DIKEPUNG HUJAN
Hujan mengepung’
Hujan mengepung
Hujan mengepung
Hujan mengepung
Hujan mengepung
Dan aku berlindung
Pada kenangan
Pada masa silam
Di rumah aku lahir
Di dunia bertarung
menguak takdir
hujan mengepung
hujan mengepung
hujan mengepung
menunggang hujan
menuju sarang
ujung akhir
jalan pulang
hujan mengepung
nasib mengapung
***
WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Senin, 28 Maret 2011
DIKEPUNG HUJAN
Minggu, 20 Maret 2011
PADA DUKA TSUNAMI JEPANG

Pada Duka Tsunami Jepang
dibawah langit yang muram
bumi di Honshu bergetar
ribuan rumah dan gedunggedung menjulang
pecah dan tumbang
dihantam gelombang laut yang muntah
dari perut bumi yang pecah
o, kehidupan begitu rapuh
dan alam begitu angkuh
tanpa ragu melintas
memberi jalan pada maut yang kekal
hai, lihat!
sepasang geta usang nyangkut di fondasi jembatan
10.000 sakura terbang ke awan
menuju kekeabadian
dibawah langit yang muram
bumi di Honshu bergetar
dan airmatamu hanyut
bersama kimonomu, kembali ke laut.
kembali ke jalan maut
madura, 15032011
Jumat, 07 Januari 2011
HUJAN BULAN JANUARI
HUJAN BULAN JANUARI
Januari, tak banyak berubah disini
hanya bangkai hujan
jadi banjir susulan
rumahrumah tergenang
sawahsawah tergenang
tengah kota jadi sungai
hidup barangkali ancaman bahaya
bagi mereka yang tak mau terjaga
pagi ini tak kulihat lagi tawa
kecuali keriangan anakanak yang
mandi di pancoran
bergulingan di genangan air
setinggi lutut orang dewasa
orangorang sibuk mengemasi nasib sendiri
agar tak basah oleh kesedihan yang
jatuh bersama hujan
malam ini
bangkai hujan masih disini
di kamar tempat aku membongkar puisi
dan menulis sepi sendiri
sms masuk kubuka tergesa:
dua anak terseret air bah
satu selamat. yang satu sudah jadi mayat
oh, siapa yang bisa menduga ajal
nomor urut kematian sendiripun kita tak kenal
januari, tak banyak yang berubah disini
hujan datang dan pergi
juga hidup dan mati


