Seandainya ia sedikit bersabar dengan segala tekanan batin yang
menggempur pikirannya hingga ambruk, ia tak harus ditulis dengan kisah
yang muram. Seandainya ia mau bersabar menunggu buku Noam Chomsky
terbit, ia mungkin akan tersenyum dan menikmati hari-hari penuh bunga
bersama istri dan tiga anaknya dengan bintang jurnalistik berkilau di
dadanya. Tapi siapa yang dapat menghapus ingatan? Tak banyak orang yang
sanggup bertahan dari stigma buruk yang terus diberondongkan padanya
seperti senapan mesin dalam setiap detik kehidupannya. Dan Gary Webb
merupakan salah satu dari banyak orang yang bertekuk lutut dihantam masa
silam. Mati karena berita.
Tahun 2004, Gary Webb, seorang
wartawan media lokal bernama The San Jose Mercury News, ditemukan
terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua luka tembak
di kepala. Ia mati karena depresi berat, kemudian bunuh diri.
Semua bermula dari sebuah hubungan telepon dengan seorang perempuan
bernama Coral Baca, seorang narasumbernya. Setelah telepon itu, Gary
Webb menemui Coral di sebuah café. Coral membagikan sebuah dokumen
rahasia milik CIA. Dokumen tersebut berisi catatan tentang perdagangan
kokain di Amerika. Tentu bukan perdagangan narkotika biasa. Dokemen
tersebut mencatat keterlibatan pejabat-pejabat penting di Amerika
(khususnya pejabat CIA, kejaksaan, kepolisian dan militer) dalam
perdagangan kokain. Sangat kontradiktif dengan kampanye pemerintah
Amerika yang berniat memerangi narkotika. Tak hanya itu saja. Dalam
dokumen tersebut dijelaskan bahwa uang-uang hasil skandal busuk
pemerintah Amerika dengan mafia narkoba Amerika Tengah justru digunakan
untuk membiayai peralatan perang paramiliter Contra bentukan CIA untuk
memerangi Sandinista, gerilyawan berhaluan komunis yang menentang
pemerintang Samoza di Nikaragua. Pemerintahan boneka bentukan AS.
Maklum, meski tembok berlin telah runtuh sebagai penanda akhir perang
dingin, komunismephobia Amerika ternyata tak sembuh-sembuh. Segala
bentuk negara yang berbau komunis harus jatuh.
Webb yang
beberapa waktu sebelum mendapat dokumen rahasia tersebut memang sedang
tekun meliput tentang peredaran narkoba di wilayahnya seakan mendapat
durian runtuh. Terlebih dalam dokumen tersebut dinyatakan pemerintah
Amerika justru terlibat dalam peredaran narkotika. Inilah liputan
investigasi pertama sekaligus terakhir yang dilakukan Webb. Webb melacak
semua nama yang disebut dalam dokumen tersebut. Bahkan ia rela terbang
ke penjara Tipitapa, Nikaragua, dengan biaya sendiri untuk menemui
Manasess, seorang mafia narkoba besar yang menjadi agen CIA dalam
memasok persenjataan dan kebutuhan pokok pada paramiliter Contra.
Dari Manasess, Webb mendapatkan nama Freid Weil, seorang agen CIA yang
menjadi penghubung gelapnya. Webb menemui Weil di Washington DC, dan
kebenaran dari dokumen tersebut makin terang mengenai keterlibatan
negara dalam peredaran narkotika. Meski demikian, Weil memperingatkan
Webb mengenai ancaman besar jika investigasi dia diterbitkan. nyawanya
bakal terancam. Webb mulai ragu.
Keragu-raguan Webb runtuh
ketika CIA memanggilnya secara khusus setelah mengetahui kerja
investigasinya. Webb diancam. Bukannya surut, Webb balik mengancam.
Investigasinya bakal tayang.
Dan benar, begitu berita Webb
tentang keterlibatan pemerintah dalam perdagangan narkoba dan pembiayaan
peralatan tempur dalam perang ilegal, khalayak Amerika gempar.
Media-media besar seperti Washington Post, New York Times, L.A Times
seakan tertampar. Berita besar tentang skandal negara AS itu justru
terbit di media lokal jauh dari hiruk pikuk pusat Amerika.
Terbitnya investigasi Gary Webb membuat ia laksana bintang jatuh. Dia
tiba-tiba menyala sebentar, tetapi kemudian lenyap ditelan langit malam.
Pujian demi pujian melayang padanya. Tapi itu tak lama. Hari-hari kelam
kemudian menantinya.Pemerintah AS, di tengah masa-masa kampanye
pemilihan presiden tahun 1998 kalap.
Sebuah konspirasi jahat
dijalankan untuk membungkam Webb. Media besar pesaing koran tempat Webb
bekerja mulai membuat berita tandingan. Termasuk mulai membuat opini
mengenai betapa meragukan validitas berita Webb. Tak hanya itu saja.
Berita gosip mengenai skandal perselingkuhan Webb di masa silam dengan
seorang reporter bernama Barbara juga diungkap. Rumah Webb terus diawasi
orang tak dikenal. Teror demi teror terhadap Webb dan keluarganya terus
terjadi.
Belakangan, semua narasumber Webb yang pernah ia
wawancarai tiba-tiba mengaku tak pernah bertemu dan diwawancarai Webb.
Imbasnya The San Jose Mercury News mendapatkan teguran dan dituntut
minta maaf atas berita 'palsu' hasil liputan Webb. Webb menolak menulis
permintaan maaf.
Atas kerja jurnalistiknya itu Webb mendapat
anugerah jurnalistik terbaik. Sejak itu ia mengundurkan diri dari
tempatnya bekerja, kemudian benar-benar gantung pena. Sampai kemudian
setelah tujuh tahun mengundurkan diri dari tempatnya menjadi kuli tinta
ia ditemukan terkapar bersimbah darah di lantai apartemennya dengan dua
luka tembak di kepala. Bunuh diri. Beberapa pendapat lain meragukan Webb bunuh diri dengan dua luka tembak. Webb dibunuh. Namun sebuah penelitian yang dilansir wikipedia menyebutkan dalam 138 kasus bunuh diri 5 diantaranya (3,8%) bunuh diri dengan dua tembakan di kepala. bahkan pernah dilaporkan sebuah bunuh diri dengan empat tembakan di kepala.
Film yang diadaptasi dari
kisah nyata kerja jurnalistik Gary Webb itu mengingatkan kita bahwa
memang tak mudah mengungkapkan kebenaran. Apalagi jika skandal kejahatan
melibatkan negara. Di negeri ini kita punya kisah muram yang tak jauh
beda dengan Gary Webb. Kita punya Munir yang diracun dalam
penerbangannya menuju Belanda dan hingga kini bahkan aktor intelektual
yang paling bertanggungjawab atas kematiannya tak pernah merasakan
dinginnya jeruji penjara. Kita punya kisah pedih Marsinah yang mati
disiksa dengan kemaluan rusak berat karena disodok laras senjata hanya
karena menuntut Haknya sebagai buruh. Kita juga punya Udin, wartawan
Bernas yang ditembak orang tak dikenal karena liputannya tentang korupsi
Bupati Bantul dan hingga detik ini pelakunya tak juga tertangkap. Kita
punya Widji Thukul yang dihilangkan negara karena puisinya menggedor
tembok kekuasaan yang retak. Kematian orang-orang yang saya sebutkan
itu, hanyalah contoh kecil dari banyak kematian di negeri ini yang suka
tidak suka juga melibatkan tangan-tangan keji kekuasaan. Negara
terlibat.
Berdurasi 111 menit, film yang dibintangi Jeremy Renner
benar-benar menjadi film yang layak ditonton. Meski bergerak dengan
datar tapi ketegangan demi ketegangan yang dibangun dalam film yang
diadaptasi dari buku karangan Nick Svhou berjudul sama dengan film
tersebut dan buku berjudul Dark Alliance karya Gary Webb sangat terasa
bahkan jika dibandingkan dengan film True Story yang punya tema sama;
tentang wartawan. Kita bisa menyaksikan betapa melelahkan dan penuh
bahaya mengungkap kebenaran melalui kerja investigasi.
Sudahlah,
saya terlalu banyak basa-basi. Ini film bagus. Pilihan hidup memang
memiliki resikonya masing-masing. Mau jadi penulis atau mau jadi petani,
jika sudah berhadapan dengan pemerintah korup dan keji resikonya sama
saja; disiksa dengan keji sampai mati atau ditembak di rumah sendiri.
Film ini tayang perdana pada 10 Oktober 2014 silam. Tentu sudah banyak
yang nonton. Saya saja yang terlambat menontonnya. Anda sudah?
WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Kamis, 30 Juli 2015
Mati Karena Berita
Label:
Artikel,
Jendela Rumah
Selasa, 12 Mei 2015
Mereka yang Menghabiskan 80 Juta Rupiah dalam Setengah Jam
Kasus tertangkapnya AA dalam bisnis pelacuran kelas atas bikin heboh publik. Bukan karena penggerebekannya yang dramatis, tetapi karena tarifnya. Bayangkan saudara, untuk sekali crot seorang pria hidung belang harus merogoh kocek 80 juta rupiah. Bukan angka yang sedikit untuk ukuran saya. Uang segitu udah cukup buat beli mobil murah merek Ayla atau Agya yang sampai saat ini bahkan untuk membeli rodanya, saya masih mikir duakali. Apalagi untuk ukuran seorang Tuki, tukang becak motor di kampung saya.
Sebenarnya soal gerebek pelacuran satuan polisi pamong praja dan kepolisian memang paling jago. Cuma levelnya masih kelas coro. Pinggiran. Pelacuran kelas teri. Yang bahkan bagi seorang pelacur kelas pinggir jalan itu, untuk dapat 10 juta saja, mungkin harus rela kerja selama tiga bulan nonstop tanpa prei. Sementara yang ini, kelas elit. Padahal, ya, nikmatnya vagina masih begitu begitu juga. Cuma mungkin beda sensasi aja. Duh...pusing pala babi.
Bagaimana nggak pusing, uang sebanyak 80 juta hanya dibuat untuk memuntahkan sperma usai bergesekan dengan vagina yang barangkali hanya perlu waktu paling lama setengah jam. Waktu sependek itu membuat uang 80 juta sudah harus rela berpindah tangan. Orang macam apa yang begitu gampang melepas duit yang kalau dibelikan cendol itu bisa memenuhi dua kolam renang? Toh vagina perempuan di mana-mana sama saja. Masih vertikal. Tidak horisontal. Masih terus ditumbuhi bulu bukan ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit. Masih licin kalau terangsang tidak keras seperti moncong senapan atau kenalpot telo. Jadi, laki-laki macam apakah gerangan yang mau menghabiskan uang untuk hal yang tak masuk akal bagi orang kebanyakan itu?
Pertama, jelas orang kaya yang penghasilannya sebulan bisa satu miliar sehingga angka 80 juta rupiah seperti sekedar uang dua puluh ribu di saat saya gajian. Begitu enteng dikeluarkan dan diberikan pada ponakan atau sepupu yang pulang kampung. Atau lebih tegasnya orang kaya yang sombong, sehingga uang 80 juta rupiah hanya dihabiskan hanya untuk short time main dengan pelacur. Kalaupun bukan orang kaya yang sombong, tentu kelas menengah yang stress berat, sehingga uang 80 juta yang bertahun-tahun ia tabung dengan laku hidup hemat akhirnya dihabiskan cuma buat ngasah keris tumpul di gua garba habis kehujanan. Tapi senekat-nekatnya kelas menengah, jelas susah ditemukan kebenarannya untuk menghabiskan tabungan 80 juta hanya untuk sekali crot.
Kedua, jelas orang kaya yang buruk rupa, yang di masa mudanya tak pernah bisa berkencan dengan perempuan yang cantik jelita dengan cara yang normal. Normal dalam artian, pacaran, tunangan, sampai akhirnya menikah. Sehingga untuk memuaskan obsesinya mengencani cewek-cewek jelita ciptaan bapak dan ibunya itu harus rela menghamburkan uang sedemikian banyaknya. Sebab orang-orang tampan macam saya tak perlu harus merogoh kocek sampai segila itu untuk hanya sekedar mengencani cewek cantik. Cukup tebar pesona dan pasang senyum, para perempuan yang tertarik pasti akan segera meminta tukeran nomor telepon.
Ketiga jelas orang kaya yang sadar betul bahwa adagium hidup kaya raya dan mati masuk surga bukanlah takdir dirinya. Mereka sadar takdirnya hidup kaya raya dan matinya disiksa dalam neraka. Karena duit sebanyak yang dia punya tak didapat dengan cara halal, melainkan dengan cara haram; menindas orang, merampas hak orang lain,menipu buruhnya sendiri, hingga korupsi. Akhirnya, daripada sama sekali tidak bisa menikmati peluk cium dan desah berahi para bidadari di surga maka ia memutuskan untuk menikmati bidadari-bidadari dunia. Terserah berapapun harga yang harus dibayarnya. Pokoknya ia harus menikmati sebanyak-banyaknya bidadari dunia yang mampu memuaskan syahwat liarnya sebelum ajal menjemputnya.
Buat mereka yang mengejar surga dan masih punya harapan untuk mendapat surga setelah kiamat, buat apa menghabiskan uang sebanyak itu untuk mengumbar syahwat. Mending diamalkan ke masjid atau mushalla. Atau buat menyantuni anak yatim dan orang miskin. Sebab balasannya jelas, surga. Dan orang-orang macam begitu boleh membayangkan bahwa memek bidadari di surga tentu lebih nikmat dari memek bidadari di dunia. Dan halal. Kecuali tidak digerebek FPI atau perlu stempel halal MUI.
Sebenarnya soal gerebek pelacuran satuan polisi pamong praja dan kepolisian memang paling jago. Cuma levelnya masih kelas coro. Pinggiran. Pelacuran kelas teri. Yang bahkan bagi seorang pelacur kelas pinggir jalan itu, untuk dapat 10 juta saja, mungkin harus rela kerja selama tiga bulan nonstop tanpa prei. Sementara yang ini, kelas elit. Padahal, ya, nikmatnya vagina masih begitu begitu juga. Cuma mungkin beda sensasi aja. Duh...pusing pala babi.
Bagaimana nggak pusing, uang sebanyak 80 juta hanya dibuat untuk memuntahkan sperma usai bergesekan dengan vagina yang barangkali hanya perlu waktu paling lama setengah jam. Waktu sependek itu membuat uang 80 juta sudah harus rela berpindah tangan. Orang macam apa yang begitu gampang melepas duit yang kalau dibelikan cendol itu bisa memenuhi dua kolam renang? Toh vagina perempuan di mana-mana sama saja. Masih vertikal. Tidak horisontal. Masih terus ditumbuhi bulu bukan ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit. Masih licin kalau terangsang tidak keras seperti moncong senapan atau kenalpot telo. Jadi, laki-laki macam apakah gerangan yang mau menghabiskan uang untuk hal yang tak masuk akal bagi orang kebanyakan itu?
Pertama, jelas orang kaya yang penghasilannya sebulan bisa satu miliar sehingga angka 80 juta rupiah seperti sekedar uang dua puluh ribu di saat saya gajian. Begitu enteng dikeluarkan dan diberikan pada ponakan atau sepupu yang pulang kampung. Atau lebih tegasnya orang kaya yang sombong, sehingga uang 80 juta rupiah hanya dihabiskan hanya untuk short time main dengan pelacur. Kalaupun bukan orang kaya yang sombong, tentu kelas menengah yang stress berat, sehingga uang 80 juta yang bertahun-tahun ia tabung dengan laku hidup hemat akhirnya dihabiskan cuma buat ngasah keris tumpul di gua garba habis kehujanan. Tapi senekat-nekatnya kelas menengah, jelas susah ditemukan kebenarannya untuk menghabiskan tabungan 80 juta hanya untuk sekali crot.
Kedua, jelas orang kaya yang buruk rupa, yang di masa mudanya tak pernah bisa berkencan dengan perempuan yang cantik jelita dengan cara yang normal. Normal dalam artian, pacaran, tunangan, sampai akhirnya menikah. Sehingga untuk memuaskan obsesinya mengencani cewek-cewek jelita ciptaan bapak dan ibunya itu harus rela menghamburkan uang sedemikian banyaknya. Sebab orang-orang tampan macam saya tak perlu harus merogoh kocek sampai segila itu untuk hanya sekedar mengencani cewek cantik. Cukup tebar pesona dan pasang senyum, para perempuan yang tertarik pasti akan segera meminta tukeran nomor telepon.
Ketiga jelas orang kaya yang sadar betul bahwa adagium hidup kaya raya dan mati masuk surga bukanlah takdir dirinya. Mereka sadar takdirnya hidup kaya raya dan matinya disiksa dalam neraka. Karena duit sebanyak yang dia punya tak didapat dengan cara halal, melainkan dengan cara haram; menindas orang, merampas hak orang lain,menipu buruhnya sendiri, hingga korupsi. Akhirnya, daripada sama sekali tidak bisa menikmati peluk cium dan desah berahi para bidadari di surga maka ia memutuskan untuk menikmati bidadari-bidadari dunia. Terserah berapapun harga yang harus dibayarnya. Pokoknya ia harus menikmati sebanyak-banyaknya bidadari dunia yang mampu memuaskan syahwat liarnya sebelum ajal menjemputnya.
Buat mereka yang mengejar surga dan masih punya harapan untuk mendapat surga setelah kiamat, buat apa menghabiskan uang sebanyak itu untuk mengumbar syahwat. Mending diamalkan ke masjid atau mushalla. Atau buat menyantuni anak yatim dan orang miskin. Sebab balasannya jelas, surga. Dan orang-orang macam begitu boleh membayangkan bahwa memek bidadari di surga tentu lebih nikmat dari memek bidadari di dunia. Dan halal. Kecuali tidak digerebek FPI atau perlu stempel halal MUI.
Jadi nikmat apalagi yang hendak kau dustai wahai sodaraku?
Label:
Esai Budaya
Sabtu, 11 April 2015
Rumah Kaca Orwell
Judul : 1984
Penulis : George Orwell
Penerbit : Bentang Pustaka, Jogyakarta
Cetakan : I, 2014 (edisi II)
Nomor ISBN : 978-602-291-003-9
Tebal : vii + 392 halaman
Kabut
cemas masih menggantung di hampir seluruh belahan dunia meski perang dunia
kedua telah reda. Tahun itu, 1949. Gema
genderang perang baru, yang ditabuh dua tahun lalu masih terdengar nyaring di telinga;
perang dingin. Ketegangan politik dan militer antara Dunia Barat yang dipimpin
oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya, dengan dunia Komunis yang dipimpin
oleh Uni Soviet di bawah Stalin beserta sekutu negara-negara satelitnya, terus memanas. Ekonomi
dunia bergerak seperti siput.
Pada
tahun penuh ketidakpastian dan rasa takut,
sebuah penerbit bernama Secker and Wardburg yang bertempat di London, Inggris,
meluncurkan sebuah novel distopian berjudul 1984. Penulisnya bernama George
Orwell yang belakangan baru diketahui merupakan nama pena dari Eric Arthur
Blair, seorang bekas opsir polisi Kerajaan Inggris kelahiran India.
Novel
itu membuat masyarakat eropa yang terbelah dalam arus perang dingin berguncang.
Mereka seakan mendapatkan
sokongan tenaga melawan otoritarianisme yang terus mencakarkan kuku-kuku
tajamnya. Tak lama setelah novel yang terdiri dari tiga bagian dengan satu
lampiran khusus mengenai kaidah bahasa newspeak itu tebit, istilah orwellian jadi semacam
kosakata baru untuk menunjukkan
pengebirian pendapat, kebebasan berpikir dan pemelintiran berita yang
dilakukan kekuasaan yang otoriter. Istilah
“Tuan besar sedang mengawasimu” jadi jamak digunakan masyarakat eropa
untuk mengolok-olok negara yang anti kebebasan berpendapat.
Apa
pasal? Masyarakat Eropa terpengaruh dengan tokoh Winston Smith dalam novel
tersebut. Dalam novel tersebut diceritakan, Winston bekerja di kantor
kementerian kebenaran. Tugas utamanya adalah menulis ulang artikel koran masa
lalu agar sesuai dengan garis kebijakan partai. Agar setiap ucapan dan isi
pidato partai dan tuan besar (sang ketua partai} yang berhubungan dengan prediksi
masa depan dapat terdokumentasi kebenarannya. Meskipun semuanya hanyalah hasil
rekayasa belaka. Kerja orang-orang di belakang meja yang bertugas melakukan
pemalsuan sejarah tingkat tinggi hingga tak seorangpun dapat menemukan bukti
bahwa sejarah dan kebenaran telah dipalsukan (hal.46-58).
Sejatinya
novel yang ditulis Orwell enam bulan sebelum ajal menjemputnya merupakan kritik
satir atas otoritarianisme Stalin di Uni Soviet yang berimbas pada partai buruh
dimana kala itu tengah berkuasa di Inggris. Dan barangkali banyak orang setuju
Stalin memang pantas dikritik. Kalau perlu dikutuk dan dicaci-maki. Di bawah
kakinya cita-cita revolusi Lenin untuk menciptakan masyarakat sosialis tanpa penindasan
luluh lantak. Marxisme jadi ‘kitab suci’ yang tak dapat ditafsir ulang.
Satu-satunya yang berhak menafsir pemikiran-pemikiran Karl Marx hanyalah partai
komunis. Masyarakat Uni Soviet hidup dalam ketakutan. Mereka seakan tersedot
dalam labirin kegelapan yang mengerikan. Kebebasan berpendapat dibungkam.
Pengkritik dilenyapkan. Leon Trotsky merupakan contoh bagaimana nasib
pengkritik kekuasaan Stalin. Diburu habis-habisan, hingga akhirnya kepalanya
dikapak mata-mata Stalin yang menyamar jadi pembantu Trotsky di
persembunyiannya di Siberia. Sastrawan Maxim Gorky juga mengalami nasib serupa
meski tak setragis Trotsky. Diasingkan. Pembabatan total pada orang-orang yang
dianggap makar pada kekuasaan Stalin dilakukan. Kuburan massal jadi pemandangan
yang mencekam.
Dalam
novelnya, Orwell menggambarkan kesepian, kegetiran dan ketakutan orang-orang
yang hidup dalam kungkungan negara diktator melalui tokoh Winston Smith. Meski
Winston bekerja di departemen milik negara dimana partai Sosing berkuasa, tapi
dalam pikirannya Winston selalu memberontak. Pemberontakannya terhadap segala
kebijakan tuan besar partai sosing yang despotik dan manipulatif itu ia
tuangkan dalam buku hariannya dengan cemas. Cemas karena di negara Oeceania
tempatnya tinggal terpasang teleskrin di mana-mana. Sebuah alat yang memantau
semua gerak gerik warga. Bahkan termasuk mimik muka dan gestur. Juga terdapat
polisi pikiran yang bertugas menyelidiki pikiran warga. Sehingga privasi
hanyalah fantasi di negeri Oceania. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang
membangkang, terpaksa diuapkan. Yang paling mengerikan, sebelum diuapkan para
pembangkang dikirim ke kamp-kamp penyiksaan untuk menjalani serangkaian
kebiadaban bernama alat siksa. Karenanya novel ini sengaja bergerak dengan alur
lambat dengan penggambaran suasana mencekam untuk mengajak pembaca merasakan
hidup berkalang ketakutan dalam pengawasan penuh negara.
Cara
Orwell menggambarkan bagaimana negara otoriter mengawasi masyarakatnya
mengingatkan saya pada novel Rumah Kaca Pramoedya Ananta Toer. Pram menulis
Rumah Kaca untuk menggambarkan bagaimana kolonialisme mengawasi gerak-gerik
para aktivis kemerdekaan. Dalam novel tersebut yang diawasi ketat adalah Minke.
Bedanya dengan 1984-nya Orwell, jika orwell menggambarkan bentuk pengawasan
ketat negara otoriter terhadap segala tindak tanduk warganya melalui novel
futuristik, Pram justru menggambarkan bagaimana cara perumahkacaan negara
kolonial melalui novel epik. Sementara tokoh Winston Smith adalah tokoh rekaan
Orwell, sedangkan tokoh Minke justru diadaptasi Pram dari tokoh nyata bernama
RM. Tirto Adisurjo, pendiri harian Medan Prijaji. Berkat novel 1984 dan Animal Farm, nama Orwell
melambung sebagai sastrawan penting eropa. Sementara Pram terus duduk di kursi
kandidat nobel sastra dunia. Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan Pram yang menjungkirkan ide Orwell dalam 1984 menjadi Rumah Kaca, mengingat 1984 terbit lebih dulu dibandingkan novel terakhir dari tetralogi pulau buru itu. Meskipun demikian, kedua sastrawan besar
tersebut memiliki muara yang sama; menolak tunduk. Dan karya mereka adalah
jalan perlawanan, jalan menuju kemerdekaan.
Pertanyaannya
kemudian, masih relevankah membaca 1984? Bukankah perang dingin telah usai dan Uni
Soviet sudah runtuh? Di Indonesia sendiri—negara yang dulu sempat menganggap
novel 1984 sebagai novel berbahaya—kekuasaan Soeharto yang mirip dalam novel 1984 sudah
lama jatuh? Bukankah tahun 1984 telah lama berlalu dan kini kita tengah
berjalan di tahun 2015? Jawabannya tentu saja masih.
Hari-hari
ini, di tengah gema teriakan revolusi mental di segala lini di negeri ini, kita
menyaksikan bagaimana negara terus melakukan kebohongan-kebohongan dan
pemelintiran berita. Alih-alih menurunkan harga BBM, negara justru menaikkannya
lagi. Alih-alih mensejahterakan rakyat, negara justru membiarkan harga
kebutuhan pokok terus melambung dan membiarkan tarif dasar listrik melonjak.
Alih-alih memberikan kebebasan berpendapat, pemolisian para pengkritik negara
hingga pemblokiran situs-situs yang dianggap radikal terus dilakukan.
Sementara itu, para
aktivis-ativis pergerakan yang dulu pernah merasakan nyerinya disiksa di ruang
penyiksaan orde baru, pernah merasakan ganasnya sepatu lars dan peluru tentara, seakan tutup mata atas
penderitaan rakyat. Malah
sebaliknya, menjadi bagian dari kekuasaan. Menjadi
pengurus partai penguasa, menjadi komisaris utama dan staf ahli negara. Mereka terlihat persis seperti Winston. Setelah
mengalami siksaan bertubi-tubi puluhan tahun, akhirnya Winston keluar.
Airmatanya jatuh. Siksaan yang memedihkan itu ‘merusakkan’ otaknya. Ia sadar
telah melakukan kesalahpahaman besar. Sekeluarnya dari kamp penyiksaan itu ia
merasa meraih kemenangan atas dirinya. Menang, karena keinginan memberontak dan perasaan takut disiksa lagi dengan amat
mengerikan saling bertarung. Winston jadi linglung. Ingin rasanya dirinya
ditembak mati saja. Tapi ia tak dilenyapkan sebagaimana para pemberontak yang
lain. Ia dibebaskan. Sekeluarnya dari kamp penyiksaan, Winston merasa
sangat mencintai bung besar, sang penguasa otoriter itu.
Sungguh
novel yang layak dibaca bagi mereka yang ingin mengetahui dari dekat seperti
apa hidup dalam pengawasan ketat negara. Lupakan
bahwa Orwell mungkin sedang mengikuti angin anti komunisme yang sedang
dihembuskan CIA lewat lembaga bernama Congress for Cultural Freedom (CCF), yang
tujuannya menjauhkan kaum intelektual maupun sastrawan (awalnya Eropa Barat,
tapi kemudian mendunia) dari Marxisme dan Komunisme. Suka tidak suka, Lu Tsun,
sastrawan Cina itu benar, karya sastra adalah propaganda, tapi tak semua
propaganda adalah sastra. Propaganda Orwell lewat 1984 bisa dibilang berhasil.
Sejak pertamakali terbit, novel ini telah
memberikan banyak pengaruh bukan hanya masyarakat eropa, tapi juga pada
kesusastraan Inggris. Karenanya tak heran jika majalah Time menjadikan novel
ini sebagai salah satu dari 100 novel terbaik sejak 1923-2005. Demikian
besarnya pengaruh Orwell, malah masyarakat Burma/Myanmar banyak memanggilnya
sebagai ‘sang nabi’, karena ramalan dalam novel 1984 masih relevan hingga hari
ini.
Label:
Resensi Buku
Langganan:
Postingan (Atom)




