Buku tak hanya jendela dunia. Dimana setiap kali kita mengintipnya selalu ada pengetahuan, ide, moralitas, dan sejarah disana. Buku juga bisa jadi petaka. Tulislah celoteh, catatan, perasaan, atau dongeng tentang keberpihakan pada yang disingkirkan dan ditindas, maka yang menjelma adalah kegemparan.
Meskipun sebenarnya kegemparan tak pernah lahir dari tulisan. Sebuah kegemparan lahir karena ketidaksiapan menerima sesuatu yang lain. Kegemparan lahir akibat dari keterlenaan pada status quo yang sejatinya rapuh. Ya, rapuh. Karena dunia lahir dan berdiri kokoh dari ketidaksempurnaan. Bumi yang subur adalah bumi hasil akumulasi ribuan jenis tanah aneka warna dan aneka unsur hara. Dan Tulisan hanyalah ‘perlawanan’ terhadap kemapanan makna. Tulisan adalah subversi terhadap keseragaman yang pasi.
Namun bagi republik yang pandir dan pendek berpikir, sebuah tulisan yang subversif kerap dianggap hantu yang menyeramkan. Seram karena tak seragam. Dan ketidakseragaman kerap dituding sebagai jalan lempang kekacauan. Itulah mengapa selalu saja ada buku yang haram dibaca. Itulah mengapa selalu saja ada buku yang dilarang negara. Alasannya sederhana. Agar tidak mengganggu ketertiban umum.
Dan hari-hari ini, dimana kebebasan berpendapat dan berpikir jadi panji-panji tegaknya demokrasi, pelarangan buku masih saja terjadi. Beberapa waktu lalu, menjelang pergantian tahun, Kejaksaan Agung (Kejagung) melarang peredaran 5 buah buku. Buku-buku tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UU 1945 dan Pancasila. Kelima buku itu adalah: (1) Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rossa. (2) Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karangan Cocratez Sofyan Yoman. (3) Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya duet Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan. (4) Enam Jalan Menuju Tuhan karangan Darmawan dan (5) Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karangan Syahrudin Ahmad.
Namun pelarangan sering menciptakan arus balik. Undang-undang dibuat untuk dilanggar kata sebuah anekdot. Sedangkan pelarangan dilakukan sebenarnya untuk dihalalkan. Ada fetishisme disitu. Karena suka atau tidak suka buku juga bagian dari komoditi kapitalisme. Buku-buku yang diharamkan memang tak lagi beredar di pasaran. Ditarik paksa penguasa. Tapi ia diburu. Dicetak ulang diam-diam. Dibaca di ruang sembunyi. Kemudian dikoleksi dan disimpan di rak buku. Toh pada masa yang akan datang kebanyakan orang akan lupa tentang buku yang dibelenggu penguasa.
Ya, membebaskan diri dari lupa memang perjuangan terberat manusia, pekik Milan Kundera. Sebab dalam sebuah lupa kadang tersimpan cerita orang yang suka menyerang hak-hak orang lain, menjarah harta benda mereka, membuat nilai-nilai tertinggi tampak sebagai kejahatan, dan gemar menebarkan keharuman bagi perangai buruknya sendiri. Sebagian dari kita boleh saja acuh. Namun ada satu hal yang tak bisa dipalsukan atau dikhinati, yakni; ketetapan sejarah yang dipilin dalam tulisan.
Dalam posisi ini sejarah bukan hanya milik mereka yang memenangkan kekuasaan. Sejarah juga milik semua yang berpikir. Sejarah adalah milik mereka yang berani menentukan pilihan berbeda. Dan buku adalah ruang terbuka yang anti kesatuwarnaan. Buku-buku lahir, dibaca hingga mampu membius laku lampah pengarang dan pembacanya karena dibangun dengan multiwarna. Juga multirasa. Dicampur setetes dua keringat, darah dan air mata.
Karenanya buku tak pernah genap. Ia selalu ganjil. Dan keganjilan adalah pintu gerbang harapan. Ia terbuka untuk diteliti. Terbuka untuk dikritik. Terbuka untuk diserang balik. Buku dilawan buku. Kata-kata berhadapan dengan kata-kata. Bertarung di panggung yang sama. Sementara pelarangan tak pernah membuahkan keseragaman. Sebaliknya, pelarangan semakin menyempurnakan keganjilan.
Dan buku yang ganjil selalu berpihak. Berpihak pada yang papa. berpihak pada yang tertindas. Berani berpihak pada sejarah pinggiran, yang nyaris dilupakan atau sengaja dimusnahkan. Buku macam ini semakin riuh menggelar koor di keramaian atau di kuil-kuil sunyi selama ketimpangan semakin dimapankan. Disparitas-disparitas di berbagai fenomena kehidupan yang menyeruak dijalan-jalan adalah obor bagi buku-buku dengan semangat keganjilan.
Lewat keganjilan kita belajar banyak hal. Belajar untuk menerima perbedaan. Belajar untuk tak takluk pada represifitas zaman. Belajar untuk mengembangkan kreatifitas. Belajar untuk bertahan hidup. Dan keganjilan juga mengajari kita untuk selalu berpeluk pada optimisme kehendak. Dengan demikian harapan untuk berdiri di atas kaki sendiri, harapan untuk lepas dari perbudakan modern masih terbuka lebar.
Sebaliknya tunduk pada keseragaman berarti menyerah sebelum perang. Lewat keseragaman zaman memang akan berjalan dengan stabilitas sempurna. Dan keseragaman berarti merampas kehendak untuk merdeka. Dalam keseragaman kita tak lebih seperti bidak-bidak yang digerakkan tangan-tangan tak kelihatan. Dipaksa melaju dengan kecepatan ekonomi tingkat tinggi. Tapi alpa untuk peduli pada ketimpangan-ketimpangan yang diciptakannya sendiri. Kita menjelma—meminjam Herbert Marcuse—manusia satu dimensi yang bergerak mirip mesin-mesin produksi.
Dalam kondisi semacam itulah keganjilan penting untuk terus dilahirkan. Bukankah yang ganjil selalu abadi? Bukankah yang ganjil selalu jadi harapan pembebasan? Bukankah yang ganjil selalu memiliki banyak cara mendobrak kebekuan? Dan buku adalah keganjilan itu. Dan Ia abadi.
WAKTU
JEJAK
- Artikel (93)
- Cerpen (20)
- Esai Budaya (31)
- Jendela Rumah (24)
- Kesehatan Masyarakat (5)
- Pendidikan (10)
- PUISI (71)
- Resensi Buku (25)
JEDA
Senin, 18 Januari 2010
GANJIL
Selasa, 10 November 2009
MENJADI PNS
MENJADI PNS.
Cak Kus kedatangan tamu. Seorang kawan lama. Teman sekolah. Si kawan, sebut saja A tidak sendirian. Ia datang dengan istrinya. Setelah bercerita panjang lebar soal banyak hal—memang yang paling banyak cerita kekonyolan masa silam waktu sekolah dulu—si kawan mengungkapkan tujuan sebenarnya bertanandang pada Cak Kus; mencari jalan pintas jadi PNS. Bahkan A sudah menyediakan dana sebesar Rp. 60 juta sebagai uang pelicin untuk memuluskan jalannya itu.
“Wah, kenapa kalau urusan itu kok mesti ke saya to ya!? saya khan bukan Bupati. Bukan juga pejabat tinggi di Pemerintah Daerah.”
“Iya…iya saya tahu. Tapi sampeyan khan banyak teman pejabat. Juga termasuk orang ‘penting’ di daerah ini. Ayolah Cak, tolongin saya sekali ini saja. Tau sendiri khan cari kerja sekarang sulit. Ini demi masa depan keluarga.” Sambil tangan si A memegangi bahu istrinya. Kedua pasangan suami-istri itu kemudian tersenyum.
Mendengar komentar kawannya itu Cak Kus jadi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sambil tertawa dalam hati. Betapa tidak. Seumur-umur baru kali ini ia disebut-sebut sebagai salah satu orang “penting” di daerahnya. Padahal banyak diantara kawan-kawan lainnya masih sepakat untuk menyebut Cak Kus sebagai orang ‘edan.’ Bagaimana tidak edan. Setelah lulus kuliah sempat kerja di perusahaan besar pertambangan. Tiga tahun ia lakoni pekerjaan itu. sampai akhirnya ia bisa menjabat sebagai kepala divisi Humas. Eh, karir baru menanjak malah memilih berhenti. Keluar dari perusahaan pertambangan Cak Kus lalu kerja jadi reporter. Hanya satu tahun di perusahaan media cetak. Berhenti. Dan akhirnya memilih pulang kampung. Mengelola sawah warisan bapakknya seluas 1 hektar. Sambil jadi penulis serabutan. Apa itu tidak edan!?
Nah, ini sekarang ada kawan yang menyebutnya orang penting. “Apanya yang penting?” Batin Cak Kus. Benar memang ia sering dekat dengan pejabat-pejabat daerah. Tapi kedekatannya hanya sebatas liputan saja. Sebab Cak Kus selain sebagai petani di kampungnya juga sesekali masih menulis satu dua berita untuk media. Benar juga memang Cak Kus juga kerap nongol di televisi lokal untuk menjadi narasumber atau wajahnya nongol di koran lokal ketika menulis artikel tentang berbagai fenomena sosial. Meski demikian ia tak pernah merasa jadi orang penting. Apa memang pujian kawannya itu hanya untuk meluluhkan hati Cak Kus agar bisa mencarikan jalan belakang untuk menjadi abdi negara itu?
Sebenarnya permintaan kawannya itu bukanlah hal baru bagi Cak Kus. Setiap musim rekruitmen PNS seperti sekarang ini selalu saja ada orang yang tak yakin pada dirinya sendiri dalam berkompetisi memperebutkan kursi menjadi PNS lewat ujian. Bahkan para pejabat di daerahnya pun juga turut sibuk mencarikan ‘jatah’ PNS untuk anak-anaknya yang sudah lulus kuliah. Tahun lalu sebuah media pernah mengungkap kasus anak-anak pejabat di sebuah daerah yang sengaja ‘dititipkan’ untuk masuk jadi PNS. Tentu saja tes CPNS yang diikuti hanya sekedar formalitas belaka. Para anak-anak pejabat itu pasti lulus.
Kondisi ini semakin diperparah dengan maraknya para cukong dan makelar PNS. Memanfaatkan ambisi orang-orang yang ingin jadi Ambtenaar. Dengan menyerahkan uang puluhan juta rupiah para cukong dan makelar PNS ini sanggup mewujudkan cita-cita para CPNS mendapat SK. Juga maraknya jual beli kunci jawaban merupakan fenomena biasa menjelang ujian CPNS digelar.
Anehnya, meski kabar soal kecurangan dalam rekruitmen CPNS selalu menjadi kabar yang lumrah dikonsumsi toh masih banyak saja para orang muda yang mau melamar menjadi abdi negara itu. Tempat pendaftaran CPNS selalu saja dipenuhi para pelamar yang berdesak-desakan. “Siapa tahu beruntung, Pak. Kalau tembus jadi PNS khan mantap,” ujar salah seorang pelamar bernama Iva yang sempat ditanyai Cak Kus di kantor pos saat ia kebetulan tengah membeli materai. Padahal jumlah pegawai negeri di Indonesia sampai saat ini sangat gigantik melebihi negara mana pun: 8 juta orang.
Ambisi-ambisi sebagian besar masyarakat Indonesia yang menjadi PNS jelas mengerikan? Cak Kus kemudian ingat kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah konferensi pendidikan Asian South Pacific Bureau of Adult Education (ASBAE) yang dihadiri ornop se-Asia Tenggara dan Selatan pada Desember 2004 lalu. “Keinginan menjadi pegawai negeri adalah salah satu faktor kenapa korupsi di negeri ini mustahil diberantas. Di birokrasi itulah korupsi merajalela. Orang suci pun bisa jadi korup di sana. Dan pegawai negeri sudah bertumpuk-tumpukan. Pendidikan yang membentuk itu semua.”
Ya. Pendidikan kita, diakui atau tidak, selama ini memang tidak serius mencetak manusia-manusia yang berjiwa berdikari dan mampu merintis sebuah kerja mandiri dan tak harus menjadi budak bagi orang lain atau menjadi manusia kuli. Pendidikan kita seakan menjangkar dan memerluas kesadaran serta meluapkan keinginan bahwa kelak bila lulus nanti akan menjadi pegawai negeri. Paling tidak menjadi pelamar pekerjaan dengan menenteng ijazah ke sana kemari dan mengantri panjang untuk mengambil formulir kartu kuning di Depnaker ketika bursa kerja di buka secara massal. Ironisnya lagi, para pelaku di dunia pendidikan terus-menerus menjadikan lembaga pendidikan tak ubahnya sebagai sebuah pabrik. Mereka lebih sibuk menghitung laba-rugi dan terus menerus menaikkan ongkos pendidikan daripada meningkat kualitas. Hasilnya, sebagian besar lulusan sekolah memang masih berwatak feodal. Rakyat jelatanya masih suka menjilat daripada berupaya membebaskan diri dari penindasan. Sementara kaum elitnya masih saja menindas.
Dan kini salah seorang kawannya hendak masuk dan melamar menjadi PNS. Dan kini dia didapuk untuk memuluskan cita-citanya. Ini jelas dilematis bagi Cak Kus. Jika ia menolong berarti ia menambah deretan panjang para koruptor di jejaring birokrasi yang rumit dan rapuh itu. tapi jika ia menolak ia jelas akan kehilangan salah satu temannya.
“Bagaimana Cak? Kok Nglamun!” Suara si A memudarkan lamunan Cak Kus.
***
Peristiwa diatas memang sudah puluhan tahun berlalu. Namun tiap kali media massa cetak dan elektronik mulai marak menyiarkan berita soal rekruitmen CPNS, Cak Kus selalu ingat akan temannya itu. si A memang tak pernah berhasil menjadi CPNS sebagaimana yang dicita-citakannya. Cak Kus menolak memberikan bantuan mencarikan jalan. Berkali-kali ikut tes ia selalu gagal. Sudah ratusan rupiah melayang dari tangannya karena ditipu para makelar PNS. Terakhir si A tertangkap basah membeli kunci jawaban tes CPNS. Ia dihukum 3 tahun penjara. Baru menjalani masa hukuman 1 tahun si A mati; bunuh diri dalam sel-nya.
Sedangkan istri si A akhirnya jualan rujak untuk bertahan hidup dan membiayai 2 anaknya yang masih kecil-kecil. Beruntung usahanya yang gigih dan tak kenal menyerah membuahkan hasil. Dua anaknya sekarang telah menjadi PNS. Satu diantara kini menjadi kepala dinas.
Dan Cak Kus memang tak pernah menyesal pada keputusannya.
Sabtu, 19 September 2009
UJIAN SEKOLAH
Oleh: Edy Firmansyah
“Nek, ceritakan padaku tentang penyesalan,” kata Fesha pada neneknya yang jago cerita itu. Maka sang nenekpun bercerita tentang Karim.
Karim adalah pelajar sebuah sekolah. Hari ini ia sedang mengikuti ujian sekolah.
“Apa lagi yang kau takutnya, Karim? Ayo, ambil contekanmu. Bu Ratmi sedang ada di luar. Mengapa kau masih ragu? Ayo cepat. Masa depanmu tergantung pada ujian ini. Kalau kau tak lulus, emakmu bakal kecewa berat. Ayo Karim. Jawaban dari 50 soal Bahasa Indonesia itu ada di catatanmu itu,” Bisikan itu terus menyemangati Karim
Tapi Karim tak juga mengambil catatan yang terletak di kantong celana, baju dan dibalik kaos kakinya itu. Tangannya masih gemetar. Seumur hidupnya baru kali ini ia membuat contekan. Biasanya ia belajar sebelum ujian dimulai. Pantang baginya mencontek. Jangankan mencontek, bertanya ketika ulangan dimulai saja tak pernah ia lakukan. "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku jujur sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Dan berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri," itulah pesan Bapaknya ketika menghembuskan nafas terakhirnya. Pesan itu kemudian dijadikan falsafah hidupnya.
Tapi kemarin ia tak sempat belajar. Ia harus mengantarkan emaknya ke rumah Paman Oki untuk menjual kalung emas satu-satunya milik emaknya. Untuk apa? Untuk membayar uang sekolah yang sudah tiga bulan nunggak. Tanpa menjual kalung itu mungkin Karim tak akan bisa mengikuti ujian akhir sebagai pintu gerbang bagi ia untuk lulus SMA.
Rumah Paman Oki cukup jauh. Kurang lebih 50 kilometer. Tak mungkin ia meninggalkan emaknya berangkat sendirian. Karena emaknya pelupa. Setiap kali pergi ke rumah kerabat yang tempatnya jauh emak Karim selalu kesasar. Bahkan pernah ketika bertandang ke rumah Bi Marni di Surabaya, emak justru tak sampai kesana. Sejak itulah Karim selalu menemani emak tiap pergi jauh. Karim baru tiba di rumah tengah malam. Badannya sudah terlalu telah untuk belajar. Untuk berjaga-jaga ia terpaksa merobek-robek buku catatan bahasa Indonesia-nya kemudian lembaran-lembaran itu ia selipkan di kantong baju, celana dan di balik kaos kakinya.
Persetan dengan petuah Bapakmu itu, Karim. Kau berada dalam posisi terjepit sekarang. Jangan kecewakan Emakmu, Karim. Kau harus lulus. Tanggalkan idealismemu itu. Buka catatanmu, seperti yang dilakukan teman-temanmu.
Karim melirik ke sebelah kanan. Ia lihat Rani sedang membalik-balikkan contekan yang ditulisnya di kertas tisu. Cara itu sudah dilakukan Rani bertahun-tahun. Rani adalah teman sekelas Karim sejak SMP dan Rani selalu menjadi juara kelas. Karim kemudian melirik esebelah kiri. Ia lihat Adnan juga sibuk dengan buku cetakan bahasa Indonesia yang diselipkan di balik bangku. Sesekali ia keluarkan buku itu, ia buka lembarannya, kemudian tersenyum puas karena menemukan jawaban.
”Jawaban nomor 10 apa?” tiba-tiba Ruli yang duduk di belakang Karim berbisik dengan pelan. Karim membaca lagi soal nomor 10. Pertanyaan; siapa pengarang Novel Olenka? Ada lima pilihan jawaban. (a) Sutan Takdir Alisyahbana. (b) Budi Darma. (c) Pramoedya Ananta Toer (d) Taufik Ismail (e) Ayu Utami. Tapi Karim menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
Sebenarnya Karim sudah menandai huruf pada lembar jawaban miliknya. Tapi ia merasa tak yakin kalau jawabannya benar. Karim menjawab C. Karena tak mau menjerumuskan Ruli, Karim sengaja menjawab tidak tahu pada Ruli.
Jangan berjudi dengan nasib, Karim. Kau harus cari tahu jawaban yang benar di catatanmu itu. Bukalah contekanmu, jangan sungkan.
”Waktu tinggal 30 menit lagi,” Suara Bu Ratmi, pengawas ruang D memecah keheningan. Serentak siswa berseru huuuuuuuuuuu.......huuuuuu....! atas pemberitahuan itu.
Karim melihat lembar jawabannya lagi. Hanya ada 20 soal yang berhasil ia jawab. Dan hampir kesemuanya tidak seratus persen benar. Karim hanya menduga-duga saja ketika menjawab soal tersebut.
Aku tak boleh menyerah. Karim harus juga seperti kawan-kawan lainnya. Maka segera kuseret ingatan Karim pada Pesan Emak ketika berangkat ujian tadi pagi. ”Ingat, Nak. Kau harus lulus. Biar ringan beban emak. Adikmu sebentar lagi masuk SD. Dan kau tahu bukan biaya sekolah saat ini tidak murah. Jika kau tinggal kelas, emak tak sanggup membayar uang sekolah kalian berdua nantinya.”
Camkan pesan Emakmu, Karim. Camkan. Tidakkah kau ingin jadi anak yang berbakti? Kalau ingin, segera ambil catatanmu dan menyonteklah. Bukan perbuatan dosa, Karim. Lihat semua kawan sekelasmu melakukannya. Sudah jadi kebiasaan umum, Karim. Hanya untuk menyelamatkanmu dari ketidaklulusan. Dengan kata lain, salah satu cara membantu orang tua, Karim. Ayo lakukan, waktumu terbatas!
Karim akhirnya luluh. ”Aku harus lulus,” batinnya. Pelan-pelan diambilnya selembar cacatan di Saku celana sebelah kiri. Ia ingat, ada jawaban nomor 21 hingga 25 di catatan itu. Segera ia selipkan dalam lembar soal. Ia kemudian membacanya dengan hari-hati. Dan benar. Jawaban dari Pertanyaan; siapa pengarang kumpulan cerpen Godlob? Apa persaman kata definisi? Sebutkan nama asli penyair Widji Thukul? Siapa pengarang Ronggeng Dukuh Paruk? Dan sebutkan salah satu judul Tertalogo Pulau Buru Pramodya Ananta Toer? Ada di catatan itu. Karim girang alang kepalang. Keringat dingin yang baru saja bercucuran karena takut kini berubah menjadi keringat tantangan.
Aku tertawa ngakak. Karim yang alim dan teguh pendiriannya itu akhirnya luluh. Tidak sia-sia aku menelusup dalam dadamu, dalam aliran darahmu dan diberi kesaktian menjelma dan menirukan suara orang-orang terdekatmu Karim. Orang miskin seperti kau rupanya takut akan kegagalan. Ha.....ha.......ha.......ha...... teruskan Karim, terus mencontek. Kau telah berbakti pada Ibumu. Ibumu akan bangga dengan nilai ujianmu meski hasil dari mencontek. Ayo Karim, waktu sudah hampir habis.
”Waktu kurang 10 menit lagi,” Bu Ratmi kembali bersuara.
Karim semakin tegang. Masih tersisa 15 soal yang belum dijawab. Tapi Karim ingat soal nomor 35-40 ada di catatan yang ia selipkan di kaos kakinya. Tapi Karim belum bisa mengambilnya. Karena Bu Ratmi masih mondar-mandir mengawasi murid-muridnya. Setelah melewati bangkunya, Karim langsung mengambil catatan tersebut dan membacanya dengan hati-hati.
”Apa dibalik lembaran soal itu, Karim? Keluarkan!” tiba-tiba Bu Ratmi berbalik arah. Rupanya ia sudah mengawasi gerak-gerik Karim yang mencurigakan dari awal.
Kali ini Karim tak bisa mengelak. Ia tertangkap basah mencontek. Karim pasrah. Airmatanya meleleh ia ingat emak di rumah. Yang sudah menunggu dengan masakan kesukaannya sayur bayam, sambal garam cabe dan telor dadar.
”Nek, apakah Karim kemudian bisa lulus sekolah?,” tanya Fesha pada Neneknya
”Di negeri dongeng semua bisa terjadi cucuku,” jawab neneknya sambil memeluk erat cucu semata wayangnya itu.
***
(CERPEN ini dimuat di Majalah ANNIDA, edisi Agustus 2009.)
Tentang Penulis
Edy Firmansyah adalah penulis lepas.


