa perantara. kemudian diproses sedemikian rupa sehingga bukan hanya bebas dari radikal bebas tetapi juga mengandung asam amino. Fungsi asam amino adalah memecah radikal bebas dalam tubuh menjadi partikel yang berukuran jauh lebih kecil. "Dengan terapi asap, radikal bebas yang keluar dari tubuh akan berukuran kecil, sehingga pasien tidak perlu mengalami siksaan seperti luka-luka yang besar dan basah atau aroma tubuh yang sangat mengganggu", kata Dr. Gretha dalam sebuah wawancara. Proses penyembuhan melalui asap tembakau menjadi jauh lebih cepat, bahkan selama proses pengobatan pasien bisa tetap menjalani kehidupan normal tanpa diet khusus, asalkan ia bersedia secara teratur, merokok!

Sayangnya Divine klobot tidak dijual bebas. Saya pernah mencoba hendak membeli via online melalui email resmi Griya Balur. Namun, Prof. Sutiman B. Sumitro, guru besar Unibraw, mitra kerja Dr. Greta, membalas email saya;

"Maaf, kami tidak menjual rokok" ujarnya. Untunglah ada teman yang menjadi 'member' Griya Balur sehingga saya bisa menikmati Divine Klobot.

Divine yang saya nikmati adalah kretek nomor 2 dan 19. Divine klobot memang punya nomor di tiap bungkusnya. Tiap nomor memiliki fungsi berbeda untuk mengobati penyakit. Kretek nomor 2 dan 19 adalah kretek standar.

Kalau dilihat dari bungkusnya, orang awam tak akan percaya bahwa Divine klobot punya khasiat luar biasa bagi kesehatan. Divine hanya dibungkus plastik bening. Tanpa tulisan apapun. Rasanya juga hambar, mirip rokok putihan, karena hanya berisi tembakau murni tanpa tambahan apapun di setiap batangnya.

Berbeda dengan kretek Sehat Tentrem. Kretek produksi Majmaal Bahroin Hubbul Wathon Minal Iman - Shiddiqiyyah Jombang itu dibungkus dengan baik layaknya rokok komersil. Bedanya dengan rokok komersil, bungkus Sehat Tentrem tanpa gambar mengerikan akan bahaya rokok dan tanpa cukai. Kalimat peringatan "merokok membunuhmu" di rokok komersil diganti dengan kalimat provokatif yang bikin siapapun yang membacanya bakal tersenyum; "rokok ini dapat menyebabkan kesehatan"

Rasanya gurih. Sama gurihnya dengan Dji Sam Soe. Hanya asapnya lebih ringan. dan sedikit terasa sejuk seakan-akan terdapat campuran mint di dalamnya. Hisaplah dan tahan sebentar asapnya di paru-paru, maka anda yang baru pertama merokok Sehat Tentrem akan dibuat pening dan mengeluarkan keringat di kening.

"Tanda khasiat sehat tentrem sedang bekerja" ujar Taufik, salah satu penjual Sehat Tentrem asal Bangkalan yang saya hubungi via telepon.

Dari berbagai testimoni yang saya baca di fanpage fesbuk Sehat Tentrem, rokok kretek tak berfilter berbungkus coklat dengan hiasan batik itu juga berhasil menyembuhkan beragam penyakit. Mulai yang ringan hingga berat. Mulai dari maag sampai stroke. Mulai dari hepatitis hingga sirosis. Di yutub malah ada testimoni anggota TNI yang lumpuh karena stroke selama 13 tahun sembuh setelah rutin merokok Sehat Tentrem.

Pengakuan Istri saya Nurfa Rosanti yang mengidap asma sejak usia belia, tiap kali menghirup asap Sehat Tentrem kala saya merokok dan kebetulan nafasnya mulai berat karena asmanya kambuh karena udara dingin, mengaku lebih plong dan merasa lega.

Sama dengan Divine Klobot, Sehat Tentrem juga memiliki klinik kesehatan yang menggunakan tembakau sebagai terapi menyembuhkan penyakit. Nama kliniknya Assyifa'. Letaknya di Jalan Raya Ploso, Jombang, Jawa Timur. Baik klinik Griya Balur maupun klinik Assyifa' juga memroduksi kopi sebagai rangkaian terapi pengobatan selain tembakau. Pasien yang datang ke klinik tersebut ditangani oleh dokter bukan dukun. Juga diberi resep obat. Tapi bukan pil atau sirup, melainkan kretek dan kopi.

Harga per bungkus Divine maupun Sehat Tentrem juga tak jauh beda. Divine nomor 2 dan 19 bisa ditebus dengan uang sebesar Rp. 25.000,- Sedangkan Sehat Tentrem per bungkus dijual seharga Rp. 35.000,-. Bedanya, Divine tidak dijual bebas, sedangkan Sehat Tentrem dijual bebas untuk Indonesia Raya.

“Semua rokok sama saja. Asapnya mengandung penyakit. Tak ada rokok yang menyehatkan” ujar Risol, salah satu perawat di Rumah Sakit Umum Bangkalan. Risol percaya apa yang dikampanyekan Kementerian Kesehatan tentang bahaya rokok benar adanya. Pernyataan Risol didukung Slamet Riyadi, seorang PNS yang hampir 10 tahun telah berhenti merokok. PNS yang lima tahun lagi akan menghadapi pensiun ini mengaku berhenti setelah diagnosa dokter bahwa paru-parunya kena. Nikotin dalam rokok sangat mematikan bagi manusia.

Herannya meski Risol mendukung kampanye antirokok Kementerian Kesehatan, ia seorang perokok. Dia mengaku ia tak sendiri. Banyak pegawai rumah sakit tempatnya bekerja juga tak sedikit yang perokok. Termasuk beberapa dokter senior dan dokter muda yang tengah magang di tempatnya bekerja.  ”Dokter yang ngerti kesehatan juga ada yang merokok loh, Mas.” Ujarnya ketika bertandang ke rumah saya lebaran 2015 kemarin. Risol adalah sahabat karib adik bungsu saya.

            ”Jadi merokok itu tidak berbahaya dong, jika civitas kesehatan juga merokok?” saya balik bertanya. Risol hanya tertawa. Kemudian kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.

Nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun. Nikotin memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotin tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.

            ”Yang penting tahu penetralnya” kilahnya. Dia kemudian mengatakan bahwa penetral nikotin dalam tubuh adalah olah raga yang teratur dan menjaga pola makan. Risol sejak dua tahun lalu menurut penuturannya memang aktif ikut Gym. Dulu tubuhnya kerempeng. Namun sekarang badannya terbentuk bagus.
            Sementara itu, Erika Hidayanti, Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta, menjelaskan lebih jauh tentang penetralisir nikotin dalam tubuh. Selain berolah raga, mengonsumsi air mineral 8-12 per hari efektif untuk mereduksi nikotin dalam tubuh. Bukan hanya nikotin saja, namun, zat-zat lain yang tak menguntungkan tubuh bisa keluar.

            “Makanan lain yang dapat mentralkan nikotin adalah wortel, jeruk nipis dan pisang. Wortel kaya akan vitamin A, B, C, D, E, dan K. Kandungan vitamin yang lengkap ini membuat wortel mengandung nutrisi dan antioksidan yang tinggi sehingga mampu mereduksi nikotin. Sementara jeruk nipis kaya akan antioksidan dan vitamin C sehingga dapat membantu pengeluaran nikotin yang mengendap dalam tubuh. Sedangan pisang mengandung vitamin B6 dan B12 yang bisa menjadi peluruh nikotin dalam tubuh.” Ujarnya dalam artikelnya yang dimuat di www.komunitaskretek.co.id

            Seorang dokter spesialis paru-paru di salah satu Rumah Sakit Umum di Madura punya cara lain menetralisir bahaya nikotin. Yakni dengan asap daun mentol atau mint. Ia seorang perokok. Di sakunya selalu tersedia dua rokok. Satu bungkus rokok kretek biasa, satu bungkus lagi rokok mentol.

            ”Tiap lima batang rokok yang dihabiskan, usahakan untuk merokok satu batang rokok mentol. Ini untuk mengurangi kelebihan nikotin dalam tubuh,” ujar dokter paruh baya itu yang enggan disebut namanya.

            Meski demikian, beberapa riset terbaru di bidang medis justru menunjukkan manfaat nikotin. Berdasarkan siaran pers perusahaan “Reasearch Indicating That Nicotin Holds Potential for non surgical Heart by-pass procedures Honored by American Collage Cardiology pada 17 Maret 2000 silam, dijelaskan bahwa agen nikotin mampu menghasilkan pembuluh darah baru lebih banyak pada urat nadi yang tersumbat dibandingkan faktor penumbuh lain manapun yang dikenal.

            “Bahkan suatu hari nanti nikotin bisa menjadi alternatif yang mengejutkan untuk menangani bentuk-bentuk tuberkolosis yang membandel. Sebab berdasarkan penelitian, senyawa nikotin mampu menghentikan pertumbuhan tuberkolosis dalam uji laboratorium, bahkan ketika dipakai dalam jumlah kecil.” Ujar Saleh Nasser, salah satu anggota asosiasi profesor microbiologi dan biologi molekuler di UCF sebagaimana yang dikutip Wanda Hamilton dalam bukunya, Nicotine War. Pendapat Saleh Nasser seakan-akan mendukung divine kretek yang terus dikembangkan Dr. Greta Zahar dan kawan-kawannya.

            ”Sebenarnya tembakau sudah dimanfaatkan sebagai obat oleh penduduk pribumi di daratan Amerika jauh sebelum warga pendatang tiba dari Eropa. Apa yang kami lakukan hanya melanjutkan tradisi yang maha kaya itu” ungkap Dr. Greta.

                Jadi, masih percaya dengan kampanye anti rokok? Kalau masih, berarti mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam.






Kamis, 30 Juli 2015

Mati Karena Berita

Seandainya ia sedikit bersabar dengan segala tekanan batin yang menggempur pikirannya hingga ambruk, ia tak harus ditulis dengan kisah yang muram. Seandainya ia mau bersabar menunggu buku Noam Chomsky terbit, ia mungkin akan tersenyum dan menikmati hari-hari penuh bunga bersama istri dan tiga anaknya dengan bintang jurnalistik berkilau di dadanya. Tapi siapa yang dapat menghapus ingatan? Tak banyak orang yang sanggup bertahan dari stigma buruk yang terus diberondongkan padanya seperti senapan mesin dalam setiap detik kehidupannya. Dan Gary Webb merupakan salah satu dari banyak orang yang bertekuk lutut dihantam masa silam. Mati karena berita.

Tahun 2004, Gary Webb, seorang wartawan media lokal bernama The San Jose Mercury News, ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak di kepala. Ia mati karena depresi berat, kemudian bunuh diri.

Semua bermula dari sebuah hubungan telepon dengan seorang perempuan bernama Coral Baca, seorang narasumbernya. Setelah telepon itu, Gary Webb menemui Coral di sebuah café. Coral membagikan sebuah dokumen rahasia milik CIA. Dokumen tersebut berisi catatan tentang perdagangan kokain di Amerika. Tentu bukan perdagangan narkotika biasa. Dokemen tersebut mencatat keterlibatan pejabat-pejabat penting di Amerika (khususnya pejabat CIA, kejaksaan, kepolisian dan militer) dalam perdagangan kokain. Sangat kontradiktif dengan kampanye pemerintah Amerika yang berniat memerangi narkotika. Tak hanya itu saja. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa uang-uang hasil skandal busuk pemerintah Amerika dengan mafia narkoba Amerika Tengah justru digunakan untuk membiayai peralatan perang paramiliter Contra bentukan CIA untuk memerangi Sandinista, gerilyawan berhaluan komunis yang menentang pemerintang Samoza di Nikaragua. Pemerintahan boneka bentukan AS. Maklum, meski tembok berlin telah runtuh sebagai penanda akhir perang dingin, komunismephobia Amerika ternyata tak sembuh-sembuh. Segala bentuk negara yang berbau komunis harus jatuh.

Webb yang beberapa waktu sebelum mendapat dokumen rahasia tersebut memang sedang tekun meliput tentang peredaran narkoba di wilayahnya seakan mendapat durian runtuh. Terlebih dalam dokumen tersebut dinyatakan pemerintah Amerika justru terlibat dalam peredaran narkotika. Inilah liputan investigasi pertama sekaligus terakhir yang dilakukan Webb. Webb melacak semua nama yang disebut dalam dokumen tersebut. Bahkan ia rela terbang ke penjara Tipitapa, Nikaragua, dengan biaya sendiri untuk menemui Manasess, seorang mafia narkoba besar yang menjadi agen CIA dalam memasok persenjataan dan kebutuhan pokok pada paramiliter Contra.

Dari Manasess, Webb mendapatkan nama Freid Weil, seorang agen CIA yang menjadi penghubung gelapnya. Webb menemui Weil di Washington DC, dan kebenaran dari dokumen tersebut makin terang mengenai keterlibatan negara dalam peredaran narkotika. Meski demikian, Weil memperingatkan Webb mengenai ancaman besar jika investigasi dia diterbitkan. nyawanya bakal terancam. Webb mulai ragu.
Keragu-raguan Webb runtuh ketika CIA memanggilnya secara khusus setelah mengetahui kerja investigasinya. Webb diancam. Bukannya surut, Webb balik mengancam. Investigasinya bakal tayang.
Dan benar, begitu berita Webb tentang keterlibatan pemerintah dalam perdagangan narkoba dan pembiayaan peralatan tempur dalam perang ilegal, khalayak Amerika gempar. Media-media besar seperti Washington Post, New York Times, L.A Times seakan tertampar. Berita besar tentang skandal negara AS itu justru terbit di media lokal jauh dari hiruk pikuk pusat Amerika.

Terbitnya investigasi Gary Webb membuat ia laksana bintang jatuh. Dia tiba-tiba menyala sebentar, tetapi kemudian lenyap ditelan langit malam. Pujian demi pujian melayang padanya. Tapi itu tak lama. Hari-hari kelam kemudian menantinya.Pemerintah AS, di tengah masa-masa kampanye pemilihan presiden tahun 1998 kalap.

Sebuah konspirasi jahat dijalankan untuk membungkam Webb. Media besar pesaing koran tempat Webb bekerja mulai membuat berita tandingan. Termasuk mulai membuat opini mengenai betapa meragukan validitas berita Webb. Tak hanya itu saja. Berita gosip mengenai skandal perselingkuhan Webb di masa silam dengan seorang reporter bernama Barbara juga diungkap. Rumah Webb terus diawasi orang tak dikenal. Teror demi teror terhadap Webb dan keluarganya terus terjadi.

Belakangan, semua narasumber Webb yang pernah ia wawancarai tiba-tiba mengaku tak pernah bertemu dan diwawancarai Webb. Imbasnya The San Jose Mercury News mendapatkan teguran dan dituntut minta maaf atas berita 'palsu' hasil liputan Webb. Webb menolak menulis permintaan maaf.

Atas kerja jurnalistiknya itu Webb mendapat anugerah jurnalistik terbaik. Sejak itu ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, kemudian benar-benar gantung pena. Sampai kemudian setelah tujuh tahun mengundurkan diri dari tempatnya menjadi kuli tinta ia ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak di kepala. Bunuh diri. Beberapa pendapat lain meragukan Webb bunuh diri dengan dua luka tembak. Webb dibunuh. Namun sebuah penelitian yang dilansir wikipedia menyebutkan dalam 138 kasus bunuh diri 5 diantaranya (3,8%) bunuh diri dengan dua tembakan di kepala. bahkan pernah dilaporkan sebuah bunuh diri dengan empat tembakan di kepala.

Film yang diadaptasi dari kisah nyata kerja jurnalistik Gary Webb itu mengingatkan kita bahwa memang tak mudah mengungkapkan kebenaran. Apalagi jika skandal kejahatan melibatkan negara. Di negeri ini kita punya kisah muram yang tak jauh beda dengan Gary Webb. Kita punya Munir yang diracun dalam penerbangannya menuju Belanda dan hingga kini bahkan aktor intelektual yang paling bertanggungjawab atas kematiannya tak pernah merasakan dinginnya jeruji penjara. Kita punya kisah pedih Marsinah yang mati disiksa dengan kemaluan rusak berat karena disodok laras senjata hanya karena menuntut Haknya sebagai buruh. Kita juga punya Udin, wartawan Bernas yang ditembak orang tak dikenal karena liputannya tentang korupsi Bupati Bantul dan hingga detik ini pelakunya tak juga tertangkap. Kita punya Widji Thukul yang dihilangkan negara karena puisinya menggedor tembok kekuasaan yang retak. Kematian orang-orang yang saya sebutkan itu, hanyalah contoh kecil dari banyak kematian di negeri ini yang suka tidak suka juga melibatkan tangan-tangan keji kekuasaan. Negara terlibat.

Berdurasi 111 menit, film yang dibintangi Jeremy Renner benar-benar menjadi film yang layak ditonton. Meski bergerak dengan datar tapi ketegangan demi ketegangan yang dibangun dalam film yang diadaptasi dari buku karangan Nick Svhou berjudul sama dengan film tersebut dan buku berjudul Dark Alliance karya Gary Webb sangat terasa bahkan jika dibandingkan dengan film True Story yang punya tema sama; tentang wartawan. Kita bisa menyaksikan betapa melelahkan dan penuh bahaya mengungkap kebenaran melalui kerja investigasi.

Sudahlah, saya terlalu banyak basa-basi. Ini film bagus. Pilihan hidup memang memiliki resikonya masing-masing. Mau jadi penulis atau mau jadi petani, jika sudah berhadapan dengan pemerintah korup dan keji resikonya sama saja; disiksa dengan keji sampai mati atau ditembak di rumah sendiri. Film ini tayang perdana pada 10 Oktober 2014 silam. Tentu sudah banyak yang nonton. Saya saja yang terlambat menontonnya. Anda sudah?