WAKTU

JEDA

Senin, 19 Mei 2014

Perjalanan ke Pulau Mandangin


Perjalanan ke Pulau Mandangin

”Hidup begitu pendek.
Agar nampak panjang, kita mengisinya dengan perjalanan dan mabuk laut”


            Kalau anda mabuk laut, sementara air laut sedang meninggi disertai angin kencang, jangan ke Pulau Mandangin! Percayalah, anda akan muntah-muntah. Sebab tak ada jalur lain untuk menuju pulau Mandangin selain dengan perahu motor yang memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pelabuhan Tanglok, Sampang, Madura. 

            Tapi jangan menunggu sampai ada jembatan yang menghubungkan pulau yang luasnya hanya sekitar 1,65 kilometer persegi itu dengan Kabupaten Sampang seperti laiknya jembatan Suramadu. Sampai lebaran monyetpun nggak akan terwujud. Sebuah pulau bisa dibangun jembatan jika memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dan bisa dikeruk isi buminya oleh investor dan pemodal, memiliki potensi tenaga kerja yang murah untuk diekploitasi dan sumber daya alamnya melimpah untuk dihisap sampai isi tulang sumsumnya tak ada lagi. Mandangin tak memiliki itu. Penduduknya hanya 18.000 jiwa. Mandangin cuma desa di Kecamatan Sampang. Rumah-rumah berderet padat. Jalanan sempit. Tak ada mobil mewah berkeliaran seperti di Jakarta. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai nelayan. Kecuali Pulau yang juga dikenal dengan nama pulau Gili dijual pada pengusaha dan disulap menjadi pulau wisata dengan omzet miliaran per tahun, maka akses jembatan ke pulau Mandangin akan jadi kenyataan. Tapi keindahan alamnya layak dkagumi.

            Saya sendiri saja yang sudah tinggal kurang lebih 16 tahun di Kabupaten Sampang baru kali pertama ke pulau yang juga dinamai pulau Kambing itu. Bersama seorang kawan bernama Maman Regal, saya berangkat ke pulau yang di masa orde baru menjadi tempat pembuangan orang-orang pengidap penyakit lepra. Lepas dhuhur kami menaiki kapal motor bernama “Dermaga Baru” dari Pelabuhan Tanglok, Sampang. Ongkosnya tak mahal. Cukup Rp. 7.500,- per kepala. Dan anda akan menikmati panorama laut selama satu setengah jam perjalanan. Itupun kalau air laut sedang tenang. Kalau air laut sedang tidak bersahabat, bersiaplah menderita. Kapal motor diombang-ambingkan gelombang. Kadang tempias air laut bisa sesekali mengenai wajah. Kepala puyeng dan muntah. Kawan saya saja yang tumbuh dan besar di pulau itu masih sering mabuk laut kok waktu naik kapal motor dan  kondisi laut sedang garang. Tapi hari itu air begitu tenang. Kapal motor bergerak dengan santai. Nyaris tanpa goncangan gelombang. Hanya bising mesin perahu yang cukup mengganggu pendengaran. 

Selama sehari semalam tinggal di pulau yang juga dinamai pulau Kambing (dinamai begitu karena memang banyak kambing berkeliaran di jalan-jalan sekitar pulau siang dan malam) nyaris tak saya temukan mobil. Yang banyak justru motor. Rata-rata sih keluaran terbaru. Berkendara motor di pulau ini tak perlu pakai helm. Sebab memang tak ada polisi. Tak ada razia polisi sebab tak ada kantor polsek. Makanya jangan heran kalo kebanyakan motor di pulau ini tak berplat nomor. Yang banyak justru polisi tidur yang terbuat dari tali tambang perahu yang tak lagi terpakai. Hampir di setiap jalan/gang ada lebih dari satu pemasangan polisi tidur. Tapi yang namanya polisi, baik itu polisi jaga atau polisi tidur memang kadang sama-sama bikin susah. 
 Selain tak ada polsek juga tak ada pasar. Karena transaksi perdagangan dilakukan di halaman rumah masing-masing penduduk, terutama pagi hari sepulang kepala keluarga melaut. 

Suasana "pasar" ikan di halaman rumah warga Mandangin.

Pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang olah raga asli masyarakatnya bernama yoryor itu sekitar pukul 14.00 WIB. Sebagaimana umumnya suasana siang di Madura, saya melihat anak-anak mendekap kitab untuk belajar agama di madrasah. Istirahat sejenak di rumah kawan saya. Merebahkan punggung dan makan. Tujuan saya ke pulau yang menurut mitos tempat terbunuhnya Bangsacara oleh Bangsapati suruhan Raja Bidarba yang ingin merebut kembali Ragapatmi (mantan istrinya) yang sudah sembuh dari penyakit kulitnya yang mengerikan adalah mengabadikan senja. ”Senjanya begitu indah bro. juga hamparan pasir putih di pantainya.” Begitu promosi kawan saya itu beberapa tahun silam.
Sekitar pukul 16.30 WIB seorang kawan lagi bernama Umar Faruk menjemput kami dengan motornya. Bertiga kami berboncengan menuju pantai pasir putih yang letaknya tak jauh dari rumah Maman Regal. Di Pantai Pasir putih saya mengambil beberapa gambar. Tak terlalu menarik menurut saya. Mungkin karena sore itu matahari belum benar-benar turun di garis horizon. 

Gugusan perahu di pantai pasir putih, Kampung Mandangin Barat.

Pantai Pasir putih kampung Mandangin Barat
Kemudian Faruk mengajak untuk menuju pantai Candhin yang letaknya di Kampung Mandangin Timur. Kami setuju. Lalu motor digeber menuju Candhin. Cukup melelahkan. Karena kami melewati banyak polisi tidur. Satu motor bertiga pula. Berkali-kali saya harus mengusap-usap pinggang saya karena nyeri. Sekitar 15 menit berkendara akhirnya sampai di pantai Candhin. Saya memotret. Faruk memotret. Langit senja pantai Candhin diselimuti gugusan mendung. ”Maklum semalam baru saja turun hujan lebat” ujar Faruk sambil memotret. 

Senja di Pantai Candhin, Mandangin Timur. Dok. Pribadi

Setelah puas mengambil gambar dari daratan tertinggi di pantai itu, kami langsung turun ke pantai. Matahari sudah tenggelam. Tapi semburat warna senja terus menunjukkan keindahannya. Saya mengeluarkan tripod. Memasangkan kamera saya. Lalu memotret lagi. Usai adzan maghrib kami baru meninggalkan pantai. Lumayan berkeringat, karena kami harus menaiki bukit tempat motor Faruk di parkir.

Pantai Candhin, Kampung Mandangin Timur

Jalanan di pulau Mandangin menuju pulang ke rumah Maman begitu gelap. Menurut cerita Faruk sudah hampir satu bulan PLN padam di pulau ini. ”Nyalanya bergiliran. Malam ini giliran kampung saya. Besok malam kampung Maman menyala” cerita Faruk. Isu diluaran listrik Mandangin padam karena unsur politik. Sebab sebelumnya tak pernah padam listrik. ”Usai pilihan caleg ini listrik di sini jadi padam sampai satu bulan” ujar seorang warga. Saya jadi ingat suasana tahun 1999. Ketika Madura padam. Kabarnya kala itu, serat fiber PLN bawah laut terkena jangkar kapal. Menyusahkan memang. Saat itu di Jakarta sedang ramai sidang istimewa MPR dan rencana penurunan Gus Dur sebagai presiden RI yang sah. Sementara tokoh-tokoh ulama Madura mengultimatum, jika Gus Dur lengser, Madura merdeka. 

Malam itu saya dan keluarga Maman Regal makan dengan suasana gelap gulita. Hanya di terangi lampu teplok dibantu dengan cahaya senter dari hape saya. Setelah itu kami tidur. Saya dan Maman berencana untuk menuju Candhin lagi esok hari. Mengabadikan matahari terbit tepat di hari dimana penganut Budha merayakan Waisak tahun 2014. 

Ternyata kami bangun kesiangan. Ibu kawan saya sudah tak ada di rumah. ke pinggir pantai menunggu suaminya pulang dari melaut. Tapi saya memutuskan untuk tetap berangkat ke Candhin. Dan Maman setuju. Maka kami berdua berjalan kami ke tempat kemarin waktu kami memotret senja. Melelahkan. Karena jarak yang ditempuh kurang lebih dua kilometer. Sampai di sana kami dihadang hujan. Sementara matahari sudah meninggi. Tapi tak kelihatan karena ditutupi mendung. Saya tetap mengambil gambar. Kemudian kembali ke rumah Maman dengan kembali berjalan kaki. Saya tak mau kesiangan dan ketinggalan kapal. 

Mendung pagi di Pantai Candhin, Kampung Mandangin Timur
Masih Pemandangan pagi di Pantai Candhin, Kampung Mandangin Timur. cuma geser dikit aja dari view diatas

Perjalanan pulang dari Mandangin ternyata tak kalah melelahkan. Siang itu, laut pasang. Maklum semalam purnama. Dan gelombang tinggi. Angin juga cukup kencang. Berkali-kali tempias air laut mengenai wajah saya. Karena kepala mulai pening karena diombang-ambingkan gelombang saya memutuskan rebahan di buritan. Memejamkan mata. Ternyata Maman teman saya sudah lebih dulu terlelap. Untuk menghindari mabuk laut katanya. Sementara saya sudah berkali-kali mual. Tapi untunglah tak sampai muntah. 

Sampai di Sampang sekitar pukul 13.00. Goyangan kapal motor dihempas gelombang laut ternyata masih terasa di tubuh saya hingga saya hendak tidur malam. Tapi pengalaman memang tak bisa dibeli dengan apapun. Dan untuk anda yang mau berwisata ke Madura, alangkah rugi jika tidak menikmati senja dan fajar di pulau Mandangin. Tapi kalau anda berniat liburan bersama keluarga, sebaiknya mencari kenalan penduduk Mandangin. Karena di Mandangin tak ada hotel.


Selasa, 29 April 2014

Saya dan DSLR Canon (2/habis)


Pengalaman Menggunakan Canon EOS 70D


Canon kembali menggebrak penggemar fotografi dengan kamera SLR semi pro barunya bernama EOS 70D. Diluncurkan pertama kali pada medio Juli 2013 di Jepang. Peluncuran kamera pengganti DSLR canon EOS 60D itu berbarengan dengan peluncuran DSLR canon seri 100D dan 700D di kelas entry level. Sedangkan tiga kamera baru besutan perusahaan Jepang khusus gambar dan optik yang awalnya bernama Kwanon itu resmi masuk Indonesia pada Oktober 2013.

  Berbekal sensor APS-C Dual Pixel CMOS AF dengan prosesor gambar DIGIC 5+ yang digunakan pada EOS 5D Mark III serta resolusi gambar sebesar 20.2 megapixel, Canon 70D seakan hendak menantang saingan terberatnya, Nikon, yang lebih dulu meluncurkan kamera DSLR semi pro pengganti seri D7000, yakni D7100. Sekedar diketahui kinerja prosesor gambar Digic 5+ tersebut sudah terbukti baik pada 5D Mark III dalam mengeksekusi gambar, bahkan di tempat dengan cahaya minim sekalipun. Karena salah satu fungsinya adalah untuk menekan kemunculan noise. 

Resolusi gambar sebesar 20.2 megapixel dengan sensor APS-C Dual Pixel CMOS AF merupakan terobosan baru buat kamera semi pro yang dirilis perusahaan yang awalnya didirikan oleh Yoshida Goro dan adik iparnya Uchida Saburo di Tokyo, Jepang, itu. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelumnya, meski Perusahaan yang pada 1933 masih bernama Seiki-kougaku-kenkyuujo telah meluncurkan banyak kamera DSLR APS-C atau crop factor seperti; 50D, 550D, 600D, 650D, 700D, 100D, hingga 7D, resolusi gambar yang digunakan masih 18 megapixel. 

Apakah dengan peningkatan resolusi gambar menunjukkan peningkatan kualitas gambar? Nyatanya sama saja. Pada pengambilan gambar di rentang ISO 100-400 sulit membedakan apakah sebuah foto diambil dengan canon EOS 550D, 600D, 7D atau 70D. Perbedaan baru terasa kala menggunakan ISO tinggi dan pemotretan dilakukan di tempat minim cahaya tanpa lampu kilat. dengan syarat, sekali lagi dengan syarat, lensa yang digunakan sama sejenis. Ya, kalau membandingkan sebuah foto yang diambil dengan lensa kit dengan sebuah foto yang diambil dengan lensa L (Luxury) Canon, sebaiknya anda lekas gantung diri. Itu sama aja mempertandingkan Cris John sama Mike Tyson. Beda kelas Sob. Tapi dengan makin meningkatnya kemampuan banyak tukang foto dalam olah gambar macam photoshop, sebuah foto akan makin sulit lagi dibedakan, mana yang dipotret pakai DSLR mana yang pake kamera saku. mana yang pake lensa kit mana yang pake lensa muaaahhaalll. itupun kalo yang ngedit profesional. Ya, nggak? Ya nggak?

Kemampuan lainnya dari Canon 70D yang patut diapresiasi oleh publik adalah layar LCD touchscreen yang dapat berputar ke berbagai arah. Dengan menyempurnakan LCD touchscreen canon 700D yang mendapat acungan jempol banyak pihak, LCD sentuh canon 70D benar-benar mengesankan. Jernih dan responsif terhadap sentuhan jari. Dengan layer putar, anda dapat menjangkau beberapa sudut pemotretan yang biasanya sulit diraih oleh para fotografer, seperti low-angle, high-angle, hingga di sudut yang sulit terjangkau sekali pun.

Saya meminang canon 70D pada awal April 2014 lalu. Membelinya di toko kamera Sumber Bahagia, Kramat Gantung, Surabaya. Awal menggunakan canon 70D saya kecewa. Ketika menggunakan pertamakali dengan pengambilan gambar long exposure terdapat dead pixel. Sebuah titik putih di gambar. Tepat di bagian tengah. Ternyata setelah mengecek semua hasil foto, bahkan yang ISO rendahpun, dead pixel itu ada dan nampak jelas terutama jika dilakukan pembesaran 50%. Terpaksa saya bawa kembali ke toko tempat membeli. Setelah berdebat panjang, akhirnya pihak toko setuju unit saya ditukar. Saya pribadi memang cukup heran dengan unit DSLR yang di jual di Sumber Bahagia. Dari pengalaman membeli 70D dan menukarkan dengan unit baru setelah yang pertama bermasalah, saya melihat semua segel di kotak kamera tak ada. Padahal di toko lain, selama saya berkali-kali membeli DSLR baik pribadi maupun ikut teman, kotak pembungkus kamera dalam keadaan bersegel dan segel dilepas di depan pembeli setelah setuju melakukan pembelian. ”Di sini semuanya memang begitu, Mas. Khan yang penting baterainya masih bersegel” ujar seorang pelayan toko yang lupa saya catat namanya. 

Baiklah, lupakan soal pengalaman buruk di toko kamera di atas. Intinya berhati-hatilah memilih toko kamera. Usahakan mencari toko yang pelayannya juga mengerti dan mau memberi pengetahuan dasar soal segala jenis kamera ketika anda hendak membelinya. 

Balik lagi ke soal deadpixel. Memang dalam beberapa kasus, resolusi tinggi pada sensor kamera akan sangat berpeluang memunculkan deadpixel pada gambar. Bahkan di kamera canggih sekelas 5D Mark III sekalipun. Padahal harga camera 5D mark III amat mahal. Untuk bodinya saja, harus merogoh dompet sekitar 37 juta rupiah. Untuk itulah sebelum membawa pulang unit DSLR sebaiknya mencobanya secara teliti. Kalau baru pertama kali membeli, ada baiknya membawa teman yang sudah berpengalaman dengan kamera-kamera DSLR.

Seorang kawan pernah cerita bahwa pernah berganti unit canon 5D mark III sampai tiga kali di sebuah toko kamera di Jakarta hanya karena berurusan dengan deadpixel. ”Harus teliti. Sulit untuk lolos dari deadpixel jika kita menginginkan sebuah kamera dengan resolusi gambar 20 megapixel keatas. Juga seringkali kita mendapatkan barang yang cacat produksi.” ungkap kawan saya yang lama berkecimpung di dunia fotografi dan tak mau namanya disebut. 

Saya pribadi cukup puas menggunakan canon 70D pasca ditukar unit setelah unit yang pertama bermasalah. Memang awalnya, saya yang terbiasa menenteng Canon 600D yang beratnya 570 gram plus baterai merasa agak pegal menenteng 70D yang beratnya 755 gram dengan baterai. jika dipadukan dengan lensa kit 15-135mm STM bisa mencapai 1,3 kg. Gak kebayang betapa capek menenteng canon 7D seharian yang berat bodinya saja sudah 1 kg kurang 200 gram. Tapi lama-lama tak terasa juga kok. Namun itu nggak berlaku bagi tukang foto yang rajin ke gym dan berbadan kekar. Kesalahan saya aja yang kurus dan jarang makan.

Sebagai tukang foto amatir macam saya, ketersediaan wifi di canon 70D cukup membantu saya ketika lupa membawa shutter realiase, atau ingin berbagi foto ke jejaring sosial langsung dari kamera. Selain itu saya bisa menggendalikan kamera melalui android. cukup dengan menginstalkan aplikasi eos remote yang tersedia di CD canon 70D atau bisa mengunduhnya melalui playstore secara gratis. Dengan aplikasi itu, anda bisa memotret dan mengatur settting kamera melalui android. anda juga bisa menghapus file foto di kamera melalui android sementara kamera berada dalam tas. Generasi sosmed gitu loh…hahahaha. Sebenarnya penggunaan wifi di 70D bukanlah yang pertama. Sebelumnya, perusahaan yang awalnya didanai oleh Takeshi Mitarai telah membenamkan wifi dan GPS ke dalam kamera full frame seri 6D.

Selain itu, bodi yang sudah dibalut weather sealed tidak membuat saya khawatir kamera kemasukan debu dan air ketika diajak ke tempat-tempat ekstrim. Meskipun bodinya tidak setangguh canon 7D, setidaknya saya merasa aman. Maklum saja, kelas DSLR Canon dibedakan dari digit angkanya. Makin sedikit seri digit angkanya makin tangguh dan bagus sebuah kamera. Dan itu artinya, makin mahal harganya. Jadi sebenarnya canon 70D dan canon 7D beda kelas. Meskipun sama-sama masuk di lingkungan kamera semi profesional. Makanya tak heran jika bodi canon 70D dibalut dengan policarbonat, sementara 7D dibalut dengan besi magnesium alloy. Itulah mengapa meski terbilang tua, harga Canon 7D masih lebih mahal dari 70D.

Berikutnya, mereka yang ingin merasakan tembakan beruntun seperti canon 7D bisa merasa puas dengan 70D karena sudah dibekali tembakan beruntun 7 frame per detik. Beda 1 frame per detik dari 7D yang dibekali 8 frame per detik. Jadi kalo nanti kebetulan ada balapan F1 lewat depan rumah, nggak ketinggalan momen.

Sebenarnya sih, secara teknologi canon 7D sudah kalah jauh dengan 70D. 7D diluncurkan pertama kali tahun 2009. dengan teknologi tercanggih pada tahun itu. Dan hingga saat ini belum juga mendapatkan adik baru. Itu artinya, sudah 5 tahun 7D mewarnai dunia fotografi. Sementara dunia teknologi bergerak cepat dan makin maju. Orang-orang makin instant dan makin memberhalakan kecanggihan. Perusahaan capital yang bergerak di bidang optik paham itu. Itulah mengapa sejak peluncuran 70D, kini 7D menghilang dari situs resmi canon (www.canon.co.id). Kemungkinan besar dalam waktu dekat 7D akan segera diskontinyu. Yang beredar di pasar saat ini hanya sisa gudang. Kalau memang benar demikian, rumor akan beredarnya canon 7D mark II berarti akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat. 

Loh kok malah ngegosip saya? Baiklah…baiklah..kembali ke Canon 70D. Seperti apa hasil foto Canon 70D? Ini saya tunjukkan lima foto saya menggunakan 70D dengan lensa kit 18-135mm F3.5-5.6 IS STM. Cekidot.....


[ Ini foto pertama saya menggunakan canon 70D. Lokasi di Pelabuhan Taddan, Sampang, Madura.
Focal lens: 20mm, Shutter speed: 2.0 sec, Aperture: F22, ISO: 250. Mode: TV]





[foto ini lokasinya di obyek wisata Gua Lebar, Sampang, Madura.
Focal lens: 24mm, Shutter speed: 1/24 sec, Aperture: F8, ISO: 250]




[Foto ini adalah lokasi penambangan pasir dan batu di Stinggil, Sampang, Madura
Focal lens: 20mm, Shutter speed: 1/124 sec, Aperture: F11, ISO: 100, Exposure: -2]











[Pohon yang tersisa. Lokasi penambangan sirtu, Stinggil, Sampang, Madura
Focal Lens: 24mm, Shutter speed: 1/30, Aperture: F11, ISO: 100]


[ Foto ini lokasinya di dataran tinggi Stinggil, dekat Gunung Pajuddan, Sampang, Madura.
Focal lens: 18mm, Shutter speed: 1/49 sec, Aperture: F20, ISO: 100. Mode AV]

Hingga tulisan ini selesai, kurang dari satu bulan saya menggunakan Canon 70D dan baru memotret sekitar 245 gambar. Semoga kami berdua tidak lekas bercerai. Teknologi bergerak begitu cepat, sementara  keinginan manusia tak terbatas. Semoga saya tak terjebak pada yang terakhir. Semoga.

Senin, 28 April 2014

Saya dan DSLR Canon(1)


Satu Tahun Bersama DSLR Canon EOS 600D

April 2013. Saya memutuskan membeli camera SLR pertama saya. Dan pilihannya jatuh pada kamera yang di Indonesia diluncurkan bersamaan dengan canon eos 1100D pada 24 Februari di Bali Safari dan Marine Park tahun 2011 lalu. Ya. SLR Canon EOS 600D.
Tak ada alasan muluk-muluk kenapa harus Canon 600D. Mengapa bukan Nikon, misalnya? Pertama, sejak menjadi reporter di Jawa Pos tahun 2005 lalu, saya telah terbiasa dengan Canon. Kamera digital pertama saya waktu liputan, Canon. Entah lupa serinya. Pernah juga incip-incip Canon 30D yang pernah dibawa fotografer Jawa Pos. Kedua, uang tabungan saya hanya cukup untuk meminang pengganti canon 550D di kelas entry level yang beredar satu tahun sebelum peluncuran kamera yang di eropa dikenal dengan nama Canon Rebel T3i itu. Seandainya isi tabungan saya cukup untuk meminang 60D atau 7D ya saya akan ambil salah satu dari dua kamera kelas semi pro itu. Dan kalau disuruh milih beli 60D atau 7D, ya saya pilih 7D. hahaha….tapi untuk saat itu 600D cukuplah buat saya belajar dan mengaplikasikan lagi teknik fotografi yang pernah saya dapat 9 tahun lalu di Jawa Pos.
Saya membeli Canon 600D plus lensa kit 18-55mm F3,5-5,6 IS II di Sentra Digital Plasa Marina. Ditambah kartu memori 16GB kelas 10 merek Procore, UV protector merek Protama, pelindung LCD, sebuah tas kamera cangklong dan seperangkat alat pembersih lensa. Kesemuanya menghabiskan total 6,9jt. Bukan harga yang murah menurut saya. Meskipun saya mampu membelinya.
Mau tahu jeroan 600D? Baiklah, biar kelihatan seperti fotografer serius dan mengerti SLR dan seakan-akan sedang mereview kamera yang di Jepang dipasarkan dengan nama Kiss X5 itu saya tuliskan jeroannya. 600D dibekali dengan sensor CMOS digic 4 berkapasitas gambar 18 megapixel. Besaran kapasitas gambar yang sama yang ditanamkan pada canon 550D, 650D, 100D, 700D, 60D bahkan 7D. Sepertinya canon masih percaya pada CMOS 18 megapixelnya. Soal titik fokus, canon 600D memiliki 9 titik fokus dengan satu titik fokus tengah yang paling sensitif. Ukuran layar LCDnya 3 inci dan bisa diputar (vari angle) seperti milik canon 60D, 650D, 700D dan 70D. Bedanya dengan 650D, 700D dan 70D di layar sentuh. LCD Canon 600D tidak dibekali layar sentuh. Sedangkan adik-adiknya seperti 650D, 700D bahkan 70D sudah menggunakan layar sentuh. Untuk resolusi Video mencapai 1920x1080. Dengan kapasitas resolusi video sebesar itu Canon 600D sudah cukup nyaman dibuat untuk merekam video.
Sejak memegang kamera yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai DSLR inovatif terbaik versi TechLife Innovative Award (TIA) tahun 2011 itu saya jadi sering jebret-jebret. Beberapa kali digunakan untuk merekam. Puas? Nggak. Ternyata ribet. Untuk menghasilkan foto yang bagus ternyata tidak hanya asal jebret seperti kamera digital. Harus mengatur shutter speed, diafragma, ISO dan exposure yang tepat. Dan satu hal yang penting harus sabar menunggu dan mencari momentum. Karena itu memiliki SLR memaksa saya untuk belajar lagi. mengembangkan lagi teknik fotografi yang sempat saya pelajari di Jawa Pos. Kemana? Kemana lagi kalau bukan google. Semua hal tentang teknik memotret dan tentang DSLR saya baca. Kemudian saya praktekkan. Saya yang awalnya alergi dengan editing foto mau tak mau harus belajar sedikit-sedikit. Pilihan saya pun nggak jatuh pada adobe photoshop. Terlalu ribet dan nggak mudah menurut saya aplikasi edit foto yang populer di kalangan tukang potret dan rekayasa foto itu. Dari berbagai review aplikasi foto akhirnya pilihan saya jatuh pada saudara satu perusahaannya photoshop, yakni; adobe lightroom. Tinggal ngumpulin preset-preset gratis di internet, masukin di pepustakaannya lightroom, kemudian terapkan di foto-foto berbasis RAW. Nggak pas sama hasilnya? Baru edit manual. Mudah, cepat dan nggak ribet. Belajar editnya? Tonton aja tutorialnya di youtube.
 Nah, di bawah ini foto pertama saya menggunakan canon 600D dan lensa kit EFS 18-55mm IS II F3.5-5.6. Coba-coba memotret makro. Obyeknya tanaman mawar di samping rumah yang mulai menguncup. Berapa kali jebretan untuk mendapatkan foto ini? Dari 20 jebretan, foto ini yang akhirnya sreg di hati saya. Menggunakan mode AV. Shutter speed 1/127, fokal lensa 34mm, diafragma F5 dan ISO 200. Diedit menggunakan DPP (digital Photo Professional) software edit foto bawaan canon. Maklum, waktu itu saya belum tahu bahkan abai dengan software editing foto. (Barangkali jika menggunakan lensa canon EF macro 100mm F2.8 USM yang harganya sekitar 8 juta pasti lebih bagus lagi ya? Hahaha...)

Sedangkan di bawah berikutnya adalah foto terakhir saya sebelum akhirnya saya menjual kamera yang pernah pula memenangkan penghargaan EISA Award  2011. Saya menjual kamera tersebut pada pertengahan April 2014 lalu. Artinya, kurang lebih satu tahun saya menggunakan canon 600D dengan lensa 15-55mm IS II F3.5-5.6. Hampir sebagian besar foto-foto yang saya ambil menggunakan lensa kit itu. Meskipun saya memiliki lensa tele 55-250mm IS II f4-5.6, jarang sekali saya menggunakannya. Ketika kamera yang juga mendapatkan penghargaan Technical Image Press Association (TIPA) sebagai "Best DSLR Entry Level in 2011" pada bulan April 2011 lalu itu dijual, shutter qount menunjukkan angka 2339. Itu artinya, dalam satu tahun, saya telah memotret sebanyak 2339 kali menggunakan kamera ini.

Foto di bawah ini adalah foto karapan sapi. Diambil pada bulan November 2013 di stadion Pamekasan-Madura dengan lensa kit 15-55mm IS II F3.5-5.6 bawaan canon 600D. Menggunakan mode TV dengan fokal lensa 55mm, diafragma F5.6, shutter speed 1/639 dan ISO 100. Nah, jika foto yang pertama saya edit dengan DPP Canon, foto di bawah ini diedit sedikit dengan software Adobe Lightroom yang telah saya pelajari meskipun belum fasih benar ngeditnya. (Ah, seandainya diambil menggunakan lensa luxury (L) Canon 70-200mm F2.8 IS L II yang harganya 20 jutaan atau lensa L canon 70-300mm F3.5-5.6 DO IS yang harganya sekitar 13 jutaan pasti lebih asooii lagi ya gambarnya. Hahaha....)
Canon 70-200mm f/2.8 IS L II


Selamat tinggal Canon 600D.

Tapi saya nggak kapok kok make DSLR. Belum genap seminggu setelah 600D saya laku, saya akhirnya kembali memutuskan membeli canon 70D berwifi dengan lensa bawaan 15-135mm F3.5-5.6 STM. (bersambung)